Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 65


__ADS_3

Mobil yang di tumpangi Aurel dan Abrian memasuki gerbang mansion Abraham.


Dengan riang, Aurel maupun Abrian turun dari mobil.


"Mama.... Kami pulang," teriak kedua bocah kembar itu, kedua nya berlari memasuki rumah.


Keduanya pun berlari menuju taman belakang, dan benar saja Arin tengah berbincang dengan bunda di sana.


"Mama...." Teriak keduanya senang.


"Eh anak mama sudah pulang," kata Arin dengan tersenyum manis.


"Mama mbak Tina?" Tanya Arin karena tak melihat keberadaannya.


"Mbak Tina ke atas, taruh tas kita ma," jawab Abrian sambil memeluk Oma nya.


"Ish .... Kalian berdua bau asem, mandi dulu," kata Arin menutup hidungnya.


"Ma nanti dulu ya," rengek Aurel.


"Tidak, sekarang kalian berdua mandi terus nanti kita jalan-jalan mal," kata Arin kepada kedua anak kembarnya.


"Kita mau beli apa ma?" Tanya Abrian.


Sedangkan bunda tersenyum melihat kedua cucunya begitu cerewet, ingin tahu banyak hal.


'Nanti setelah aku tidak tinggal di sini lagi, pasti aku akan begitu merindukan kalian berdua, berat buat Oma ninggalin kalian dan juga kamu Arin.... Anakku, tetapi aku takut merepotkan Abraham karena kami semua ada di sini ," guman bunda di dalam hati yang merasa sedih akan berpisah dari ketiga orang di depannya.


Bagaimana tidak, keduanya sedari bayi di rawat oleh nya ketika Arin tengah sibuk bekerja.


Bunda mengusap sudut matanya yang tiba-tiba berair, bunda tersenyum memandang ke arah anak dan cucunya.


"Lho Oma nangis?" Tanya Aurel saat melihat sudut mata Oma nya basah.


"Tidak sayang," elak bunda Arin.


"Itu apa?" Tunjuk Aurel ke arah wajah Oma nya.


"Jangan bohong Oma, nanti dosa," celetuk bocah perempuan itu menyambung ucapannya.


Arin pun melihat sang bunda karena mendengar perkataan dari sang putri. Arin mengerti isi hati Bundanya, Arin tahu mungkin berat untuk bunda meninggalkan anak berserta cucu nya.


"Ya sudah kalian cepat mandi," pinta Arin, keduanya pun mengangguk dan berlari menuju kamarnya.


Selepas kepergian kedua bocah tadi.


"Apa tidak sebaiknya bunda di sini saja," Arin masih berusaha membujuk bunda nya.


"Tidak nak, kamu sudah berkeluarga jadi sebaiknya bunda, nek Ijah dan kedua adikmu pindah dari sini," jawab bunda tak merubah jalan pikirannya.


Arin menghela nafas panjang, Arin pun mengangguk dan memeluk wanita yang telah melahirkan nya itu dengan sayang.


Keduanya pun masuk ke dalam, karena cuaca berubah mendung.


Bunda memilih masuk ke dalam kamar dan merapikan baju nya ke dalam koper. Sedangkan Arin menghampiri mbak Tina, Arin ingin mengutarakan maksudnya biarkanlah dirinya di bilang egois, Arin tak perduli karena bagi Arin menikah sekali seumur hidup meskipun awal pernikahan dia karena kedua anaknya tetap saja Arin akan mempertahankan nya.


Mbak Tina turun dari lantai atas, dia baru saja mau berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


"Mbak Tina...." Suara Arin terdengar di telinga mbak Tina, membuat mbak Tina mau tak mau harus menghentikan langkahnya.


'Kenapa aku mempunyai firasat buruk,' batin mbak Tina menatap Arin dari kejauhan. Mbak Tina menghela nafas panjang, berbalik menuju di mana Arin berada.


"Apa Bu Arin memanggil saya?" Tanya mbak Tina pura-pura.


"Iya, ayo duduk. Saya ingin berbicara sesuatu," lirih Arin.


Mbak Tina pun menurut kata Arin.


Arin terdiam mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk dia ucapkan.


"Maaf mbak, mulai besok saya tidak bisa memperkerjakan mbak Tina di sini," kata Arin, dia masih menatap mbak Tina. Arin ingin mengetahui ekspresi wajah apa yang akan di tampilkan di wajah mbak Tina.


Deg ....


Mbak Tina terkejut tangannya mengepal di bawah meja, dia langsung gelisah. Apa gerak-gerik dirinya di ketahui oleh Arin, itulah yang sedari tadi di pikirkan nya.


Arin tersenyum kecut melihat wajah mbak Tina yang berbeda dari pikiran Arin.


"A-apa maksud Bu Arin?" Tanya mbak Tina dengan sorot mata yang sulit di artikan.


"Apa saya di pecat?" Lanjut mbak Tina lagi.


"Sebenarnya saya tidak ingin memecat mbak Tina karena selama ini mbak Tina membantu menjaga si kembar dengan baik, tetapi sekarang si kembar sudah besar dan mandiri dan juga di sini saya sudah tak sibuk bekerja lagi seperti dulu," Arin menghela nafas panjang.


"Kalau mbak Tina tidak keberatan saya ingin mbak Tina ikut bunda dan menjaga nek Ijah," sambung Arin berpura-pura menapakkan wajah polos nan sendu, Arin sudah banyak mengalami kesulitan jadi dia bisa sedikit menilai wanita yang ada di depannya itu.


Mbak Tina memandang nanar sosok Arin yang terlihat polos dengan senyum manisnya, tetapi di mata mbak Tina seolah senyum itu senyum mengejek.


Mbak Tina pun mengangguk saja tak mengiyakan, dia ingin menyusun rencana terlebih lagi dia sudah mempunyai orang yang mau membantu mewujudkan keinginannya menjadi orang kaya tanpa bekerja, mbak Tina sudah lelah menjadi asisten rumah tangga maupun baby sitter karena uang yang di kirim untuk keluarganya tak mencukupi untuk sekolah kedua adiknya.


"Saya pamit Bu,"


Mbak Tina berdiri setelah berpamitan dia memilih pergi merebahkan tubuhnya di kamar nya.


"Apa aku gunakan saja obat itu untuk tuan Abraham, aku bisa memberikan nya saat dia ingin minum kopi malam hari," guman mbak Tina tersenyum licik.


☘️☘️☘️


Sore hari suasana mansion nampak sepi, Arin, bunda dan kedua anaknya pergi ke mall. Awalnya Arin menolak tetapi Aurel merengek membuatnya harus mengiyakan saja.


Tap tap tap tap tap....


Abraham melangkahkan dengan cepat menuju kamar, di sudut tempat mbak Tina memperhatikan gerak-gerik nya.


"Ternyata waktu berpihak kepada ku," guman mbak Tina tersenyum licik.


Arin memasuki kamar, dia mencari Arin tetapi tak melihat nya di mana-mana. Abraham baru teringat kalau Arin dan anak-anak pergi ke mal terdekat bersama mertua dan anaknya.


"Huu... Rumah terasa sepi," guman Abraham yang sudah terbiasa dengan keramaian akibat ulah si kembar.


Kruk... Kruk... Perut Abraham berbunyi.


Abraham pun bergegas mandi dan setelah itu dia ingin makan karena perutnya sudah tak sabar ingin di isi.


Lima belas menit kemudian Abraham turun menuju ke meja makan.

__ADS_1


"Pak nan tolong siapkan meja makan," perintah Abraham.


"Baik tuan, mohon tunggu sebentar," jawab pak nan.


Semuanya pun bergegas menata meja atas instruksi dari pak nan.


Abraham menikmati makan dengan lahap, setelah selesai dia bergegas menuju ruang kerja nya.


"Pak nan, nanti suruh siapa saja keruangan kerja saya untuk mengantarkan kopi," perintah Abraham.


"Baik tuan,"


Pak nan dengan cekatan menyuruh salah satu art untuk membuat kopi.


Di dapur .......


Saat sang art tengah sibuk membuat kopi, mbak Tina pun masuk ke sana berpura-pura membuat jus untuk dirinya.


Byuuujrrrr.... Tanpa di duga mbak Tina menumpahkan sedikit jus ke baju art tadi berpura-pura kepleset.


"Aduh maaf ya mbak," kata mbak Tina berpura-pura tak enak hati.


Art tadi kesal, mau marah pun percuma.


"Iya tidak apa-apa, tetapi saya tidak mungkin mengantar kopi pesanan tuan dengan baju kotor ini," lirihnya.


"Emmm.... Bagaimana kalau saya bantu mengantarkan nya," mbak Tina berusaha menyakinkan.


Art pun berfikir setelah itu dia mengangguk, karena dia tahu tuan Abraham tidak suka menunggu terlalu lama.


Dengan senang hati mbak Tina mengantarkan kopi itu.


Art pun pergi meninggalkan dapur untuk berganti pakaian.


Mbak Tina mengeluarkan botol kecil itu dan menuangkan sedikit, dia mengaduk dengan cepat tak lupa menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada yang melihat aksinya tadi.


Sampai di depan pintu ruang kerja Abraham.


Tok tok tok tok tok tok tok....


"Masuk,"


Ceklek.....


Mbak Tina masuk dengan senyum mengembang tetapi Abraham masih fokus ke kertas yang ada di tangan nya.


"Taruh saja di meja," kata Abraham tak menoleh sedikit pun.


Abraham menyeruput kopinya. Abraham menyergit saat lidahnya merasakan kopi yang aneh.


Byuuurrrr.... Abraham menyemburkan kopi itu, lidahnya terasa janggal merasakan ada sesuatu yang tak biasa.


"Kamu....."


B E R S A M B U N G....


Maaf ya kemarin gak update karena main kerumah mertua🤭

__ADS_1


__ADS_2