
Hari demi hari kakak beradik ini lewati dengan begitu gigih.
Sosok kecil yang haus akan kasih sayang, Betrand... Ia masih bertahan di keluarga itu berkat sang kakak yang selalu melindunginya.
Hari itu...
Betrand tengah beristirahat sambil menatap album foto - foto miliknya dengan sang kakak.
Ia membuka lembaran per lembaran...
Karena itulah yang membuatnya kembali teringat akan masa lalunya.
Dia menatap wajah sang kakak dalam album itu, masa - masa yang terjadi selama 11 tahun di hidupnya kembali terputar dengan jelas dalam memorinya.
Sang Kakak, Aulia...Yang hanya terpaut 1 tahun saja dengannya, begitu tulusnya merawat dan membesarkan dia. Bahkan ia rela melakukan apa saja demi Betrand.
Beberapa menit kemudian...
Betrand kembali menyimpan album itu di tempatnya. Setelah itu, ia membaringkan tubuh mungilnya di kasur. Pikirannya melayang jauh, mengingat petuah kakaknya yang telah lalu.
Benar...
Ia harus kuat...!
Dia harus tangguh...!
Tegar...!
Dan bisa berdiri kokoh sekuat batu karang !
Itulah salah satu nasihat yang selalu Betrand jaga dalam hatinya.
Betrand menarik nafasnya dalam - dalam lalu dia menghembuskan dengan pelan. Ia bertekad untuk membahagiakan sang kakak.
Dia tak tega jika dirinya mematahkan hati Aulia. Betrand tak ingin perjuangan sang kakak selama ini menjadi sia - sia.
Β πππ
Β
Sementara itu...
Di kamar Aulia.
Ia sangat risau...
Tadi pagi ia mendapat kabar bahwa sekolahnya akan mengadakan perkemahan PMR di luar kota.
Ya... Aulia memang sangat mencintai hal - hal terkait ' Kepalang Merahan ' dan ia memang telah lama bergelut dalam organisasi tersebut.
Tapi masalahnya ia tak ingin meninggalkan adiknya.
Rasa khawatirnya terhadap sang adik terlalu besar.
' Trauma... '
Ya... Sebenarnya Aulia trauma dengan semua kejadian dan perlakuan orang tuanya kepada Betrand. Ia tak ingin kejadian yang tak mengenakkan kembali menimpa adiknya.
Dan ia telah lama bertekad untuk selalu melakukan dan mengorbankan apa saja demi kebahagiaan sang adik.
Cukup lama ia dalam kebimbangan dan akhirnya dia memutuskan untuk ' tidak ikut '
Bukan menyerah ya !
Tapi terkadang apa yang kita harapkan, sejatinya tidak akan selamanya sejalan dengan takdir. Terkadang, ada - ada saja hal yang harus kita korbankan demi kebahagiaan pihak yang lain.
πππ
Malam itu...
Selepas keluarga ini makan malam.
__ADS_1
Tiba - tiba...
Betrand memasuki kamar kakaknya.
Tapi rupanya sang kakak tengah berwudhu untuk shalat isya.
Betrand cuma iseng lihat - lihat di rak buku Aulia, tiba - tiba ia melihat sebuah brosur.
Karena penasaran, ia mengambil brosur tersebut dan ternyata itu adalah brosur perkemahan PMR di luar kota.
Betrand tahu betul semuanya tentang kakaknya, ia pikir Aulia akan ikut perkemahan ini.
Β
~ AULIA POV ~
" Lho... Betrand ? " ujarku saat melihat adik semata wayangku itu tengah duduk di kasurku.
" Kak...Kakak ikut perkemahan ini tidak ? " tanya Betrand sambil menunjukkan sebuah brosur.
Ya...
Sebuah brosur perkemahan yang entah bagaimana Betrand bisa menemukan itu. Padahal aku sudah menyimpannya di tempat yang ' aman ' dan kupikir tidak akan dijangkau oleh Betrand.
Aku tidak menggubris pertanyaan adikku. Diri ini kembali bimbang.
' Akankah aku ikut perkemahan itu ? Tapi resikonya Betrand ' sendirian ' dan aku takut Bunda dan Ayah melakukan hal yang tak mengenakkan kepadanya ' batinku sambil menatap Betrand sekilas.
Menyembunyikan segala hal yang membuatku bimbang pun, rasanya sangat mustahil.
Bagaimana tidak ?
Ya... Adik semata wayangku ini sangat mengetahui segala hal tentang diriku.
" Kak...? Kakak ikut kan ? " lanjut Betrand memecah lamunanku.
" Eh... Kakak gak ikut Sayang " jawabku sambil tersenyum tipis.
" Gapapa kok " balasku sambil membelai kepala adikku.
Betrand hanya mengangguk dan ia tak berkata - kata lagi.
Karena aku tak ingin dia membahas hal itu lagi, aku segera mengalihkan perhatiannya.
Ya... Seperti biasa, di jam - jam seperti ini aku akan memastikan adikku sudah melaksanakan shalat atau belum.
Hufft...
Ya, begitulah...
Semua itu sudah kewajibanku.
Harus menjadi seorang kakak sekaligus orang tua untuk adikku.
Β
πππ
Β
~ Author's POV ~
Keesokan harinya...
Mentari mulai menampakkan sinarnya seakan - akan menyapa orang - orang yang telah memulai aktivitasnya.
Hari itu...
Di SD Semesta Bilingual School...
Terlihat Aulia yang tengah duduk sembari menatap teman - temannya yang sedang latihan untuk persiapan perkemahan nanti.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian...
Salah seorang temannya mendekatinya sambil bertanya kepadanya
" Ul..., kenapa sih kamu gak ikut perkemahan ini ? "
Aulia mengambil nafas - nafas dalam, mencoba menstabilkan suasana hatinya.
Di sisi lain...
Sang adik..., tengah menatap kakaknya dari kejauhan. Meskipun begitu, dia tetap mendengarkan pembicaraan mereka.
Memang setelah perbincangan antara dia dan sang kakak kemarin malam, Betrand merasakan ada ' atmosfer' yang berbeda dengan tingkah laku kakaknya. Bagi dia itu aneh saja. Rasanya itu bukan hal yang wajar apabila sang kakak memilih untuk tidak ikut dalam perkemahan impiannya itu.
πππ
Beberapa detik kemudian...
Karena Aulia tak kunjung menjawab pertanyaan temannya itu, akhirnya temannya yang berwajah manis dan bertubuh semampai itu berkata...
" Aulia... Kalau ada apa - apa cerita sama aku !Kita kan temen "
Tapi ia hanya menoleh sekilas lalu menatap le arah lain.
" Hmm... Apa karena adikmu ? " lanjutnya.
Deggg...
Betrand jelas - jelas mendengar perkataan teman kakaknya itu
Dia pun bingung dengan maksud dari perkataan tersebut.
Karena penasaran yang tak terbendung lagi, Betrand pun tetap di tempatnya untuk mendengar percakapan mereka.
πΊπΊπΊ
" Ya... Begitulah Lel " jawab Aulia kepada temannya yang bernama Lely itu.
" Sebenarnya kenapa sih ? " tanya Lely dengan muka serius.
" Kamu tau sendiri kan, orang tua aku gak suka sama Betrand. Ya... Aku takut mereka ngelakuin hal - hal yang gak mengenakkan terhadap dia " jelas Aulia dengan muka yang menggambarkan kesedihan dan kekhawatiran yang begitu mendalam.
Mendengar pernyataan sang kakak, rasanya hati Betrand ditusuk beribu - ribu pisau.
Sebesar itukah kasih sayang kakaknya terhadap dia sampai - sampai Aulia rela mengorbankan impiannya demi sang adik.
Seketika lutut Betrand gemetar, air mata itu ia tahan untuk tak langsung mengalir begitu saja. Dengan tubuh ringkihnya, dia tetap berdiri di tempat itu dan mendengar percakapan sang kakak.
" Hmm... Ya ampun, jadi orang tua kamu masih gak suka ya sama adikmu ? Aku sebenarnya bingung lho.. Kenapa coba mereka gak suka sama Betrand, dia kan anak yang baik, cerdas, berbakat, dan masih banyak lagi " timpal Lely dengan raut muka tak tega.
Aulia hanya mengangguk sedih.
" Yah sudahlah, aku tahu keputusanmu itu adalah yang terbaik " ucap Lely dengan pelan sambil memeluk Aulia.
Aulia membalas pelukan Lely dengan tersenyum.
" Ul... Kamu harus kuat demi adikmu ! Karena ia hanya punya dirimu. Mau tidak mau, kamu harus berjuang untuk hidup dan kebahagiaannya ! " nasihat Lely sambil mengelus punggung Aulia.
" Iya... Aku tahu Lel " balas Aulia.
Setelah mendengar semua percakapan sang kakak, Betrand berlari dengan kencang menuju toilet.
Tanpa ia sadari...
Pipinya telah berlinang air mata. Jauh dalam lubuk hatinya, Betrand sangat tak enak kepada sang kakak.
Kakaknya selalu begitu, dengan penuh lapang dada dan kerelaan yang begitu besar ia melakukan apa saja demi hidup yang bahagia untuk adiknya.
Setelah beberapa menit...
Betrand menghapus air matanya yang membasahi pipi imutnya itu. Dia bertekad agar kali ini, sang kakak tak perlu melakukan itu semua demi dia.
__ADS_1
' Pokoknya kakak harus ikut perkemahan itu ' batin Betrand