
" Kakak sendiri gak makan ? " tanya Betrand dengan nada lemas.
" Sebentar dek, Betrand habisin makanannya dulu ya ! " ucapku dengan terus menyuapi adikku dengan telaten.
Tak lama kemudian...
" Sudah Kak ! " tolak Betrand dengan menahan tanganku untuk menyuapinya lagi.
" Yasudah ! Betrand minum dulu ya " tuturku dengan lembut sambil membantu adikku untuk minum.
" Makasih ya Kak " ucap Betrand dengan tersenyum tipis.
" Iya sayang, sekarang istirahat ya ! " balasku sambil menyelimuti tubuh mungil adikku.
πΊπΊπΊ
" Habis ini Kakak makan ya ! " tutur Betrand dengan memegang tanganku.
" Oke " kuacungkan jempolku sambil tersenyum lalu aku membelai rambut Betrand.
" Nah, sekarang Betrand istirahat ya dek, kakak yang jagain ! " ucap Thoriq yang masuk ke dalam ruangan IGD.
Betrand hanya tersenyum tipis melihat Thoriq yang menghampirinya. Kulihat Thoriq yang terus berusaha untuk membuat Betrand tertidur.
πΊπΊπΊ
Setelah selesai makan, aku duduk di dekat Betrand yang kini tengah tertidur pulas.
" Syukurlah, Betrand sudah tidur Ul " ucap Thoriq dengan setengah berbisik.
" Makasih ya Riq. Oh iya, kamu gak mau pulang ? " tanyaku dengan pelan sambil menatapnya.
" Gak Ul, aku sama Ayahku gak akan pulang. Kami gak tega lihat kamu sendirian disini jaga Betrand " jelas Thoriq sambil menatapku dengan serius.
" Ya ampun, gapapa Riq ! " bantahku.
" Sudah Ul, gapapa ! " timpalnya.
Aku langsung terdiam. Benar juga kata Thoriq, masa sih aku sendirian disini menjaga adikku. Orang tuaku ? Kurasa mereka takkan peduli dengan kejadian yang saat ini menimpa Betrand.
Tapi disisi lain, aku kepikiran juga dengan mereka. Ya..., Bunda dan Ayah pasti akan mencariku jika mereka telah tiba di rumah. Meskipun begitu, aku sepenuhnya tak khawatir sekalipun aku kena amarah dari mereka. Karena semua ini menyangkut keselamatan dan tentunya juga tentang kebahagiaan adikku.
πΊπΊπΊ
Mataku menatap seluruh penjuru ruangan ini. Kulihat Thoriq yang telah tertidur di sofa.
' Ya Tuhan, pasti dia sangat lelah.Dengan tulus ia rela mengikutiku dan selalu membantuku saat aku dalam kesusahan ' batinku sambil menatap wajah sahabatku itu.
Saat aku sedang sibuk di pikiranku, tiba - tiba...
__ADS_1
" Bunda " Betrand mengingau rupanya. Aku langsung menenangkan adikku.
" Hey, adik kakak kenapa ? " ucapku dengan pelan sambil membelai rambut adikku.
Sontak Betrand pun terjaga dari tidurnya.
" Kenapa sayang ? " lanjutku sambil mengelus pipi Betrand.
" Bunda Kak..."
Aku langsung terdiam mendengar ucapan adikku yang begitu sangat memilukan hati.
" Bunda mana Kak ? " rengek Betrand sambil menggoyang - goyangkan lenganku.
Aku terdiam sambil menatapnya dengan tak tega, aku mencoba mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Betrand.
Karena tak ingin ia bersedih, aku mencoba menghiburnya dengan mengatakan...
" Tadi kan Kakak sudah bilang, Bunda pasti akan ke sini ! " hiburku sambil mengelus - elus tangan Betrand.
Ia terdiam cukup lama dan aku berusaha membuat Betrand tertidur kembali.
Tiba - tiba...
Drrtt Drrtt...
' Aduh ! Tuh kan bener, Bunda sama Ayah nyariin aku ' batinku sambil menatap handphoneku dengan raut muka yang panik.
" Betrand, sebentar ya dek. Kakak keluar dulu buat angkat telepon " ucapku dengan pelan.
Betrand hanya mengangguk.
Setelah itu aku pun buru - buru keluar dari ruang IGD dan lekas mengangkat telepon dari Bunda.
" Halo... Assalamu' alaikum Bun " ucapku dengan hati - hati.
" Aulia, kamu kemana ? Kan hari ini perkemahan sudah selesai. Sudah malam begini belum balik ! " ujar Bunda dengan nada tinggi.
" Maaf Bun..., aku lagi di rumah sakit ! Betrand tadi ketabrak " jelasku dengan nada panik.
" Alah, kamu ini masih aja ngurusin dia. Ga ada gunanya Ul ! " gertak Bunda.
" Bun... Dia juga anak Bunda! Betrand perlu kasih sayang dan perhatian layaknya seperti yang Bunda berikan kepadaku " bantahku dengan mata yang berkaca - kaca.
Aku terdiam sejenak, mencoba mengatur pernafasanku. Lalu aku mengeluarkan semua unek - unekku, berharap aku bisa meluluhkan hati Bunda dan Ayah.
" Bahkan..., Betrand hampir tak tertolong lagi Bun. Saat dia berhasil melewati masa kritisnya, ia terus memanggil - manggil Bunda ! Bunda tega ? " tuturku dengan air mata yang sudah berlinang di pipiku.
" Oh bagus dong ! Kenapa adik kesayanganmu itu gak mati aja sekalian ? " desis Bunda lantas menutup telepon.
__ADS_1
Aku tak kuat lagi mendengar semua perkataan Bunda yang sangat tak mengenakkan hati. Pipiku pun berderai air mata, menahan semua rasa pilu dan sesak yang menerjang begitu kuat di dada ini.
" Kenapa Ul ? " tanya Thoriq yang tiba - tiba muncul dari balik pintu.
Aku tak menggubrisnya, rasanya aku tak kuasa mengucapkan satu pepatah kata untuk menjawab pertanyaan sahabatku yang terlihat panik karena melihat diriku berlinang air mata.
" Aulia, kok nangis ? Ada apa ? " tanyanya dengan mengelus - elus punggungku.
Aku mengusap air mataku dan terdiam cukup lama. Lalu kutatap muka Thoriq yang masih memandangku dengan raut muka yang panik. Setelah suasana hatiku sedikit membaik, aku pun mulai bicara.
" Bundaku nelepon Riq " jawabku dengan singkat.
" Nelepon...? Apa katanya ? " timpal Thoriq sambil menatapku dengan serius.
" Ya gitu Riq, mereka nyariin aku... " jedaku sambil menatap Thoriq sekilas.
" Dan kamu jawab apa ? " tanya Thoriq.
" Bunda kan tahu kalau hari ini aku sudah pulang dari perkemahan, jadi mau ga mau aku jawab aku sekarang lagi di rumah sakit..."
Aku menarik nafasku dalam - dalam, mencoba untuk menenangkan suasana hatiku.
" Dan aku bilang kalau Betrand kecelakaan. Terus dari situ aku ceritain semuanya tentang Betrand Riq..., saat dia sadar Betrand sempat manggil - manggil Bunda. Aku juga bilang sama Bunda, masa dia tega sih dengan anaknya sendiri, apalagi dengan kondisi seperti itu "
Thoriq terlihat prihatin mendengarkan semua penjelasanku.
" Eh Bunda malah bilang, ' kenapa adik kesayanganmu itu gak mati aja sekalian ' " tutupku dan seketika aku dan Thoriq beradu pandang.
Thoriq menghembuskan nafasnya dengan kasar. Setelah itu ia mencoba menghiburku.
" Gak usah dipikirin Ul ! Kita do'ain aja semoga kedua orang tua kalian bisa memperlakukan Betrand dengan baik " hibur Thoriq sambil tersenyum.
Aku hanya mengangguk pelan.
" Yasudah, sekarang istirahat Ul ! Sudah malam nih, Betrand juga sudah terlelap " imbuhnya.
Aku hanya mengangguk dan mengikuti Thoriq yang masuk ke ruang IGD. Dengan pikiran yang berkecamuk di kepalaku, aku menghampiri sofa dan merebahkan tubuhku. Kutatap adikku yang tengah terlelap dan Thoriq yang tertidur di sofa lain dan sepertinya mencoba memasuki alam mimpinya.
Aku merubah posisi tidurku menjadi telentang, kutatap langit - langit ruangan ini. Mungkin karena sangat lelah, tanpa sadar aku pun langsung tertidur. Melupakan segala hal yang menjadi beban pikiranku dan melupakan segala hal yang membuat hati ini terasa begitu pilu.
πΊπΊπΊ
Jangan lupa like, vote dan berikan kritik serta sarannya ya !
Mampir juga di novelku yang satu...
" My Best Friend is My True Love "
Terima Kasih πππ
__ADS_1