
Sesampainya mereka di rumah, dengan pelan Aulia mengendap-endap menuju pintu rumahnya, takut dirinya dan sang adik kena amarah lagi oleh kedua orang tua mereka.
"Sstt, jangan ngomong-ngomong ya, Dek. Takut ketauan Bunda!" ujar Aulia dengan setengah berbisik.
Betrand hanya mengangguk pelan lantas mengikuti gerak-gerik sang kakak.
"Kak, jangan-jangan pintunya 'dah dikunci?" ucap Betrand dengan pelan.
"Tenang aja, kakak bawa kunci serep, kok!" bisik Aulia lantas mengeluarkan satu set kunci lengkap dengan gantungannya yang bertuliskan nama dirinya.
Sontak, Betrand pun dibuat terkesima dengan tingkah kakaknya itu yang selalu siap sedia dengan barang-barang yang dibutuhkan kapan saja.
Dengan pelan, Aulia pun membuka pintu rumahnya lantas menyuruh adiknya untuk segera masuk ke dalam rumah.
"Ayo, Dek! Cepet masuk!" ujar Aulia lantas meraih tangan adiknya itu.
"Hufft, aman! Gak ada Bunda sama Ayah," tutur Aulia dengan nada pelan.
Betrand hanya terdiam, tapi tangannya terus memegang lengan sang kakak. Dengan tatapan mata polosnya itu, ia terus mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah, berjaga-jaga siapa tahu bunda dan ayahnya tiba-tiba muncul. Lalu dengan polosnya kakak beradik itu terus berjalan mengendap-endap menaiki tangga yang menuju kamar mereka dan tanpa disertai suara sedikit pun.
Tapi baru saja kaki mereka menginjak anak tangga yang kelima, sontak langkah mereka terhenti karena tiba-tiba...
"AULIA...!" terdengar suara dari belakang mereka yang seketika membuat jantung kakak beradik ini ingin meloncat keluar.
Seketika keringat dingin membasahi tubuh sepasang kakak beradik ini, wajah manis mereka terlihat panik tapi dengan cepat mereka membalikkan badannya.
Di depan Aulia dan Betrand, kini sudah ada bunda dan ayah mereka dengan tatapan yang sangat tajam.
Berada dalam suasana yang sangat tegang itu, Aulia hanya bisa menunduk sambil menelan air liurnya. Di dalam hatinya ia terus berdoa agar bunda dan ayahnya tidak marah kepada mereka. Sementara itu, sang adik terlihat sangat gelisah dan badannya ia dempetkan dengan tubuh sang kakak serta tangannya terus menggenggam lengan Aulia.
Beberapa detik kemudian, Aulia dan Betrand mendengar langkah bunda mereka yang mendekat ke arahnya. Sontak, badan Aulia gemetar begitu saja dan kegelisahannya terlihat semakin menjadi-jadi.
"Wow, kalian hebat juga, ya!"desis Silvy dengan nada meremehkan.
Aulia dan Betrand hanya menunduk sambil terdiam, mereka tak kuasa menatap sang ibunda yang bagaikan singa garang yang siap menerkamnya.
"Apalagi kamu, wahai bocah kecil!" tambah Silvy lantas meraih tangan mungil sosok kecil nan malang itu.
"Aww!" Sontak, Betrand menutup matanya seraya mengiris kesakitan karena perlakuan bundanya yang seenaknya saja sementara di lengan Betrand masih ada bekas luka yang belum kering akibat kecelakaan yang telah menimpanya.
Mendengar rintihan sang adik, Aulia langsung mendongakkan kepalanya dan ia melihat tangan Betrand dipegang begitu erat oleh bundanya. Tapi Aulia tak bisa berbuat apa-apa, entah kenapa kali itu ia merasa dilanda rasa takut yang sangat luar biasa. Ingin sekali rasanya ia menegur bundanya itu, tapi lidahnya terasa sangat kelu.
Sementara itu, Silvy dibuat tersenyum sinis ketika melihat bekas luka akibat kecelakaan yang masih belum kering di lengan dan siku Betrand.
"Haha, beruntung juga ya kamu!" lanjut Silvy lantas memegang dagu sosok kecil nan malang itu dan seketika wajah mereka saling beradu pandang.
Selama beberapa detik, Silvy terdiam tapi matanya menatap tajam muka ketakutan dari Betrand.
Belum sampai beberapa detik, Silvy kembali menggertak dua anaknya itu tanpa belas kasihan sedikit pun.
"Ga nyangka juga, ya! Makhluk pembawa sial seperti kamu bisa kembali ke rumah ini. Seharusnya kamu itu gak pernah ditemukan oleh saudaramu ini yang sama-sama sialnya dengan—"
"BUNDA!!! SUDAH, CUKUP!!!" Aulia tiba-tiba memotong ucapan bundanya karena tak tahan lagi mendengar gertakan yang tak mengenakkan itu.
PLAKK...
Suara tamparan itu mendarat begitu saja di pipi mulus Aulia. Melihat hal itu, Betrand hanya terdiam tapi dengan cepat ia memegang tangan kakaknya yang terasa sangat dingin; mungkin karena saking takutnya dirinya.
Mendapat perlakuan itu, Aulia hanya terdiam seraya memegangi pipinya yang terasa sangat nyeri. Sesekali ia melirik bundanya yang tengah berada di hadapannya dan sang ayah yang tengah menatapnya dengan muka datar.
Kenapa? Kenapa semuanya jadi begini? Ini sebenarnya rumah apa neraka? Orang tua yang seharusnya melindungi dan seharusnya menjadi panutan tapi malah memperlakukan anaknya dengan tidak baik. Ya Tuhan, lindungilah aku dan adikku, batin Aulia dengan lirih disertai mata yang sangat berkaca-kaca.
"KENAPA? SAKIT?!" bentak Silvy terhadap Aulia.
Aulia hanya terdiam lantas menundukkan kepalanya. Dirinya tak kuasa mendengar amarah sang ibunda yang rasanya ingin membuat jiwanya melayang begitu saja.
"Makanya kamu itu harus nurut sama Ayah dan Bunda! Gak usah kamu bela-belain terus anak ini!" lanjut Silvy dengan muka memerah seraya mengangkat dagu Aulia.
Aulia hanya terdiam, kini air matanya mulai mengalir membasahi pipinya. Meskipun ia tak kuasa menatap wajah bundanya, tapi dia rela memberanikan dirinya hanya agar sang ibunda tak marah lagi.
Dengan tatapan yang sangat sendu melihat perlakuan sang ibunda dan seketika memori-memori yang telah lalu kembali muncul dalam benak Aulia. Tentang semua kasih sayang dan perhatian bundanya selama ini. Dan untuk pertama kalinya di hidupnya itu, ia baru melihat wajah ganas ibundanya dan untuk pertama kalinya juga dirinya terkena tamparan dari tangan sang ibunda yang dulunya selalu membelai dia.
Entah kenapa kali itu semuanya terasa berbeda? Perhatian, perlindungan dan cinta kasih sang ibunda dan ayahandanya seakan-akan hilang begitu saja. Bahkan dengan teganya mereka melakukan hal yang tak mengenakkan untuk dirinya.
Sebesar itukah rasa benci bunda dan ayah terhadap Betrand? Sampai-sampai mereka semarah itu kepadaku, batin Aulia dengan air mata yang tak berhenti berlinang.
"Bagaimana?!Sudah kapok kamu?!" bentak Silvy lantas melepaskan tangannya dari dagu Aulia.
Aulia hanya terdiam.
Di sisi lain, Betrand juga terdiam tapi ia tak bisa mencerna lagi pertikaian antara bunda dan kakak semata wayangnya itu. Betrand kembali merasakan sesuatu hal yang aneh pada dirinya, kepalanya kembali berdenyut-denyut lagi dan pandangannya kembali berputar-putar. Tapi ia tetap berusaha agar dirinya tak tumbang.
Sementara itu, Silvy yang sedari tadi menggertak anak kesayangannya terlihat prihatin juga dengan Aulia yang tak bisa berkata-kata lagi.
Ya, bisa dibilang masih ada rasa cinta untuk anak perempuannya itu. Mau semarah apapun dirinya dengan Aulia, tapi ia tetap mencintai anak emasnya tersebut. Berbeda dengan sang adik yang memang tak pernah disukainya sama sekali.
Beberapa detik kemudian, Silvy mengedarkan pandangannya ke arah sosok kecil yang sangat ia benci itu. Dan tanpa rasa kasihan sedikit pun, Silvy dengan seenaknya kembali mengata-ngatai Betrand, "Ini semua gara-gara kamu tau!"
Betrand hanya terdiam mendengar gertakan bundanya itu, tatapannya terlihat sangat kosong, lututnya terasa sangat gemetar, dan parahnya nyeri di kepalanya terasa semakin menjadi-jadi; dan karena itu jugalah yang membuat pandangannya semakin kabur.
Melihat Betrand yang diam saja dan menatapnya dengan muka datar, seketika membuat amarah Silvy semakin meledak-ledak. Tak tanggung-tanggung, ia kembali melontarkan perkataan yang kejam terhadap sosok kecil itu, "DASAR BOCAH PEMBAWA—"
Tapi, belum selesai Silvy menggertak Betrand, sosok kecil itu sontak memegang lengan sang ibunda. Sebenarnya ia tak sengaja, hanya saja ia tak kuat lagi menahan bobot tubuhnya. Badan sosok kecil itu terlihat sangat lemas, tatapannya terlihat kosong, bak menghadapi sakaratul maut. Dan seketika badan mungilnya itu jatuh dalam pelukan ibundanya tercinta.
"Eh, apa-apaan ini? HEYY...BANGUN KAMU!" bentak Silvy lantas mendorong Betrand yang kini terkulai lemas dalam pelukannya.
Menyadari hal itu, Aulia yang sedari tadi diam lantas mendongakkan kepalanya dan tepat saat itu juga bundanya mendorong sang adik yang sepertinya tak sadarkan diri. Sebelum terjadi apa-apa dengan adiknya, sontak Aulia menahan tubuh Betrand.
__ADS_1
"Betrand kenapa, Bun?" ujar Aulia dengan nada panik seraya mendekap adiknya yang tengah dalam kondisi memprihatinkan itu.
"Urus aja sendiri!" timpal Silvy dengan nada sinis lantas berlalu.
"Bun, sebenarnya Betrand mengidap gegar otak karena kecelakaan yang telah menimpanya itu," ucap Aulia dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
Mendengar ucapan anak perempuannya tersebut, Silvy lantas membalikkan badannya dengan menyeringai seraya berkata,"Oh—bagus, dong!Memang pantas dia mendapatkan semua itu. KENAPA NGGAK MATI AJA SEKALIAN?!"
"BUNDA...!!! Kok, Bunda tega banget sih sama anak sendiri?" timpal Aulia dengan terisak.
"APA? ANAK?! BUNDA GAK SUDI!!!" gertak Silvy lantas berlalu disusul oleh suaminya, Chandra.
"BUNDA, AYAH...!!! Bantuin angkat Betrand dulu!" lanjut Aulia dengan setengah berteriak.
Tapi ekspektasi rupanya tak sesuai dengan realita, bunda dan ayah sepasang kakak beradik itu malah tak menghiraukan teriakan anak perempuannya tersebut.
Melihat itu semua, Aulia hanya bisa menatap nanar sang adik yang tengah terbaring lemas dalam dekapannya.
"Ya Tuhan—kasihan sekali Betrand, mana aku nggak sanggup ngangkat tubuhnya lagi. Masa aku harus nyeret adikku sendiri, " ucap Aulia dengan sangat lirih.
Meskipun begitu, ia tak kehabisan akal dan malah menguatkan dirinya untuk tetap memapah sang adik ke tempat yang nyaman. Sekuat tenaga, Aulia berusaha membawa adiknya itu ke karpet berbulu yang ada di ruang keluarga tersebut.
Dengan penuh kesabaran, Aulia terus berusaha memindahkan adiknya yang tak sadarkan diri di tangga itu dan akhirnya selama kurang lebih 5 menit mereka sudah berada di atas karpet di ruangan itu.
"Ya Tuhan, akhirnya sampai juga di sini!" ujar Aulia dengan napas yang ngos-ngosan seraya memgambil bantal sofa lalu ia letakkan di bawah kepala dan kaki adiknya.
Sebenarnya, badan mungil adiknya itu tak seberat apa. Tapi cukup tau ajalah, kasihan juga bukan anak kecil seperti Aulia sudah harus mengurus hal semacam itu—padahal kedua orang tua mereka masih ada.
Sementara itu, dengan telatennya Aulia terus menangani adiknya; berusaha agar Betrand segera sadar.
Hufftt, untungnya aku anggota PMR. Jadi gak khawatir lagi pas liat orang yang kayak gini, batin Aulia sambil memperbaiki posisi Betrand sebaik mungkin.
Setelah melakukan pertolongan pertama terhadap sang adik, lantas Aulia menyandarkan tubuhnya di sofa yang tak jauh dari tempat Betrand tertidur. Sesekali Aulia menguap—matanya sudah terasa sangat berat, tapi ia usahakan agar dirinya tetap terjaga demi adiknya.
Kurang lebih sekitar 10 menit...
Tik...tik... tik
Bunyi hujan terdengar jelas dari luar dan seketika angin terdengar bertiup dengan sangat kencang, sampai-sampai gorden yang berada tepat di belakang Aulia turut menari-nari. Dan karena itulah yang membuat dirinya membetulkan jaketnya berkali-kali.
Suasana di ruangan itu benar-benar hening, hanya terdengar gerimis hujan dari luar disertai dengan suara jangkrik yang saling bersahut-sahutan yang semakin membuat malam itu terasa sangat mencekam.
Beberapa detik kemudian—karena tak tahan dengan angin malam yang menggigit tubuhnya, dengan tangan yang dilipat dada lantas Aulia pindah ke karpet dan duduk di dekat adiknya yang masih saja tak sadarkan diri.
"Betrand—sadar, Sayang!" ucap Aulia dengan pelan sambil mengoyang-goyangkan pipi adiknya.
Tapi apalah dayanya, adik semata wayangnya itu tetap tak bergeming. Dengan prihatin, Aulia terus menatap sekujur tubuh Betrand yang terlihat sangat lemas. Lalu dengan pelan, ia meraih tangan adiknya itu dan seketika hatinya terasa sangat sesak melihat bekas luka yang belum kering di lengan Betrand. Sontak, dirinya kembali teringat dengan masalah yang kunjung tak terselesaikan itu.
Kasihan sekali Betrand. Sebenarnya siapa sih orang-orang yang menculiknya itu dan kenapa mereka melakukannya? Aulia terus bertanya-tanya dalam hatinya perihal tragedi yang menurutnya sangat ganjil itu. Sampai akhirnya ia teringat dengan perkataan sahabatnya—Thoriq waktu tadi sore.
'Ayah aku lagi berusaha nyelidikin kasus kecelakaan Betrand, lho!'
Bener juga sih ucapan Thoriq. Semoga aja kasus kecelakaan Betrand cepat terselesaikan, batin Aulia seraya mengelus-ngelus dengan adiknya yang tak kunjung tersadar itu.
Sepersekian detik, mata Aulia terasa semakin berat. Rasanya dia tak kuasa lagi untuk tetap terjaga. Tapi di sisi lain, ia juga tak tega dengan adiknya yang masih terkulai lemas dan tak kunjung sadarkan diri. Perlahan, ia mengarahkan pandangannya ke jam dinding yang tertempel manis di ruangan itu. Sontak, Aulia terperanjat ketika menyadari ternyata sudah sangat malam.
Ya—jam dinding sudah menunjukkan pukul 22.45 PM—kurang lebih sudah 30 menit berlalu, tapi sosok kecil, Betrand masih belum siuman. Hujan di luar juga semakin deras dan angin malam semakin bertiup dengan sangat kencang yang membuat suasana malam ini bertambah dingin—sampai merasuk ke dalam sanubari.Di waktu seperti ini orang-orang pasti memilih untuk terlelap di kasur empuknya, menarik selimut sampai menutupi sekujur tubuh mereka, hingga akhirnya terlelap dan memasuki alam mimpi.
Tapi lain lagi di rumah megah tersebut, sungguh memprihatinkan jika melihat pemandangan semacam itu. Di tengah keheningan malam, ternyata masih ada seorang kakak yang penuh kesabaran dan rela tetap terjaga hanya demi menantikan sang adik tersadar dari tidur panjangnya. Aulia kelihatan berkali-kali mengedip-ngedipkan matanya karena saking mengantuknya dirinya. Berulang kali ia melirik ke arah jam dinding, terlihat jarum jam terus berputar—tapi tak kunjung ada tanda-tanda kalau adik semata wayangnya itu sudah sadarkan diri.
Karena tak tahan lagi dengan rasa kantuk tersebut, sontak Aulia pun merebahkan badannya di dekat sang adik. Meskipun begitu, ia tetap berusaha untuk tidak tertidur. Perlahan, Aulia mengelus pipi adiknya seraya berbisik dengan lirih, "Betrand—kenapa,Dek? Cepet siuman, Sayang! Betrand gak kasihan sama Kakak? Dari tadi Kakak nungguin Betrand, padahal udah ngantuk banget, nih!"
Tak ada balasan. Yang ada hanya keheningan. Aulia hanya menatap adiknya dengan tatapan sendu, seketika rasa khawatir itu datang begitu saja—karena Betrand tak kunjung siuman juga. Tapi Aulia hanya bisa berdo'a dan berharap agar adiknya tak kenapa-napa.
Dengan tangan yang ia letakkan di bawah kepalanya, Aulia terus menatap adiknya dengan do'a dan harapan yang sangat besar di dalam hatinya.
Beberapa detik kemudian, tenggorokannya terasa sangat kering—meronta-ronta untuk segera disiram air. Lantas, Aulia terbangun dan dengan cepat ia menuju ke dapur untuk mengambil air minum.
Tapi—baru saja minum satu tegukan untuk melepas dahaganya itu, tiba-tiba...
"K-Kak, K-Kakak." Terdengar ada suara seseorang yang memanggilnya.
"Lho, kok kayak suara Betrand ya, " gumam Aulia sembari menajamkan indra pendengarannya karena hujan di luar yang sangat deras seakan-akan ingin membuatnya tuli.
Tapi—belum sampai beberapa detik, suara itu kembali terdengar, malahan semakin lirih.
"K-Kak... K-Kak... K-Kakak...."
"Bener, itu beneran suara Betrand!" seru Aulia lantas berlari ke ruang keluarga.
Di sana ia mendapati sang adik yang tengah memijat-mijat kepalanya seraya memanggil-manggil sang kakak dengan sangat lirih.
"Betrand—sudah sadar, Sayang?" ujar Aulia seraya membelai kepala adiknya dengan lembut.
"Kak... K-Kakak..." panggil Betrand dengan sangat lirih seraya mengerjap-ngerjapkan matanya—mungkin sosok kecil nan malang ini masih merasakan pening di kepalanya.
"Ini Kakak, Sayang! Ada yang sakit, ya?" ucap Aulia dengan lembut seraya menatap lekat-lekat sang adik.
Betrand hanya terdiam, dengan tatapan mata yang terlihat kosong ia terus memandangi sang kakak yang tengah membelai kepalanya.
"Betrand—kenapa, Sayang? Bilang sama Kakak ya Dek, kalau ada yang sakit!" lanjut Aulia sambil mengelus pipi adiknya.
Betrand menggelengkan kepalanya dengan pelan, lantas mencoba bangkit dari tidurnya—tapi belum sampai beberapa detik, tiba-tiba...
Hoeeeek...
Seketika Betrand memalingkan mukanya, ia terlihat ingin muntah. Dengan cepat, Aulia langsung memegang tubuh adiknya dengan raut muka yang kelihatan sangat khawatir. Dirinya melihat wajah sang adik yang sangat lemas—keringat dingin membasahi membasahi tubuh mungilnya itu.
__ADS_1
"Kenapa, Dek? Pengen muntah, ya? Tapi jangan di sini, Dek—kita ke toilet, yuk!" ujar Aulia yang hanya ditanggapi anggukan oleh Betrand.
Dengan gesit, Aulia langsung menuntun adiknya ke toilet yang tak jauh dari ruangan itu. Di sisi lain, sosok kecil—Betrand terlihat memegang lengan kakaknya dengan sangat erat sembari menutupi mulutnya dengan tangan mungilnya, mungkin ia sedang mencoba menahan agar dirinya tak langsung mengeluarkan isi perutnya begitu saja.
Tidak sampai 5 menit, akhirnya mereka tiba di toilet. Tanpa aba-aba, sontak Betrand melepaskan pegangannya dan bergegas masuk ke toilet—menghampiri wastafel.
Hoeeeek...
Dengan tatapan prihatin, Aulia memijat-mijat tengkuk adiknya yang kelihatan sangat lemas itu.
"Keluarin semuanya ya, Dek!" tutur Aulia dengan lembut.
Hoeeeek...
Untuk kesekian kalinya, Betrand terus mencoba mengeluarkan isi perutnya yang membuat semakin lemas itu. Tapi, sudah 5 menit berlalu sosok kecil tersebut melakukan itu—hanya air liur yang keluar dari mulutnya, tak ada apa-apa!
Melihat hal tersebut—dengan belaian yang lembut di kepala sang adik, Aulia langsung berkata, "Sepertinya Betrand hanya mual saja ya, Dek? Perutnya mules, gak?"
Karena Betrand sangat lelah dengan usahanya yang mencoba untuk mengeluarkan sesuatu yang mengganjal di perutnya itu—tapi tak kunjung ada yang ke luar juga, lantas ia pun menoleh ke arah sang kakak yang sedari tadi mendampinginya.
"Betrand mules ya, Dek?" tanya Aulia seraya menatap lekat-lekat muka adiknya yang sangat pucat itu.
"Iya, Kak. Mual banget," balas Betrand dengan tatapan yang sangat sayu.
"Yasudah—kita ke kamar, yuk! Kakak obatin biar sembuh," ucap Aulia dengan tersenyum simpul seraya mengelus pipi Betrand.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Betrand lantas mengikuti langkah sang kakak menuju ke kamarnya.
Di kamar...
"Betrand berbaring dulu ya, Dek! Kakak ke kamar dulu buat ambil obat," ujar Aulia sambil menyelimuti tubuh mungil adiknya—lalu dengan langkah yang lebar ia langsung bergegas menuju kamarnya.
Tak sampai 5 menit, Aulia kembali dengan sebuah benda di tangannya. Ya—sebotol minyak angin untuk mengobati adiknya.
"Betrand—kakak obatin ya,Dek!" tutur Aulia lantas mengusapkan minyak angin itu di pelipis, kening, tengkuk, leher serta di perut adiknya.
Beberapa detik kemudian, dengan tatapan yang sangat teduh dan disertai penuh kasih sayang yang besar—Aulia langsung bertanya kepada adik semata wayangnya itu, "Gimana, Dek?Perasaannya masih kurang enak?"
"Sudah agak mendingan kok, Kak.Terima kasih ya, Kak!" balas Betrand dengan senyuman tipis.
"Iya, Sayang! Sekarang tidur ya, udah malem banget ini! Kakak akan temenin Betrand tidur, kok!" tutur Aulia seraya menutupi tubuh adiknya dengan selimut.
Betrand hanya mengangguk, lalu dengan perlahan ia menutup matanya—mencoba masuk ke alam mimpi, menepi sejenak dari huru-hara kehidupan,melupakan segala hal yang menjadi beban hati dan pikiran, melupakan semuanya yang membuat sakit di jiwa dan raga semakin terasa.
Sontak, Aulia tersenyum tipis melihat adiknya yang sudah terlelap. Tak lama kemudian, ia juga merebahkan badannya di samping sang adik dan betapa kagetnya Aulia ketika melihat jam yang terus berdenting di ruangan itu—yang ternyata sudah menunjukkan pukul 23.30.
Ya Tuhan, baru kali ini aku dan Betrand tidur semalam ini, batin Aulia lantas meraih handphonenya yang ia letakkan di nakas. Dengan mata yang setengah tertutup, Aulia menyetel alarm di benda kesayangannya tersebut. Tapi tiba-tiba matanya membulat ketika melihat ada pesan masuk dari sahabatnya—Thoriq. Meskipun begitu, ia sama sekali tidak membuka pesan dari sahabatnya itu, yang ada ia menutup handphonenya dan menaruhnya kembali di nakas yang tak jauh darinya. Ya—semua itu karena rasa kantuknya sama sekali tak bisa diajak berkompromi lagi.
Pasti Thoriq udah sampe tuh di Bondowoso dan pesan itu buat laporan doang sama aku. Besok aja dah balasnya—toh dia takkan marah, batin Aulia sembari berusaha memasuki alam yang menurutnya paling indah—alam mimpi.
Tak butuh waktu yang lama baginya untuk terlelap, karena memang sudah sedari tadi matanya sangat berat.
🍃🍃🍃
Tik tak tik tak...
Suara alarm berdetak dengan sangat kencang dan sontak membangunkan Aulia yang kelihatan masih ingin tertidur. Setelah mematikan alarm, perlahan-lahan ia menggeliat seraya mengerjap-ngerjapkan matanya dan beberapa detik kemudian ia pun terduduk. Sebelum ia beranjak dari tempat itu, Aulia menoleh ke arah sang adik yang masih terlelap. Seketika hati Aulia sangat tersentuh ketika melihat semua itu.
Ya ampun—pulas banget tidurnya.Dia pasti capek banget. Yang sabar ya, Dek—cepet sembuh juga, bisik Aulia lantas mencium pipi adiknya dengan pelan.
Setelah itu, Aulia pun beranjak dari bed cover tersebut lantas menuju ke toilet untuk mengambil wudu.
🍃🍃🍃
Kurang lebih sekitar 15 menit kemudian, Aulia telah melaksanakan salat subuh dan juga telah berdo'a.
"Kak?" terdengar suara polos Betrand yang memanggilnya.
Sontak, Aulia pun menoleh ke arah adik semata wayangnya itu dan dia mendapati Betrand telah terbangun.
"Iya, Dek. Sudah bangun, ya?" tutur Aulia seraya menghampiri adiknya.
"Gimana perasaannya, gak ada yang sakit lagi, kan?" tanya Aulia sambil membelai kepala adiknya.
"Lumayan membaik sih, Kak. Jadi hari ini aku sudah bisa ke sekolah, kan?" balas Betrand sembari memegang tangan sang kakak.
"Memangnya Betrand sudah merasa baikan? Kakak khawatir aja pas Betrand di sekolah nanti tiba-tiba pusing. Kan—belum sepenuhnya pulih, Dek."
Betrand hanya terdiam mendengar penjelasan Aulia. Tapi, diam-diam ia membenarkan ucapan kakaknya itu. Ya—memang benar dirinya sama sekali belum sepenuhnya fit. Tapi bukan itu yang membuatnya khawatir—tapi karena dia sudah sepekan tak masuk sekolah, ditambah absennya itu tidak ada keterangan sama sekali.
Karena semua itulah yang akhirnya membuat sosok kecil itu menjadi gundah.
"Tapi—Kak," dengan wajah yang terlihat gelisah Betrand lantas memegang kedua tangan kakaknya dengan sangat erat. Terlihat ada pancaran kesedihan dari matanya sampai-sampai dia tak bisa melanjutkan perkataannya.
"Kenapa, Dek?" lanjut Aulia.
", aku kan udah 1 minggu nggak masuk sekolah. Terus gak pernah ada keterangannya, aku dialfa dong, Kak." Wajah Betrand seketika menjadi murung. Melihat hal itu—Aulia langsung menghibur adiknya seraya berkata, "Pasti itu dimaklumin, kok! Sebentar, Kakak juga akan konfirmasi ke guru-guru di sekolah tentang Betrand. Jadi gak usah sedih, ya!"
Betrand hanya mengangguk pelan dengan senyuman tipis.
"Kalau Betrand masih merasa belum baikan—di rumah dulu aja ya, Dek! Kakak bakal buat surat izinnya," nasihat Aulia seraya tersenyum lebar.
__ADS_1
Lagi dan lagi, Betrand hanya mengangguk menanggapi perkataan sang kakak.