Bento : The Real Bright Star

Bento : The Real Bright Star
Sebuah Perpisahan


__ADS_3

Sore itu, kulihat Thoriq sudah bersiap-siap. Dia memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil. Sontak, aku pun langsung mendekatinya.Tapi ia tak menyadari kehadiranku. Dan aku hanya termenung sambil menatapnya.


Sembilan tahun kami terus bersama-sama. Selama itu tak ada yang pernah memisahkan kita. Dia satu-satunya sahabatku, satu-satunya orang yang selalu mengerti diriku. Thoriq adalah sahabat terbaik, yang selalu menjagaku dan tak pernah mau melihatku sedih. Ia selalu rela bertingkah konyol demi membuatku tersenyum, batinku dengan terus menatap sahabatku itu yang asyik memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil.


Waktu aku sedang melamun, Thoriq tiba-tiba menghampiriku.


"Aulia!" ujar Thoriq seraya menepuk pelan bahuku.


"Kamu benaran mau pindah, Riq?" aku tersenyum tipis sambil menatap Thoriq.


"Iya, beberapa menit lagi aku akan berangkat," balas Thoriq sambil tersenyum tipis.


Aku cuma terdiam.


"Aulia, aku janji kalau ada waktu luang aku pasti kesini!" ucap Thoriq dengan serius sambil memegang kedua bahuku.


Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Oh iya, aku punya sesuatu untukmu. Tunggu sebentar," lanjut Thoriq lantas berjalan ke mobil Ayahnya.


Aku mengikutinya dan melihat Thoriq mengambil sesuatu di dalam mobil, setelah itu dia kembali kepadaku dengan posisi tangannya yang ia letakkan di belakangnya.


"Jadi, aku mau memberikanmu sesuatu sebagai kenang-kenangan," tutur Thoriq dengan disertai cengiran khasnya.


"Apa itu?"


"Ambillah!" sebuah pigura foto yang sangat unik disodorkan Thoriq ke arahku.

__ADS_1


"Pigura foto? Ini foto kita, sangat unik!" seketika aku langsung tersenyum bahagia melihatnya.


"Ternyata kamu suka! Nah, suatu saat jika kamu rindu kepadaku, lihatlah pigura foto itu! Hehe," ucap Thoriq dengan menepuk pelan bahuku seraya tertawa kecil.


Aku hanya tersenyum dengan terpaksa menanggapi perkataannya itu.


Setelah itu, Thoriq duduk di sampingku, dia mencoba membuatku tertawa sebelum ia pergi.


Aku hanya tersenyum tipis melihat Thoriq bertingkah konyol di depanku. Dia tertawa dengan riang, tawa itulah yang bakal kurindukan.


Saat kami sedang asyik-asyiknya bercanda dan tertawa bersama.


Tiba-tiba...


"Kak Thoriq?"


"Lho, kakak mau kemana, kok rapi?" tanya Betrand dengan polos.


Sontak, aku dan Thoriq pun beradu pandang.


Dengan nada suara yang parau; mungkin karena menahan tangis,Thoriq pun berkata, "Betrand, untuk sementara waktu Kakak pindah ke Bondowoso karena ayah Kakak dipindah tugaskan."


"Hah?" sontak Betrand dengan muka kaget


"Gapapa ya,Dek. Kak Thoriq akan sering ke sini kok!" hiburku sambil membelai rambutnya


"Iya, benar kata Kak Aulia!" lanjut Thoriq sambil tersenyum.

__ADS_1


Sekitar 5 menit kemudian...


"Aulia, sepertinya aku sudah harus berangkat," ucap Thoriq sambil melihatku dengan tatapan tak rela.


"Iya. Pergilah,Riq! Orang tuamu sudah menunggu," balasku sambil tersenyum dan berusaha untuk kuat.


"Betrand, Kakak pergi ya,Dek. Baik-baik disini, ya. Jaga Kak Aulia ya, Sayang!" nasihat Thoriq sambil menyalami Betrand lalu mencium pipinya.


"Aulia, aku janji, aku pasti kembali! Aku pergi dulu," ujar Thoriq lalu membalikkan badannya dan masuk ke dalam mobil.


Rasanya hatiku sesak menghadapi kenyataan ini.Tapi diri ini tetap tersenyum dan sekuat tenaga menahan air mata yang rasanya ingin mengalir begitu saja. Aku dan Betrand langsung menyalami kedua orang tua Thoriq, mereka memeluk kami dan berkata bahwa mereka pasti sering-sering kesini. Aku tau mereka juga tidak ingin hal ini terjadi, karena mereka sudah menganggap kami seperti anak kandungnya sendiri. Dan mereka tau, kami dari kecil selalu bersama. Sebenarnya, mereka tidak rela memisahkan kami namun takdir berkata lain.


Aku tersenyum ke arah Thoriq dan melambaikan tanganku, dia pun membalasnya. Tatapannya sangat sendu, senyumannya menggambarkan kesedihan yang begitu mendalam.


Aku berdiri terpaku menatap mobil orang tua Thoriq yang perlahan menjauh dariku sembari menghembuskan nafas dengan kasar. Seakan-akan tidak menyangka kalau semuanya akan menjadi seperti ini. Sahabat kecilku yang selama 9 tahun selalu bersamaku, kini meninggalkanku. Selama ini, berkat Thoriq aku merasa tidak pernah sendiri, dia seperti saudara kandungku dan kami saling menyayangi.Saat Thoriq senang, aku juga senang. Saat diriku sedih, Thoriq juga ikut sedih. Bahkan jika salah satu dari kami sakit, kami pasti jadi sama-sama jadi sakit.


Aku tak kuat lagi menahan tangisku, karena diriku benar-benar mengerti arti persahabatan itu apa. Diri ini pernah merasakan kasih sayang khusus dari seorang sahabat yang tidak pernah diberikan oleh siapa pun, bahkan oleh keluargaku.


Setelah itu, aku menatap pigura foto yang diberikan oleh Thoriq.


Thoriq...


Seandainya aku bisa mengatakan satu hal.


Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih serta ungkapan rasa kasih sayangku kepadamu.


Disaat semua orang bahkan keluarga sekalipun tidak mengerti diriku, kamu adalah satu-satunya orang yang berusaha mengertiku. Saat aku sedih, kamu selalu ada dan berusaha menghiburku, batinku dengan lirih.

__ADS_1


__ADS_2