Bento : The Real Bright Star

Bento : The Real Bright Star
Malaikat Penjaga Betrand


__ADS_3

~ Aulia POV ~


Setelah aku menulis surat di diaryku, aku langsung memanggil Betrand untuk pulang karena sudah menjelang magrib.


"Betrand... pulang, yuk!" ajakku seraya tersenyum lebar.


Dia pun langsung menghampiriku dengan berlari-lari kecil.


"Ayo,Kak...!" dia bergelayut manja sambil memegang tanganku.


Aku tersenyum lalu kami berjalan pulang ke rumah dengan canda tawa Betrand yang mengiringi setiap langkah kami.


Aku menatap wajah adikku yang sangat ceria. Dalam hatiku, diri ini sangat bersyukur meskipun Thoriq tak ada lagi disisi kami. Canda tawa itu tetap takkan hilang, meskipun bukan dari Thoriq, sahabatku itu.


Tapi hanya dari adikku, Betrand.


Ya...sekarang ini, adikku kekuatanku. Aku tidak boleh lemah dan bersedih karena dia.


Aku hanya tersenyum lebar menanggapi canda tawa dari Betrand. Sesekali aku mengelus pipinya karena tingkahnya yang sangat polos.


 


🌼🌼🌼


 


 


~ Author's POV ~


Setelah mereka sampai di rumah...


Lagi dan lagi...kebahagiaan sang adik seketika lenyap karena perlakuan orang tua mereka.


"Eh eh...wah...! Bagus ya kamu, enak-enakan main!" gertak Bunda mereka kepada Betrand.


Karena tak ingin adiknya bersedih atas perlakuan orang tua mereka yang kurang mengenakkan, Aulia langsung membela adiknya.


"Sudahlah, Bun...kasihan Betrand! Betrand anak kecil, Bun. Ia masih butuh hiburan, butuh kasih sayang!" jelas Aulia.


"Alah...kamu ini selalu aja bela dia!" bentak Bunda terhadap Aulia.


Betrand hanya terdiam sambil menatap pertikaian antara kakak dan Bundanya.


"Dek... masuk kamar dulu, ya!" nasihat Aulia sambil membelai rambut Betrand.


Betrand hanya mengangguk lalu berlari ke kamarnya.

__ADS_1


"Aku masuk kamar dulu ya, Bun!" ucap Aulia sambil tersenyum penuh kemenangan dan langsung berlalu.


"Eh eh...dasar itu anak, ya! Selalu aja bela anak itu!" ujar Bunda mereka dengan wajah kesal.


"Pokoknya gua gak mau biarin Betrand tinggal disini.Gua harus pisahin mereka!" lanjutnya dengan geram.


~ AULIA POV ~


Malam itu, aku mondar-mandir di kamarku. Ya...pokoknya aku harus buat Bunda dan Ayah sayang sama Betrand.


Tapi aku harus gimana, batinku kebingungan.


Aku pun langsung keluar dari kamar untuk menemui Bunda dan Ayah.


Sebelumnya, aku ke kamar Betrand. Rupanya dia sudah tertidur.


Aku langsung mencium keningnya sambil berkata, "Good night adik kecilku. Tidur yang nyenyak dan mimpi yang indah ya, Sayang!"


Setelah itu, aku mencari Bunda dan Ayah. Ternyata mereka masih terjaga. Aku pun langsung mendekatinya.


"Bunda, Ayah...!" ujarku sambil tersenyum.


"Eh...hai, Sayang!" balas Ayah sambil tersenyum.


"Kok belum tidur, Sayang?" tanya Bunda.


  🌹🌹🌹


Setelah itu, aku terdiam cukup lama.


Aku mengatur nafasku untuk berbicara soal Betrand kepada Bunda dan Ayah. Kutatap mereka dengan wajah gelisah, berharap mereka takkan marah dengan perkataanku.


Beberapa detik kemudian...


Aku pun memberanikan diri untuk mengeluarkan suara hatiku.


"Yah,Bun...?" ucapku dengan pelan.


"Iya, Sayang! Ada apa?" tanya Ayah sambil membelai rambutku.


"Sebenarnya aku mau ngomong," lanjutku dengan hati-hati.


"Ya...ngomong aja,Sayang!" timpal Bunda.


Aku menghirup nafasku dalam-dalam untuk merilekskan diriku.


Dengan pelan, aku berkata, " Yah, Bun... sebenarnya kenapa sih Ayah sama Bunda gak suka sama Betrand?"

__ADS_1


Seketika raut wajah mereka pun berubah, bagaikan singa garang yang siap menerkamku.


"Aulia, kenapa bahas itu lagi?" tegas Ayah dengan nada tinggi.


"Yah...aku heran aja dan kasihan juga sama Betrand, " bantahku dengan cepat. Aku terdiam selama beberapa detik, mencari kata-kata yang tepat agar Bunda dan Ayah tak marah.Setelah itu aku berkata kembali, "dia juga kan anak Ayah dan Bunda."


"Alah... kamu ini selalu saja bela dia!" bentak Bunda terhadapku.


"Yah, Bun... pantaskah orang tua yang seharusnya menjadi panutan tapi malah memperlakukan anaknya dengan tidak baik?" lanjutku seraya menahan tangisku.


" AULIA... SUDAH! SANA MASUK KAMAR!!!" gertak Ayah kepadaku.


"Tapi, Yah..." bantahku.


"AYAH BILANG MASUK KAMAR...!" hardik Ayah.


Aku pun langsung berlari sambil menangis menuju kamarku.


Hiksss....


Kenapa sih Bunda dan Ayah sangat membenci Betrand. Apa coba kurangnya dia. Betrand kan cerdas, berbakat, dan banyak kelebihan yang ia miliki. Aku benar - benar tak mengerti dengan semua ini, batinku dengan air mata yang terus berlinang di pipi.


~ Author's POV ~


Sementara itu, di kamar Betrand...


Ia terbangun karena mendengar suara orang yang ribut.


"Kok ada suara ribut?" ucapnya dengan pelan sambil beranjak dari tempat tidurnya.


Dia lalu mengintip dari balik pintu kamarnya. Disana ia melihat kakak, ayah, dan bundanya tengah bertikai.


Sepertinya sang kakak lagi-lagi tak tega atas perlakuan bunda dan ayah mereka terhadap Betrand.


Beberapa detik kemudian...


Betrand menyaksikan sendiri ketika ayahnya marah dan kemudian sang kakak menangis dan langsung berlari menjauh dari mereka.


Ya Tuhan...


Entah apa salah dan dosaku...sehingga kedua orang tuaku sangat tak menyukai diri ini, batin Betrand dengan air mata yang mulai berlinang di pipi.


Dengan cepat, dia menutup pintu kamarnya lantas menghempaskan tubuh mungilnya di atas kasur.


Betrand menangis dalam tidurnya


Di tengah keheningan malam itu, ia hanya seorang diri

__ADS_1


Entah sampai kapan dia harus bermimpi, berharap, dan menantikan cinta kasih yang tulus dari kedua orang tuanya?


__ADS_2