
~ Author POV ~
Hari demi hari, bulan demi bulan berganti. Tak terasa kakak beradik ini sudah naik kelas.
Dengan penuh ketangguhan, kesabaran dan disertai kasih sayang Tuhan; Betrand masih bertahan di keluarga tersebut.
Sosok anak kecil yang begitu haus akan kasih sayang itu, mencoba tegar di setiap hari-hari ia yang lalui. Dia masih saja mengharapkan kasih sayang kedua orang tuanya akan tercurah untuknya.
Betrand tak sendiri. Ia masih punya seorang kakak yang sangat menyayanginya, selalu melindunginya dari amarah kedua orang tua mereka. Mereka kakak beradik yang tangguh dalam menjalani hidup ini, saling mengasihi di setiap waktu dan selalu ada satu sama lain di setiap suasana.
Hari itu, kakak beradik ini menjalani aktivitas seperti biasa. Mereka kembali masuk sekolah setelah liburan kenaikan kelas. Seperti biasa mereka berangkat sekolah bersama. Akan tetapi ada yang berbeda. Kali ini sahabat sang kakak tidak berangkat sekolah bersama mereka.
Mungkin dia sudah duluan kali ya, pikir Aulia.
💙💙💙
~ AULIA POV ~
Di sekolah, setelah Betrand masuk ke kelasnya, aku pun bergegas ke kelasku. Kudapati Thoriq sudah ada di sana.
Seperti biasa, aku pun langsung menyapanya. Dia hanya melihatku sekilas tanpa tersenyum.
"Eh, kok mukamu ditekuk seperti itu,sih?" candaku.
"Ah, gak, kok!" sanggahnya seraya menatapku dengan sekilas.
__ADS_1
"Masa! Ada apa, sih? Kok aku ngerasa hari ini sikapmu beda," timpalku dengan serius.
Thoriq hanya menarik nafasnya dalam-dalam, mukanya nampak gelisah. Melihat hal itu seketika membuatku khawatir, takut telah terjadi apa-apa dengan sahabatku itu.
"Riq, aku serius, lho! Kamu kenapa, sakit?" tanyaku sambil memegang bahunya.
"Tidak kok,Ul!" balasnya sambil tersenyum tipis.
"Beneran? Kok kamu kelihatan gelisah,sih?" lanjutku.
Tapi dia tak menjawab pertanyaanku. Ia terdiam cukup lama.
Sampai akhirnya...
"Ul, sebenarnya," ujar Thoriq dengan muka bingung.
"Ya? Sebenarnya kenapa,Riq?" tanyaku sambil menatap wajahnya dengan serius.
"Ya,ngomong aja, Riq!" balasku dengan santai.
Ia menatap wajahku dengan tatapan tak tega selama beberapa detik. Entah apa yang akan dia katakan kepadaku.
"Aku mau pindah ke Bondowoso,Ul."
"Hah? Kamu pasti bercanda,Riq!" balasku dengan nada kaget.
"Gak,Ul ! Ayah aku pindah tugas ke Bondowoso. Dan mau gak mau, aku harus ikut Ayahku kesana," jelasnya dengan nada sedih.
__ADS_1
Aku memalingkan wajahku ke arah lain. Seakan-akan semua ini hanya mimpi.
Sedih? Tentu saja, karena Thoriq adalah satu-satunya sahabatku. Dia adalah satu-satunya orang yang sangat mengerti tentang diriku.
"Ul, maafin aku, ya.Kita gak bisa sama-sama lagi seperti dulu. Tapi aku janji, aku bakal sering kesini," hibur Thoriq sambil mengelus punggungku.
"Iya.Aku ngerti kok,Riq!" ujarku sambil menahan tangisku.
"Aulia, jangan nangis, ya! Aku percaya kamu pasti bisa kuat tanpa seorang sahabat," ucapnya sambil tersenyum.
Tapi aku hanya terdiam mendengar kata-katanya.
"Aulia, liat aku!" Thoriq tiba-tiba memegang kedua pundakku dan seketika mata kami saling bertemu.
Sontak, aku pun menatap wajahnya lantas senyuman itu tersungging dari wajah manisnya.
"Aulia, kamu akan tetap menjadi sahabat terbaikku selamanya! Dan aku ingin, kamu ingat kata-kataku ini," ia terdiam selama beberapa detik sembari menatap lekat-lekat wajahku lalu berkata lagi, " persahabatan yang kuat tak butuh percakapan sehari-hari atau kebersamaan di setiap waktu. Selama persahabatan itu ada di hati, sahabat sejati takkan pernah terpisah."
Setelah itu, ia melepaskan tangan dari pundakku.
"Ingat, ya kata-kataku!" sambung Thoriq seraya memperlihatkan deretan gigi rapinya.
Aku hanya menatapnya sekilas lalu memalingkan wajahku ke arah lain.
"Eitss, kok gitu sih, Ul? Senyum,dong!" ucap Thoriq sambil mencolekku.
Aku pun langsung tersenyum lebar melihat tingkah Thoriq yang sangat konyol.
__ADS_1
"Nah--gitu, dong! Gak boleh sedih,ya ! Kita pasti bisa ketemu dan bisa bareng-bareng kayak gini lagi," hibur Thoriq sambil menepuk bahuku.
"Iya, semoga ya,Riq!" balasku sambil tersenyum.