
Mungkin karena ia terlalu lelah dengan pikirannya yang sangat menyedihkan itu, sampai-sampai Aulia tak menyadari bahwa dirinya telah memasuki alam mimpi. Melupakan segala hal dan beban pikiran yang mengganjal di hati, melupakan lelah dan sakitnya raga karena orang tua yang tak memperhatikan dirinya, terlebih-lebih dengan sang adik.
Sekitar 1 jam kurang lebih 10 menit, ia pun terbangun karena mendengar adzan yang berkumandang.Tapi dia tak langsung beranjak dari sana. Selama beberapa menit, Aulia masih berada di tempatnya. Matanya memandang lepas hamparan langit biru nan cerah yang terlihat begitu indah dari luar jendela.
Melihat semua keindahan itu seketika membuat dirinya sangat bahagia.
Semoga kelak aku dan Betrand bisa berada lebih dekat dengan hamparan langit biru itu dengan awan-awan di sekeliling kami.Atau paling tidak diri kami yang kecil ini bisa seindah dan secerah langit itu.Bahkan jika bisa melebihi indah dan cerahnya langit tersebut. Oh...sungguh menyenangkan, batin Aulia sambil tersenyum simpul.
Bagi Aulia rasa lelah dan sakit di raganya seketika hilang begitu saja melihat itu semua.
Beberapa detik kemudian, saat asyik-asyiknya dirinya dengan panorama indah itu tiba-tiba angin bertiup dengan sangat kencang; sampai-sampai masuk melalui jendela yang ada di dekatnya dan seketika menerpa wajah Aulia.
Bukannya beranjak dari sofa tersebut,tapi malah Aulia semakin terlena dengan semua itu. Dengan panorama hamparan langit yang indah ditambah dengan semilir angin yang bertiup sepoi-sepoi benar-benar telah membuatnya tersihir sehingga rasanya ia tak ingin dirinya mengangkatkan kaki dari tempat tersebut.
Sampai akhirnya dia pun menyadari 30 menit telah berlalu tapi ia masih dengan enaknya rebahan di sofa empuk itu.
"ASTAGHFIRULLAH!" pekik Aulia.
Dengan cepat, ia pun beranjak dari tempatnya itu lantas berlari-lari kecil menaiki tangga yang menuju kamarnya.
Setelah tiba di kamar, dengan langkah yang lebar Aulia langsung masuk ke kamar mandi lantas membasuh wajahnya sembari mengambil wudu untuk menunaikan salat zhuhur.
Dengan penuh khusyuk, Aulia terus menikmati setiap bacaan dan gerakan salatnya. Setelah itu ia tak langsung beranjak begitu saja. Di momen-momen seperti inilah biasanya Aulia menghabiskan waktunya dengan begitu banyak.Ya...hanya untuk sekedar bercerita kepada Tuhan, tentang hari-hari yang ia lalui, tentang segala perjuangan,tentang semua rasa sakit dan lelah yang ia rasakan.
Ya... hanya Tuhan ! TUHAN...! DAN HANYA TUHAN !
Tuhan adalah tempat terbaik bagi Aulia dalam keadaan apapun dan bagaimanapun. Tuhan adalah yang terbaik dari segala yang paling baik.Dialah Dzat Yang Paling Mengerti akan dirinya, tak ada yang lain. TIDAK ADA...!
Orang tua yang hanya sibuk dengan urusan duniawi mereka, adik yang belum tahu apa-apa dan tak pernah mendapatkan kasih sayang semasa kecil, Bi Surti yang kini tak ada lagi di sampingnya dan Thoriq serta Om Arif ? Ya benar, hanya sepasang ayah dan anak itu yang memang mengerti akan dirinya. Tapi bagi Aulia, dia tak tega melihat mereka yang dengan begitu relanya mengasihani dan memperjuangkan begitu banyak hal hanya semata-mata untuk dirinya seorang.
Dengan tangan yang terus menengadah dan tak terasa air mata juga mulai berlinang di pipinya, Aulia terus berbagi kisah dengan Sang Pencipta. Ya...meskipun ia tahu Tuhan lebih mengetahui apa yang dia rasakan saat itu. Tapi semua itu hanya agar dirinya merasa puas dan tenang. Lagipula ia tak punya tempat untuk berbagi kisah selain dengan Sang Pencipta.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Suara yang begitu lirih terus keluar dari mulut Aulia dan karena air mata yang terus mengalir tiada henti sehingga membuat hidungnya tersumbat dan menjadikan nafasnya tersengal-sengal. Selama beberapa menit, badannya bergetar begitu hebat, air matanya semakin deras dan ucapannya semakin lirih.
Untungnya hanya Aulia seorang diri di tempat itu.Seandainya ada orang yang bersamanya di sana sudah tentu siapapun yang mendengar ucapan Aulia akan dibuat pilu hanya dengan perkataannya itu.
Dua puluh menit berlalu, akhirnya Aulia selesai dengan urusan dia dan Tuhannya tersebut. Dengan pelan, ia membereskan alat-alat salatnya. Setelah semuanya selesai, dia kembali masuk ke kamar mandi hanya untuk sekedar membasuh wajahnya yang terasa lengket akibat terlalu lama asyik dengan tangisannya.
Meskipun begitu basuhan air di wajahnya itu tidak cukup mempan untuk meyakinkan orang-orang bahwa dirinya sedang baik-baik saja. Ya... dibalik wajahnya yang sangat manis itu kini tergambarkan guratan kesedihan yang begitu mendalam; wajah manisnya itu kini sangat sembab hanya karena air mata pilu.
Dengan langkah yang santai, Aulia keluar dari ruangan kamarnya yang bernuansa biru tersebut lantas menuruni tangga menuju ruang tamu.
Beberapa detik kemudian.
Persis saat Aulia menginjakkan kakinya di ruang tamu ia pun melihat Thoriq, sahabatnya itu tengah berjalan menuju pintu masuk rumahnya.Dengan cepat, Aulia berjalan menuju pintu untuk menyambut sahabatnya itu.
"Masuk sini,Riq!" ajak Aulia lantas masuk kembali ke ruang tamu. Ia terlihat tetap berusaha menyunggingkan senyuman manisnya itu, seakan-akan tak ada apa-apa pada dirinya.
"Siap...! Makasih, Aulia!" balas Thoriq disertai dengan cengiran khasnya lantas duduk tak jauh dari tempat sahabatnya itu.
"Oh iya...mau minum apa,Riq?" tawar Aulia sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Eh... gak usah,Ul! Udah kenyang kok.Hehe!"tolak Thoriq seraya lantas tertawa kecil.
Aulia hanya mengangguk lalu kembali duduk di tempatnya seketika suasananya menjadi hening. Rasanya Aulia tak kuasa untuk menatap wajah Thoriq yang kini tengah duduk di sebelahnya itu, takut dirinya ketahuan telah menangis.Dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk memalingkan wajahnya dan berusaha serileks mungkin. Ya... semua itu dilakukan agar Thoriq tidak curiga dengan gerak-geriknya itu.
Tapi beberapa detik kemudian,Thoriq menyadari ada sesuatu hal yang tak biasa pada sahabatnya itu.Dia juga menyadari wajah Aulia sangat sembab, seakan-akan habis menangis.
__ADS_1
Karena takut telah terjadi apa-apa dengan sahabatnya, dengan cepat disertai wajah panik Thoriq lantas berkata, " Aulia...kamu baik-baik aja, kan? Kok mukamu sembab gitu?"
Sontak Aulia menoleh ke arah Thoriq.
"E-Eh," ia menjadi tergagap karena menyadari ternyata sahabatnya itu tahu akan tahu akan hal yang ia sembunyikan," gak papa kok, Riq!"
"Ah...masa, sih! Kek habis nangis.Iya, kan?" bantah Thoriq seraya menatap Aulia dengan muka serius.
"Nggak kok, Riq!" kilah Aulia dengan cepat.
Thoriq hanya menghela napas dan mengedarkan pandangannya ke luar halaman. Beberapa detik kemudian, ia kembali membuka suara sambil menatap wajah sahabatnya itu dengan serius, "Aulia... kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk cerita sama aku!"
Aulia hanya menanggapi perkataan sahabat semata wayangnya itu dengan anggukan.
Beberapa menit kemudian, suasananya menjadi hening kembali; mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hanya ada gemerisik dedaunan dari halaman rumah yang diterbangkan oleh angin yang bertiup sepoi-sepoi dan suara hilir mudik kendaraan yang melalui jalan raya besar di depan rumah megah bak istana tersebut.
"Oh ya...aku tadi mau bilang," suara Thoriq yang sangat pelan itu tiba-tiba memecah keheningan; dibalik wajah berparas manisnya itu ada guratan kesedihan yang begitu mendalam,"sebentar malam aku sudah harus balik ke Bondowoso."
Sontak, Aulia pun menatap wajah sahabatnya yang terlihat tengah murung itu. Sebenarnya dirinya sangat sedih mendengar itu semua; Thoriq akan kembali ke Bondowoso dan itu artinya ia akan sendiri lagi, tanpa sahabat yang menemani.
Tapi karena ia sangat tak tega melihat sahabatnya itu bersedih, Aulia pun berusaha menghibur Thoriq.
"Oalah,Riq! Kok sedih, sih?" ujar Aulia lantas terkekeh.
"Memangnya kamu gak sedih,Ul?" tanya Thoriq sambil menoleh sekilas ke arah Aulia yang terlihat bahagia itu.
Aulia tersenyum simpul menanggapi pertanyaan Thoriq, lalu dengan cepat ia berkata, "Ya...siapa yang gak sedih ketika harus berpisah dengan sahabatnya, Riq? "
Thoriq hanya terdiam, matanya menatap nanar rangkaian bunga hias yang ada di depannya itu.
"Riq... kita ada untuk pulang," sontak mata sepasang sahabat ini beradu pandang. Selama beberapa menit Aulia terdiam, terlihat sedang memikirkan sesuatu hal lantas berkata kembali, "kita datang untuk pergi. Yang terpenting adalah bagaimana caranya kita memaknai hidup ini dan menjalaninya dengan bahagia."
__ADS_1
Seketika Thoriq dibuat tersenyum simpul karena kata-kata mutiara yang terlontar dari mulut manis sahabatnya itu. Ya... perihal kata Aulia lah ratunya! Dan dirinya selalu dibuat terpukau dengan semua perkataan sahabatnya tersebut.
Ah, Aulia hanya bisa menghibur dengan kata-kata indah.Tapi aku tahu sebenarnya bahwa hatinya lah yang paling risau, batin Thoriq sambil menghela nafasnya dengan pelan; merasa kasihan pada sahabatnya yang akan dia tinggalkan itu.