
~ Author's POV ~
Malam itu, setelah Betrand terjaga dari tidurnya, ia kembali mencoba untuk memejamkan matanya.
Tapi entah kenapa, matanya itu sangat sulit untuk memasuki dunia mimpi.
Beberapa menit sudah berlalu, tapi dia hanya membolak-balikkan badannya.
Betrand pun menjadi risau, ia ingin sekali tertidur. Tapi matanya seakan-akan tak bisa diajak untuk berkompromi.
Karena tak tahan lagi, Betrand akhirnya memutuskan untuk ke kamar kakaknya.
Kebetulan juga kamar mereka saling berdekatan.
Dengan pelan Betrand membuka pintu kamarnya. Sebelum ia keluar, dia terlebih dahulu memastikan Ayah Bundanya tak ada. Ya...semua itu demi tak terjadi keributan lagi.
Setelah ia memastikan keadaan telah aman. Betrand kemudian berjalan ke luar dengan mengendap-endap menuju ke kamar kakaknya.
Ia membuka gagang pintu kamar Aulia dengan pelan, tapi ternyata lampu kamar sang kakak sudah mati.
"Yah... kakak udah tidur," ucap Betrand dengan pelan.
Meskipun begitu, ia tetap menyalakan lampu dan menghampiri kakaknya yang tengah tertidur.
"Kak... Kakak!" ujar Betrand dengan lembut sambil mengoyang-goyangkan badan Aulia.
"Emm..." sontak, Aulia pun mengerjapkan matanya dan ia melihat adiknya sudah ada di dekatnya.
__ADS_1
"Lho... Betrand, kenapa belum tidur,Dek?" ujar Aulia sambil berusaha memaksimalkan penglihatannya.
"Aku gak bisa tidur,Kak!" jawab Betrand dengan cemberut.
"Hmm..." Aulia langsung terbangun.
"Kak...aku tidur disini, ya...bareng Kakak!" ucap Betrand dengan pelan.
"Iya... boleh kok, Sayang. Sekarang tidur, ya!" balas Aulia sambil membelai rambut adiknya.
"Kok Betrand gak bisa tidur, sih?" tanya Aulia sambil mencium pipi Betrand.
"Gak bisa," balas Betrand dengan kelihatan risau.
Aulia pun berpikir keras gimana caranya adiknya itu bisa tertidur.
Ia menyuruh Betrand untuk membuat posisi tidurnya senyaman mungkin, lalu Betrand disuruh latihan pernafasan.
Beberapa detik kemudian...
Aulia mencoba tadarrus Al-Qur'an sambil mengelus-elus tangan Betrand. Semua itu demi membuat adiknya cepat tertidur.
"Allaahu laaaaa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyum. Laa ta'khuzuhuu sinatuw wa laa nauum. Lahuu maa fis samaawaati wa maa fil-ard, man zal lazii yasfau 'indaahuuuuu illaa bi iznih, ya'lamu maa baina aidiihim wa maa kholfahum...."
Sekilas Aulia melihat Betrand dan ternyata ia telah tertidur.
Hanya dengan suara Aulia yang merdu dan efek Al-Qur'an sebagai relaksasi pengantar tidur membuat Betrand akhirnya tertidur lelap.
__ADS_1
Ya...
Memang, mendengarkan Al - Qur'an sebelum tidur banyak manfaatnya. Tak hanya mempermudah kita untuk tidur, tapi juga mampu membuat kepala menjadi fresh, kemudian otak dan saraf menjadi lebih hidup karena diaktifkan kembali oleh bacaan - bacaan Al-Qur'an.
"Nah... Betrand sudah tidur. Tidur yang nyenyak ya, Sayang!" ucap Aulia dengan pelan sambil mencium pipi Betrand lalu ia menyelimuti adiknya dengan penuh kasih sayang.
Setelah itu, ia mematikan lampu. Dan kembali ke kasurnya. Ia hanya menyalakan lampu tidur karena memang Betrand tidak suka jika ia tidur dalam keadaan lampu tak menyala.
Aulia dengan pelan meletakkan kepalanya di bantal. Sebelum ia tidur, dia menatap wajah adiknya yang tengah tertidur pulas. Memori pertikaian antara ia dan kedua orang tuanya beberapa waktu yang lalu kembali terekam dengan jelas di ingatannya.
Aulia dengan pelan merubah posisi tidurnya sambil menatap langit-langit kamarnya. Sekilas, ia menatap Betrand.
Ya Tuhan...
Sudah 11 tahun Betrand hidup, tapi selama ini ia sama sekali belum pernah mendapatkan kasih sayang dari Bunda dan Ayah. Bahkan, aku yang hanya terpaut 1 tahun dengannya harus mengurus dia dari kecil sampai saat ini, batin Aulia sambil menatap wajah adiknya.
"Tuhan...
Kuatkanlah aku...
Aku ingin melihat adikku tumbuh menjadi orang yang sukses.
Meskipun hanya lewat bimbingan dan didikanku," bisik Aulia dengan lirih sambil memegang lembut pipi adiknya.
Ya..
Hanya do'a dan harapan untuk adiknya itulah yang selalu Aulia jaga dan ia pelihara dalam hatinya. Dia selalu percaya, kelak suatu saat nanti Betrand akan menjadi orang yang sukses meskipun adiknya hanya tumbuh melalui bimbingan, didikan, dan kasih sayang darinya.
__ADS_1