Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 70


__ADS_3

"Aku harus cepat sebelum dia bangun bisa-bisa dia tak membiarkan aku pergi," grutu Arin.


Abraham terkekeh mendengar istri kecilnya itu menggerutu tak jelas.


Ya sedari tadi Abraham sudah terbangun tetapi dia berpura-pura tidur, Abraham hanya ingin melihat wajah istrinya yang sedang menggerutu dengan mengemaskan. Abraham tersenyum kala melihat wajah Arin mengerucut sebal.


Melihat Arin yang begitu cantik membuat Abraham bersemangat ingin memeluknya.


Tiba-tiba Abraham mengeram kesal karena sesuatu di balik selimut itu


"Sial..." Umpat Abraham karena hanya melihat dan mencium harum tubuh Arin dari jarak yang cukup jauh membuatnya menegang.


"Kamu ingin menggoda ku," kata Abraham menatap Arin penuh nafsu.


Arin tersentak kaget saat mendengar suara bariton dari belakang, dia menoleh dan melihat Abraham yang menatapnya dengan lapar.


Glekk....


Dengan cepat Arin menoleh ke arah Abraham.


'Gawat si mesum ini sudah bangun, apa tadi dia mendengar ucapan ku ya?' batin Arin.


'Aku harus cepat-cepat pergi sebelum dia menyerang ku pagi ini, lihatlah tatapan matanya begitu menyeramkan bisa-bisa remuk tubuhku hari ini,' batin Arin yang tengah melihat tatapan penuh nafsu dari mata Abraham.


"Ti-tidak, siapa yang menggoda kamu," protes Arin.


"Tuh buktinya," tunjuk Abraham ke arah wajah Arin yang begitu cantik.


Arin melotot ke arah Abraham.


"Lihatlah sayang dia sudah bangun," kata Abraham melirik ke arah selimut.


Arin pun mengikuti arah pandangan sang suami, mata Arin melotot. Pikirannya berubah kotor membayangkan yang ada di balik selimut itu.


Arin bergidik ngeri. "Dasar punya suami omes banget..." Grutu Arin.


"Ha ha ha ha ha ha...." Abraham tertawa melihat wajah Arin.


Dengan cepat dia berjalan menuju keluar kamar. Arin tak ingin terjebak di bawah selimut lagi pagi ini, bisa-bisa Abraham tak memperbolehkan dia turun dari ranjang.


Abraham yang melihat gerak-gerik Arin pun terkekeh.


"Ayo sini sayang, aku masih siap untuk olahraga pagi," goda Abraham menaik turunkan alisnya.


"Ck siapa yang mau olahraga pagi, bukannya sehat tetapi bisa-bisa aku tak bisa jalan hari ini," grutu Arin meninggalkan Abraham yang masih terkekeh di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Morning kiss nya mana sayang ku," teriak Abraham saat melihat Arin berlari menuju ruang ganti.


Brakkk....


"Ha ha ha ha ha ha...." Tak henti-hentinya Abraham tertawa, sungguh menyenangkan menggoda istrinya di pagi hari.


Arin menutup dengan kesal karena di goda terus oleh sang suami, jangan tanyakan lagi bagaimana wajah Arin saat ini yang sudah merah bak kepiting rebus.


"Dasar pak tua mesum," kesal Arin.


Arin pun dengan cepat berbalik menuju ruang ganti pakaian karena dia hampir lupa untuk menyiapkan pakaian untuk sang suami.


Sedangkan Abraham sudah berada di dalam kamar mandi.


Arin pun menyusun semua baju itu di atas tempat tidur.


Ceklek....


Arin otomatis menoleh ke arah sumber suara, ternyata sang suami sudah selesai mandi dan terlihat segar. Sisa-sisa air yang menetes dari rambutnya membuat Abraham semakin terlihat tampan.


Glekk....


'Duh punya suami gini amat ya, meskipun sudah berumur tetapi tubuh dan wajahnya begitu menggoda, pantas saja banyak wanita yang terpesona oleh nya,' batin Arin tanpa sadar mengagumi keindahan di depan matanya.


Abraham keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggang nya, menampakkan otot-otot perut nya terlihat mengiurkan.


Tiba-tiba Abraham mencium seluruh wajah Arin.


Arin tersentak kaget, dia masih terbengong karena mendapat kejutan di pagi hari.


"Morning kiss sayang,"


Setelah itu Abraham pun berganti pakaian, dia mengambil yang ada di atas ranjang.


Dengan cuek Abraham melepaskan handuk nya begitu saja. Arin di buat melongo melihat sang suami yang tak tahu malunya berganti pakaian di depan nya.


"Dasar suami mesum," cebik Arin.


"Mesum sama istri sendiri itu harus," jawab Abraham enteng.


Arin yang me dengarnya pun hanya memutar bola matanya malas. Setelah itu Arin pun berjalan menuju pintu kamar, dia harus bersiap membuatkan sarapan untuk keluarga nya.


Brakkkk... Arin menutup pintu.


Setelah itu Arin pun menyiapkan makanan untuk semua keluarganya. Setelah selesai memasak Arin menata semua nya di meja makan.

__ADS_1


Semuanya sudah berkumpul di meja makan, Arin sengaja menyuruh mbak Imah salah satu art yang di siapkan Abraham untuk membantu mengurus si kembar, mbak Imah usianya sekitar 40 an.


Semua sudah berkumpul di meja makan, ada Rio, Tio, bunda, si kembar juga untuk nek Ijah lebih memilih makan di kamar.


"Bunda mbak Tina mana?" Tanya si cantik Aurel kala Arin sedang mengambilkan nasi dan lauk di piring keduanya.


"Oh mbak Tina sudah pulang kampung sayang, kalian harus terbiasa dengan mbak Imah karena untuk seterusnya dia yang akan membantu kalian kalau mama lagi sibuk," jelas Arin kepada ke dua anak nya.


"Lho mbak Tina pulang kampung mbak?" Tanya Tio kaget.


"Hmm...." Jawab Arin yang masih menyuapi di kembar.


"Kenapa? Kapan?" Tanya Tio lagi.


Sedangkan bunda memilih diam mendengarkan cerita anaknya.


Rio acuh dia memilih makan sambil berbalas chat dengan temannya.


"Entah lah mbak juga gak tau pastinya, tetapi dia pamit kepada mas Abraham. Katanya dia pulang kampung karena menikah dan untuk barang-barang nya masih di tinggal. Nanti ada kok bodyguard yang akan mengantarkan barang nya yang masih tertinggal," jelas Arin panjang lebar.


"Tetapi aneh saja mbak, kok tidak pamit sama kita," kata Tio sedikit kecewa.


Setelah itu tiba-tiba hening, semua sibuk dengan pikiran masing-masing.


Tap tap tap tap tap tap...


Abraham berjalan dengan gagah menunju meja makan.


"Cup... Cup..." Abraham mencium kedua pipi anak kesayangan nya.


"Pagi sayang," sapanya.


"Pagi semua, maaf ya saya tidak bisa ikut bergabung karena saya ada rapat penting," kata Abraham kepada semuanya merasa tak enak hati.


"Santai saja kak," jelas Rio membuat Arin menyergit heran. Pasalnya adiknya itu tiba-tiba memanggil Abraham dengan sebutan kakak.


"Iya nak, hati-hati di jalan," kata bunda.


Setelah itu semuanya pun selesai makan, Rio pamit untuk main ke rumah temannya. Bunda memilih ikut mengantar sang cucu bersama Arin.


Tinggallah Tio yang sedang berada di taman belakang sambil melamun.


"Kenapa kamu pergi tanpa pamit kepada ku," lirih Tio.


Tio benar-benar kecewa dengan sikap mbak Tina, ingin rasanya Tio mencari tahu alamatnya dan menanyakan langsung apa yang membuat mbak Tina pergi tanpa pamit dan pesan.

__ADS_1


"Aaaahhh...." Tio mengerang kesal karena kesal kepada wanita cantik itu.


B E R S A M B U N G....


__ADS_2