
Tok tok tok tok tok....
"Masuk," titah Abraham.
Ceklek...
"Tuan..." Hendra menunduk sopan.
Abraham melepas kaca mata baca nya. Dia menatap ke arah Hendra dengan kening mengerut.
"Ada apa?" Tanya Abraham tanpa basa-basi.
"Maaf tuan, saya hanya menyampaikan kalau dokter Rian saat ini tengah berada di rumahnya, dia pulang bersama dengan istrinya serta membawa putri nya yang masih berumur 2 bulan," jelas Hendra menyampaikan kabar yang dia dengar, apalagi Abraham tak lain adalah sahabat dokter Rian.
Kesibukan keduanya membuat dia jarang berkumpul bersama maupun bertukar pesan.
"Apa benar dia sudah kembali ke negara ini, kenapa dia tak menghubungi ku?" Tanya Abraham karena setahu dia dokter Rian memilih mengikuti istrinya pergi ke luar negeri.
Dokter Rian mau tak mau harus ikut ke sana karena orang tua kandung dari istrinya tinggal di sana, dokter Rian pun terpaksa menggantikan posisi sang ayah mertua di perusahaan itu. Terlebih lagi istrinya itu hanya anak satu-satunya, konflik di keluarga sang istri mengharuskan dokter Rian harus ikut ke sana untuk membantu mengurus semuanya.
"Sudah tuan, mungkin dokter Rian lupa. Setahu saya kemarin mereka baru saja tiba mungkin dokter Rian masih lelah sehingga lupa memberi kabar," kata Hendra berhati-hati dalam berbicara.
"Hmmm..." Jawab Abraham.
"Jangan lupa, besok kamu batalkan pertemuan ku dengan perusahaan milik pak Anggoro. Besok aku ingin mengajak istri dan anak-anak untuk berkunjung ke rumah dokter Rian," jelas Abraham.
"Maaf tuan, bagaimana kalau kita jadwalkan ulang saja," kata Hendra memberikan solusi.
Hendra tidak mungkin membatalkan pertemuan penting itu dengan alasan yang tak masuk akal. Hendra pun memilih menundanya saja.
"Terserah, kamu atur saja bagaimana baiknya," jawab Abraham.
"Kalau tidak ada yang di bahas, silahkan kamu lanjutkan pekerjaan mu," kata Abraham seperti mengusir asistennya itu.
Glekkk....
Mendapat pengusiran halus, Hendra pun paham dan segera meminta ijin untuk pergi.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi tuan," jawab Hendra dengan sopan meminta ijin untuk pergi dari ruangan milik Abraham.
Setelah Hendra pergi, Abraham berdiri menatap ke arah luar jendela.
"Apa misi mu di sana sudah sukses sehingga kamu memutuskan pulang bersama anak dan istrimu," guman Abraham tersenyum namun senyum yang sulit di artikan.
*****
Keesokan harinya....
Abraham sudah berbicara kepada sang istri kalau mereka akan berkunjung ke rumah dokter Rian.
Mendengar hal itu Arin begitu antusias terlebih lagi, Arin mendengar kalau dokter Rian sudah mempunyai anak.
Hari ini keluarga kecil Abraham sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah dokter Rian.
"Ma kok adik Andra tidak di ajak sih?" Tanya si cantik Aurel.
"Takutnya nanti adik Andra rewel,"
Sedangkan Arin masih mengecek barang apa saja yang akan dia bawa.
"Ayo apa kalian sudah siap semua?" Tanya Abraham melirik ke arah semuanya.
"Sudah pa dari tadi, kalau kak Abrian masih sibuk main game," jawab Aurel melirik ke arah Abrian yang fokus ke pada ponselnya.
"Ck dasar tukang ngadu," kesal Abrian melirik Aurel sekilas.
"Hey boy, sudah jangan ketus begitu sama adikmu," tegur Abraham.
"Maaf pa," jawab bocah tampan itu menunduk.
"Ayo sayang," kata Arin mengalihkan perhatian ketiganya.
"Sudah semua ma, tidak ada yang kurang atau ketinggalan, nanti takutnya di jalan baru ingat ada yang ketinggalan terus balik lagi, kan gak lucu ma," kata Abraham panjang lebar.
"He he he he he he, tenang mas semua aman tidak ada yang ketinggalan," jawab Arin percaya diri.
__ADS_1
"Benar?" Tanya Abraham kedua kalinya.
"Iya sayang," jawab Arin.
"Ma... Ma.... Ma... Ma...."
Arin menunduk kala baju nya di tarik-tarik, siapa lagi pelakunya kalau bukan Andra yang sudah bisa berjalan dan mengucapkan beberapa kata seperti mama, papa, rel dan kata pendek lainnya karena lebih gampang.
"Tuh yang ketinggalan," tunjuk Abraham ke arah bocah laki-laki yang sedang menarik baju sang istri.
"Uluh uluh anak mama," kata Arin mengendong anaknya.
"Ba ba ba..." Bocah itu mengoceh tak jelas.
Cup cup.... Arin mendengus wajah sang anak dan menciumnya bertubi-tubi.
Ha ha ha ha ha ha ha.....
Bocah kecil itu pun tertawa karena merasa geli.
"Adik Andra di rumah saja ya, jangan rewel ada Oma kok," Aurel mengelus kaki sang adik yang di gendong mama nya.
"Ayo berangkat," kata Abraham menatap jam tangannya saat ini.
Abraham pun mengambil Andra tak lupa mendaratkan kecupan sayang di kening sang anak.
"Jangan buat Oma susah ya nak, papa dan mama cuma sebentar," kata Abraham setelah itu dia menyerahkan Andra ke sang bunda meskipun awalnya Andra tak mau merengek ke arah Abraham membuat Abraham tak tega.
"Da da da andik Andra, jangan nangis nanti kakak kasih susu coklat," bujuk Abrian.
Ha ha ha ha ha ha ha.....
Andra tertawa mengira sang kakak sedang mengajaknya bermain.
Meskipun berat hati Arin dan Abraham pun berangkat menuju ke rumah dokter Rian.
Bersambung....
__ADS_1