
Setelah kami selesai makan, seperti biasa aku membereskan meja makan dan membawa semua peralatan makan yang telah terpakai ke dapur untuk dibersihkan.
"Bi, biar saya yang urus semuanya, ya. Bibi istirahat aja!" ucapku dengan ramah pada Bi Surti.
"Tapi, Non!" sanggahnya.
"Tidak apa-apa kok, Bi!" balasku sambil tersenyum.
"Gapapa, Bi! Biar Betrand yang bantu Kakak," celetuk Betrand dengan tiba-tiba sambil mendekatiku.
"Betrand bantu ya, Kak!" tawarnya sambil tersenyum.
"Biar Kakak aja.Betrand istirahat aja, ya!" tolakku sambil memegang pipi mulusnya.
"Gak,Kak. Aku bantu, ya!" Betrand bersikeras untuk tetap membantuku.
"Hmm, yasudah.Tapi hati-hati, ya!" nasihatku.
"Oke! Pasti, Kak!" ujarnya.
"Baiklah.Kalau begitu Bibi duluan ya Non,Den!" ucap Bi Surti.
"Siap, Bi!" ucap kami dengan kompak sambil tersenyum.
Tak beberapa lama kemudian...
"Nah, kalau dikerjain sama-sama cepat selesai, kan!" seru Betrand.
"Iya. Makasih ya adik hebatku!" balasku sambil membelai rambutnya.
"Tidak masalah,Kak!" ujarnya sambil memelukku.
"Nah, setelah ini Betrand istirahat ya, Dek!" lanjutku.
"Tapi...," seketika wajah Betrand murung lagi.
"Kak, Bunda sama Ayah kapan pulangnya?" rengek Betrand sambil memegang tanganku.
"Lho, kok adik kakak gini lagi, sih? Bunda sama Ayah pulangnya besok,Dek!" tuturku dengan lembut sambil membelai kepala Betrand.
"Yah," ujarnya dengan wajah cemberut.
"Lho lho!Tadi kakak bilang apa? Kakak kan selalu ada disini untuk Betrand. Jadi Betrand gak boleh sedih, ya!" hiburku sambil memeluknya.
"Iya,Kak!" ucapnya dengan pelan dalam belaianku.
__ADS_1
Dengan penuh rasa kasih sayang, aku menggendong adikku dan membawa dia ke kamarnya.
"Betrand istirahat dulu,ya! Biar makin bugar," ujarku sambil menidurkannya.
"Iya,Kak!" jawabnya singkat.
"Selamat beristirahat,Sayang!" ucapku sambil mencium keningnya.
Setelah Betrand benar-benar sudah tertidur, aku baru meninggalkannya. Selama beberapa menit aku beristirahat lalu dan terbangun lagi dengan niat ingin mengerjakan tugas sekolah. Tapi sebelumnya, aku menonton hiburan di TV dulu. Saat lagi asyik-asyiknya mengerjakan tugas, tiba-tiba terndengar suara orang bernyanyi dengan sangat merdu.
Weong ko nai ge, weong weleng nai ge
Wa’u diong kaku ta...
Ho’o calang anak wara, Ho’o copel anak oke
Ide de.. Weong nai ge...
"Siapa yang nyanyi, ya? Merdu banget!" ucapku sambil beranjak dan mencari asal suara tersebut.
Aku berjalan ke luar rumah untuk mencari orang yang bernyanyi dengan sangat merdu itu. Mataku celingak-celinguk kesana kemari, tapi tak ada siapa-siapa.
"Apa aku salah denger, ya? Ah, sudahlah!" aku kembali masuk ke dalam rumah.
Tapi baru saja satu langkah masuk ke dalam rumah, suara itu kembali terdengar. Dan malahan semakin jelas !
Aram ta, Latung cokoy taig ta
Woja woley taig ta...
"Lho, kok kayak berasal dari kamar Betrand, ya?"
Aku langsung berlari ke kamar Betrand dan membuka pintunya.
Kudapati adikku itu tengah duduk di pinggir kasurnya, ia langsung menatapku sambil bertanya dengan muka keheranan, "Kenapa,Kak?"
"Kakak denger ada suara orang nyanyi," jelasku sambil duduk di dekatnya.
"Aku,Kak. Memangnya kenapa?" jawabnya.
"Hah? Merdu banget!" ucapku dengan kaget.
Ya, jujur. Baru kali ini aku mendengar Betrand bernyanyi.
"Iya," balas Betrand dengan singkat.
__ADS_1
"Coba nyanyi lagi!" perintahku dengan penuh semangat.
Weong ko nai ge, Weong weleng nai ge
Anak diong kaku ta...
Kawe ende toe repeng, Kawe ema toe nesa
Ide de...Weong nai ge...
Weong ko nai ge, weong weleng nai ge
Wa’u diong kaku ta...
Ho’o calang anak wara, Ho’o copel anak oke
Ide de... Weong nai ge...
Neka ta, Neka ta...
Oke anak reme wara
Weri latung, Gok latung
Weri woja, Ako woja
Lawa e, eie…
Aram ta, Latung cokoy taig ta
Woja woley taig ta...
One lime de Morin mose de
"Masyaa Allah, merdu banget suara Adik kakak!" pujiku sambil membelai rambutnya.
"Tapi, ini bahasa apa, ya? Dan arti lagunya apa?" tanyaku.
"Ini lagu dari NTT, Kak. Judulnya Anak Diong. Lagu ini menceritakan tentang anak yang dibuang," jelasnya.
"Tapi kenapa Betrand nyanyi lagu ini? Kenapa bukan yang lain?" lanjutku.
"Aku rindu kasih sayang Bunda dan Ayah,Kak!" jawabnya dengan polos.
Degg...
__ADS_1
Hati ini bagaikan ditusuk beribu-ribu pisau mendengar kata-kata adikku.Ternyata ini adalah nyanyian rindunya buat Ayah dan Bunda. Tak kusadari air mataku kini telah menetes. Sontak, aku pun memeluk adikku. Jauh dalam lubuk hatiku, diri ini berharap kelak suatu saat nanti kedua orang tua kami bisa memperlakukan dan menyayangi Betrand, seperti halnya mereka menyayangiku.