Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 71


__ADS_3

Mobil Doni pun berhenti di perumahan dekat sana. Mbak Tina pun mengikuti langkah Doni untuk turun dari mobil. Tibalah kedua nya di rumah bercat abu-abu berlantai satu, rumah itu sangat bagus menurut mbak Tina.


Rumah dengan halaman cukup luas di tumbuhi bunga-bunga, rumah yang sesuai dengan keinginan nya. Sederhana namun nyaman.


"Ini adalah rumah kita, ayo kita masuk," ajak Doni.


Ceklek....


mbak Tina menatap kagum rumah itu. Meskipun sederhana tetapi di dalam semuanya lengkap.


mbak Tina mengusap sudut matanya berair, dia terharu atas kebaikan tuan Abraham, padahal dia telah berbuat buruk kepada nya.


"Sekarang tugasmu mengurus rumah ini dan kamu tidak perlu bekerja hanya diam di rumah menungguku pulang, untuk keluargamu nanti aku akan mengirimkan uang tiap bulan untuk mereka," kata Doni.


Mbak Tina memandang wajah laki-laki bertubuh tinggi di depan nya.


'Ternyata dia tidak jahat seperti yang ku kira, dia ternyata baik meskipun sifatnya kaku,' batin mbak Tina.


"Aku tahu aku baik, jadi jangan memandangku seperti itu," celetuk Doni meninggalkan mbak Tina berlalu ke arah kamar.


Mbak Tina menunduk malu karena ketahuan, dalam hati mbak Tina akan berusaha ikhlas menerima Doni dan mencintainya. Meskipun wajah Doni menyeramkan tetapi hatinya baik.


Mbak Tina pun mengekor Doni ke kamarnya.


"Kamu istirahat lah, semua nya sudah lengkap kalau kamu mau makan kamu bisa masak. Semua bahan ada di kulkas," kata Doni kepada mbak Tina.


Mbak Tina mengangguk.


"Aku berangkat bekerja dulu, kamu hati-hati di rumah, kunci pagar jangan buka pintu untuk orang asing," pesan Doni.


Mbak Tina pun meraih tangan Doni dan menciumnya.


Doni tersenyum tipis, benar kata tuan nya kalau sebenarnya wanita itu baik cuma terkadang nasib merubahnya menjadi manusia yang kejam tega sesama yang lain karena sifat iri.

__ADS_1


Doni mencium kening mbak Tina.


Nyessss.... Ada getaran di hati mbak Tina.


Tanpa sadar Doni sudah pergi menjauh, mbak Tina pun mengunci pintu pagar dan pintu depan. Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Pandangannya ke atas menerawang jauh ke masa dirinya pergi merantau ke kota.


POV. Mbak Tina.


Namaku Faatina tetapi semua memanggilku Tina. Wajah ku cukup manis dengan warna kulit kuning langsat dengan lengsung pipi yang semakin menambah manis wajahku.


Kata temanku nama ku cukup indah tak seperti nama mereka Simi, Juminten. Apakah arti nama tetapi hidupku tak seindah impianku. Aku hidup dalam kesederhanaan di kampung, beban hidup membuatku harus merantau ke kota untuk mencari pundi-pundi uang untuk menopang kebutuhan keluargaku.


Aku harus menjadi tulang punggung keluarga ku. Kedua orang tua ku sudah terlalu tua untuk bekerja keras, sedangkan aku masih mempunyai 2 adik yang masih SD.


Aku bersyukur meskipun dari keluarga miskin tetapi bapak dan ibu masih bisa menyekolahkan ku sampai tamat SMA.


Aku merantau ke ibu kota bermodalkan uang lima ratus ribu, ah sungguh miris hidupku.


Aku mencoba berbagai pekerjaan dari buruh cuci, penjaga warteg, pembantu dan berakhir menjadi baby sitter di keluarga bu Arin, ya mau bagaimana lagi hanya pekerjaan itu saja yang ku dapatkan. Tetapi aku bersyukur ternyata Bu Arin dan keluarganya orang yang baik.


Di sini Bu Arin tak pernah membedakan ku, aku tidak di suruh makan di dapur dan aku tak di kasih makanan sisa. Aku di samakan seperti anggota keluarga lainnya, ah sungguh beruntung aku bertemu dengan wanita baik seperti nya.


Bu Arin hidup dengan kedua anak kembar , kedua adiknya yang tampan, bundanya serta nek Ijah. Meskipun Bu Arin mempunyai usaha toko kue tetapi rumah keluarga Bu Arin tidaklah rumah mewahnya tetapi rumah sederhana berlantai 2 yang cukup luas.


Rumah yang cukup untuk menampung kami semua.


Bu Arin sempat memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan mbak saja karena selisih umur kita hanya 4 tahun, ya aku sekarang berumur 20 tahun. Umurku sama dengan kedua adik nya.


Tetapi aku merasa sungkan, aku hanya seorang pengasuh anak nya jadi untuk memanggilnya dengan sebutan mbak ku rasa tak pantas.


Ah aku jadi teringat dengan mas Tio adik Bu Arin, mas Tio baik sering membawakan aku martabak atau cemilan lainnya tiap pulang dari kuliah. Sebenarnya aku merasa tak enak apalagi tatapan sinis yang di layangkan saudara kembarnya ke padaku saat itu. Ya mas Rio saudaranya itu tak begitu suka dengan ku. Entahlah.....!


Bu Arin dekat dengan laki-laki bernama William, meskipun tuan William tampan tetapi aku sering mendengar bu Arin sering menolak ajakan tuan William untuk menikah.

__ADS_1


Ah aku berfikir kenapa Bu Arin menolak tuan William, apa yang Bu Arin cari lagi. Padahal tuan William itu tampan , kaya, dan perhatian kepada keluarganya.


Aku pernah berfikir kalau bu Arin adalah janda, tetapi ada yang membuatku bertanya-tanya dalam hati kenapa tidak ada foto mantan suami Bu Arin? Apa setelah berpisah dia membuang semua kenangan dengan suaminya dulu.


Deggg....


Aku terdiam di tempat, dengan cepat aku bersembunyi berjongkok di dekat pot bunga di depan ku, saat tanpa sengaja ku dengar ucapan tuan William.


"KALAU BUKAN KARENA NINDA AKU TIDAK AKAN MAU MEMOHON KEPADA ANAK KECIL"


Aku menutup mulutku tak percaya. Apakah benar tuan William berbicara seperti itu.


Ah pantas saja Abrian tidak begitu dekat dengan tuan William, apa Abrian sudah tahu?


Berbagai pertanyaan muncul di otakku.


Aku juga kaget saat melihat bunda, langsung berlari bersembunyi.


Aku bernafas lega setelah tuan William pergi, aku masih deg-degan ketakutan takut ketahuan.


Tetapi aku bersyukur bunda tahu semuanya jadi bisa memperingatkan Bu Arin. Bu Arin wanita cantik dan baik hati jadi dia pantas mendapatkan lelaki yang tulus.


Semua kehidupan bu Arin berubah, saat Bu Arin di nyatakan hilang di culik.


Ah aku begitu kaget, siapa yang tega menculik orang baik seperti bu Arin, aku berdoa semoga Bu Arin segera ketemu. Aku begitu kasihan melihat kedua anaknya yang tak henti-hentinya menanyakan keberadaan mama nya. Aku terpaksa berbohong mengatakan kalau mama mereka sedang bekerja ke luar kota,tak bisa ku bayangkan kesedihan dua bocah lucu ini kala tahu Bu Arin hilang.


Beberapa hari kemudian muncul sosok laki-laki di depan pintu rumah Bu Arin, lelaki tampan, tinggi dengan wajah berwibawa namun terkesan dingin.


Kesan pertama yang ku lihat dari wajahnya adalah rasa takut. Apalagi ku dengar dia yang telah menculik Bu Arin dan sebentar lagi dia akan menikahinya.


B E R S A M B U N G...


Nah ini ku selipin kisah dikit tentang mbak Tina.

__ADS_1


Untuk kapan pasti ceritanya aku buat deh, suamiku bodyguard buruk rupa.


__ADS_2