
Mobil yang di kemudikan Tio pun sampai di kediaman mereka, rumah minimalis yang baru saja mereka renovasi bertingkat.
Komplek perumahan yang cukup ramah untuk mereka.
Saat dulu Arin pindah untuk pertama kalinya ke perumahan ini. Pak RT sempat menanyakan KTP maupun bukti yang lainnya. Dengan terpaksa sang bunda berbohong kalau Arin dulu menikah secara siri, bunda sengaja mengatakan kalau Arin sudah menikah tetapi dia juga sudah bercerai dengan suaminya. Bunda ingin Arin hidup normal tanpa mendengar cemooh dari warga sekitar.
Dan mulai saat itu Arin terkenal dengan sebutan janda muda dengan dua anak.
Di sinilah mereka saat ini, masa-masa sulit yang pernah mereka alami dulu ternyata memacu Arin untuk bekerja lebih giat.
Dia tak ingin orang memandang keluarganya sebelah mata.
"Nenek......." Teriak Aurel memanggil nek Ijah saat baru turun dari mobil.
"Oma....." Teriak Abrian memanggil sang bunda dengan sebutan Oma. Abrian pun memeluk dengan erat.
"Aurel sudah sering kali mama bilang, panggil nenek buyut," kata Arin berkacak pinggang.
"Ish mama tak asyik tau, nenek uyut kepanjangan Aurel suka lupa jadi panggil nenek juga sama saja," jawab Aurel dengan cemberut.
Arin membuang nafas kasar, menghadapi Aurel yang keras kepala.
"Dasar mulut bebek," ejek Abrian kepada sang adik.
"Nek.... Itu Abang nakal," adu Aurel kepada nenek Ijah.
"Brian jangan godain adik mu terus," tegur nek Ijah.
Aurel menjulurkan lidahnya mengejek sang kakak, dirinya senang karena mendapat pembelaan dari nenek Ijah.
"Dasar tukang ngadu," cibir Abrian.
"Kalian jangan bertengkar, Oma pusing mendengarnya," bujuk bunda Arin.
Kedua anak kecil itu itu pun cemberut.
"Ma.... Brian ke atas dulu buat mandi," pamit Abrian.
"Mbak Tina ...." Panggil Arin.
"Iya Bu," jawabnya menunduk.
"Tolong urus semua keperluan Brian," pintanya.
"Iya Bu,"
Mbak Tina adalah baby sitter yang Arin pekerjakan untuk mengurus semua keperluan si kembar.
Arin pun berjalan menuju kamarnya, dia membanting tubuhnya di atas kasur.
"Bagaimana kabar mu Veli? Aku sudah lari sampai sejauh ini karena ulah kamu, semoga kamu bahagia di sana setelah membuatku menderita," lirih Arin.
"Ah pasti lelaki itu sudah bahagia bersama keluarganya, sedangkan aku....." Sambung Arin tersenyum getir.
"Tetapi aku bersyukur lelaki itu tak muncul sampai hari ini, aku begitu takut kalau dia mengambil anakku atau dia melenyapkan si kembar karena mereka hadir tanpa di inginkan,"
Tak henti-hentinya Arin bergumam, tatapan kosong menerawang kehidupan nya yang dulu. Masa-masa yang harusnya dia lewati dengan ceria dan teman-teman nya yang sibuk dengan cinta monyet nya, berbeda dengan Arin semuanya harus terenggut karena kejadian kelam itu.
Kring ..... Ponsel Arin berbunyi.
__ADS_1
Arin pun tersadar dari lamunannya. Keningnya mengkerut saat membaca pesan dari seseorang.
"Arin besok aku antar ya ke toko, sekalian aku juga ingin mengantar anak-anak sekolah. Aku kangen dengan mereka berdua," pesan singkat dari William, pria blasteran yang Arin kenal hampir 3 tahun.
Pria yang menaruh perhatian penuh untuk dirinya dan kedua anaknya.
Arin mendesah berat, tangannya begitu berat untuk membalas pesan itu.
"Aku sudah memintamu berhenti untuk menaruh perhatian kepadaku, aku takut aku tak bisa membalas semuanya. Aku tak pantas untuk pria sempurna sepertimu," lirih Arin.
Trink...... Terdapat pesan masuk untuk ke dua kalinya.
"Kenapa tidak membalas pesanku," isi pesan dari William.
"Cukup bilang iya, aku tidak menerima penolakan," Sambung William lagi.
Bibir Arin tersenyum tipis, dengan cepat dia membalas pesan itu.
"Dasar pemaksa," balas Arin di sertai emot kesal.
"Kalau tidak di paksa tentu kamu akan menolak, ijinkan aku untuk dekat denganmu dan anak-anak," Kata Wiliam sendu.
"Tetapi aku tak pantas untukmu," jawab Arin.
"Aku tahu ini semua bukan salahmu, kamu hanyalah korban," kata William meyakinkan Arin.
Arin menutup ponselnya, tak berniat membalas. Dirinya bimbang.....
Di tempat William.......
Wiliam tak henti-hentinya mengembangkan senyumnya.
"Ehemmmm......" Deheman seseorang membuyarkan lamunan William.
"Tuh William sudah dapat calon, kamu kapan?" Sindir dokter Rian.
"Emang kamu tahu siapa yang sedang William kejar?" Sinis Abraham ke arah dokter Rian.
"Kata Tante Lina sih, janda beranak 2 tetapi masih muda," ceplos dokter Rian.
"Gak salah kamu pilih janda?" Tanya Abraham heran.
"Apa salahnya janda," tanya dokter Rian.
" Kalau kalian lihat Ninda, pasti kalian naksir," jawab William.
Kring .... Kring ....
"Sebentar anakku telephon," kata William memberi kode kepada Abraham dan dokter Rian untuk diam.
"Halo princess..... Ada apa?" Tanya William kepada gadis kecil di sebrang sana.
"Ok.... Nanti malam om akan mampir ke rumah kamu," kata William.
"Jangan lupa oleh-oleh ya om," pintanya.
"Beres cantik,"
"Bay bay om.... Emuacch....."
__ADS_1
Setelah itu panggilan terputus....
"Siapa yang telepon?" Tanya dokter Rian penasaran.
"Biasa Aurel,"
"Siapa Aurel?? wah jangan-jangan kamu punya gebetan lain selain janda tadi," kata dokter Rian dengan tatapan menyelidik. Sementara Abraham memilih acuh.
"Dia anak Ninda,"
"Jadi penasaran, seperti apa wanita yang sudah membuat teman kita tergila-gila sampai seperti ini," ledek dokter Rian.
Abraham memilih memesan menu makanan kesukaan nya tanpa memperdulikan kedua orang di depannya. Setelah itu dia membuka ponselnya untuk mengecek hasil laporan dari asisten Hendra.
"Oh ya bagaimana dengan wanita yang kamu cari selama ini?" Tanya William kepada Abraham.
Abraham yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya seketika terdiam, pikirannya tertuju kepada Arin. Wanita yang entah hilang di telan bumi.
"Bagaimana dengan Friska yang sedari dulu selalu mengejar mu, apa kamu tidak ada perasaan untuk dia?" Tanya William. Sedangkan dokter Rian memilih diam, dokter Rian tahu kalau Abraham belum bisa melupakan Arin sampai saat ini.
Abraham bergeming, mulutnya seakan keluh untuk berbicara.
"Cobalah buka hati untuk Friska, aku kasihan kepada dia," bujuk William.
Abraham acuh memilih memakan makanan yang baru saja di hidangkan oleh pelayan.
Karena tak mendapatkan respon dari Abraham, William memilih untuk diam tak melanjutkan ucapannya.
Sedangkan dokter Rian memberikan kode kepada Wiliam untuk tutup mulut.
"Kalian saja yang lanjutkan makannya, aku ada urusan penting," kata Abraham.
Keduanya saling melirik, selalu saja seperti ini.
Abraham melangkahkan kakinya meninggalkan tempat ini.
"Selalu saja seperti ini," lirih dokter Rian.
"Ya seperti biasa," saut William.
BERSAMBUNG.....
Setelah membaca biasakan like untuk mendukung karya author.
Maaf kalau alur tidak sesuai keinginan kalian...
Besok libur sehari ya say....
Maaf kalau ada typo bertebaran, tolong di komen biar segera di perbaiki.
Jangan lupa:
~Like
~Komen
~Rate bintang 5
~Favorit juga
__ADS_1
~Vote
Terimakasih semua masih setia di cerita recehku🙏.