Bento : The Real Bright Star

Bento : The Real Bright Star
Dunia Fiksi yang Membuat Bahagia


__ADS_3

Beberapa detik kemudian...


"Oh iya... Betrand di mana, Ul?" tanya Thoriq sambil menoleh sekilas ke arah sahabatnya itu lantas mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru di rumah megah tersebut.


"Oh iya... dari tadi pagi aku suruh dia istirahat. Tapi gak tau tuh kalau udah bangun, aku pergi liat Betrand dulu ya, Riq!" balas Aulia lantas beranjak dari tempat duduknya.


Thoriq hanya mengiyakan perkataan Aulia. Ketika sahabatnya itu sudah menghilang di balik dinding ruangan nan manis tersebut, dia kembali memandang lepas ke seluruh sudut-sudut di ruangan tamu yang langsung berhadapan dengan kolam ikan serta kolam renang yang dihiasi oleh taman bunga bermekaran di sekelilingnya.


Seketika mata Thoriq terasa dimanjakan ketika melihat semua furniture yang tertata rapi di rumah megah tersebut, ditambah dengan pemandangan indah yang langsung bisa disaksikan dari ruangan tamu itu; sebuah tempat yang sangat cocok dan nyaman bagi kita sambil menyeruput teh hangat atau coklat panas di pagi hari disertai dengan buku favorit di tangan.


Dengan adanya elemen natural tersebut, seakan-akan menambah kesan manis di ruangan itu, semuanya terasa membuat Thoriq ingin terus berlama-lama di rumah sahabatnya itu.


Masyaa Allah... rumah semegah dan seindah ini pasti membuat siapa pun bahagia dan akan selalu betah di rumah, batin Thoriq lantas merebahkan badan jangkungnya di karpet berbulu yang sedari tadi terasa sangat nyaman di kulitnya itu.


Tapi belum sampai beberapa menit, dia mengubah pikirannya itu dan seketika wajahnya menjadi sedih. Ya... semua ini tentang kehidupan sahabatnya, Aulia!


Hmm... mungkin gak selalu bahagia juga, ya? Aulia dan Betrand anak konglomerat,tinggal di rumah mewah seperti ini dan apa yang mereka inginkan pasti didapatkan.Tapi sayang sekali dibalik harta berlimpah ini, yang orang-orang kira mereka pasti sangat bahagia... tapi nyatanya nggak juga, deh! Mereka jarang dapat perhatian dari orang tuanya, apalagi Betrand yang emang gak pernah dapat kasih sayang dari kecil, batin Thoriq sambil menatap langit-langit ruang tamu yang simple nan elegan itu.


Di sisi lain, Aulia sudah tiba di depan kamar adiknya. Lalu dengan cepat ia meraih daun pintu kamar tersebut dan mendapati Betrand yang tengah terduduk di kasur dan terlihat khusyuk dengan do'anya.


Bagus...! Rupanya Betrand sudah selesai salat, batin Aulia lantas tersenyum simpul melihat adiknya yang tak melupakan kewajibannya meskipun dirinya sedang sakit.


Selama kurang lebih 5 menit, Aulia terus menunggu di balik pintu sampai do'a sang adik selesai.


Dan tak lama kemudian, Betrand terlihat bangkit dari tempatnya; merapikan semua alat salatnya lalu kembali lagi ke bed cover bermotif Set Star favoritnya.


Melihat hal itu, dengan cepat Aulia masuk ke kamar adik semata wayangnya itu dan menyapa Betrand dengan lembut disertai dengan senyuman khasnya.


"Halo... adik kakak yang cakep!Udah salat, kan?" sapa Aulia lantas duduk di dekat adiknya.


"Hy,Kak...udah, kok!" balas Betrand dengan senyuman khasnya.


"Oke... udah habis kan buahnya?"


Aulia menoleh sekilas ke nakas minimalis yang terletak di samping bed cover sang adik dan ia mendapati piring berisikan buah yang dia bawa tadi telah habis tak tersisa.


"Udah juga kok, Kak!" lanjut Betrand.


"Wah, bagus! Mau ke luar, gak?" tawar Aulia dengan tersenyum simpul.

__ADS_1


"Iya, Kak... bosen di sini terus!" timpal Betrand lantas beranjak dari tempat tidurnya.


"Haha...ayo kita ke luar!" seru Aulia seraya tertawa lepas dengan muka polos adiknya.


 


🍃🍃🍃


 


Dengan riangnya sepasang kakak beradik ini berlari-lari kecil menuruni tangga sambil tertawa lepas.


Sementara itu di ruang tamu, Thoriq yang asyik-asyiknya dengan lamunannya itu seketika langsung dibuat tersadar dengan tawa yang menghiasi rumah megah tersebut. Dan karena itu juga, kejahilannya kembali muncul. Dengan isengnya, ia bersembunyi di balik sofa agar tak terlihat oleh sepasang kakak beradik tersebut.


Beberapa detik kemudian...


Perutnya terasa digelitiki melihat Aulia, sahabatnya itu tengah celingak-celinguk. Ahaha... pasti Aulia lagi cari aku, batin Thoriq sambil menahan tawa.


Lho... Thoriq udah pulang, ya?, batin Aulia ketika tak mendapati sahabatnya itu di ruangan tamu. Ia hanya melihat sofa yang tertata rapi yang dikelilingi dengan furniture unik di sekelilingnya, dan pintu kaca yang terbuka; yang langsung menuju kolam ikan.


Hmm... tumben banget tuh anak, pulang-pulang gak bilang!, batin Aulia lantas duduk di sofa; di mana tepat di sebelahnya ada Thoriq yang tengah ngumpet.


Ehh...semoga aja Aulia gak sadar kalau ada aku di dekatnya, batin Thoriq sambil menahan napasnya; takut sahabatnya itu menyadari keberadaannya.


Ya... awalnya sahabatnya itu memang tak sadar akan keberadaannya, tapi belum sampai beberapa menit Aulia tiba-tiba mengedarkan pandangannya dan sontak ia dibuat kaget dengan tingkah sahabatnya itu. Ingin sekali rasanya dia memukul habis-habisan sahabat semata wayangnya tersebut.


Tapi dengan cepat, Thoriq mengode Aulia untuk diam dan persis setelah itu Betrand menghampiri sang kakak, tepat itu juga dengan segala kejahilannya Thoriq langsung mendekap Betrand sambil berseru disertai dengan guyonan khasnya, "HUAAA...!!! Betrand dimasukkan ke dalam karung, ya...mau kakak bawa pulang ke Bondowoso."


Ya... tentu saja tingkahnya itu membuat sosok kecil ini tersentak kaget. Meskipun begitu, ia tetap tertawa lepas melihat sosok yang sangat ia sayangi ternyata sedari tadi berada di dekatnya disertai dengan tingkahnya yang menurut ia sangat menghibur itu.


Layaknya kakak kandung yang sangat mengasihi adiknya, dengan penuh kasih sayang Thoriq mencium pipi Betrand dan membelai kepala adik sahabatnya itu.


"Kak Thoriq... ternyata ada di sini. Tapi kok tadi Betrand gak liat?" sambut Betrand dengan tingkahnya yang sangat polos.


"Sengaja...."


"Ya ampun,Riq! Betrand pasti kaget, lho!" timpal Aulia dengan wajah yang kelihatan panik.


"Iya... maaf, Aulia! Terlalu gemeshh aku.Hehe!" balas Thoriq lantas terkekeh pelan.

__ADS_1


Aulia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya yang selalu konyol tersebut. Meskipun begitu, ia tetap merasa bahagia dan tentunya juga sangat terhibur karena kehadiran sahabat semata wayangnya itu. Ya... akan tetapi kebersamaan mereka kali itu adalah yang terakhir,karena mau gak mau hari itu Thoriq sudah harus kembali ke Bondowoso.


"Kakak udah mau pulang ke Bondowoso, ya?" tanya Betrand yang masih berada dalam dekapan Thoriq.


"Iya, Dek." Seketika muka Thoriq dan Aulia kembali beradu pandang, ada guratan kesedihan yang begitu mendalam yang terlihat dari wajah mereka.


Karena tak ingin Betrand sedih, dengan cepat Thoriq mengalihkan perhatian adik sahabatnya itu sambil berkata, "Kak Aulia punya buku dongeng atau komik, gak? Minta tolong ambilin, ya...untuk Tuan Kecil, Betrand Peto. Hehe!"


"Ah... iya siap-siap,Pangeran! Haha..." Seketika ruangan itu dipenuhi tawa lepas sepasang sahabat ini; hanya dengan tingkah konyol mereka tersebut.


 


🍃🍃🍃


 


Di rumah megah milik pasangan Royan Chandra dan Silvy Anastasya itu, selain memiliki ruang perpustakaan khusus yang berisi kumpulan buku-buku; entah itu novel, komik, majalah, buku ensiklopedia, dll; mereka juga membuat perpustakaan mini di ruang tamu seakan-akan membuat betah siapa saja yang menginjakkan kaki di rumah tersebut.


Dengan cepat, tangan Aulia menari-nari di rak yang tertempel manis di ruangan elegan nan menyegarkan tersebut. Tak butuh waktu yang lama untuk mencari buku yang sang sahabat inginkan itu. Ya... karena sebagai seorang pencinta buku, Aulia selalu membuat kumpulan buku-bukunya selalu tertata rapi dan dia tempatkan dengan sesama jenisnya.


"TADAA...! Bukunya udah ada,nih!" seru Aulia lantas menghampiri Thoriq dan sang adik yang tengah asyik bermain di karpet berbulu berwarna lembut tersebut.


"Wah, asyiikk!" seru Thoriq ketika melihat ada tiga buah buku di tangan Aulia.


"Ini semuanya buku-buku baru, lho! Ceritanya juga keren banget!" lanjut Aulia seraya duduk di samping adiknya.


"Wow, Betrand mau gak dibacain dongengnya?" tawar Thoriq seraya tersenyum lebar kepada Betrand.


"Mau dong, Kak!" balasnya lalu mendekatkan badan mungilnya itu kepada sahabat sang kakak yang tengah membuka lembaran buku yang sangat menarik di mata indahnya itu.


Beberapa detik kemudian...


Dengan pelan Thoriq mulai membacakan buku dongeng yang berjudul Charlie and The Chocolate Factory. Awalnya Aulia ingin membaca buku yang lain, tapi entah kenapa buku dongeng tersebut kali itu jauh lebih menarik dibandingkan buku yang lain dan dengan cepat ia langsung memasang mukanya dengan antusias; ingin mendengarkan sahabatnya itu membacakan kisah menarik tersebut. Hmm, ya... bahkan saking menariknya ia sudah membaca dongeng itu berkali-kali.


"...Rumahnya nyaris tidak cukup besar untuk orang sebanyak itu dan hidup luar biasa tidak nyaman bagi mereka semua. Hanya ada dua ruangan dalam rumah itu, dan hanya ada satu tempat tidur. Tempat tidur itu diberikan kepada empat kakek-nenek karena mereka sangat tua dan lelah. Mereka sangat letih hingga tak pernah turun dari situ..." Hanya suara Thoriq yang mengisi ruangan tamu yang menyegarkan tersebut, sesekali terdengar suara takjub sepasang sahabat ini karena dongeng yang mereka baca.


(Sumber dongeng : Charlie and The Chocolate Factory)


Hanya karena dongeng yang menarik itu, mereka seakan-akan dibuat lupa dengan kenyataan di hidup mereka; seakan-akan momen itu akan selalu begitu, selalu bersama-sama.

__ADS_1


Tapi syukurlah setidaknya untuk sementara waktu tiga anak ini telah melupakan kerisauan mereka; akan perpisahan yang telah menanti di hadapan mata.


__ADS_2