Bercerailah, Bunda

Bercerailah, Bunda
episode 36


__ADS_3

"Mas kenapa? Sudah dari tadi aku lihat. Mas seperti ada masalah. Ada yang ingin Mas ceritakan?" tanya Vina lembut. Saat ini mereka sudah berada di kasur.


"Mas." panggil Vina.


"Heum, ada apa?" tanya Iqbal.


"Mas yang kenapa. Dari tadi aku perhatikan Mas kayak ada masalah. Melamun terus." ujar Vina. "Mas, ada maslah apa sih? Kenapa gak cerita sama aku." ucap Vina.


"Gak ada apa-apa. Yok kita tidur." ajak Iqbal. Menarik Vina ke pelukannya.


"Yang, jika aku melakukan kesalahan. Apa kamu mau memaafkannya?" tanya Iqbal. Setelah lamanya terdiam. Rasti yang hampir terlelap, terkejut dengan pertanyaan Iqbal. "Berjanjilah, kalo kamu akan terus bersamaku." ucap Iqbal lagi.


"Jika memang Mas ada masalah, ceritakan lah, bukankan kita menikah untuk saling melengkapi dan berbagi? Melengkapi setiap kekurangan dan kelebihan. Berbagi suka dan duka? Jadi, ceritakan lah, apa pun yang jadi masalahmu." papar Vina. Dia sadar, jika suaminya sedang ada masalah.


Vina bisa menyimpulkan, jika Iqbal adalah seorang suami yang sangat menjaga perasaan istrinya. Iqbal seorang suami yang selalu menyembunyikan masalahnya.


Akhirnya Iqbal menceritakan kejadian saat sebulan lalu, dan berakhir memperlihatkan isi chat dari Rasti.


"Maaf, Mas hanya tidak ingin kamu jadi kepikiran. Mas salah, karena tidak menceritakannya padamu. Mas hanya gak tau kalo Rasti sengaja untuk melakukan itu." ujar Iqbal.


"Aku kecewa Mas, bukan karena Rasti. Tapi karena Mas yang tidak terbuka sama aku. Aku ingin Mas, berbagi dalam setiap masalah. Aku tau niat Mas baik. Tapi dengan Mas melibatkan aku di setiap masalah Mas. Itu berarti Mas menghargai aku sebagai istri Mas." jelas Vina.


"Besok, kita sama-sama akan bertemu dengan Rasti." tegas Vina.


"Baiklah, besok Mas jemput kamu, kalo sudah selesai kerja." ucap Iqbal.


"Besok, aku aja ke rumah sakit. Kita pergi dari sana saja." tutur Vina.


Keesokan harinya, Rasti kembali mengirim chat pada WA Iqbal. Iqbal yang kebetulan sedang jam Istirahat melihat chat dari Rasti. Kemudian dia meneruskannya untuk Vina.


"Nanti Mas datang aja ke hotel bintang bulan. Kamar 111. Mas masuk saja. Jika Mas tidak datang. Aku akan mengirim semua foto untuk istrimu." chat dari Rasti.

__ADS_1


Di tempat lain, Rasti sangat yakin jika Iqbal akan datang menemuinya. Karena yang Rasti tau. Iqbal seorang lelaki yang tidak mau istrinya terbebani, walaupun hanya masalah yang sepele, Iqbal pasti akan menyelesaikannya sendiri.


Setelah mengirim chat untuk Iqbal. Rasti memutuskan untuk membeli lingerie. Tadi dia sudah dari salon. Rasti ingin membuat Iqbal terpesona dengan kecantikan dan kemol*kan tubuh s*ksinya.


"Akan aku pastikan, kamu tetep bersamaku Mas." batin Rasti.


Setelah membeli semua keperluannya. Rasti langsung menuju ke hotel yang sudah di reservasi sebelumnya.


Sore harinya, Iqbal bersiap-siap untuk pulang. Sedangkan Vina sudah menunggu di depan ruangan Iqbal.


"Maaf sayang, sudah merepotkan mu. Kenapa nunggu disini?" ucap Iqbal, mencium pipi Vina.


"Kan aku baru nyampe Mas, jadi aku kira Mas masih ada kerja. Dari pada ganggu Mas kerja." jawab Vina. "Sekarang kita langsung ke tempat Rasti?" tanya Vina.


"Heum, tapi kamu ingat kan apa yang Mas bilang tadi di WA?" ucap Iqbal. Vina menganggukkan kepalanya.


"Kode kuncinya tanggal pernikahan kita. Kamu gak mungkin lupa kan Mas." masuk lagi chat dari Rasti.


Iqbal hanya mematung di depan pintu. Dia terus-terusan melawan nafsunya sebagai lelaki dewasa yang normal. Rasti bangkit dari tempat tidur. Dia mengambil segelas minuman yang telah disiapkan di atas nakas.


"Aku tau, Mas pasti akan datang." ujar Rasti mendekati Iqbal.


"Kamu mau apa? Cepatan hapus semua foto itu." seru Iqbal saat Rasti mendekatinya.


"Memangnya Mas mau kemana? Kenapa buru-buru?" tanya Rasti sambil membuat lingkaran dengan jarinya di kancing kemeja Iqbal.


"Sudah cukup ya Rasti. Kamu tidak usah jadi wanita murahan untuk menggoda suamiku." teriak Vina yang mendorong pintu. "Kamu pikir suamiku tergoda dengan wanita seperti mu? Bahkan kamu lebih murah daripada pelac*r diluar sana." ejek Vina lagi.


"Kamu." tunjuk Rasti. "Dan kamu Mas, tega mempermalukan aku. Dengan mengajaknya kesini." kesal Rasti.


"Bukan aku yang permalukan kamu. Tapi kamulah yang mempermalukan dirimu sendiri." tegas Iqbal.

__ADS_1


"Ooo ... Ya satu lagi. Kamu gak usah repot-repot mengirim foto itu untuk Vina. Karena dia sudah ku beritahu. Beserta CCTV dari parkiran rumah sakit." sambung Iqbal.


"Masih bagus, tidak aku Viral kan kamu Rasti. Karena aku masih berpikir untuk tidak mempermalukan kamu pada orang-orang diluar sana." kata Rasti. Kemudian dia dan Iqbal pergi dari kamar tersebut.


"Makasih ya Mas, karena sudah melibatkan aku di setiap masalahmu." ujar Vina. Sekarang mereka sudah dalam perjalanan pulang.


"Mas yang berterimakasih. Karena kamu selalu ada untuk Mas. Kedepannya Mas janji, akan selalu menceritakan setiap masalah yang Mas hadapi." janji Iqbal.


Sedangkan Rasti, hanya bisa menangis. Dia tidak terima jika Iqbal dan Vina memperlakukannya seperti ini. Dia harus mencari cara agar memisahkan Iqbal dan Vina.


"Awas kau Iqbal." teriak Rasti di dalam kamar hotel.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hubungan antara Syahril dan Sarah semakin dekat. Bahkan mereka pernah jalan berdua. Bu Fatma juga setuju, apalagi Syahril tipe laki-laki yang pekerja keras. Sekarang dia ingin menantu yang giat bekerja walaupun tidak kaya. Yang penting anaknya bahagia.


"Maaf ya, aku gak bisa jadi lelaki romantis." seru Syahril saat melamar Sarah.


Sekarang mereka lagi berada di Kafenya Iqbal. Syahril melamar Sarah di depan para pengunjung kafe tersebut. Dengan latar Saka yang memainkan gitar bernada lagu janji suci dari Yovie & Nuno.


"Gak apa-apa Mas. Gini aja aku udah bahagia." seru Sarah sambil melirik cincin yang berada di jari manisnya. "Tapi, kenapa tadi Mas gak nyanyi aja? Kan jadinya lebih gimana gitu." lanjut Sarah.


"Karena Mas takut semua pelanggan akan kabur mendengar suara Mas. Kan kasihan Iqbal, jadi rugi." canda Syahril. "Lagian suara Mas jelek." jujur Syahril membuat Sarah tertawa.


"Nanti Mas akan melamar mu di depan Ibumu. Juga minggu depan mengajak Iqbal dan Vina ke rumahmu. Karena hanya mereka lah, keluarga ku." ujar Syahril.


"Ibu senang, dengan niat baik kalian. Semoga kalian bisa bahagia selamanya. Jagalah anak Ibu, dia kesayangan Ibu. Dan Ibu, minta setelah menikah nanti kalian tetaplah tinggal di sini. Menemani wanita tua dan gak berguna ini." isak Bu Fatma kemudian.


Sekarang mereka lagi berada di rumah Bu Fatma. Syahril sudah mengatakan niat baiknya untuk menikah dengan Sarah.


"Bu, tenanglah. Jika Sarah menikah denganku, berarti aku juga sudah siap menjaga Ibu seperti Ibuku. Lagian aku juga rindu dengan orang tua yang bisa mengganggap ku sebagai anaknya. Anggaplah aku sebagai anak kandungmu. Tegur lah, aku, jika nanti aku menyakiti putrimu. Ingatkan aku, jika aku harus membuat anakmu selalu bahagia." jelas Iqbal.

__ADS_1


Bu Fatma akhirnya setuju. Dan Syahril pun setuju untuk tinggal bersama Bu Fatma, jika sudah menikah nanti.


__ADS_2