Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 45


__ADS_3

Sesampainya di tempat parkir, Abraham masuk dengan membanting pintu mobil secara kasar. Wajahnya yang biasanya dingin semakin dingin seperti es balok.


'Kenapa sih tuh orang, wajahnya semakin menyeramkan saja tak ada manis-manis nya,' batin Arin.


Arin pun dengan pelan duduk di belakang, baru saja mau mendaratkan diri di kursi empuk itu suara menggelegar milik Abraham membuat Arin kaget.


"Kamu anggap aku supir hah...." Bentak Abraham.


Dengan cepat Arin pun berpindah duduk di depan sebelum di kena semprot untuk ke dua kalinya. Arin hanya melirik wajah Abraham sekilas saja membuatnya merinding seketika.


Perjalanan terasa menyeramkan karena suasana di dalam mobil terasa dingin bagaikan kutub Utara.


"Apa kamu senang melihat sahabat baikmu," keheningan itu berakhir kala ucapan itu keluar dari mulut Abraham, membuat Arin menoleh ke arah Abraham.


'Bagaimana dia tahu tentang Veli?' itulah yang ada di pikiran Arin saat ini. Arin masih terdiam dengan raut wajah penuh pertanyaan.


"Aku tahu semua tentang mu bahkan yang sedang kamu pikirkan saat ini," jawab Abraham membuat Arin semakin heran.


'Apa dia peramal sehingga tahu semuanya termasuk isi pikiranku,' batin Arin.


"Aku bukan peramal," seakan menjawab semua pertanyaan dari Arin.


"Jangan banyak berfikir, kasihan otak kecil kamu nanti meledak karena tak mampu menerima begitu banyak pertanyaan," ledek Abraham membuat Arin melotot kesal.


"Dasar pak tua arogan," kesal Arin justru di tanggapi senyuman oleh Arin.


"Jangan bawel cepat katakan apa kamu senang melihat kehancuran sahabatmu, kalau kamu belum puas... Aku bisa membantu dia lebih hancur dari ini bahkan untuk menyebut nama mu saja dia tidak akan berani," kata Abraham panjang lebar kepada Arin.


Deg ...


'Apa semua ini perbuatannya,' guman Arin dalam hati.


"Apa semua ini ulah mu?" Tanya Arin dengan memastikan yang ada di pikirannya.


"Ha ha ha ha ha ha ternyata kucing nakal ku sudah mengerti tanpa perlu aku menjelaskan nya," jawab Abraham.


Arin kaget ternyata benar dugaannya selama ini, kalau pria di depannya bukanlah pria sembarangan.


Keadaan di dalam mobil semakin membuat Arin tegang.


Arin bernafas lega saat mobil yang di laju kan nya sudah sampai di kediaman Abraham.


"Fyuuuuuhhh... Akhirnya penyiksaan ini berakhir," guman Arin dengan suara kecil.


"Apa kamu bilang," Ternyata Abraham mendengarnya meskipun dengan dengan suara kecil.


'Hadeh gawat nih, telinga tajam juga tuh orang,'guman Arin dalam hati.


"Tidak kok om, pasti om salah dengar," elak Arin.

__ADS_1


Abraham melotot di buatnya, dia menatap mata Arin dan mendekat wajahnya ke arah Arin membuat Arin di landa ketakutan.


Glekkk..... Arin ketakutan.


"Ma-mau apa om," lirih Arin dengan gugup.


"Sekali lagi kamu panggil aku om, aku akan mengigit bibir mu dengan ganas," bisik Abraham, membuat Arin tertegun tak berani bergerak karena ketakutan, Arin pun memejamkan mata nya.


Klik...


"Ayo turun," ajak Abraham yang sudah membuka pintu.


"Eh... "Arin pun kaget ternyata Abraham sudah berada di luar, sekali lagi Arin di buat malu oleh Abraham.


Arin pun memukul keningnya sendiri.


"Arin apa yang kamu pikirkan," guman Arin merasa malu karena Arin mengira kalau Abraham akan menciumnya dan dengan per


Arin pun tersadar dari lamunannya dan mengikuti langkah Abraham menuju ke dalam rumah.


"Mama....." Teriak Abrian memeluk Arin.


"Papa...." Aurel langsung melompat ke arah Abraham meminta di gendong. Abraham terkekeh di buatnya.


"Arin anakku...." Bunda tiba-tiba sudah berada di depan Arin dengan mata berkaca-kaca, bunda begitu senang karena akhirnya bisa bertemu dengan anaknya lagi.


Arin menurunkan Abrian setelah itu Arin memeluk sang bunda dengan penuh kerinduan.


"Kak apa benar semua yang di jelaskan oleh Tio?" Tanya Rio memastikan. Bunda maupun Rio tengah menatap Arin dengan meminta penjelasan.


"Ehemmm ....." Abraham berdehem membuat semua menoleh ke arah nya.


"Saya akan mengajak Aurel dan Abrian ke taman belakang untuk bermain," pamit Abraham secara sopan.


Setelah si kembar dan Abraham meninggalkan ruangan tamu.


Arin memandang ke arah sang adik.


"Tentang apa?" Arin masih belum tahu arah pembicaraan mereka.


"Tentang semuanya, tentang tuan Abraham yang tak lain adalah papa dari si kembar," kata Rio. Bunda pun masih setia duduk di samping Arin mengelus tangan Arin lembut.


Arin menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan kasar, untuk ke sekian kalinya dia harus menjelaskan semuanya.


Arin mengangguk...


"Kalau itu semua benar nak, kenapa kamu tidak menerima pernikahan ini dengan lapang dada. Tadi Tio sempat bilang kalau kamu masih belum setuju tentang pernikahan ini, toh semua bukan salah tuan Abraham," jelas bunda.


Arin melotot ke arah Tio karena membocorkan semuanya.

__ADS_1


"Iya kak, setelah ku lihat-lihat dia juga sangat menyayangi si kembar terlebih lagi dia mau bertanggung jawab, bahkan Tio juga bilang kalau tuan Abraham juga mencari kakak selama ini," Rio mencoba meyakinkan kakak nya itu, Rio ingin Arin hidup bahagia.


"Tetapi aku tidak mencintainya," lirih Arin menunduk.


"Apa kamu mencintai nak William?" Tanya bunda.


Arin pun mengeleng karena dia juga belum mencintai William tetapi Arin cuma nyaman dengan William saja.


"Kalau begitu kamu tidak perlu memikirkan apapun," kata bunda.


"Tetapi aku masih belum mengenal siapa dia," jawab Arin dengan berbagai alasan penolakan.


"Nak cinta bisa datang seiring waktu, pikirkan masa depan si kabar," setelah mengucapkan kata itu bunda pun berlalu menuju kamar yang di sediakan untuk nya.


Ya karena besok adalah hari pernikahan Abraham dan Arin, keluarga Arin pun sudah di boyong semua ke kediaman Abraham. Karena Abraham tinggal seorang diri setelah kedua orang tua nya meninggal karena kecelakaan, sedangkan kerabat Abraham pun tak punya. Dia hanya seorang diri hidup di dunia ini.


"Kak aku juga setuju dengan pendapat bunda," jawab kedua adik Arin.


Arin masih terdiam memikirkan semuanya.


Arin pun pasrah karena selama ini Abraham memperlakukan dirinya dengan baik, tanpa berani berbuat kasar atau berbicara kejam kepadanya.


***


Abraham menyeringai melihat ponselnya, dia tersenyum semakin lebar. Ya ..... Abraham melihat semua pembicaraan itu melalui ponsel miliknya yang terhubung dengan cctv.


"Ayo pa cepat tendang, jangan main ponsel saja," Rajuk Abrian menendang bola ke arah Abraham tetapi dari tadi tidak di tanggapi oleh nya.


"Maaf sayang, tadi papa ada pesan dari om Hendra," bohong Abraham.


Setelah itu Abraham pun melanjutkan bermain bola dengan si kembar.


"Pa... Aurel nakal, masa bola di pegang dan di masukan gawang seenaknya," protes Abrian.


Sementara Aurel tertawa senang.


Tanpa mereka sadari, bunda melihat semuanya dari balik jendela di kamarnya. Bunda melihat tawa si kembar terlebih lagi Abrian yang biasanya diam terlihat begitu senang tertawa dan berbicara banyak.


"Nak semoga setelah ini tidak ada tangis air mata, yang ada hanyalah kebahagiaan di hidup mu sayang," guman bunda mendoakan sang putri.


.


.


B E R S A M B U N G.....


Setelah membaca tolong LIKE YA. Karena Like kalian sangat berarti buat penulis seperti kami.


Buat naikin popularitas sama buat semangat author nulis.

__ADS_1


Maaf ya lama, ikuti alurnya saja ya....


Terimakasih atas dukungan kalian semua, seperti biasa jangan lupa untuk Like, komentar ataupun Gift ya.


__ADS_2