Bento : The Real Bright Star

Bento : The Real Bright Star
Pelajaran Berharga untuk Betrand


__ADS_3

"Yasudah,Dek. Ada tugas dari sekolah,tidak?" tanyaku kepada Betrand tapi masih sambil memeluknya.


"Oh iya. Ada, Kak." Sontak Betrand langsung melepas pelukannya.


"Mau dikerjakan sekarang, ya?" lanjutku.


"Iya,Kak."


Dengan penuh semangat, Betrand beranjak dari tempat duduknya lalu ia mengambil beberapa alat tulisnya. Setelah itu, ia kembali di dekatku.


"Semangat kerjain tugasnya ya adik hebatnya kakak! Nanti kalau ada yang susah, kakak bantu" ujarku sambil tersenyum.


"Siap, Kak!" jawabnya sambil tersenyum simpul.


Aku hanya mengamati goresan pena Betrand sambil menunggu tugasnya selesai.


Kurang lebih sekitar 10 menit...


"Coba kakak periksa tugas Betrand!" seru Betrand sambil menyodorkan bukunya kepadaku.


"Oke, coba kakak liat!" ucapku sambil mengambil buku yang ia sodorkan.


Tak butuh waktu yang lama untuk memeriksa jawaban dari tugas adikku. Kali ini kuakui lagi kecerdasan Betrand karena semua jawaban dari tugas dia benar.


"Wah,bagus! Jawaban Betrand benar semua!" seruku sambil mengelus pipinya.


"Bagus dong, Kak!" timpalnya dengan tersenyum lebar.


"Kalau gitu, Betrand rapikan alat tulisnya kembali, ya! Kakak keluar dulu," nasihatku sambil membelai kepalanya lalu beranjak dari tempat dudukku.


"Siap, Kak!" balasnya sambil tersenyum.


  🌻🌻🌻


 


Sore itu, selesai melaksanakan salat asar, seperti biasa aku bermain ke taman yang terletak tak jauh dari rumahku. Taman itu adalah taman bermain aku, Thoriq dan Betrand dari kecil. Di taman itu juga, dulu aku pernah membuat rumah pohon bersama Thoriq. Di rumah pohon itulah kami sering bermain bersama hingga menjelang magrib.


Biasanya di rumah pohon ini, aku sering menulis buku. Entah kenapa, di tempat ini lebih mudah mendapatkan inspirasi untuk sebuah tulisan ! Ya, sore itu, seperti biasa aku sedang menulis sebuah buku. Saking asyiknya aku tak menyadari kehadiran sahabatku di dekatku.


"Hy, serius amat. Sampai gak sadar kalau aku dateng!" ujar seseorang. Yang ternyata itu adalah Thoriq.


"EH, YA AMPUNN!" pekikku.

__ADS_1


"Tuh kaget,kan!" timpal Thoriq lantas tertawa lepas melihat muka kagetku yang mungkin menurut dia, ini sangat lucu.


"Ih, nyebelin!" ucapku sambil memayunkan bibir.


"Ngapain sih? Serius amat," tanya Thoriq sambil mendekatkan badannya ke arahku.


"Ini lho, aku lagi nulis buku," tuturku.


"Oh,nanti aku baca, ya!" ujar Thoriq sambil tersenyum lebar.


"Pasti!" balasku sambil mengacungkan jempol.


"Eh, ada Betrand, tuh!" seru Thoriq sambil menunjuk ke bawah.


Memang benar, di taman aku melihat Betrand yang berjalan menuju ke rumah pohon ini. Sontak, aku pun memanggilnya.


"Betrand! Kakak ada disini," ujarku setengah berteriak sambil melambaikan tangan.


Dia mendongakkan kepalanya lalu tersenyum tipis.


"Hati-hati naiknya,ya!" nasihatku dikala aku melihat adikku itu menaiki rumah pohon ini.


Tak lama kemudian, Betrand sudah berhasil naik ke rumah pohon lantas ia pun mendekatiku.


"Hy, Betrand!" sapa Thoriq dengan ramah.


"Oh iya,Riq. Tau gak, aku tadi denger suara orang yang lagi nyanyi, lho! Awalnya aku pikir itu siapa, ternyata Betrand!" jelasku kepada Thoriq tentang peristiwa tadi.


"Oh, ya? Boleh dong kakak denger suara Betrand?" antusias Thoriq sambil tersenyum lebar.


" Iya,Kak!" ucap Betrand dengan senyuman polosnya.


Sahabat kecil yang selalu ku rindukan


Lelapkan tidurmu jika memang kau telah tiada


Sahabat kecil yang selalu ku nantikan


Ku berharap suatu saat nanti


Kamu akan datang


Berharap kamu akan datang

__ADS_1


Sahabat kecil yang selalu ku rindukan


Lelapkan tidurmu jika memang kau telah tiada


Sahabat kecil yang selalu ku nantikan


Ku berharap suatu saat nanti


Kamu akan datang


Sahabat kecil yang selalu ku rindukan


Lelapkan tidurmu jika memang kau telah tiada


Sahabat kecil yang selalu ku nantikan


Ku berharap suatu saat nanti


Kamu akan datang


Berharap kamu akan datang


Berharap kamu akan datang


"Wah,keren!!! Merdu banget ya suaranya!" seru Thoriq sambil membelai rambut Betrand.


Betrand hanya tersenyum. Lalu ia memegang tangan Thoriq sehingga jari-jari mereka saling bertautan. Tak hanya itu, ia juga menyandarkan kepalanya di tubuh Thoriq.


Thoriq hanya terbelalak melihat tingkah Betrand yang sangat feminim dan terkesan polos.


Dia langsung menatapku sambil memberi kode 'Betrand kenapa?' Aku hanya tersenyum dan menjawab kode dari sahabatku itu kalau 'Betrand emang biasa kayak gitu.'


"Kak Thoriq?" celetuk Betrand dengan pelan.


"Iya, Sayang.Kenapa?" jawab Thoriq sambil mengelus bahu Betrand.


"Makasih ya,Kak!" ujar Betrand dengan singkat.


"Makasih? Buat apa, Dek?" tanya Thoriq terlihat kebingungan.


"Iya, karena kakak selalu sayang sama Betrand meskipun aku bukan adik kandungnya Kakak," jawab Betrand dengan polos.


"Iya,Dek! Soal sayang itu sudah kewajiban kita dengan sesama manusia, gak melulu harus saudara kandung ataupun keluarga!" nasihat Thoriq sambil tersenyum.

__ADS_1


"Nah, benar kata Kak Thoriq!" timpalku lantas membelai kepala adik semata wayangku itu.


Betrand hanya mengangguk. Sore itu kami menghabiskan waktu bersama-sama sambil melihat senja. Hari ini, Betrand kembali mendapat pelajaran berharga bahwa untuk soal menyayangi itu sudah menjadi kewajiban kita sebagai manusia, tidak melihat itu saudara kandung atau bukan.


__ADS_2