
Anak-anak begitu antusias memilih baju yang cocok untuk mereka.
"Ma ini bagus kan buat Aurel," gadis kecil itu terlihat antusias memilih baju untuk dirinya.
"Bagus, ayo kita coba dulu nanti kalau kurang besar tinggal kita cari ukuran yang cocok buat Aurel," kata Arin mengajak anaknya ke ruang ganti.
"Abrian mau yang mana?" Tanya Arin.
Abrian pun menyodorkan baju pilihan tanpa berbicara.
Arin pun mengajak ke dua anaknya menuju ruang ganti. Sedangkan Abraham memilih beberapa baju yang cocok untuk Arin.
Abraham membawa baju itu kepada Arin.
"Kamu coba, mana yang cocok," perintah Abraham. Meskipun ragu tetapi Arin menerima nya.
Setelah itu kedua bocah itu muncul setelah mencoba beberapa baju dan memperlihatkan kepada Arin maupun Abraham.
"Mbak...." Teriak Arin kepada salah satu SPG. Dengan senang hati SPG itu pun menghampiri mereka.
"Mbak yang ini ada tidak warna pink, ukuran L dan yang ini juga minta warna biru ukuran sama," pinta Arin menyerahkan beberapa baju yang di pilih kedua anaknya.
Arin pun masuk dan mencoba baju yang di pilihkan Abraham.
Setelah selesai, mereka menuju kasir untuk membayar semuanya. Mereka pun berniat untuk pulang.
Tak henti-hentinya kedua anak itu berceloteh kepada Abraham meskipun di tanggapi dengan singkat oleh sang papa.
Langkah Arin terhenti kala manik mata indah itu tak sengaja melihat orang yang begitu dia benci.
Arin memandang toko itu, toko biasa berisi perlengkapan baju anak-anak dengan harga yang murah menurutnya.
Arin mengenal wanita itu, wanita yang begitu dia benci.
Ingin rasanya dia pergi menghampiri orang itu dan menampar nya dengan sangat kencang.
Arin melangkahkan meninggalkan Abraham dan kedua anaknya.
Abraham mengerutkan keningnya kala melihat Arin yang tengah berjalan ke depan dengan tatapan kosong. Abraham pun mengikuti arah pandang Arin.
Tinggal beberapa langkah lagi Arin sampai di depan orang itu. Tetapi Arin mengurungkan niatnya kala melihat penampilannya yang terlihat lusuh, tidak seperti dulu yang tampil selalu keren dan bergaya mengikuti trend serta memakai barang-barang bermerek.
Arin menyipitkan matanya untuk memastikan, ternyata benar itu adalah dia.
Berbagai pertanyaan muncul di benak Arin.
'Apa yang membuat mereka berpenampilan seperti itu, apakah usaha keluarga nya bangkrut, apa yang terjadi selama ini,'
Arin hanya bisa menebak-nebak saja. Arin menghela nafas dia hendak berbalik mengurungkan niatnya untuk menghampiri dia.
__ADS_1
Langkah kaki Arin terhenti kala mendengar suara yang membuat darah nya mendidih.
"Bagaimana dengan ini, pasti cocok untuk anak kita nanti," tanya wanita itu kepada sosok laki-laki yang membelakangi Arin sehingga wajahnya tak terlihat oleh nya.
"Terserah," jawaban dari laki-laki itu membuat Arin terdiam. Suara itu begitu familiar di telinga nya.
Arin terdiam.... Apakah benar itu suara orang yang dia kenal nya, laki-lakinya yang pernah membuat hidup nya hancur.
Tetapi Arin menyergit heran kala mendengar jawaban dari laki-laki itu terlihat cuek atau terkesan malas.
Prok prok prok prok prok prok.....
Arin menoleh saat mendengar tepukan tangan begitu keras di samping telinganya.
"Wah sayang, apakah kamu tak ingin melihat mantan sahabat kamu," kata Abraham kepada Arin.
'Kenapa sih pria tua ini suka sekali mencampuri urusan orang lain,' Arin menggerutu dalam hati.
Kedua orang yang berada di dalam toko itu menoleh kala mendengar suara tepuk tangan dari luar toko.
Deg .....
Pria itu terpaku menatap Arin. Rasa rindu yang begitu dalam membuatnya melangkah menuju luar toko.
"Arin........" Lirih Jo.
Benar dugaan Arin kalau Veli bersama dengan Jo.
"Maaf kamu bilang," sinis Arin. Bukan mendapatkan maaf tetapi justru Arin memilih untuk pergi.
"Tunggu....." Tangan Arin di tarik oleh Jo.
"Arin bagaimana kabarmu? Aku sangat merindukanmu," lirih Jo.
Plak.... Abraham menepis kasar tangan Jo.
"Jangan pernah anda sentuh istri saya," kata Abraham, Jo maupun Veli pun terbelalak mendengar nya.
'Jadi Arin menikah dengan laki-laki kaya dan begitu tampan, pasti sekarang hidup nya enak sedangkan aku,' sinis Veli di dalam hati.
Dia begitu iri melihat Arin sekarang terlebih lagi Arin begitu cantik dengan penampilan yang sekarang.
"Jo...." Veli mencoba meraih tangan tetapi di tepis kasar Jo.
"Sayang... Kamu tidak penasaran dengan apa yang terjadi dengan kedua SAHABAT baik mu ini," kata Abraham menekankan kata sahabat.
Sebenarnya Arin ingin protes, kala Abraham mengakui dirinya sebagai istri terlebih lagi panggilan sayang membuatnya merinding.
Arin terdiam, terlebih lagi dia heran bagaimana bisa Abraham mengetahui kalau Veli adalah sahabatnya.
__ADS_1
Ketiga nya memandang ke arah Abraham.
"Aku beritahu ya sayang, kedua sahabatmu ini telah menikah," jelas Abraham.
Arin kaget mendengar nya, benar saja semua itu sesuai dengan tebakannya tadi.
"Apa kamu tidak ingin tahu jawabannya, kenapa mereka bisa menikah,"
Arin mengeleng sebagai tanda tak mengetahui nya.
"Mereka telah kedapatan tidur bersama dan mereka di gerebek polisi karena kedapatan mengkonsumsi obat terlarang," jelas Abraham.
Arin menutup mulutnya tak percaya.
"Kamu pasti heran kenapa dia hanya sanggup membeli baju di toko biasa seperti ini, sedangkan dia dulu tak pernah lepas dari barang mewah," kata Abraham memandang remeh ke arah keduanya.
Sedangkan Jo tangannya terkepal erat mendengar laki-laki ini mempermalukan diri nya di hadapan Arin, sedangkan Veli tertunduk malu.
"Harta yang mereka banggakan telah habis, karena kedua perusahaan kecil milik mereka berdua bangkrut setelah dana perusahaan di bawa kabur oleh karyawan mereka sendiri," ejek Abraham ke arah keduanya. Abraham begitu puas melihat wajah kedua nya.
" Selamat atas pernikahan kalian. Apa kamu masih ingat dengan kata-kata ini Veli.... Kamu tidak pernah mau berteman dengan wanita miskin seperti aku kan, kamu hanya menganggap aku hanya sebagai Upik abu," kata Arin.
Deg.... Veli kaget bagaimana Arin tahu kalau dulu dia sering menyebut Arin dengan panggilan Upik abu di dapan teman nya dulu.
" Sekarang lihatlah siapa yang di sini terlihat seperti Upik, ingatlah kata-kata ku... Roda selalu berputar dan inilah karma untuk kalian," sinis Arin meninggalkan Veli maupun Jo.
"Ayo sayang....." Abraham pun merangkul pinggang Arin dengan begitu posesif.
Jo melihat itu pun tersenyum getir, tangannya terkepal erat.
"Ini semua gara-gara kamu," teriak Jo kepada Veli, setelah itu dia meninggalkan Veli sendirian.
Veli begitu kesal karena kejadian ini apalagi sekarang melihat Arin yang lebih segala-galanya dari nya, semakin menambah kebencian di dalam hatinya.
***
Plak..... Arin menepis tangan Abraham di pinggangnya.
"Om lepaskan tangan mu, dasar pak tua genit," grutu Arin meninggalkan Abraham.
Abraham melotot.
"Ckk memang aku terlihat tua sampai dia selalu memanggilku dengan sebutan om, awas kamu kucing nakal, pak tua ini akan menghajar mu tanpa ampun," guman Abraham mengikuti langkah Arin.
Sedangkan anak-anak sudah terlebih dahulu diantar bodyguard Abraham sedari tadi, Abraham tak ingin kedua anaknya melihat kejadian tadi.
.
.
__ADS_1
B E R S A M B U N G......
Wah Arin ketemu sama Veli nih🙈, rasain kan Veli juga dapat kurma eh karma maksudnya 🤣🤣🤭