
Vina lagi di supermarket. Ia gak sengaja ketemu dengan Bu Fatma. Akhirnya Bu Fatma mengajak Nadin untuk mampir kerumahnya. Dia juga mengatakan di sana ada Anwar yang kebetulan datang. Karena mendengar nama suaminya akhirnya dia setuju untuk ikut Bu Fatma. Lagipula dia takut jika Anwar datang ke rumah Bu Fatma untuk memberinya uang.
Saat sudah sampai, Nadin langsung menuju dapur. Dengan maksud mengambil minum. Sedangkan Bu Fatma masih di luar. Bicara dengan tetangga.
"Nadin."
"Mbak." seru Sarah dan Anwar hampir bersamaan.
"Jadi, maksud Mas. Selama kita menikah. Mas tidak pernah mencintai aku? Tega kamu Mas." teriak Nadin.
"Bu-bukan begitu. Dengarkan dulu penjelasan aku Na." ucap Anwar.
"Penjelasan yang mana? Heum? Aku udah dengar semuanya Mas. Semuanya. Jadi kamu Mau menjelaskan bagaimana lagi?" tanya Nadin.
Sarah bangkit, meninggalkan suami istri tersebut untuk menyelesaikan masalah.
"A-aku minta maaf."
"Brengsek kamu Mas. Padahal selama ini aku udah memberikan apa yang tidak bisa Vina berikan. Aku yang memberimu anak perempuan Mas. Bahkan saat pertama menikah. Aku tidak pernah meminta nafkah darimu. Tapi kamu? Aaah ... " teriak Nadin frustasi.
"Aku begini juga gara-gara kamu. Kamu tidak seperti Vina. Yang selalu menyiapkan sarapan. Saat aku berangkat kerja, pernahkah kamu mengantarku? Aku juga ingin di perhatikan. Memang kamu tidak meminta uang. Tapi, bukankah saat aku memberimu uang untuk pertama kali kamu menolaknya? Dan bilang jika orangtuamu sudah memberimu uang jauh lebih banyak?" tutur Anwar ikut emosi. " Memang kamu sudah memberiku anak perempuan. Tapi kamu tak pernah merawatnya Nadin. Tak pernah. Memberi ASI saja kamu tak pernah. Kamu selalu beralasan, jika badanmu dan payud*ramu akan berubah. Aku tetap saja sabar, sampai anak kita meninggal. Sekarang, saat aku pulang kerja. Pernahkah kamu berada di rumah? Kita ini, hanya bagai orang asing yang hidup di satu atap Nadin. Aku udah pernah memintamu berubah. Tapi kamu selalu beralasan. Aku muak Nadin. Aku muak." teriak Anwar.
Bu Fatma yang baru saja masuk, terkejut mendengarkan teriakan anaknya. Dia langsung berlari ke dapur. Dimana Anwar dan Nadin berada.
"Anwar. Ada apa?" teriak Bu Fatma.
"Ibu. Mas, Anwar mengakui jika selama ini dia tidak bisa melupakan Vina. Dia hanya cinta Vina. Sekarang dia limpahkan segala kesalahan padaku Bu." jelas Nadin berurai air mata. Sebenarnya Nadin sedikit takut. Jika sampai Anwar meninggalkannya. Karena baru-baru ini dia tahu jika orangtuanya sudah bangkrut. Akibat di tipu oleh teman bisnis Papanya.
"Nak, selesaikan dengan kepala dingin. Jangan berteriak. Malu nak. Malu." tekan Bu Fatma pada kata malu.
"Maaf Bu, aku pulang dulu." pamit Anwar.
"Selesaikan masalahin kalian baik-baik. Ingat, jangan pernah main tangan. Seperti yang kamu lakukan dulu pada Vina." lirih Bu Fatma memperingati anaknya.
"Nadin, kamu pulanglah. Ikut suamimu. Patuhilah apa yang di katakan nya, selama itu baik untuk kalian berdua." nasihat Bu Fatma terhadap Nadin.
__ADS_1
Nadin pun, pergi tanpa pamit pada Bu Fatma. Dia pulang dengan mobilnya sendiri. Sedangkan Anwar sudah pulang lebih dulu. Tanpa menunggu Nadin.
Anwar sampai lebih dulu, tak berselang lama Nadin pun tiba. Anwar sudah masuk ke dalam kamar. Dia menunggu kedatangan Nadin.
"Kontrol emosimu Anwar. Sabar, sabar." batin Anwar sugesti diri sendiri.
"Mas." panggil Nadin. "Aku ingin bicara." ungkap Nadin.
"Bicara lah,"
"Aku minta maaf, jika aku telah melakukan kesalahan. Maafkan aku. Kedepannya aku akan berubah. Aku akan jadi istri yang baik." ujar Nadin bernada penyesalan.
Anwar masih saja diam, dengan posisi berdiri sambil melipat tangannya di dada.
"Mas. Aku beneran nyesal. Untuk menebus rasa bersalahku. Besok aku yang akan nyiapin semua kebutuhan Mas." lanjut Nadin.
"Baiklah, aku memberimu satu kesempatan. Kita akan sama-sama belajar untuk menjaga rumah tangga kita. Mas juga minta maaf padamu." ucap Anwar menarik Nadin ke pelukannya. Setelah itu mereka menyatukan napas. Karena sesungguhnya hormon Anwar sudah lama tidak di lepaskan. Sebab saat mendekati Nadin, ia selalu beralasan capek.
Pagi harinya, Nadin benar-benar menepati janjinya. Dia yang sebelumnya tidak pernah memasak. Untuk pertama kalinya dia memasuki dapur. ART yang melihatnya pun sampai kebingungan. Namun, mereka di tolak oleh Nadin saat hendak membantu.
"Semoga kamu benaran berubah Na." batin Anwar.
Di dapur, Nadin memutuskan untuk membuat nasi goreng dan telor ceplok. Karena itu merupakan sarapan kesukaan Anwar.
"Lah ... Kok hambar ya." saat Nadin mencicipi hasil masakannya. Kemudian dia memasuki garam serta kecap.
Setelah siap memasak, Nadin memasuki kamar. Dia tak mendapati Anwar di kasur. Tetapi, terdengar suara air di kamar mandi. Pertanda bahwa Anwar sedang mandi.
Nadin, memilih menyiapkan pakaian untuk Anwar. Anwar yang baru keluar dari kamar mandi terkejut, melihat Nadin sedang memilih bajunya.
"Mas, pakai baju ini ya." Nadin meletakkan baju serta tas kerja Anwar. "Kalau udah sudah siap. Turunlah, kita sarapan bersama." ujar Nadin. Dia segera keluar menuju ruang makan.
Anwar tersentuh dengan perubahan Nadin. Dia berharap semoga hubungannya dengan Nadin semakin membaik. Agar dia bisa melupakan Vina. Saat Anwar masih bersiap-siap. Terdengar bunyi ponsel. Tanda chat masuk.
"Bagaimana?" chat dari Rasti.
__ADS_1
Anwar hanya melihat sekilas. Tanpa ada dia untuk membaca apalagi membalasnya. Tak lama kemudian terdengar panggilan masuk. Semula Anwar hanya melihat. Namun Rasti tak kenal lelah di spam chat dan terus-menerus menelpon Anwar.
"Aku masih di rumah." ungkap Anwar. Akhirnya dia memilih mengangkat panggilan tersebut.
"Aku tak peduli. Terus, bagaimana dengan usahamu kemarin? Berhasilkah?"
"Gak." jawab Anwar cuek.
"Cih ... Kan aku bilang, saat kalian sudah berdua, gunakan kesempatan untuk nostalgia. Ingatkan dia saat-saat kalian bahagia. Ungkit Lah, segala kenangan manis. Nanti dia pasti kepikiran." jelas Rasti jengkel.
"Udahlah, kapan-kapan kita bahas lagi. Aku lagi siap-siap untuk berangkat kerja." Anwar mematikan panggilan sepihak. Tanpa mendengarkan jawaban Rasti.
Rasti, yang menerima perlakuan Anwar hanya berdecak kesal.
Nadin masih menunggu Anwar, tak lama kemudian Anwar muncul dengan setelan baju yang dipilih oleh Nadin.
"Mas, ayo sarapan. Aku yang masak lho." ajak Nadin pamer masakannya.
"Benarkah? Tapi kelihatannya enak." ucap Anwar antusias. Anwar menarik kursi dan duduk. Sedangkan Nadin menyiapkan sarapan untuk Anwar.
"Selamat makan Mas." ucap Nadin sambil memasukan satu sendok nasi goreng.
Nadin langsung menatap Anwar, pasalnya makanan yang disiapkannya keasinan. Tetapi, Anwar tak peduli. Dia tetap memakannya tanpa berkata apapun.
"Mas, maaf. Kamu gak usah makan lagi. Nasinya keasinan." ucap Nadin kecewa.
"Gak apa-apa. Ini masih bisa di makan kok. Kan tidak terlalu asin. Lagipula ini masakan pertamamu. Jadi sayang, kalo di buang." ucap Anwar. Membuat Nadin bahagia.
Setelah sarapan, Anwar bersiap-siap untuk berangkat kerja. Nadin juga mengantar Anwar sampai pintu.
"Nanti, jika kamu ingin pergi. Pergilah, tapi usahakan pulang sebelum sore. Karena Mas ingin melihatmu berasa di rumah."
"Aku gak kemana-mana Mas. Aku di rumah saja." ujar Nadin.
Setelah Anwar berangkat, dan mobil hilang di pandangan. Nadin kembali masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Ya ampun, ternyata capek juga ya pura-pura jadi istri idaman. Tapi ini semua aku lakukan biar gak di ceraikan." gumam Rasti mendudukkan bokongnya di sofa.