
~ Author's POV ~
Karena tak tahan melihat suasana yang terbilang begitu sangat menegangkan tersebut, Thoriq pun membuka suara...
" Betrand..., gimana kalau kita pergi ke taman dekat rumah sakit ini ? " tanyanya sambil membelai kepala adik sahabatnya itu.
" Wah... Ide bagus tuh Kak ! Gimana, Betrand mau gak ? " timpal Aulia.
" Mau Kak " jawabnya dengan tersenyum tipis.
" Baik. Ayo dek...! " ujar Aulia sambil membantu adiknya duduk di kursi roda, sementara cairan infusnya dipegang oleh Thoriq.
Setelah itu, dengan pelan Aulia mendorong kursi roda adiknya menuju ke taman rumah sakit tersebut.
Beberapa menit kemudian udara yang sangat sejuk menerpa kulit mereka. Mereka berhenti di depan air mancur yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Sosok kecil Betrand terlihat antusias menatap air mancur itu, melihat indahnya pemandangan yang seketika memanjakan matanya, ia menjadi teringat dengan nasihat sang kakak beberapa waktu yang lalu tentang segala hal - hal kecil yang terbilang sangat sederhana yang sang kakak ingin, Betrand mengambil banyak pelajaran di balik itu semua.
Di sisi lain...
Thoriq asyik berkutat dengan pikirannya, ia sangat bingung dengan semua kejadian yang telah menimpa adik sahabatnya itu. Dia pikir semua itu bukan hal yang biasa, apalagi Thoriq memang tahu betul sikap Betrand meskipun ia bukan saudara kandungnya.
Karena tak tahan lagi dengan rasa penasaran yang berkecamuk di kepalanya itu, dengan pelan Thoriq pun menarik Aulia sedikit menjauh dari Betrand yang tengah asyik memandangi panorama indah taman rumah sakit tersebut.
" Ada apa Riq ? " Aulia merasa sedikit kaget dengan perlakuan Thoriq yang tiba - tiba menariknya.
" Maaf Ul, aku mau bicara sebentar denganmu ! Ini sangat penting, apalagi menyangkut adikmu " jawab Thoriq dengan menatap sahabatnya itu dengan serius.
" Oh ya, kenapa Riq ? " balas Aulia dengan penasaran.
" Kamu merasa ada yang aneh gak, dengan semua kejadian yang telah menimpa Betrand ? " tanya Thoriq dengan pelan sambil sesekali menoleh kepada Betrand.
Aulia menatap bola mata sahabatnya itu yang sangat serius dan kelihatan tengah panik dengan semua hal yang terbilang tak wajar tersebut.
Aulia terdiam cukup lama. Jauh dalam lubuk hatinya, ia membenarkan ucapan sahabatnya itu...
' Ternyata Thoriq pun ngerasain keanehan itu ' batin Aulia sambil menoleh ke arah adiknya yang masih asyik dengan apa yang ia lihat di taman itu.
Dengan pelan, Aulia menjawab pertanyaan Thoriq...
" Iya Riq, aku juga merasa ada yang aneh. Ya... Rasanya kecelakaan yang menimpa Betrand itu gak wajar ! Apalagi setelah mendengar perkatan mbak - mbak kemarin kalau Betrand ngamen. Aneh banget kan ? "
" Bener banget Ul " timpal Thoriq
Aulia hanya mengangguk.
" Jadi rencananya aku mau tanya Betrand tentang kejadian itu. Mungkin dia masih ingat. Gimana menurutmu Ul ? " cetus Thoriq.
" Ya gak masalah Riq " timpal Aulia.
__ADS_1
🌈🌈🌈
Setelah itu mereka pun mendekati Betrand...
" Asyik banget ya dek lihat pemandangannya ! " ujar Aulia sambil mengelus pipi adiknya itu.
Betrand hanya tersenyum sambil memegang tangan sang kakak.
Aulia terdiam sejenak, mencoba mengatur nafasnya agar dia bisa bertanya dengan lancar kepada adiknya itu.
Beberapa detik kemudian...
Dengan pelan Aulia memegang tangan adiknya dengan lembut, lalu ia berkata...
" Betrand, kakak mau tanya Dek... " jeda Aulia dengan hati - hati.
Betrand menoleh dengan pelan, lalu menjawab pertanyaan sang kakak...
" Iya Kak "
Aulia dan Thoriq beradu pandang, lalu Aulia menatap bola mata sang adik dengan bertanya...
" Betrand masih ingat gak, kejadian sebelum waktu hari kecelakaan Betrand ? " tanya Aulia sambil memegang pipi adiknya dengan lembut.
Betrand menatap sang kakak seperti ia sedang mengingat sesuatu. Lalu dengan polosnya dia menjawab pertanyaan Sang Kakak...
Oh tidak...!
Rasa nyeri yang teramat sangat menusuk kepalanya itu, meskipun begitu Betrand tetap mengingat kejadian yang telah membuatnya celaka seperti itu.
Dengan pelan, ia menceritakan semua itu dan terus berusaha mengingat dengan sempurna kejadian demi kejadian yang membuat dirinya sangat merana.
~ Flashback On ~
Tak seperti biasa, tepat hari itu Betrand sudah 4 hari berangkat sekolah sendiri tanpa ditemani Sang Kakak.
Sebenarnya hari itu jika ia mau, Betrand tidak usah pergi ke sekolah. Ya... sebelumnya Bi Surti bilang kepadanya bahwa dirinya akan pulang ke kampung halaman karena anaknya sedang sakit dan ia juga mengajak Betrand, tapi cuma Betrand yang tidak mau.
💙💙💙
" Betrand berangkat sekolah dulu ya Bi " ucapnya dengan pelan sambil mencium tangan Bi Surti.
" Iya Den...Den Betrand beneran gak mau ikut sama Bibi ? " tanya Bi Surti dengan nada khawatir.
Sebenarnya ia khawatir nanti tak ada yang mengurus Betrand, Bi Surti juga takut jika Betrand mendapat perlakuan yang tak mengenakkan dari kedua orang tuanya.
" Ga usah Bi ! Betrand kan masih sekolah " jawab Betrand dengan polos.
Bi Surti hanya terdiam sambil menatap anak majikannya itu dengan tatapan nanar.
__ADS_1
Tak lama kemudian...
" Sudahlah Bi, gak usah khawatir ! Saya pasti akan jaga Betrand kok ! " ucap Silvy, Bunda Betrand.
" Serius Nyonya ? "
" Iya saya serius ! " jawab Silvy dengan tersenyum.
Meskipun hal itu terbilang tak biasa, tapi Bi Surti percaya - percaya saja dengan Bunda Betrand. Bahkan ia beranggapan bahwa Silvy sudah mulai memberikan kasih sayang untuk anaknya itu.
Di sisi lain...
Betrand langsung tersenyum simpul ketika mendengar percakapan Bundanya dengan Bi Surti.
Dengan polosnya, dia langsung menghampiri Bundanya...
" BUNDA...! " panggilnya dengan lembut.
" Eh Betrand, sini sayang !" sambut Silvy lantas memeluk anak lelakinya itu.
Betrand tersenyum bahagia, ia merasa benar - benar damai dalam pelukan Sang Ibunda yang telah lama ia nantikan itu.
Benar - benar anak yang malang...!
Dia tak tahu bahwa dibalik perhatian Bundanya itu, hanyalah perhatian dan kasih sayang yang penuh dengan kepalsuan !
Dibalik pelukan yang terasa sangat mengahangatkan tubuhnya itu, Betrand tak melihat senyum Sang Ibunda yang sangat sinis dan penuh dengan kebencian.
Untaian kata yang teramat manis keluar dari mulut Silvy bak dirinya telah menyadari semua kesalahan yang selama ini telah ia lakukan kepada Betrand.
Dengan wajah bertopeng itu, dengan perkataan yang pura - pura dilembut - lembutkan ia memegang pipi mulus anaknya itu...
" Sekarang Betrand berangkat sekolah ya ! " ujar Silvy dengan tersenyum lebar sambil membelai kepala Betrand.
" Iya Bunda ! " balas Betrand lantas mencium tangan Sang Ibunda.
Lalu dengan langkah yang kecil, ia berjalan ke luar rumah. Sesekali ia menoleh, melihat Sang Ibunda yang tersenyum lebar sambil melihat ke arahnya.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, momen berpamitan itu terus terngiang - ngiang dalam benaknya. Sesekali Betrand tersenyum simpul sambil bersenandung dengan menyusuri trotoar yang menuju ke sekolahnya.
Mungkin dirinya sangat bahagia, sampai - sampai ia tak menyadari ada dua pria bertopeng yang tengah mengikuti langkah kakinya. Sambil bersenandung kecil, Betrand berbelok memasuki lorong yang kini tak jauh dari sekolahnya.
Lorong itu sangat sepi, hanya ada dia disana.
Oh tidak...! Betrand tak sendiri, dua pria bertopeng tadi juga mengikutinya dan bersiap meluncurkan aksinya kepada Betrand.
Saat dia dalam keadaan lengah, dengan sigap salah satu pria itu membius Betrand. Sontak Betrand berusaha melepaskan tangan kekar pria itu yang menutupi mulut dan hidungnya. Tapi apalah dayanya, kekuatan dua pria itu sangat kuat. Betrand meronta - ronta, ia ingin mencoba berteriak tapi tak bisa ! Tak lama kemudian, akhirnya Betrand tak sadarkan diri akibat obat bius itu.
Setelah itu..., ia tak mengingat apa - apa lagi !
__ADS_1