
Setelah aku berkata begitu, seperti biasa Betrand akan berdo'a terlebih dahulu. Suatu pandangan yang sangat menyita hati kala dia berdo'a. Ia akan memejamkan matanya dan berdo'a dengan penuh khusyu.
Setelah itu, dia akan berkata, "Selamat makan, Kak!" ucapnya sambil tersenyum tipis.
Kalau dia sudah berkata begitu, aku akan tersenyum lalu membelai rambutnya sambil berkata, "Iya, Sayang! Selamat makan juga."
Tak lama kemudian...
Ayah dan Bunda menghampiriku, lalu mereka tiba-tiba menciumku lantas berkata, "Pagi, Sayang!"
"Pagi Bunda, Ayah."Aku hanya menyapa mereka dengan senyuman tipis.
Dalam hatiku, aku sangat sedih karena Betrand tidak mendapat perlakuan seperti itu dari kedua orang tuaku. Kulihat Betrand memalingkan wajahnya ke arah lain. Aku tahu betul apa yang dia rasakan saat ini.
Tiba-tiba Bunda memecah keheningan.
"Kamu yang nyiapin semua ini buat anak itu lagi?" tanya Bunda kepadaku dengan nada tak suka.
"Iya,Bun!" jawabku dengan singkat.
"Yaelah, kamu ini masih aja mau ngurus dia!" timpal Ayah.
Sontak, Betrand menghentikan makannya.
"Bunda, Ayah! Sudahlah jangan rusak mood Betrand!" ujarku dengan tegas.
Ayah dan Bunda hanya menatap Betrand dengan sangat sinis.
__ADS_1
"Betrand lanjutin makannya, ya!" tuturku dengan lembut sambil mengusap punggungnya.
πππ
Β
Setelah kami makan, Bi Surti pun datang.
"Biar saya yang beresin, Non! Non sama Den Betrand berangkat sekolah aja," sapa Bi Surti dengan ramah padaku.
"Oh iya.Kalau gitu terima kasih ya, Bi!" balasku sambil tersenyum.
Setelah itu Bi Surti membereskan semuanya dan kembali masuk ke dapur.
"Betrand sudah siap semuanya,kan?" tanyaku.
"Iya siap, Kak."
"Kamu mau jalan lagi?" tanya Ayah padaku.
"Iya, Yah.Lagian sekolah deket, kok!" balasku.
"Alah! Ini semua pasti gara-gara kamu deket-deket sama si tampang anak jalanan itu!" ujar Bunda sambil menatap Betrand dengan tatapan tak suka.
"Bunda, kenapa sih selalu jelek-jelekin Betrand? Dia juga kan anak Bunda!" belaku dengan tegas.
"Emang iya dia bertampang anak jalanan. Anak Bunda ?! Itu kata kamu aja, Bunda gak sudi nganggap dia sebagai anak!" ujar Bunda dengan nada tinggi.
"Astaghfirullah Bun..." aku sama sekali tak tega jika Betrand dijelek-jelekkan seperti itu, apalagi oleh orang tua sendiri !
__ADS_1
Sebelum kekesalanku memuncak, Betrand langsung memegang lenganku sambil berkata, "Sudah, Kak! Kita berangkat sekolah aja takutnya nanti telat," ucapnya dengan polos.
Aku hanya menatap wajah adikku dengan tatapan tak tega.
"Bunda, Ayah.Betrand berangkat dulu, ya!" ujar Betrand sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Bunda dan Ayah.
Bukannya mendapat balasan, tapi justru tangannya malah ditepis dengan kasar. Sebelum terjadi apa-apa, aku langsung mengajak adikku untuk berangkat sekolah saja.
"Betrand, ayo!" aku memegang bahunya kemudian dia mendekat ke arahku.
"Yasudah.Kami berangkat dulu ya Bun, Yah!" ucapku sambil berlalu.
πΊπΊπΊ
Β
Dalam perjalanan ke sekolah...
Betrand diam saja, nampaknya dia sangat sedih dengan perlakuan dan kata-kata Ayah dan Bunda kepadanya.
Aku tak ingin tinggal diam, senyum adikku harus aku kembalikan.
"Adik kakak yang cakep! Kok diam aja, sih?" candaku sambil merangkulnya.
"Gapapa, Kak!" jawabnya singkat.
Aku hanya tersenyum sambil mengelus pipinya.
"Dek, maafin Ayah dan Bunda ya atas semua perlakuan dan kata-kata mereka yang tak mengenakkan," ucapku dengan hati - hati.
__ADS_1
"Iya, Kak.Gapapa, kok." Dia hanya tersenyum tipis sambil memegang tanganku.