Bento : The Real Bright Star

Bento : The Real Bright Star
Adikku Sayang, Adikku Malang !


__ADS_3

' Jadi Betrand kemana ? ' pikirku dengan panik.


🌺🌺🌺


Aku benar - benar kaget mendengar perkataan ibu paruh baya itu.


" Lho... Benar Ibu gak pernah lihat Betrand sama sekali ? " tanyaku dengan nada tak percaya dengan perkataannya yang tadi.


" Iya, saya duluan ya buru - buru soalnya " jawabnya sambil berlalu.


Tapi aku mencoba untuk tidak panik dan berusaha untuk tetap berpikir positif.


" Apa mungkin Betrand ikut dengan Bi Surti ? " tanya Thoriq dengan raut muka cemas.


" Aku gak tahu Riq.Tapi aku mau telepon Bi Surti " timpalku.


Betrand ikut dengan Bi Surti... ?!


Bagiku itu sangat mustahil karena aku tahu betul Betrand sedang sibuk sekolah, biasanya ia tak pernah mau kemana - mana. Tapi ya... aku tetap akan mencoba menghubungi Bi Surti.


Dengan cepat aku membuka handphoneku, mencari nomor telepon Bi Surti.


Aku menunggu suara dari seberang sana dengan berjalan mondar - mandir di teras rumahku. Thoriq pun terlihat ikut cemas dengan keadaan ini.


Tak lama kemudian...


" Halo... Assalamu'alaikum Non... ! " terdengar suara khas Bi Surti di seberang sana.


" Wa'alaikumussalam Bi " balasku dengan sedikit lega.


" Kenapa Non, sudah pulang ? " tanyanya.


" Iya Bi " jawabku singkat.


" Bi... Aku mau tanya, Betrand ikut sama Bibi tidak ? " lanjutku dengan nada cemas.


" Lho... Tidak Non ! Memangnya kenapa ? " tanya Bi Surti.


" Ini Bi...Kan saya baru pulang dari Surabaya. Pas saya sampai di rumah, Betrand udah gak ada " tuturku.


" Belum pulang sekolah kali Non "


" Masa sih Bi ! Seharusnya 3 jam yang lalu Betrand sudah pulang " timpalku dengan nada cemas.


" Ya gimana dong Non, coba cari ke taman atau sekolahnya Non. Mungkin ada disana "


" Baik Bi, sudah dulu ya Bi. Assalamu'alaikum " jawabku.


" Iya Non.Wa'alaikumussalam "


Tutt Tutt... ( sambungan telepon terputus)


" Betrand gak ikut Ul ? " tanya Thoriq dengan muka yang terlihat panik.


" Gak Riq, tapi coba kita cari di taman atau sekolahnya ! " ucapku dengan tak kalah paniknya.


" Ya ayo Ul... ! " balas Thoriq.


Kami pun ke taman yang tak jauh dari rumah.


" Kita ke rumah pohon dulu Riq ! " ajakku sambil berlari ketika memasuki taman.


Aku mendengar derap langkah kaki Thoriq yang menyusulku.


Sesampainya kami di rumah pohon, tak ada siapa - siapa disana. Mata kami menyapu seluruh penjuru taman, tapi nihil!


" Hmm... Mungkin di sekolah kali ya Ul " ujar Thoriq sambil mengedarkan pandangannya.


Aku mengangguk lalu kami melangkahkan kaki untuk keluar dari taman. Tapi langkahku terhenti ketika melihat anak laki - laki yang aku tahu persis itu adalah teman Betrand.


" Riq... Tunggu dulu ! " ucapku sambil meneriaki Thoriq yang sudah jauh berjalan di depanku .


" Ada apa ? " jawabnya.


Tapi aku tak menjawab pertanyaannya karena aku menghampiri anak kecil itu.


" Dek...? " panggilku.


" Teman Betrand ? " tanya Thoriq yang tiba - tiba muncul di dekatku.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk.


Anak kecil itu berbalik ke arah kami dan syukurlah ia mengenalku.


" Kak Aulia...? " sapanya.


" Hy Dek...! Liat Betrand gak ? " tanyaku dengan ramah.


" Betrand ? Maaf kak, aku gak liat " jawabnya.


Aku terdiam sambil menoleh ke arah Thoriq. Ia memandangiku dengan raut muka tak tega.


" Oh iya Kak... Kok sudah 4 hari Betrand gak masuk sekolah sih, gak ada pemberitahuannya juga ? Dia gak pernah muncul tuh, biar ke taman ini. Betrand kemana Kak ? " lanjutnya yang seketika membuat jantungku hampir copot.


" Lho... Betrand sudah 3 hari gak masuk sekolah ? " tanyaku dengan keheranan.


" Iya kak " balasnya dengan singkat.


Aku hanya melongo tak percaya dengan perkataannya.


" Oke... Makasih ya dek. Kakak pergi dulu " ucapku sambil berlalu disusul oleh Thoriq.


🌈🌈🌈


Aku semakin cemas, rasanya badanku bergetar dengan begitu hebat.


Panik...!


Benar - benar panik !


" Tenang Ul...! Coba telepon kedua orang tuamu " hibur Thoriq saat kami tiba di rumah.


Aku hanya terdiam, tapi aku segera menghubungi Bunda. Tapi handphonenya tak aktif. Tak habis pikir, aku langsung menelepon Ayah. Tapi sama saja saja !


" Gak aktif Riq " ucapku dengan tatapan sayu.


Aku melihat ia sangat cemas tapi aku tahu dia berusaha untuk tetap tenang karena disini ada aku. Dan bagi Thoriq, ia gak boleh lemah di hadapan wanita dan aku tahu betul dia tak akan pernah tega melihatku dalam keadaan seperti ini.


" Tenang ya Ul ! Kita coba cari Betrand. Percayalah dia baik - baik saja kok ! " hiburnya sambil menepuk bahuku dengan pelan.


Saat kami bercakap - cakap, tiba - tiba...


Thoriq langsung berlari menghampiri Ayahnya dan mereka membicarakan sesuatu.


" Yah... Boleh gak bantu Thoriq sama Aulia ? " ucap Thoriq dengan muka memelas.


" Bantu...? "


" Iya Yah... Bantu cari Betrand, dia gak ada di rumah Yah. Bahkan kata temennya Betrand sudah 3 hari gak masuk sekolah ! " jelas Thoriq.


🌈🌈🌈


Aku terus melihat mereka bercakap - cakap dengan raut muka yang serius.


' Rupanya Thoriq menceritakan semua kejadian ini secara detail ' pikirku.


Tak lama kemudian...


Thoriq menghampiriku sambil berkata...


" Ul, kamu punya foto Betrand kan ? " tanyanya.


" Punya kok Riq " jawabku.


" Yasudah, kamu siap - siap. Aku sudah cerita sama Ayah untuk bantu kita cari Betrand ! " lanjutnya.


🌺🌺🌺


Kami pun sekarang telah berada dalam mobil menyusuri jalanan Sidoarjo yang dipenuhi hiruk - pikuk lalu lintas yang berlalu lalang. Sekitar 10 menit, kami tiba di wilayah SD SEMESTA BILINGUAL SCHOOL.


" Om... Gimana kalau kita coba turun disini dulu. Mungkin saja Betrand ada di sekitaran sini " ajakku.


" Oke... "


🌺🌺🌺


Kami mencoba menanyakan keberadaan Betrand kepada setiap orang yang kami temui di jalan.


Tapi jawaban yang sangat familiar terdengar kembali di telinga kami.

__ADS_1


Ya, kata mereka...


' Justru kami yang bertanya karena sudah lama kami tak lihat dia !'


Jawaban itu sangat menohok dan membuatku sangat tertampar.


' Ya Tuhan... Ini semua salahku. Seandainya aku tidak ikut perkemahan itu, pasti adikku baik - baik saja ' batinku sambil mengusap wajahku dengan kasar.


Rasanya air mataku ingin mengalir dengan deras.


" Ul... Ayo kita lanjut cari Betrand. Kayaknya disini gak ada " ucapan Thoriq seketika membuyarkan lamunanku.


Aku hanya terdiam dan langsung menyusul Thoriq yang masuk ke dalam mobil. Dalam perjalanan, aku tak berbicara apa - apa dan pikiranku hanya terfokus kepada adikku.


' Ya Tuhan... Kalau sampai terjadi apa - apa pada adikku, aku sama sekali gak bisa maafin diriku sendiri ' batinku sambil menahan tangis.


Sekitar 15 menit, akhirnya kami sampai di sebuah taman yang terletak di depan Lapangan Nasional.


" Hmm Yah...Kita berhenti disini dulu,banyak orang tuh ! Coba kita tanya mereka " usul Thoriq.


" Ul...Kita turun yuk, foto Betrand mana ? Kita coba tanya mereka " ajak Thoriq sambil memegang bahuku.


Aku hanya mengangguk dan mengikuti Thoriq yang berjalan di depanku.


" Permisi Mba... Mohon maaf saya mau numpang tanya. Mba pernah lihat anak ini gak ? " tanya Thoriq dengan ramah sambil memperlihatkan foto Betrand kepada seorang perempuan muda yang berhijab, kalau dilihat dia berumur 20 tahunan.


" Oh iya Dek... Saya pernah lihat dia disini. Suaranya bagus banget ya " timpalnya.


" Mba pernah lihat ? Sama siapa ? " tanya Thoriq.


" Sendiri sih, tapi kondisinya memprihatinkan. Waktu itu saya lihat dia ngamen. Tapi hari ini adik ini belum muncul sih, biasanya jam segini dia sudah kelihatan tuh ! " jelasnya.


" Hah ? Ngamen Mba? " sontakku dengan mata yang berkaca - kaca.


" Iya Dek "


" Baik Mba. Terima kasih atas infonya. Kami pergi dulu ya " ucap Thoriq dengan tersenyum.


" Ul... Ayo ! " panggil Thoriq.


Aku pun mengikutinya, kami berjalan - jalan di taman itu untuk memastikan Betrand ada disini atau tidak. Tapi setelah kami mengitarinya, tak ada tanda - tanda keberadaan Betrand.


Aku pun semakin panik, apalagi setelah mendengar perkataan mbak - mbak tadi.


' Betrand ngamen ? Kok bisa sih ? ' pikirku


" Ul... Kita kembali ke mobil yuk ! Lanjut cari Betrand ke Jalan Poros Raya " usul Thoriq.


Lagi - lagi aku hanya bisa mengangguk dan mengikuti setiap gerak - gerik Thoriq. Rasanya pikiranku sangat kalut, aku tak bisa merasakan ataupun memikirkan apa - apa selain keberadaan dan kondisi adikku sekarang ini.


🌺🌺🌺


Sambil menyusuri Jalan Poros Raya Sidoarjo, mata kami dengan jeli memandangi keadaan di sekitar. Mencari seorang anak kecil di tengah hiruk pikuk lalu lintas yang berlalu lalang membuat mataku sangat pekat, tapi aku rela karena anak kecil itu adikku ! Dia seperti jantungku, aku takkan bisa melakukan apa - apa jika adik semata wayangku itu di luar pengawasanku !:(


" Eh... Kok itu ada kerumunan sih ? " celetuk Thoriq sambil menunjuk ke luar jendela.


Seketika jalanan pun menjadi macet.


" Kita keluar coba ! " ajakku yang dibalas oleh anggukan dari Thoriq.


Kami mendengar orang - orang berkata ada yang tertabrak. Kami juga melihat ada orang yang berlari masuk ke dalam rumahnya dan keluar kembali sambil membawa sarung. Ada juga seorang bapak - bapak yang kelihatan mondar - mandir sambil menelepon seseorang. Melihat itu semua pikiranku menjadi semakin kacau dan tanpa sadar aku telah berlari menghampiri kerumunan itu sambil berlinang air mata. Entah kenapa perasaanku menjadi tak karuan dan feelingku sangat kuat bahwa Betrand sedang berada dalam keadaan bahaya.


Tanpa pikir panjang dan tanpa disertai dengan kesadaran yang penuh, aku menerobos kerumunan itu.


Syok...!


Tubuhku seketika lemas ketika melihat sosok anak kecil yang sangat familiar di mataku dan kini ia tergeletak bersimbah darah di hadapanku. Dia adikku, Betrand!


" BETRAND....! " aku langsung terduduk sambil memeluk adikku.


Darah segar terus mengucur dengan deras dari pelipisnya dan membasahi kerudungku, tapi aku tak menghiraukan itu.


" Betrand... Sadar dek! Bertahanlah ! " ucapku sambil meraih tangannya dan memeriksa denyut nadinya dengan terus berlinang air mata.


Syukurlah...! Aku masih merasakan denyutan hangat nadi adikku. Tapi kini ia tak sadarkan diri akibat benturan keras di kepalanya itu.


Tak lama kemudian, terdengar suara sirine ambulans. Setelah itu, dengan sigap Betrand dimasukkan ke dalam ambulans dan aku turut ikut di sampingnya.


Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, aku terus mengusap - usap tangan adikku yang terbaring tak berdaya. Aku juga yang memberikan pertolongan pertama kepadanya, memberikannya nafas buatan dan membalut kepalanya agar pendarahannya berhenti.

__ADS_1


__ADS_2