Bento : The Real Bright Star

Bento : The Real Bright Star
Kenapa Ayah Bunda Berubah?


__ADS_3

Kurang lebih sekitar 10 menit...


Saat sedang asyik-asyiknya mereka dengan pikirannya itu, tiba-tiba...


"Riq... kita duduk di teras aja, yuk! Biarin Betrand istirahat dulu," ajak Aulia dengan setengah berbisik; takut mengganggu tidur adiknya itu.


Thoriq hanya mengangguk dengan cepat, lalu dia berjalan menyusul Aulia.


"Ul... kamu gak takut kalau hanya bareng Betrand di rumah ini?" tanya Thoriq dengan nada pelan ketika mereka sudah berada di teras.


"Gak tuh, Riq! Memangnya kenapa?" jawab Aulia seraya menatap lekat-lekat sahabatnya itu.


"Ah... nggak papa, kok!" jawab Thoriq dengan tersenyum tipis.


Meskipun sebenarnya jauh dalam lubuk hati Thoriq, ia merasa sangat kasihan terhadap Aulia. Seketika muka manisnya itu menjadi murung, tatapannya terlihat kosong, bahkan ikan-ikan yang yang berkilauan di kolam disertai dengan bunga-bunga bermekaran yang tak jauh dari tempat itu kini tak bisa lagi mengembalikan kebahagiaannya seperti semula.


Ya Tuhan...kasihan sekali Aulia! Setiap harinya hanya berdua dengan Betrand yang masih dalam kondisi sakit, batin Thoriq sambil menoleh sekilas ke arah sahabatnya yang kelihatan sangat bahagia melihat ikan-ikan yang tengah berlari-larian di kolamnya.


Beberapa detik kemudian, Thoriq memecah keheningan dengan sebuah pertanyaan yang terus menghantui benaknya.


"Ul... besok kan udah sekolah, tuh. Kira-kira Betrand sudah bisa ke sekolah, belum?" tanya Thoriq dengan pelan.


"Hmm... kayaknya belum bisa, Riq...," jawab Aulia dengan lirih. Seketika terlihat ada pancaran kesedihan dari sorot mata indahnya itu.Selama beberapa detik suasananya menjadi hening, Thoriq hanya terdiam dan menahan nafasnya; entah kenapa suasananya seketika menjadi tegang menunggu perkataan selanjutnya dari sahabatnya itu.


"Betrand masih lemah, dia belum bisa melakukan aktivitas dengan baik seperti dulu. Ya... aku khawatir aja nanti dia terlalu lelah, Riq!"


"Iya,Ul. Ada baiknya Betrand istirahat aja dulu!Hmm...tapi...," Sontak Thoriq tak bisa melanjutkan perkataannya; ia tiba-tiba teringat perihal orang yang akan menjaga sosok kecil itu jika Aulia sedang bersekolah.


Melihat muka kebingungan dari wajah Thoriq, lantas membuat Aulia bertanya, "Tapi apa, Riq?"


"Itu,Ul... siapa yang akan jaga Betrand?"


"Tenang aja, Riq! Aku akan coba titipin dia ke tetangga," ucap Aulia dengan tersenyum tipis.


"Oalah...bagus juga, tuh!" ujar Thoriq kelihatan sedikit lega.


Kurang lebih sekitar 5 menit, saat asyik-asyiknya mereka berbincang-bincang tiba-tiba...


"Kakak...!" terdengar suara lembut dari belakang mereka.


Sontak mereka pun menoleh dan mendapati Betrand dengan muka polosnya, air terlihat membasahi ubun-ubunnya bahkan sampai menetes dari dagunya.


"Halo, Betrand! Gimana tidurnya...nyenyak, kan?" sambut Thoriq lantas mengelus pipi mulus sosok kecil nan malang itu.


Betrand hanya terdiam tapi dengan cepat ia mendekati Thoriq lantas memeluk badan jangkung orang terkasihnya itu. Aulia dan Thoriq hanya tersenyum simpul melihat tingkah Betrand yang sangat feminim tersebut.


Dengan polosnya, ia terus memainkan jari-jari Thoriq, menautkannya dengan jari-jari mungil miliknya, melepaskannya kembali lalu memijat-mijat jari-jari sahabat sang kakak.


Melihat semua perlakuan Betrand terhadapnya lantas membuat Thoriq terkekeh sambil berkata, " Ternyata adik kamu ekspresif banget ya, Ul! Hehe... "


"Beda banget ya sama aku," timpal Aulia lantas terkekeh pelan.


"Haha...gak juga, sih!" balas Thoriq seraya membelai kepala Betrand.


Ya... kali itu Betrand hanya terdiam, tidak menanggapi perkataan yang terlontar dari dua manusia yang sangat menyayanginya itu. Aulia dan Thoriq bisa merasakan perasaan sosok kecil itu, tentang kegelisahan dan kesedihan Betrand; semua itu karena dirinya tak rela ditinggalkan oleh Thoriq.


Sepasang sahabat itu tahu bahwa Betrand berusaha menyembunyikan itu semua, tapi mau bagaimanapun ia takkan bisa karena sikap ekspresif telah mendarah daging dalam dirinya.


Dengan penuh kasih sayang, Thoriq terus mendekap Betrand; membelai kepalanya, berusaha mengeluarkan lelucon demi lelucon hanya untuk melihat senyuman manis itu tersungging dari mulut bersuara emas tersebut.


Mungkin saking asyiknya mereka dengan kebersamaan itu, sampai-sampai mereka tak menyadari semburat jingga telah muncul di ufuk barat; sinar matahari telah tiba di kaki langit dan sedikit demi sedikit sinar matahari mulai menyembunyikan dirinya.


"Eh... udah malem ya? Jam berapa sih ini?" tanya Thoriq ketika angin yang bertiup sepoi-sepoi menggigit tubuhnya.


"Dah hampir magrib, Riq!" balas Aulia.


"Oalah... cepet banget, ya!" timpal Thoriq dengan raut muka yang kelihatan sedih.


Aulia hanya tersenyum tipis seraya menatap sahabatnya itu, entah kenapa seketika rasa sesak di dalam dadanya muncul dengan tiba-tiba.


Sudah mau magrib...gak kerasa juga Thoriq udah mau pulang ke Bondowoso, batin Aulia sambil menghembuskan napasnya dengan pelan.


"Ul... entar sudah salat magrib kamu bisa ke rumah aku, gak?" lanjut Thoriq sambil menatap lekat-lekat sahabatnya itu.


"Bisa kok, Riq!" balas Aulia dengan tersenyum tipis.


"Kak Thoriq udah mau pulang?" celetuk Betrand sambil terus memegang tangan sahabat kakaknya itu.


"Iya, Dek. Setelah salat magrib, Betrand ke rumah kakak, ya!" tutur Thoriq dengan lembut seraya membelai kepala Betrand.


Betrand hanya mengangguk pelan.


Tepat saat pengeras suara masjid mulai berbunyi, Thoriq juga beranjak dari tempat duduknya. Tapi tangan sosok kecil itu masih memegang pergelangannya; seakan-akan menyuruhnya untuk tetap berada di tempat itu.


Melihat tingkah sang adik, dengan cepat Aulia mengalihkan perhatian Betrand seraya berkata,


"Betrand... sini dekat kakak, Dek. Selesai salat magrib kita ke rumah Kak Thoriq, ya!"


Thoriq hanya tersenyum tipis mendengar Aulia yang berusaha menghibur adiknya, ingin sekali rasanya air di pelupuk matanya itu menetes membasahi pipinya karena melihat tingkah Betrand yang seketika membuat hatinya luluh begitu saja.


Dengan pelan Betrand terlihat sangat pasrah melepaskan pegangannya dari pergelangan sahabat sang kakak.


"Kakak pergi dulu ya, Dek!" lanjut Thoriq dengan tersenyum lebar seraya melambaikan tangannya ke arah Betrand.


Betrand hanya terdiam, tapi mata polosnya itu terus menatap Thoriq yang perlahan-lahan berjalan menuju gerbang.


"Bye-bye, Betrand!" seru Thoriq ketika sudah berada di luar gerbang. Senyuman terus tersungging manis dari bibirnya, berharap setidaknya ia bisa menghibur sosok kecil yang sangat tidak rela melihat dia pergi.


Melihat hal itu, dengan cepat Aulia mengajak Betrand untuk mendekat ke arah Thoriq.


"Mau ke dekat Kak Thoriq, gak?" ajak Aulia sambil mengelus pipi sang adik.


Betrand menggeleng dengan cepat, lantas tubuhnya ia sandarkan di tubuh sang kakak. Mukanya terlihat datar dan tatapannya sangat kosong.


Melihat tingkah adiknya yang kelihatan teramat sedih itu, dengan cepat Aulia membalas perkataan Thoriq; mewakilkan sang adik.


"Bye, Kak Thoriq!" ujarnya sambil melambaikan tangan ke arah sahabatnya yang masih tersenyum di gerbang rumahnya itu.


Thoriq hanya tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya lalu dengan cepat ia membalikkan badannya lantas tak terlihat lagi dari mata kakak beradik tersebut.


Karena tak ingin adiknya berlarut-larut dalam kesedihan, dengan cepat Aulia langsung mengajak Betrand untuk masuk ke dalam rumah.


"Masuk yuk, Dek! Jangan sedih, dong... kan abis salat magrib kita ke rumah Kak Thoriq!" hiburnya seraya membelai kepala Betrand.


Betrand hanya mengangguk pelan lantas menyusul sang kakak yang sudah ada di dalam rumah.


Di dalam rumah, Betrand lantas menyandarkan tubuh mungilnya di sofa. Entah kenapa dirinya sangat mudah lelah dibandingkan dengan dulu. Penglihatannya sering berkunang-kunang, kerap kali kepalanya terasa sangat nyeri, dan rasanya isi perutnya ingin keluar semua. Karena rasa lelah yang sangat tertahankan, akhirnya ia merebahkan tubuhnya di sofa dengan badan telentang.


Aulia yang baru kembali dari dapur lantas menghampiri sang adik yang bertingkah tak biasa.


"Kenapa, Dek? Ada yang sakit?" tanya Aulia seraya membelai kepala adik semata wayangnya itu.


"Gak kok, Kak. Cuma lelah aja," jawabnya dengan pelan.


"Yasudah... Betrand harus banyak istirahat, ya! Biar cepat sembuh dan bisa beraktivitas seperti dulu lagi, " nasihat Aulia sambil mengelus-elus tangan sang adik.


Betrand hanya menoleh sekilas ke arah kakaknya dengan senyuman tipis lantas mengedarkan pandangannya ke langit-langit ruang keluarga.


Seketika pikirannya melayang jauh dan sosok kecil itu kembali dibayang-bayangi oleh memori yang entah kenapa dirinya tak mengerti dengan semua itu. Ia hanya mengingat bahwa dirinya pernah terbangun di suatu gubuk yang sangat asing baginya, setelah itu dia dihampiri oleh dua orang pria dengan muka menyeramkan. Seingatnya, dia juga pernah disuruh mengamen bahkan ia tak jarang mendapatkan perlakuan yang tak mengenakkan dari dua pria yang tak ia kenali itu.


Seketika kepala Betrand kembali berdenyut-denyut, ia tak ingat apa-apa lagi. Yang ia tahu, setelah hari-hari buruk yang tak lagi dia ingat secara runtut itu; Betrand mendapati dirinya terbangun dengan kepala dan badan yang teramat sakit di suatu ruangan bernuansa putih lengkap dengan alat bantu pernafasan yang menutupi hidung dan mulutnya.


Ia terus bertanya-tanya tentang semua kejadian yang menimpanya itu. Tak lama kemudian, dia mendapati seseorang yang sangat familiar di matanya; ya...itulah Aulia, sang kakak.


Berdasarkan penuturan sang kakak, katanya ia habis kecelakaan. Tapi ia tidak menahu tentang itu; semenjak itu rasanya ada yang tak lengkap dari diri Betrand, ya... dia telah kehilangan beberapa hari-harinya. Kehilangan memori yang sangat membantu untuk pemecahan masalah yang telah menimpanya itu.


 


🍁🍁🍁


 


Allahu Akbar...


Allahu Akbar...


Adzan telah berkumandang memenuhi lorong-lorong perumahan nan megah yang mulai sepi itu. Di salah satu rumah yang paling megah di Perum Bunga Citra tersebut, terlihat seorang anak perempuan yang tengah menuntun adik lelakinya yang terlihat sangat lemas. Dengan telatennya sang kakak berusaha merawat dan menjaga adiknya seorang diri. Apalagi dengan kondisi sang adik yang sangat memprihatinkan dan seharusnya tidak hanya sang kakak yang memberikannya perhatiannya; tapi juga oleh kedua orang tua mereka.


Dua orang anak itu adalah buah hati dari pasangan konglomerat Royan Chandra dan Silvi Anastasya, yang sehari-harinya hanya berdua di rumah itu tanpa kehadiran orang tua mereka. Benar-benar menyedihkan, bukan?

__ADS_1


"Betrand...bangun dulu ya, Dek. Sudah azan, tuh!" tutur Aulia dengan lembut sambil membelai kepala adiknya.


Sontak, sosok kecil yang sedari tadi melamun itu lantas terduduk meskipun kepalanya terasa sangat nyeri.


"Gak ada yang sakit kan,Dek? Betrand kuat berdirinya, tidak?" tanya Aulia seraya memegang lengan adiknya.


Betrand tidak menjawab pertanyaan kakaknya, mungkin karena kepalanya terasa sangat nyeri. Meskipun begitu ia tetap beranjak dari sofa tersebut, tapi belum beberapa detik bocah kecil itu berdiri; dia sudah oleng.


Untungnya, dengan cepat Aulia langsung menahan tubuh mungil adiknya. Dan dengan muka yang sangat panik ia lantas berkata, "Betrand... kenapa, Dek?"


Betrand menggeleng cepat. Mukanya terlihat sangat pucat dan badannya kelihatan sangat lemas.


"Yasudah...kita ke kamar, yuk!" ajak Aulia lantas menuntun Betrand menuju kamarnya.


Setelah tiba di kamar...


"Betrand salat dulu ya, Dek! Kalau gak bisa duduk Betrand berbaring aja, ya!" ujar Aulia dengan lembut.


"Oh iya... Betrand ambil wudu dulu, ya...Kakak temenin," lanjut Aulia yang hanya ditanggapi anggukan oleh adiknya.


Mungkin mulai sekarang aku harus lebih menjaga Betrand. Karena kepala dia sering pening. Takutnya nanti pas masuk toilet terjadi apa-apa lagi, batin Aulia sambil menatap iba adiknya yang tengah berwudu.


Mungkin karena saking khawatirnya dirinya dengan sang adik, sampai-sampai Aulia juga salat di kamar Betrand. Ya... meskipun mereka tak salat berjamaah.


 


🌺🌺🌺


 


Karena tak ingin dirinya terlalu lelah, Betrand pun memutuskan untuk salat dalam posisi berbaring. Luar biasa, bukan? Kita tak bisa membayangkan seberapa besar penderitaan yang dialami oleh sosok kecil ini, kita tak tahu seberapa besar sakit yang ia rasakan saat itu. Tapi ia mencoba membesarkan hati dan menguatkan langkahnya untuk tetap menghadap kepada Sang Pencipta.


Ketika rasa nyeri itu terus membuat kepalanya sangat pening, dia menguatkan dirinya untuk tetap khusyuk dalam shalatnya tersebut. Bahkan setelah selesai salat, ia juga menyempatkan dirinya untuk berdzikir dan berdo'a.


 


🌺🌺🌺


 


Sementara itu...


Aulia hanya terdiam ketika menyaksikan pemandangan yang seketika membuat hatinya terpana. Ya... tentang adiknya, Betrand yang memejamkan matanya; kelihatan begitu sangat khusyuk dengan do'anya. Kebiasaan adik semata wayangnya itu menjadi anugerah yang selalu Aulia syukuri. Karena ia tahu betul tak banyak anak seumuran Betrand yang berkelakuan seperti itu; saat dalam kondisi yang tidak memungkinkan, masih saja menyempatkan dirinya untuk berdo'a.


Kurang lebih sekitar 10 menit kemudian...


"Kakak...!" suara polos Betrand tiba-tiba memecah keheningan. Sontak, Aulia mendekat ke arah adiknya lantas berkata, "Gimana, Dek?Kepalanya masih pening, gak?"


"Tidak lagi kok, Kak..." jawabnya lantas mencoba untuk bangun.


Aulia hanya tersenyum tipis mendengar ucapan adiknya.


"Kak... Katanya tadi abis magrib kita ke rumah Kak Thoriq," lanjut Betrand seraya memegang tangan kakaknya.


"Iya...tapi Betrand harus makan dulu, ya!" timpal Aulia dengan tersenyum simpul.


"Iya, Kak!"


"Mau makan di sini atau di ruang makan?" tanya Aulia seraya menatap lekat-lekat muka adiknya yang terlihat sangat antusias itu.


"Aku ikut kakak aja ke ruang makan," balas Betrand lantas beranjak dari tempat tidurnya.


Setelah itu dengan penuh kasih sayang, Aulia menuntun adiknya menuruni tangga yang menuju ke ruang makan. Lalu dengan cepat ia menyajikan makanan yang telah ia buat khusus untuk sang adik, yaitu nasi tim lengkap dengan sayur-sayuran hijau.


"Nah... selamat makan adik kakak yang hebat!" ujar Aulia seraya mencubit pelan pipi adiknya.


"Makasih ya, Kak!" ucap Betrand dengan tersenyum simpul lalu dengan lahap ia pun menikmati makanannya.


Kurang lebih 10 menit, setelah mereka makan sepasang kakak beradik ini langsung bersiap-siap untuk pergi ke rumah Thoriq yang berada persis di dekat rumah mereka.


 


🍃🍃🍃


 


Setelah tiba di rumah bercat orange tersebut, mereka melihat seorang anak laki-laki berjaket navy yang tengah sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil. Melihat hal tersebut, dengan cepat Betrand berlari-lari kecil menghampirinya seraya berseru, "Kak Thoriq...!"


"Hy Betrand...!" sambut Thoriq lantas memeluk adik sahabatnya itu.


"Kakak udah mau pulang?" tanya Betrand dengan polos.


"Iya... Betrand mau ikut, ya?" tanya Thoriq lantas tertawa kecil.


"Gak boleh ya, Betrand. Kalau Betrand pergi, nanti kakak sendiri," celetuk Aulia dengan muka cemberut.


"Biarin aja kakak sendiri. Betrand buat aku aja," ledek Thoriq lantas mendekap Betrand.


"Ih... Thoriq jahat! Nyulik adek aku," timpal Aulia.


Sontak, Thoriq dan Betrand tertawa lepas melihat tingkah Aulia yang sangat lucu nan menggemaskan itu. Di bawah sorot lampu jalanan, di bawah sinar rembulan, di bawah bintang-bintang yang bertebaran; tawa mereka menghiasi keheningan malam.


"Thoriq...?! Udah selesai masukin barangnya?" panggil seseorang dari dalam rumah.


Sontak, tawa mereka terhenti dan dengan cepat Thoriq berteriak, "Sudah, Yah!"


Dari balik pintu muncullah seorang pria dewasa yang mengenakan kemeja bergaris-garis dengan paduan merah hitam.


"Lho...ada Aulia sama Betrand rupanya.Kok gak diajak masuk sih, Riq?" ujar Ayah Thoriq.


"Eh... iya, Yah. Keasyikan bercanda kita! Ayo, Ul...masuk dulu sini!" ajak Thoriq dengan tersenyum lebar.


"Iya...makasih, Riq!"


"Kalian berbincang-bincang aja dulu, Ayah masih ada urusan sebentar, " ucap Om Arif.


"Iya, Om. Makasih," balas Aulia dengan tersenyum lebar.


Selama mereka bercakap-cakap, ada satu pandangan yang sangat menyita hati. Ya... semuanya tentang tingkah sosok kecil bersuara emas tersebut. Saat asyik-asyiknya sang kakak bercakap-cakap dengan sahabatnya, selalu ada-ada saja tingkah yang dibuat oleh Betrand.


"Oh iya, Ul... aku punya sesuatu untukmu," ujar Thoriq lantas mengedarkan pandangannya ke nakas yang berada di sampingnya.


"Oh ya? Apa, Riq?" tanya Aulia seraya menatap lekat-lekat sahabatnya itu yang kelihatan tengah mencari-cari sesuatu.


"Hmm...tunggu sebentar, Ul. Mungkin aku naruhnya di kamar," balas Thoriq lantas beranjak dari sofa tersebut.


Tapi baru saja ia ingin melangkahkan kakinya, tiba-tiba Betrand memegang ujung jaketnya.


Melihat hal tersebut, dengan cepat Aulia langsung menegur adiknya dengan lembut, "Lho...kok dipegang sih jaketnya kakak. Gak boleh ya, Dek!"


"Hehe...Betrand mau ikut, ya? Tapi Betrand kan gak boleh terlalu capek, jadi di sini aja ya, Dek!Kan ada Kak Aulia," timpal Thoriq seraya tertawa kecil melihat tingkah Betrand yang sangat menggemaskan itu.


Betrand hanya mengangguk pelan menanggapi perkataan dua orang terkasihnya itu. Tapi baru beberapa detik Thoriq berjalan menjauh dari mereka, tiba-tiba...


"Jangan lama-lama ya, Kak!" celetuk Betrand.


Thoriq pun langsung membalikkan badannya ke arah sosok kecil yang tengah menatapnya dengan sangat polos itu seraya berseru, "Siap, Tuan Kecil Betrand Peto...!"


Melihat tingkah Thoriq yang sangat menghibur mereka, sontak tawa Aulia dan Betrand pecah begitu saja dan seketika memenuhi ruangan indah nan sederhana itu.


 


🌾🌾🌾


 


Sekitar 5 menit kemudian, Thoriq pun muncul dengan dua buah buku tangannya yang seketika menyita perhatian Aulia.


"Wah...coba liat, Kak Thoriq bawa apa, tuh?" seru Aulia sambil mengalihkan perhatian adiknya yang tengah berbaring di pangkuannya.


Sontak, Betrand pun terbangun dan seketika mukanya terlihat sangat ceria melihat Thoriq yang berjalan menghampirinya. Jangan berpikir kalau buku-buku yang ada di tangan Thoriq itulah yang membuat Betrand sangat bahagia. BUKAN...!!! Sama sekali bukan karena itu! Entah kenapa sudah sejak dulu, dua insan ini memiliki ikatan batin yang sangat kuat. Padahal sejatinya mereka sama sekali tak memiliki hubungan darah.


"Halo adek... Kakak punya buku komik lho buat Betrand!" seru Thoriq seraya tersenyum lebar.


"Terus buat aku mana?" celetuk Aulia dengan muka ditekuk.


"Oalah... ada, kok! Biasa aja kalee mukanya, gak usah ditekuk gitu!" ledek Thoriq lantas menyodorkan sebuah novel bergenre horor kepada sahabatnya itu.


"Widihh... Thoriq tau aja kalau aku suka novel horor! Ini beneran sudah milik aku, kan?" timpal Aulia dengan muka yang berseri-seri.

__ADS_1


"Oh... tentu saja, Nona!" balas Thoriq lantas terkekeh pelan.


"Wow... makasih ya, Riq!"


"Siip!"


Lain dengan sang kakak dan orang terkasihnya itu, di sisi lain Betrand asyik sendiri dengan tingkahnya; mendekap tubuh Thoriq.


"Adiknya rindu banget, nih!" seru Thoriq ketika melihat tingkah Betrand yang sibuk bergelayut manja di lengannya.


"Kakak kapan ke sini lagi?" tanya Betrand sambil memain-mainkan tangan Thoriq.


Mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Betrand, seketika membuat Aulia dan Thoriq tertawa kecil dengan semua kepolosan sosok menggemaskan itu.


"Kakak kan belum balik ke Bondowoso. Tapi sudah ditanyain kapan baliknya! Hehe..." timpal Thoriq lantas terkekeh pelan.


"Haha... lucu banget sih, Dek!" ujar Aulia seraya mengelus pipi adiknya.


Selama beberapa menit, Betrand terus mendekap Thoriq. Melihat hal tersebut seketika membuat hatinya menjadi luluh dan merasa kasihan dengan bocah kecil yang akan ia tinggalkan itu. Sebelum Ayahnya selesai dengan urusannya, Thoriq berusaha membuat pertemuan terakhir itu menjadi lebih bermakna. Dengan lembut, ia membelai kepala Betrand, mencium pipinya dan melontarkan candaan demi candaan hanya untuk melihat sosok kecil itu tertawa bahagia.


Kurang lebih 5 menit kemudian...


Saat asyik-asyiknya tiga anak-anak tersebut bercanda ria, tiba-tiba Betrand berlari ke luar karena mendengar suara yang sangat familiar di telinganya.


"Lho...Betrand mau ke mana?" ujar Aulia dengan setengah berteriak.


"Kayaknya ada orang tuamu di luar, Ul!" ucap Thoriq dengan pelan lantas berjalan menuju teras rumahnya.


"Iya, ya... aku denger ada suara Bunda," timpal Aulia dan langsung menyusul sahabatnya itu.


Setelah mereka tiba di ambang pintu, mereka melihat kedua orang tua Aulia yang tengah bercakap-cakap dengan Ayah Thoriq.


"Bunda udah datang!" celetuk Betrand dan sontak membuat mereka menoleh ke arah sosok kecil yang kelihatan sangat ceria itu.


Sedangkan, Aulia dan Thoriq seketika dibuat beradu pandang melihat tingkah Betrand yang tidak mendapat sambutan hangat dari kedua orang tuanya. Ya... Silvy, bunda Aulia dan Betrand; hanya menatap sinis sosok kecil yang tengah menatapnya tersebut dengan mata berbinar-binar. Sementara itu...Chandra, ayah Betrand hanya acuh tak acuh dengan suasana yang seketika menjadi tegang itu.


Betrand yang tidak tahu apa-apa, hanya tersenyum lebar melihat sang ibunda tercinta yang sudah ada di depan matanya.


"Bunda, Ayah...!" dengan polosnya, ia kembali berteriak lembut memanggil dua orang manusia yang sangat disayanginya itu. Bahkan dirinya ingin berlari menghampiri mereka, tapi dengan cepat Aulia dan Thoriq menahan langkahnya.


"Betrand... di sini aja, Dek! Bunda sama Ayah kan lagi berbincang-bincang sama Om Arif," jelas Aulia dengan muka tak tega.


Ah... sebenarnya bukan karena alasan itu. Mau sesibuk apapun orang tua, tapi juga harus memperhatikan anaknya. Aku tau, Aulia cuma gak mau adiknya sedih ketika Betrand tau bahwa waktu itu Bunda dan Ayahnya hanya memberikan perhatian yang palsu untuknya, batin Thoriq seraya membelai kepala adik sahabatnya itu.


"Tapi Kak—"


"Betrand...sebentar ya, Dek!" hibur Aulia dengan lembut seraya membelai kepala adiknya.


Betrand langsung terdiam dan seketika wajahnya menjadi murung.


Ada apa sebenarnya ini, kenapa Bunda dan Ayah tidak tersenyum padaku. Padahal waktu hari aku diculik itu, mereka sudah menyayangiku, batin Betrand sesekali melirik kedua orang tuanya yang masih menatapnya dengan muka yang sangat tak bersahabat.


 


🌹🌹🌹


 


Sementara itu, Ayah Thoriq lantas membuka suara melihat Chandra dan Silvy yang tak kunjung menyambut anaknya.


"Mohon maaf Ra, Vy. Kok gak disamperin sih Betrand-nya?" tanya Arif dengan hati-hati.


"Alah, Rif. Gak usah bahas itulah. Kita duluan, ya!" kilah Silvy lantas masuk ke dalam mobil disusul oleh Chandra.


"Duluan ya, Rif!" ujar Chandra lantas memacu mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke bagasi rumahnya.


Ayah Thoriq hanya tercengang melihat perlakuan tak mengenakan dari kedua sahabat karibnya tersebut. Lalu dengan cepat, dia mengedarkan pandangannya ke arah anak-anak yang berdiri di ambang pintu, yang kelihatan sangat sedih melihat perlakuan Chandra dan Silvy. Namun, pandangan yang paling menusuk hatinya adalah sosok kecil yang tengah berada dalam dekapan anak lelakinya itu.Ya... mata indah Betrand terlihat berkaca-kaca dan dengan muka cemberutnya dia terus memain-mainkan jaket Thoriq.


Melihat kerisauan dalam diri adiknya, lantas Aulia pun berusaha menenangkan adiknya itu seraya berkata, "Betrand...kok mukanya cemberut gitu sih, Dek? Gak baik, lho!"


Tapi Betrand hanya terdiam lalu dengan polosnya ia bergelayut manja di lengan Thoriq. Sementara itu Ayah Thoriq seketika dibuat tersenyum simpul melihat tingkah sosok kecil itu yang sangat manja terhadap anak lelakinya.


"Betrand mau ikut ya sama Kak Thoriq?" tutur Om Arif sambil membelai kepala Betrand.


"Iya dong, Yah!" timpal Thoriq lantas terkekeh pelan.


"Ya... kalau Betrand pergi, terus aku sama siapa, dong?" celetuk Aulia dengan muka cemberut.


"Kan aku sudah bilang, Aulia sendiri aja!" ledek Thoriq lantas tertawa lepas.


"Thoriq...! Kok gitu, sih? Kan, nanti Aulia juga ikut bareng Thoriq dan Betrand," tegur Om Arif.


"Iya, Yah! Aku kan cuma bercanda.Hehe..." jawab Thoriq seraya tertawa kecil.


Setelah itu, Ayah Thoriq memegang tangan mungil Betrand sambil berkata dengan lembut , "Betrand...coba liat Om."


Sontak, Betrand pun menghadapkan mukanya ke arah Om Arif. Seketika wajah mereka saling beradu pandang, entah kenapa saat itu juga Betrand merasa sangat nyaman ketika Om Arif memegang kedua tangannya. Selama beberapa menit, Betrand terus menatap lekat-lekat wajah teduh itu dengan mata polosnya. Mungkin sosok kecil itu sedang berandai-andai, kapankah ayahnya bisa seperti Om Arif? Yang sangat baik hati, bijaksana, lagi penyayang.


Dengan senyuman yang terus tersungging dari wajah teduh Om Arif, ia terus membelai kepala Betrand. Setelah itu, dia pun berkata, "Nah...jangan sedih, dong! Nanti kalau Betrand sudah sembuh, Kak Thoriq bakal bawa Betrand ke Bondowoso bareng Kak Aulia."


"Iya, Om!" jawabnya dengan tersenyum simpul.


"Bagus! Betrand emang hebat, ya!"


Betrand hanya tersenyum tipis dalam belaian Om Arif. Beberapa detik kemudian, sosok kecil itu bertanya dengan raut muka polosnya.


"Om sudah mau pulang sekarang, ya?"


"Iya, Nak. Jadi jangan sedih lagi, ya! Kan, ada Kak Aulia yang temenin Betrand," jawab Om Arif dengan tersenyum lebar.


Lagi dan lagi Betrand hanya tersenyum mendengar penuturan sosok Ayah yang menurutnya sangat luar biasa itu.


"Oh iya, Riq... kunci dulu pintunya. Pastiin gak ada barang yang tertinggal, ya!" perintah Om Arif kepada Thoriq.


"Iya, Yah."


Thoriq pun kembali berjalan masuk ke dalam rumah, tapi belum sampai beberapa detik ia sudah berseru.


"Hampir aja...!" serunya lantas mengambil sesuatu yang tergeletak di lantai.


Ya... sebuah buku dongeng yang ia berikan kepada Betrand. Rupanya, saat Betrand berlari tadi ia tak sengaja menjatuhkan buku itu.


"Ada apa,Riq?" tanya om Arif dari teras ketika mendengar suara anak lelakinya itu.


"Nggak kok, Yah. Ini hampir aja buku dongeng buat Betrand terkunci sendirian di dalem," jawab Thoriq lantas mengunci pintu.


"Oh...rupanya Betrand dikasih buku dongeng, ya!" seru Om Arif seraya mengacak-ngacak rambut Betrand.


"Iya dong, Yah. Biar ada jiwa-jiwa Kak Thoriq yang nemenin Betrand. Hehe..." tambah Thoriq disertai dengan cengiran khasnya.


Betrand hanya tersenyum simpul mendengar perkataan Thoriq yang selalu membuat hatinya itu terasa damai.


"Betrand... kakak pamit dulu ya, Sayang! Ini buku dongengnya diambil dan dijaga baik-baik, ya!" ucap Thoriq seraya mensejajarkan tingginya dengan sosok kecil yang berada di hadapannya itu.


Sontak Betrand langsung memegang lengan Thoriq, matanya kembali terlihat berkaca-kaca. Terlihat pancaran kesedihan yang teramat sangat dari wajah manisnya itu.


Melihat hal tersebut, Thoriq pun langsung mendekap Betrand sembari menghiburnya, "Jangan sedih ya, Dek! Kakak pasti akan sering ke sini, kok!"


Betrand hanya terdiam, tangannya terus asyik memainkan kerah jaket Thoriq lalu dengan polosnya ia memain-mainkan rambut orang terkasihnya itu. Karena tingkahnya yang sangat feminim itu, Thoriq merasa tidak tega untuk melepaskan pelukan sosok kecil tersebut.


Tapi di sisi lain, Aulia yang melihat tingkah adiknya itu lantas menghampiri Betrand.


"Betrand... sini di dekat Kakak. Sudah peluknya, ya! Kak Thoriq udah mau berangkat, lho. Karena ini udah malem banget, kasian juga kan besok Kakak sama Om Arif harus ke sekolah lagi," hibur Aulia seraya mengelus-elus punggung adik semata wayangnya itu.


Tak lama kemudian, Betrand pun melepas pelukannya dan berpindah lagi dalam dekapan sang kakak. Sungguh, benar-benar feminim, bukan?


Thoriq dan Arif hanya tersenyum tipis melihat tingkah Betrand yang sangat menggemaskan itu. Setelah itu, mereka pun berpamitan kepada sepasang kakak beradik itu.


"Om pamit dulu ya Ul, Betrand. Jangan khawatir ya, Nak. Nanti Om sama Thoriq akan sering-sering ke sini,kok!" ujar Om Arif sambil membelai kepala dua anak tersebut.


"Baik, Om. Hati-hati, ya!" balas Aulia lantas menyalami ayah sahabatnya itu.


"Aku pamit ya, Ul. Sebentar atau besok aku bakal hubungin kamu lagi kalau aku udah sampe," tutur Thoriq dengan senyuman khasnya.


"Oke... siap, Riq! Hati-hati, ya!" balas Aulia dengan tersenyum simpul.


"Siip... Bye Ul, Betrand!" lanjut Thoriq lantas masuk ke dalam mobil seraya melambaikan tangannya.


Di bawah sorot lampu jalanan itu, sepasang kakak beradik tersebut terus memandangi mobil yang perlahan menjauh dari mereka.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, jalanan mulai lengang, mobil yang membawa Thoriq dan Om Arif kini tak terlihat lagi dari pandangan mereka.


Angin yang bertiup rasanya sangat menggigit tubuh, karena hal itu dengan cepat Aulia mengajak adiknya untuk masuk ke dalam rumah. Betrand hanya mengangguk pelan lalu mereka pun berjalan menuju ke rumah tanpa sepatah kata pun yang terucap dari mulut mereka.


__ADS_2