
"Betrand lanjutin makannya, ya! Kakak yang suapin," ujarku sambil menghapus air matanya.
Ia hanya mengangguk sesenggukan.
"Oke--tunggu disini ya, Dek!" ucapku lantas berjalan ke luar kamar.
Aku kembali ke ruang makan untuk mengambil makanan untuk Betrand. Setelah itu aku kembali membawa makanan tersebut ke kamarnya.
Beberapa menit kemudian...
"Betrand,makan lagi ya, Dek!" ujarku sambil duduk di dekatnya.
Dengan penuh rasa kasih sayang, aku kembali menyuapi Adik semata wayangku itu.
Kurang lebih sekitar 10 menit kemudian...
"Udah,Kak. Makasih, ya!" ujarnya sambil mengambil air minum yang telah aku sediakan.
"Siip! Sama-sama,Sayang!" balasku sambil membelai rambutnya.
"Nah, setelah ini Betrand mandi dulu, ya ! Kakak keluar dulu," nasihatku sambil beranjak dari tempat dudukku.
"Iya,Kak."
Beberapa jam kemudian...
Setelah aku membersihkan rumah, aku kembali ke kamar Betrand. Tapi ia tak ada disana.
Ketika aku ingin keluar dari kamar untuk pergi mencari Betrand, tiba-tiba aku melihat sebuah buku.
__ADS_1
"Sepertinya itu diary Betrand," gumamku.
Saking penasarannya dengan isi diary Betrand, aku pun mengurungkan niatku untuk mencari adikku itu.
Mungkin Betrand ke taman kali ya, pikirku.
Ya--dari dulu, ia memang sering ke taman meskipun tak ada yang menemaninya.
Dengan penuh rasa penasaran, aku pun mengambil diary Betrand dan membuka lembaran per lembaran. Tak ada yang spesial !Yang kudapati hanya halaman kosong. Meskipun diri ini telah melanggar privasi orang, tapi rasa penasaranku jauh lebih tinggi. Aku terus membuka lembaran per lembaran diary itu. Tiba-tiba, di pertengahan diary itu ada sebuah tulisan yang membuat hati ini begitu teriris.
Ya, di kertas itu kudapati goresan pena Betrand tentang suara hatinya kepada Bunda dan Ayah.
Dear Diary....
Hy Diary, baru kali ini aku menulis di lembaranmu.
Oh ya, namaku Betrand. Aku hanyalah seorang anak kecil yang malang. Ya, dari kecil sampai saat ini aku sama sekali tak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuaku. Bahkan, aku sering dimarahi jika memanggil kedua orang tuaku dengan panggilan Bunda dan Ayah**.
Terkadang, seringkali aku menanyakan kepada diriku sendiri 'Sebenarnya aku anak siapa? ' atau
'Apa memang benar kalau kedua orang tuaku di rumah ini bukan orang tua kandungku? '
Entah apa salah dan dosaku sehingga diri ini tak mendapatkan cinta kasih dari kedua orang tuaku?
Tapi, aku selalu berdo'a kepada Tuhan. Semoga kelak Dia akan mendatangkan cinta kasih yang begitu besar terhadapku.
Untuk Bunda dan Ayah....
Meskipun kalian sangat membenciku, tapi aku sangat menyayangi kalian. Aku sangat merindukan belaian dan kasih sayang dari kalian untukku.
__ADS_1
Bunda dan Ayah....
Semoga kelak suatu saat nanti kalian bisa menyayangiku.
Tak terasa air mataku seketika menetes dengan deras melihat tulisan Betrand kepada Bunda dan Ayah.
Ya Tuhan, betapa tangguhnya Adikku selama ini. Sudah lama ia menantikan cinta kasih Bunda dan Ayah, batinku dengan air mata yang mulai berlinang membasahi pipiku.
Ciutt...
Terdengar suara pintu terbuka. Aku pun langsung menghapus air mataku dan buru-buru menyimpan diary Betrand di tempatnya.
Kulihat adikku itu tengah berjalan menghampiriku.
"Kakak," sapanya sambil duduk di dekatku.
"Kakak nangis?" ujarnya sambil menatapku dengan tatapan mata polosnya.
"Tidak,kok!" jawabku singkat sambil tersenyum tipis.
"Masa! Kakak baca diaryku, ya?" lanjutnya lantas mengambil diary yang tak jauh dari tempatku.
"Eh--tidak,Dek!" sanggahku karena tak ingin melihat ia sedih.
Dia tiba-tiba memelukku sambil berkata,"Gapapa kok, Kak. Kalau Kakak baca diary Betrand!" ucapnya dengan polos.
Aku hanya terdiam sambil membalas pelukannya.
"Sebenarnya, aku rindu banget kasih sayang Bunda," celetuknya sambil memainkan rambutku.
__ADS_1
Aku melepas pelukan Betrand lalu aku mengelus pipinya dan menatap wajahnya dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Iya, Kakak tahu. Yang sabar ya, Sayang! Kakak selalu ada disini kok untuk Betrand!" ujarku dan langsung memeluknya dengan erat.