
Matahari terus bergerak menuju kaki langit, tapi tiga orang anak tersebut masih belum beranjak dari tempat duduk mereka.Dongeng Charlie and The Chocolate Factory itu benar-benar telah membuat mereka terbuai dan menjadi lupa waktu.
Tapi kali itu suasananya sangat hening; kini tak terdengar lagi suara Thoriq yang membacakan dongeng, tapi mereka membaca dongeng itu dalam hati secara bersama-sama. Bisa dibayangkan tiga orang yang membaca satu buku secara bersama-sama. Wow banget, kan?
Hanya ada suara air yang mengalir yang berasal dari kolam ikan yang tak jauh dari tempat mereka duduk. Bahkan saking heningnya suasana di rumah megah tersebut sampai-sampai mereka bisa mendengar suara ikan-ikan yang asyik menari-nari di kolamnya, mereka juga bisa mendengar desiran angin yang bertiup sepoi-sepoi di halaman rumah. Tapi keheningan yang benar-benar total itu adalah ketika mereka bisa mendengar deru nafas dan debaran jantung; entah itu dari mereka sendiri ataupun masing-masing dari mereka bisa mendengar deru nafas dan debaran jantung temannya yang lain.
Kurang lebih sekitar 10 menit kemudian...
"Eh...ya ampun! Ternyata udah masuk salat asar!" seru Aulia ketika dirinya tak sengaja mengedarkan pandangannya dan ia mendapati jam dinding sudah menunjukkan pukul 15.45 PM.
Sontak,Thoriq menghentikan bacaannya lantas mengikuti arah pandangan sahabatnya itu. Seketika ia pun membelalakkan matanya dan entah kenapa rasa sesak yang teramat sangat tiba-tiba menerjang begitu kuat dalam dadanya. Ya...bagaimana tidak? Ternyata hari sudah sangat sore dan itu artinya tak lama lagi Thoriq harus pulang ke 'peradabannya', Kota Bondowoso.
"Ya ampun gak kerasa ya...," timpal Thoriq sambil menoleh sekilas kearah Aulia lantas beranjak dari tempat duduknya sambil berkata, "aku balik dulu ke rumah ya, Ul!"
"Oke...siap, Riq!"
"Betrand... Kakak balik buat salat dulu ya, Dek!Ntar kesini lagi," ujar Thoriq sambil melambaikan tangannya ke arah sosok kecil yang tengah asyik berkutat dengan buku dongeng yang ada di tangannya tersebut.
Dengan cepat, Betrand mendongakkan kepalanya dan dia mendapati sahabat sang kakak sudah berada di pintu dengan senyuman manis yang diarahkan kepadanya.
Melihat semua itu, sontak Betrand berlari-lari kecil ke arah Thoriq lantas mendempetkan badan mungilnya itu dengan badan jangkung sahabat kakaknya itu.
"Kakak balik dulu ya, Sayang!" lanjut Thoriq sambil mensejajarkan tinggi badannya dengan adik sahabatnya tersebut.
"Iya, Kak!" balas Betrand yang masih bergelayut manja di lengan Thoriq.
"Terus gimana kakak perginya, nih? Habisnya Betrand pegang lengan kakak kuat banget! Hehe..." ujar Thoriq lantas terkekeh.
Aulia hanya tertawa kecil melihat tingkah sahabat dan adiknya yang sangat menggemaskan itu.Lalu dengan cepat, ia memegang kedua pundak adiknya dengan lembut lantas berkata, "Lho... katanya bolehin Kak Thoriq balik, tapi kok dipegang terus sih lengan kakaknya?"
Betrand hanya terdiam tapi dengan pelan ia melepaskan tangan mungilnya itu dari lengan Thoriq. Karena tingkahnya yang sangat polos itu, seketika mengundang gelak tawa dari sepasang sahabat tersebut.
"Ya ampun...gemes banget sih! Jadi pengen bungkus pulang, deh! Hehe..." seru Thoriq lantas mencubit pelan pipi Betrand.
"Mohon maaf, Pangeran! Tuan Putri kali ini tidak dapat memenuhi permintaan Pangeran!" timpal Aulia sambil berlagak bak seorang putri istana.
"Yasudah...tidak apa-apa,Tuan Putri!" balas Thoriq dengan raut muka yang terlihat kecewa.
Belum sampai beberapa detik, tawa sepasang sahabat itu kembali bergelegar memenuhi ruang tamu tersebut.
Tapi itu tak berlangsung lama, karena Aulia langsung tersadar bahwa mereka sama sekali belum melaksanakan salat asar.
"Sudah-sudah,Riq! Bisa-bisa kamu gak balik-balik sampe magrib. Hehe..." tutur Aulia seraya tertawa kecil.
"Haha...Iya,Ul! Kalau gitu aku balik dulu, ya...bye-bye Betrand!" balas Thoriq lantas berlalu.
Setelah Thoriq keluar dari halaman rumah mereka. Dengan cepat Aulia mengajak adiknya untuk segera menunaikan salat asar.
"Betrand... salat asar dulu, yuk!" ucap Aulia dengan lembut sambil membelai kepala sang adik.
Dan tanpa berkata apa-apa lagi, sosok kecil tersebut langsung berjalan masuk menuju kamarnya.
Β
π·π·π·
Β
Momen beribadah kali itu terasa sangat berbeda bagi kakak beradik tersebut. Ya... karena semenjak Betrand kecelakaan, mereka tak bisa salat berjamaah seperti dulu lagi. Kini kondisi Betrand sangat tidak memungkinkan untuk salat berjamaah, bahkan jika sosok kecil itu salat dirinya harus duduk ataupun parahnya dia harus berbaring.
Mungkin semua itu karena gegar otak yang dialaminya sehingga Betrand tak kuat untuk berdiri dalam jangka waktu yang lama. Bahkan dia juga disarankan untuk tidak terlalu lelah. Sungguh menyedihkan, bukan? Semua itu sudah pasti sangat menganggu dan tentunya juga menghambat aktivitas bocah kecil ini.
Β
π·π·π·
__ADS_1
Β
Tak terasa 20 menit berlalu...
Setelah selesai berdo'a, seperti biasa Aulia membersihkan lantai rumahnya; terutama di ruang tamu dan keluarga, tempat orang-orang di rumah itu sering melakukan berbagai aktivitas.
Dengan gesit, sapu miliknya itu terus menari-nari menerbangkan debu sampai tak tersisa lagi di lantai rumah bak istana tersebut.
Kurang lebih sekitar 15 menit akhirnya pekerjaannya itu selesai juga.Tapi dengan selesainya pekerjaan itu, bukan artinya ia sudah bisa enak-enakan bermain ataupun rebahan. Ya... bunga-bunga bermekaran di luar halamannya kini terlihat tengah menunggu belaian kasih sayang.Benar...! Memang semenjak kehilangan sampai kecelakaan Bertrand, bunga-bunga yang menghiasi sekeliling kolam ikan dan kolam renang tersebut tak pernah terurus.
Huftt... untung aja bunganya sampai gak mati, batin Aulia sambil menghampiri bunga-bunga yang terlihat hampir layu itu.
Dan dengan telatennya ia menyiram bunga-bunga itu dengan air sehingga terlihat segar kembali. Setelah selesai mengurus bunga-bunga miliknya itu, Aulia berjalan menuju kolam ikan minimalis yang dibuat dengan kumpulan batu yang disusun secara unik tersebut.
Sesampainya Aulia di pinggir kolam, ia melihat ikan hias Neon Tetra miliknya itu tengah bergerombolan sehingga warna biru yang mendominasi tubuhnya itu terlihat semakin berkilau.
Ya... Neon Tetra adalah ikan air tawar bertubuh kecil, hanya berkisar 1-2 cm saja. Tubuhnya memiliki 3 warna dominan yakni garis merah yang berada di bagian bawah tubuh ikan, kemudian garis biru yang melintang dari mata hingga sirip belakang ikan itu dan juga warna transparan sebagai warna dasar ikan tersebut. Karena itulah yang menjadikan ikan kecil ini terlihat sangat menarik.
Melihat semua itu, seketika mata Aulia seolah-olah dimanjakan dengan indahnya ikan-ikan tersebut.
Tapi beberapa detik kemudian, ia terperanjat kaget ketika menyadari sesuatu hal.
Ya ampun... ternyata ikan-ikan ini belum aku kasih makan dari tadi pagi, batin Aulia lantas bergegas masuk ke dalam rumah untuk mengambil makanan buat ikan-ikan tersebut.
Di dalam rumah, melihat sang kakak yang berjalan dengan cepat sontak membuat Betrand keheranan.
"Ada apa, Kak? Kok jalannya buru-buru amat, sih?" tanya Betrand yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Eh...itu, Dek... ikan-ikan ternyata belum makan," balas Aulia sambil menoleh sekilas ke arah adiknya.
Betrand hanya mengangguk pelan lalu merebahkan tubuhnya di sofa seraya menatap sang kakak yang kembali berjalan ke luar menuju kolam. Dibalik sorot matanya yang indah itu, terlihat ada kesedihan yang sangat mendalam. Entah apa yang sosok kecil ini pikirkan ketika melihat kesibukan kakak semata wayangnya tersebut?
Selama beberapa menit, Betrand terus di posisinya itu; menatap gerak-gerik sang kakak yang sangat asyik dengan ikan-ikan piarannya.
Ya Tuhan...betapa telatennya Kak Aulia dalam mengurusku. Padahal ia juga hanyalah seorang anak-anak yang tak ada bedanya dengan aku. Dia juga butuh bermain dan bersenang-senang, tapi di umurnya yang masih sangat muda itu dia sudah dihadapkan dengan beban-beban yang begitu berat; ditambah kondisiku sekarang ini yang membuat semuanya menjadi bertambah kacau, batin Betrand lantas mengedarkan pandangannya ke langit-langit ruang tamu.
Di sisi lain, Aulia terlihat sangat senang ketika ikan-ikan itu berlari-larian menghampiri makanan yang ia berikan itu. Tak sampai 5 menit, tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara yang sangat familiar di telinganya itu.
"AULIA...!!!" tak jauh dari tempatnya itu ia mendengar ada seseorang yang memanggilnya.
Dengan cepat, Aulia mendongakkan kepalanya dan ia melihat seorang anak laki-laki bertubuh jangkung dengan rambut belah samping lengkap dengan senyuman khas yang menampakkan deretan gigi rapinya.
"Eh... hy Riq!" sapa Aulia lantas beranjak dari pinggir kolam tersebut.
"Lagi ngapain,Ul? Asyik banget kelihatannya," tanya Thoriq sambil mendekati sahabatnya itu.
"Baru aku berikan makanan ikan-ikan itu, tadi aku lupa.Hehe..." jawab Aulia lantas terkekeh pelan.
"Oalah... Tapi ini ikan-ikannya keren banget, ya! Warnanya berkilau gitu, " timpal Thoriq lantas menjongkokkan badannya di tepi kolam.
"Iya, Riq. Oh iya... udah prepare belum buat berangkat ke Bondowoso?" timpal Aulia sambil duduk di kursi santai di teras rumahnya tersebut.
"Oh... itu udah dari tadi pagi, dong!" balas Thoriq seraya beranjak dari tempat itu lantas duduk di dekat sahabatnya.
Aulia hanya mengangguk pelan dan suasananya menjadi hening kembali.
Belum sampai beberapa detik, tiba-tiba...
"Ul... tau gak, Ayah aku lagi berusaha nyelidikin kasus kecelakaan Betrand, lho!" ujar Thoriq sambil menatap lekat-lekat wajah sahabatnya itu.
Sontak, Aulia menoleh ke arah Thoriq dengan muka kaget. Seketika matanya membulat, seakan-akan tak percaya dengan perkataan sahabatnya itu. Ingin sekali rasanya dia membalas perkataan sahabatnya itu, tapi entah kenapa suaranya tercekat di tenggorokan.
"Kenapa, Ul? Sampai kaget begitu denger ucapan aku," tutur Thoriq.
"Ah... yang bener aja yang kamu omongin itu?!" bantah Aulia dengan nada tak percaya.
__ADS_1
"Bener, lho! Jadi kamu gak usah khawatir meskipun aku sama Ayah gak di sini. Ada kok orang-orang yang nyelidin kasus itu, " jelas Thoriq panjang lebar.
Aulia hanya terdiam selama beberapa detik, mukanya ia palingkan ke arah lain. Rasanya dirinya tak kuasa lagi untuk mengucapkan sepatah kata pun; jauh dalam lubuk hatinya ada perasaan yang sangat mengganjal, ya... tentunya sebuah perasaan yang sangat berat nan tak tega dengan semua kebaikan Thoriq dan ayahnya itu.
Belum sampai 5 menit, dengan pelan Aulia pun mengeluarkan suaranya, "Makasih ya, Riq. Kamu dan Ayahmu selalu baik dan rela nolongin aku... padahal kita kanβ"
"Sudah, Ul! Ga papa, kok!" Thoriq langsung memotong pembicaraan sahabatnya itu; takut Aulia terbawa kesedihan.
Β
πππ
Β
Meskipun rasanya sangat berat, tapi Aulia tetap mengiyakan perkataan sahabatnya itu. Memang benar juga apa yang dikatakan Thoriq, masa sih dirinya harus rela kasus kecelakaan adik semata wayangnya itu dihiraukan dengan begitu mudahnya; ya... seakan-akan dia mengikhlaskan semua itu menimpa adiknya.
Orang-orang yang tak berperi kemanusiaan tak layak untuk dimaafkan begitu saja, mereka telah mencelakai seorang anak yang tak tahu apa-apa; merenggut hak-hak seorang anak yang tak berdosa. Bahkan parahnya saat sosok kecil itu mengalami tragedi nahas, mereka meninggalkannya begitu saja; merasa bahwa diri mereka tak mempunyai salah apa-apa, merasa tak punya kewajiban untuk mengurus hal-hal seperti itu yang bagi mereka itu tak ada gunanya.
Melihat Aulia diam saja, sontak Thoriq memecah keheningan di antara mereka itu sambil berkata, "Ul...kok diem mulu sih?"
Dengan cepat Aulia menoleh ke arah Thoriq lantas menyangkal ucapan sahabatnya itu sambil berkata,"Ah... gak kok, Riq!"
Thoriq hanya mengangguk pelan lalu menyandarkan tubuh jangkungnya di kursi santai teras rumah mewah sahabatnya tersebut. Seketika ia disambut dengan panorama langit biru nan cerah disertai dengan indahnya beberapa pohon tabebuya yang memiliki bunga berwarna-warni. Melihat semua keindahan itu, seketika membuat Thoriq terasa sedang berada di Negeri Sakura.
Sontak, ia pun tersenyum simpul dengan segala keindahan yang dia temui di rumah bak taman surga tersebut.Seketika dirinya dibuat asyik sendiri dengan apa yang ia lihat; seakan-akan ia telah lupa bahwa saat itu Thoriq sedang bersama dengan sahabatnya, Aulia.
Namun belum sampai 5 menit, Thoriq dibuat terperanjat karena tiba-tiba Aulia mengejutkannya.
"HELLO...!!! Kok melamun sih, Riq?" seru Aulia seraya memukul pelan lengan sahabatnya itu.
Sontak, Thoriq menoleh ke arah Aulia dengan muka melongo; mungkin saking kagetnya lalu dengan cepat ia berseru dengan muka cemberut, "Ah... Aulia! Kaget aku!"
"Ih...abisnya kamu asyik banget ngelamunnya!" ledek Aulia.
"Ih... siapa yang ngelamun, sih? Orang lagi liat pohon itu!" bantah Thoriq seraya menunjuk pohon tabebuya yang ada di halaman rumah tersebut.
"Ah...masa!" timpal Aulia dengan nada bercanda.
"Ih...Aulia mah gak asikk!" balas Thoriq dengan muka yang mulai ngambek.
"Oalah... sorry Ade Oyi!" ujar Aulia lantas tertawa lepas.
Mendengar nama kecilnya terlontar dari mulut sahabatnya itu, seketika mengundang gelak tawa darinya. Dan untuk kesekian kalinya tawa sepasang sahabat itu kembali memenuhi ruang nan menyegarkan tersebut.
"Haha... nama kecil kamu lucu juga ya, Riq...," lanjut Aulia yang masih tertawa karena ucapannya itu sendiri. Beberapa detik kemudian ia lantas berkata kembali,"kamu masih ingat gak, Riq? Masa-masa pas kita masih cadel-cadelnya sampai-sampai kamu panggil aku Oya.Haha...kocak abis!"
"Oya, Oyi... wkwk! Gitu banget ya kita sampai namanya aja hampir kembaran!" seru Thoriq seraya terkekeh pelan.
"Haha... iya, ya! Bisa samaan gitu," timpal Aulia seraya menoleh sekilas ke arah sahabatnya.
"Eh... Betrand mana? Tumben gak muncul-muncul dia," tanya Thoriq ketika menyadari sosok kecil itu tak kunjung terlihat batang hidungnya padahal sudah dari tadi mereka tertawa terbahak-bahak di teras itu.
"Oh iya ya, Riq! Tadi sih abis salat asar ada di ruang tamu lagi duduk. Ayo kita masuk liat dia," balas Aulia lantas berjalan menuju pintu masuk rumahnya disusul oleh Thoriq.
Ketika sepasang sahabat ini baru di ambang pintu, mereka sudah disambut dengan pandangan yang begitu meluluhkan hati mereka. Di sofa yang tertata rapi itu, sosok kecil yang mereka cari-cari ternyata tengah terlelap. Rupanya pikiran tentang masa lalunya itu membuatnya sangat lelah, tapi setidaknya untuk sementara waktu sosok kecil nan malang itu melupakan semua yang menjadi beban di dalam hati dan pikirannya.
Sementara itu...
"Ya Tuhan, pantesan aja gak ada suara-suaranya. Lagi tidur dia," ucap Aulia dengan nada pelan lantas menghampiri adiknya yang tengah tertidur pulas.
Kasian banget sih Betrand-nya, masih kecil gitu udah diperlakukan secara tidak baik oleh orang-orang; apalagi sama orang tua sendiri, batin Thoriq seraya menatap sosok kecil nan malang itu. Sorot matanya terlihat sangat nanar lalu dengan pelan ia duduk di dekat sahabatnya yang tengah membelai kepala sang adik.
Suasananya menjadi hening, hanya terdengar suara gerakan jarum jam dan suara pendingin ruangan di tempat mereka itu. Sepasang sahabat ini sibuk dengan pikirannya masing-masing, tapi percayalah apa yang mereka pikirkan itu mengarah ke satu tujuan. Ya... tentang penyelidikan kasus kecelakaan Betrand.
Jauh di benak mereka, terdapat tanda tanya yang sangat besar.
__ADS_1
Sebenarnya...siapakah orang yang tega menyelakai Betrand dan apa tujuan mereka melakukan itu?