Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 109


__ADS_3

"Ha ha ha ha ha ha ha.... Selama ini aku terpuruk menangisi dia ternyata dia bersenang-senang di luar sana," lirih Abraham dengan tertawa sumbang.


Hendra memahami isi hati tuannya, sungguh miris melihat Abraham berbicara seperti itu.


"Mungkin ada alasan yang kita tidak ketahui tuan," jawab Hendra berhati-hati.


Abraham menyeka sudut matanya yang berair.


"Apa dia tak menginginkan ku lagi?" Tanya Abraham.


"Selama ini aku berusaha tegar, sela bertahun-tahun mencoba menguatkan hati dan jiwa ku untuk menerima semua kenyataan pahit itu, kenapa dia tak kembali lagi kepada ku," Abraham mengungkapkan perasaan selama ini.


"Biar ini jadi urusan kami, tuan fokus saja sama keluarga kecil tuan. Terlebih sekarang istri anda baru saja melahirkan," jelas Hendra mengingatkan tuannya.


"Tolong kamu cari tahu semuanya tanpa ada yang terlewat satu pun," jelas Abraham.


OEEEEK


OEEEEK


Terdengar suara tangisan Andra sampai ke dalam ruangan kerja itu.


"Tuan sebaiknya anda ke sana, mungkin anak anda mencari keberadaan anda," usul Hendra.


Abraham mendesah berat.


"Tolong kamu kasih kabar saya secepatnya," pinta Abraham.


Hendra pun mengangguk, keduanya akhirnya keluar dari ruangan itu. Abraham menormalkan wajahnya, senyuman pun tersemat di wajah Abraham.


"Cup cup jangan menangis sayang," bujuk Arin menepuk pantat bayi tampan itu dengan lembut.


"Kenapa sayang?" Tanya Abraham ke pada sang istri.


"Entahlah sayang," jawab Arin gelisah.


"Mungkin dia lapar, coba kamu kasih asi," usul Abraham menyuruh sang istri memberikan asi.


"Sudah ku coba tetapi dia tak mau," jawab Arin binggung.


"Coba cek popoknya takutnya dia pup atau pipis,"


"Sudah ku cek dan masih kering,"


"Coba tuan Abraham gendong baby Andra, mungkin baby Andra bisa diam karena aku juga sudah mencoba mengendong nya namun tetap saja masih menangis," usul istri Hendra.


"Iya nak mungkin baby Andra kangen dengan papa nya, bunda juga sudah mencoba mengendong tetapi masih saja menangis," jelas bunda.


"Ayo sini sayang, papa gendong," Abraham merentangkan kedua tangannya untuk meraih baby Andra dalam gendongan Arin.


Abraham menimang bayi kecil itu dengan penuh kasih sayang.


'Sayang apa kamu merasakan kesedihan papa, apa kamu ingin menghibur papa nak,' guman Abraham di dalam hati.

__ADS_1


"Wah benar kan adik minta gendong papa," Aurel begitu senang melihat sang adik tak menangis lagi.


Dan benar saja baby Andra berhenti menangis. Bayi itu seolah ikut merasakan kesedihan sang Papa.


"Om Hendra gendong, aku ingin melihat adik Andra," pinta Aurel merentangkan tangannya ke arah Hendra.


"Sama Tante saja sayang," tawar istri Hendra.


"Gak mau nanti Tante cepek, Aurel kan sudah besar nanti Tante gak kuat gendong Aurel," tolak Aurel tak mau di gendong istri Hendra.


"Ya..." Istri Hendra pura-pura cemberut.


"Sini Tante," Aurel pun memberikan ciuman manis di pipi.


"Terimakasih anak cantik,"


"Ayo om gendong," rengek Aurel.


Hendra pun mengendong Aurel dan mendekatkan bocah itu ke samping Abraham.


Aurel pun mencium pipi baby Andra dengan gemas.


"Om turunkan Aurel,"


Hendra pun berpamitan dengan Abraham dan keluarganya, dia tak lupa memberikan kado atas kelahiran putra tuan nya itu.


Tap tap tap tap...


"Wuih kesayangan om pulang juga," kata Tio yang baru saja tiba dari joging.


"Lihat doang kak," jawab Tio.


"Mandi dulu baru boleh pegang," kata Abraham ikut bersikap seperti sang istri.


Tio mendengus kesal, dia pun berbalik dan berjalan menuju kamar nya untuk mandi dan berganti baju.


"Tuh anak dari mana?" Tanya Arin.


"Dia sepertinya habis lari pagi sampai taman dekat cafe Rosella," jelas bunda yang hafal kebiasaan sang anak.


"Ha taman itu kan lumayan jauh dari sini,"


"Sayang ayo kita ke kamar, aku ingin merebahkan baby Andra di kasur," kata Abraham.


"Ma aku ikut ya," pinta Aurel.


"Abrian mau bermain saja di kamar ma," pamit Abrian.


Arin pun mengangguk setuju, dia pun mengikuti langkah sang suami menuju kamarnya.


Di dalam kamar Tio.


Dia mengambil ponsel dan mencari kotak nomor Amanda.

__ADS_1


Berkali-kali dia menghapus dan mengetik pesan.


Sambil tersenyum Tio mengetik sesuatu dan mengirim kan kepada Amanda.


"Pagi kekasihku, pagi ini begitu hangat seperti hangatnya cintaku kepada mu"


"Cerahnya matahari tak secerah senyuman mu,"


"Andai kamu ada di samping ku pasti aku kan semangat memulai pagi ku dengan senyuman manis, namun senyuman itu menghilang seiring hilangnya bayangan mu di hari-hari ku. Ijinkan aku menggapai mu dengan cinta ku,"


Dengan senyum mengembang Tio pun memikirkan reaksi Amanda saat menerima pesan dari nya.


Namun semua tak sesuai ekspektasi nya.


Tio menunggu cukup lama namun tak ada balasan dari seberang sana. Tio pun meletakkan ponselnya dan berlalu menuju kamar mandi.


Mungkin seperti inilah rasa kecewa yang dulu dialami Amanda, ah Tio baru tahu rasanya sesakit ini di abaikan. Apalagi dulu tak hanya cuek namun Tio juga sering berkata sinis ke Amanda, mengingatnya saja sudah membuat hatinya sakit.


Sungguh rasa bersalah kian besar di hati Tio, dia baru sadar kalau rasa itu tumbuh saat Amanda tak lagi perduli dengan dirinya.


Tio berjanji dalam hati, kalau pun nanti Amanda mau menerima dirinya kembali maka dia tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia akan mencintai Amanda selamanya.


Sedangkan di dalam kamar Amanda....


Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi, matahari sudah menampakkan sinarnya, cahaya hangat masuk melalui celah-celah jendela.


Namun gadis cantik itu masih bersembunyi di dalam selimut tebal yang membungkus tubuhnya.


Gadis itu mengeliat beberapa kali, namun mata nya masih engan terbuka.


Trink...


Trink...


Trink...


Dering ponsel menandakan pesan masuk, tak cukup satu kali berbunyi.


Berkali-kali ponsel gadis cantik itu berbunyi, namun gadis cantik itu masih terlelap dalam mimpi nya.


Ya setelah bangun subuh tadi, Amanda merebahkan tubuhnya lagi karena rasa kantuk masih bergelut manja di mata nya.


Tadi malam Amanda mengerjakan tugas dari dosen cukup banyak membuat dia mengerjakan sampai malam.


Amanda menguap, dia mengucek mata nya. Amanda meraih ponselnya. Betapa terkejutnya dia melihat pesan dari orang yang tak pernah dia sangka.


Amanda tersenyum melihat isi pesan itu.


Berkali-kali Amanda menepuk pipinya menyadarkan dirinya agar tak larut dalam kata manis Tio pagi ini.


"Sadar Amanda, ingat pesan Rio jangan sampai kamu dengan mudah menerima Tio setelah yang dia lakukan, buat dia berusaha dulu," guman Amanda.


"Jangan luluh dulu Amanda, lihat kesungguhan dia dulu," Amanda pun berkata pada dirinya sendiri.

__ADS_1


B E R S A M B U N G....


__ADS_2