
Di tempat berbeda....
Tubuh lelaki itu semakin kurus dari biasanya, tubuh nya yang dulu gagah di puja-puji banyak wanita sekarang sudah tidak ada. Pikiran nya kosong, dia terdiam menatap ke atas.
"Tak perduli kamu menyukai aku atau tidak yang penting aku menyukaimu. Tunggu suatu saat aku akan merebut mu dari nya,"
Pria itu bergumam dengan suara kecil namun masih bisa di dengar oleh salah satu orang yang tak jauh darinya.
"Hei jangan bermimpi! Lihatlah kondisi mu begitu memprihatinkan," ejek orang itu menatap sinis ke pria yang tak lain adalah Denis.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha," sedangkan yang lain menertawakan Denis.
Denis hanya bisa diam tanpa bisa melawan mereka semua, namun tangannya terkepal erat.
Denis menatap nanar pria-pria yang duduk tak jauh darinya. Dia teringat awal mula berada di sini.
Pagi itu dia masih dengan santainya di rumah, dia berfikir Tio tidak akan memenjarakan dirinya. Denis berfikir cuma usahanya saja yang di buat bangkrut oleh Tio.
Namun dugaannya salah, saat dia bersantai ternyata pagi-pagi dia di jemput pihak berwajib. Ternyata Tio melaporkan dirinya atas kasus penipuan dan pengeroyokan yang telah dia lakukan kepada Tio.
Awalnya dia menyesal namun saat berada di sini ke kebencian itu mulai tumbuh dan berakar subur di sini. Bahkan berkali-kali dia mengutuk Tio dengan sumpah serapah yang penuh kebencian.
"Hei anak muda, lihat lah kondisi mu jangan bermimpi di siang bolong," kata pria dengan penampilan yang menyeramkan dengan wajah garang, rambut gondrong dan bekas luka di wajahnya membuat orang-orang segan bahkan ketakutan.
"Sudah jangan banyak bacot, atau mau ku hajar lagi. Ha ha ha ha ha ha ha ha....." Teman pria tadi berseloroh penuh dengan ejekan dan ancaman.
Denis terdiam, dia tak mungkin melawan mereka lagi untuk kedua kalinya. Denis ingat pertama kali dirinya berada di sini langsung berbeda pendapat dengan pria gondrong itu dan berakhir dengan wajah babak belur dan kalah membuatnya ca bisa meringis kesakitan di pojokan.
Brak brak brak brak .....
Petugas datang mengetok jeruji besi itu dengan keras membuat yang lainnya.
"Hei kamu Denis cepat berdiri," perintahnya dengan keras karena keributan yang diakibatkan oleh Denis.
"Ada yang datang mencari mu," sambung petugas itu lagi dan membuka pintu jeruji besi itu.
"Siapa?" Tanya Denis yang masih penasaran.
__ADS_1
Membuat petugas itu mengelengkan kepalanya sebagai tanda tidak mengerti.
"Saya tidak tahu, silahkan anda cepat ikut saya dan temuin dia," jawabnya.
Krek... Ceklek... Pintu pun di buka dan Denis pun mengikuti petugas itu ke ruangan khusus berkunjung.
Setelah itu Denis di biarkan di sana, petugas itu la gedung pergi mencari tempat tak jauh dari Denis siapa lagi.
Denis mengerutkan keningnya, dia menatap punggung pria yang masih memunggungi dia dengan perasaan yang penuh tanya.
'Siapa dia? Sepertinya aku tak asing dengan orang itu,' batin Denis mengingat-ingat pria yang mungkin populer atau akrab dengan nya.
Pria yang semula memunggungi Denis pun berbalik, dia menyeringai menatap ke arah Denis dengan perasaan kasihan.
"Apa kabar tuan Denis?" Pria itu menatap Denis dengan tatapan kasihan.
"Jangan banyak basa-basi, cepat katakan siapa kamu?" Tanya Denis langsung tak ingin bermain-main kata memutar-mutar.
"Aku ingin menawarkan sesuatu yang membuat mu tertarik," kata pria itu dengan percaya diri.
Seakan mengerti pemikiran lelaki di depan nya, pria itu pun mengulurkan tangan nya.
"Saya Wilson, kamu tidak perlu tahu siapa saya tetapi aku tahu semua tentang mu dan musuh kita sama," kata pria itu menyakinkan.
"Aku bisa membantu mu menghancurkan keluarga Abraham itu," lanjutnya menyeringai .
"Aku tak perlu bantuan mu," sinis Denis karena dia belum sepenuhnya percaya dengan lelaki di depan nya itu.
Sebenarnya Denis ingin menerima tawaran pria itu, namun dia takut justru pria itu menipu dia dan lebih menjerumuskan dia lagi ke dalam bahaya.
Denis pun berdiri, dia akan beranjak meninggalkan pria asing itu.
"Tunggu...." Pria itu tak patah semangat, dia masih berusaha membujuk lelaki muda itu.
"Apa mau mu," tanya Denis menatap pria yang bernama Wilson itu.
Pria itu berdiri menghampiri Denis dan masih berbisik di telinga nya.
__ADS_1
"Aku bisa membebaskan mu," bisik Wilson melirik ke arah petugas yang sedang mengawasi dari jauh.
Sedangkan Denis terdiam mematung mencerna kata-kata yang di ucapkan pria tadi.
"Aku akan datang lagi, ku tunggu jawaban dari mu," kata Wilson menepuk pundak Denis dan berlalu meninggalkan tempat itu.
"Ayo," kata petugas itu menghampiri Denis yang masih masih diam di tempatnya.
Denis tersentak kaget mendengar suara petugas itu, Denis pun mengikuti langkah petugas itu kembali ke sel.
Denis termenung di tempat nya, dia mengingat dirinya bisa berada di tempat ini. Dia di jemput paksa karena laporan dari Tio. Melihat itu sang mama begitu terpukul, melihat kedua orang yang di sayangi di dalam jeruji penjara.
Tanpa dia sadari air mata merembes membasahi pipinya, meskipun sakit hati kepada Tio namun dia tak bisa berbuat lebih jauh lagi.
"Ma.... Denis kangen, apa mama makan dengan teratur?" Denis begitu mengkhawatirkan kondisi sang mama saat ini.
Sang mama pasti sangat terpuruk, perusahaan keluarganya hancur, suaminya berselingkuh dan Denis maupun pak Rangga harus mendekam karena ulah mereka sendiri.
Denis begitu khawatir bagaimana keadaan mama nya saat ini, Denis ingat terakhir kali dia di bawa sang mama menangis pilu tak rela anak dan suaminya harus di bawa paksa.
'Apa aku harus meminta bantuan Tio,'
'Apakah aku harus memohon supaya dia membebaskan ku,'
'Aku tidak ingin menjatuhkan harga diri ku di depan nya tetapi aku binggung bagaimana aku bisa bebas dari sini, bagaimana pun aku harus menjaga mama karena aku takut sesuatu terjadi dengan mama,'
'Bagaimana keadaan papa saat ini?'
'Kenapa papa tega melakukan semua ini ke mama? Aku begitu membencinya, karena dia telah tega menyakiti mama yang begitu baik, berkorban apapun demi dia. Aku benci Papa,' batin Denis begitu murka mengingat semua kelakuan pak Rangga yang membuat dia
Denis terus bicara di dalam hati meluapkan semua rasa yang tak bisa dia ungkapkan, dia begitu terpukul karena keluarga yang dia kira harmonis itu bisa hancur tanpa ada yang menduga.
'Aku memiliki mu tetapi aku juga tidak bisa melihat mama yang ku sayangi merana apabila aku masih berada di sini. Aku harus bagaimana? Apa aku harus menerima tawaran pria asing itu atau aku harus mengemis meminta Tio mencabut laporannya agar aku bebas dari sini,'
Denis di landa kebimbangan.
B E R S A M B U N G....
__ADS_1