Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 149


__ADS_3

Tio memeriksa ban mobil nya ternyata ada 2 paku yang menancap di sana.


Amanda yang berada di belakang Tio menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang di lakukan Denis.


"Aku tak menyangka dia berbuat seperti ini," lirih Amanda.


"Karena itu aku selalu menempatkan bodyguard bayangan di samping mu. Aku tahu lelaki itu bukan orang yang baik, dia tidak akan mudah menerima kekalahan," jelas Tio kepada sang kekasih.


"Terima kasih, mas Tio sudah menjaga ku," balas Amanda dengan tulus.


Denis melihat itu pun semakin kesal, dia tak rela Amanda menjadi milik Tio bukan miliknya.


"Ha ha ha ha ha ha, bagaimana dengan hadiah ku. Apakah kamu suka?" Denis tertawa menatap remeh ke arah Tio.


Tiga orang muncul dari belakang pria tadi membuat Tio langsung waspada.


"Sayang, kamu masuk ke dalam mobil. Meskipun ini masih wilayah kampus tetapi aku takut terjadi sesuatu sama kamu," pinta Tio dengan suara kecil kepada Amanda.


Amanda menurut, dia dengan cepat masuk ke dalam mobil.


Meskipun ada beberapa mahasiswa maupun mahasiswi yang lewat namun tak ada yang berani ikut campur, mereka tahu bagaimana watak Denis.


Ya orang yang sengaja melakukan semua itu adalah Denis.


"Cih kamu menggunakan cara kotor untuk melawanku," sinis Tio menatap ke arah Denis. Tio sungguh tak menyangka kalau Denis sengaja berbuat hal senekad itu padahal ini masih di wilayah kampus.


"Kamu tidak takut ketahuan sama pihak kampus," kata Tio seolah mempertegas keadaan mereka yang mengepungnya di sini.


"Ha ha ha ha ha ha, itu urusanku. Aku hanya ingin melihatmu tersiksa di depan Amanda," kata Denis tertawa jumawa.


"Cih, kamu beraninya keroyokan. Kalau berani lawan aku sendiri," tantang Tio dengan penuh percaya diri.


'Cih melawan kalian semua sih aku pasti menang tetapi aku ingin membuatmu malu sendiri karena berani berkoar-koar menantang ku,' batin Tio.


Tio memberi anggukan kepada seseorang dari kejauhan, dia sudah menyiapkan siasat untuk membuat namanya bersih nanti.


"Kenapa kamu membuat ban mobilku kempes hanya untuk mengajak ku bertarung," kata Tio seolah-olah dia lupa alasan Denis melakukan semua ini.


"Aku tak terima karena kamu yang di pilih oleh Amanda padahal aku sudah melamar nya dulu," teriak Denis murka.


"Ck mimpi Lo, semua juga tahu kalau Amanda itu pacar ku," jawab Tio tenang namun penuh penekanan.


"Halaaaah jangan banyak bacot," teriak Denis mengarahkan bogem mentah ke wajah Tio.


Bug


Bug


Bug


Tio dengan cepat menangkis tangan Denis, keduanya terlibat baku hantam.

__ADS_1


"Ayo hajar dia terus Denis jangan sampai kalah," teriak teman Denis tak terima.


Bug..


Pukulan keras mendarat mengenai rahang Denis.


"Cih..." Tio tersenyum remeh ke arah Denis.


"Jangan sombong kamu," teriak Denis tak terima atas pukulan yang dia terima dari Tio.


Bug bug bug....


Denis melayangkan tinju nya namun Tio berhasil menangkis semuanya.


Bug bug bug bug...


Keduanya bertarung sengit, meskipun Tio juga mendapat pukulan namun tak seberapa parah sedangkan Denis wajah nya sudah lebam, dia tersungkur di lantai memegang perutnya yang terasa sakit akibat pukulan Tio.


Hos hos hos hos hos hos hos....


Keduanya berhenti, mengatur nafasnya yang terengah-engah karena kelelahan.


Denis melirik ke arah temannya untuk meminta bantuan. Dia sudah tak kuat melawan Tio sendirian.


Teman-teman Denis sedikit ragu.


"Cih segitu kemampuan loh," kata Tio menatap remeh ke arah Denis yang sudah tak berdaya.


"Eh cepat serang dia," perintah Denis.


"Kalian berani maju selangkah, kita tidak akan ampuni kalian," kata Rio mengepalkan tangannya seolah memberi peringatan.


Rio tak sendiri, ada Nino, Bram dan Reza yang sudah memasang kuda-kuda bersiap untuk menyerang mereka bertiga.


Ketiga teman Denis memilih kabur, mereka berfikir tidak akan menang melawan teman Tio yang berjumlah empat orang sedangkan mereka cuma bertiga. Tentu sudah pasti mereka kalah daripada babak belur mending mereka kabur.


"Hei kenapa kalian lari, dasar kalian pengecut," teriak Denis tak terima kala teman-temannya meninggalkan dirinya sendiri.


"Ha ha ha ha ha ha, rasain," ledek Nino tertawa melihat wajah Denis.


Denis menatapnya penuh kebencian.


"Apa Lo, mau kita hajar rame-rame," kata Reza mencemoohnya.


Denis mencoba berdiri, dia memilih pergi mencari aman karena dia tak mungkin menang melawan mereka sendirian.


"Tunggu pembalasan ku," Denis berteriak mengacungkan telunjuk nya.


"Ck kita tunggu," kata Rio menimpali.


Melihat situasi yang sudah aman, Amanda yang berada di dalam mobil pun memilih untuk keluar menghampiri sang kekasih. Amanda memeluk Tio, dia mengecek tangan dan wajah Tio takutnya ada yang parah.

__ADS_1


"Apa ada yang terluka," tanya Amanda penuh rasa khawatir.


"Tidak ada, aku ini kuat," jawab Tio memperagakan diri seolah-olah dia atlet angkat besi.


"Ishhhh... Dasar narsis," Amanda mencubit Tio dengan gemas.


"Ha ha ha ha ha ha ha.... Ampuuuun sayang," teriak Tio berusaha menghindari cubitan sang kekasih.


"Ayo pergi, malas aku di sini liat mereka buat drama romantis terus," cibir Rio tak lupa memutar bola matanya malas karena menatap kedua orang di depannya.


"Ck bilang saja iri," jawab Tio dengan sombongnya.


"Ayo," Rio menarik tangan Reza, Nino dan Bram pergi.


"Eittssssss tunggu," teriak Tio membuat semuanya berhenti.


"Apa?" Rio menatap ke saudara nya itu dengan mengerutkan keningnya.


"Aku mau tanya Nino bukan kamu," kata Tio membuat saudara nya itu pergi berlalu.


"Apa tadi sudah kamu rekam semuanya," tanya Tio.


"Beres.." Nino mengacungkan jempol nya tanda semua telah dia lakukan dengan benar.


Nino pun berlalu mau meninggalkan Tio dan Amanda sendirian.


"Hei enak saja mau pergi, terus siapa yang akan ganti ban mobilku. Apa kamu lupa tadi pesanku untuk telephon pihak bengkel bawa ban cadangan," Tio berteriak membuat Nino berhenti seketika.


Nino gemetar, dia lupa perintah Tio yang satu itu.


"He he he he he he he, sorry lupa," jawabnya cengengesan.


"Pokonya kamu harus tanggung jawab," Tio melempar kunci mobil itu ke Nino dengan cepat.


"Hei ini apa?" Tanya Nino binggung.


"Mobil itu jadi urusan kamu, aku mau ke kantin dulu beli minum. Kalau sudah beres temuin aku di dalam," jawab Tio berlalu mengandeng tangan Amanda dengan cepat.


"Eh Tio... Mana bisa begitu," protes Nino namun Tio tak menggubris nya.


"Tio...."


"Woe..."


"Tio.."


Teriak Nino berkali-kali namun tak ada sahutan, justru Tio melambaikan tangan saja.


"Ck dasar Tio,"


"Aaaah aku di kerjain,"

__ADS_1


Berkali-kali Nino menggerutu kesal, tak lupa umpatan-umpatan yang dia lontarkan karena kesal di tinggal sendiri dan di suruh mengurus mobil itu.


B E R S A M B U N G...


__ADS_2