Bercerailah, Bunda

Bercerailah, Bunda
Penyesalan Anwar


__ADS_3

Nadin pergi meninggalkan Anwar. Dia langsung menuju ke rumah sakit. Di sana, dia melihat Mamanya yang menangis tersedu. Nadin, langsung berlari ke tempat Mamanya, perasaannya campur aduk.


"Ma, ada apa?" tanya Nadin pada Anita.


"Mama, semua salah Mama." isak Anita memeluk Nadin. "Pasti Papa mu tertekan. Setelah mengetahui Papa kamu di penjara, para rentenir itu juga menuntut Papa mu." adu Anita.


"Sudah lah, Ma. Jangan di tangisi lagi. Papa akan baik-baik aja." ujar Nadin mengelus punggung Mamanya.


Nadin menghela napas. "Bagaimana kalau rumah kita jual aja." kata Nadin.


"Papa mu, tidak akan mengizinkannya. Mama sudah berulang kali menyuruh Papa menjualnya. Namun, dia menolak. Dengan alasan, tidak sanggup tinggal di rumah yang kecil." ucap Anita.


"Ma, kita butuh uang. Hutang Papa banyak. Kita gak mungkin terus-terusan hidup dalam hutang. Ada atau tidak adanya Papa. Hutang tetap harus di bayar. Jadi, aku akan menjual rumah kita. Juga perhiasan kita berdua. nanti, uangnya untuk bayar hutang. Kalau lebih baru kita cari rumah untuk kita tinggali." bujuk Nadin.


"Mama terserah pada mu aja, Nak." ujar Anita.


🍁🍁🍁🍁🍁


Anwar kembali menawarkan rumah beserta isinya untuk di jual. Sebab dia sudah tidak mempunyai uang pegangan lagi. Sekarang saja, dia kembali tinggal bersama Sarah. Untungnya Syahril tidak berada di tempat. Karena dia sedang bekerja sebagai bodyguard.


"Mas yakin mau menjual rumah?" tanya Sarah setelah mereka sarapan.


"Yakin lah, memangnya kamu mau menanggung semua kebutuhan Mas." ucap Anwar.


"Kamu suruh Syahril untuk mencari pembelinya. Mas juga, sudah minta tolong pada beberapa teman Mas." ujar Anwar.

__ADS_1


Sarah menghela napas. "Baik lah, tapi nanti uang hasil penjualan rumah Mas berikan sedikit untuk Adit dan Saka. Bagaimanapun , mereka tetap anak-anak nya Mas." kata Sarah.


"Mereka tidak membutuhkannya. Harusnya mereka lah, yang memberiku uang. Mereka lah, yang menanggung semua kebutuhan Mas." ucap Anwar. "Tapi, sekarang mereka telah menganggap ku seperti telah meninggal. Buktinya mereka tidak pernah mengirimkan ku sepersen uang." keluh Anwar lagi.


"Mas sadar, apa yang Mas ucapkan? Bukannya Mas, yang pertama kali menelantarkan mereka? Adit bahkan sudah bekerja semenjak SMA. Mas lupa?" beruntun Sarah.


"Tapi, Mas yang membesarkan mereka. Mas yang memberikan mereka makanan saat mereka kecil dulu. Kalau Vina, memang sudah tidak pernah bekerja semenjak kami menikah dulu. Jadi sudah sepatutnya mereka membalas jasaku." jawab Anwar.


"Mas, yang Mas lakukan saat mereka kecil itu, memang tanggung jawab Mas sebagai orang tua. Itu memang kewajiban Mas. Mas, ingat gak? Kapan terakhir kali Mas memberi mereka uang? Kapan terakhir kali Mas menanyakan kabar mereka? Kapan terakhir kali Mas berada di sisi mereka? Kapan terakhir kali Mas ada saat mereka butuhkan?" tanya Sarah geram. "Mas, aku dan Ibu memang salah. Aku akui itu. Tapi Mas ingat kan? Kenapa Mbak Vina menggugat Mas? Bukan karena kami Mas. Tapi karena Mas membawa wanita lain. Kami memang salah dengan selalu mengompori Mas untuk memaksa Mbak Vina hamil anak perempuan. Aku dan Ibu menyesal Mas." ujar Sarah, menahan isakkan, karena teringat perilakunya dulu.


"Mas, minta maaf lah, karena orang tua pun bisa saja salah. Minta maaf lah, pada anak-anak. Sejatinya mereka tetap membutuhkan mu sebagai orang tuanya. Minta maaf lah, pada Mbak Vina. Karena Mas selalu menyakitinya dulu." desak Sarah.


Anwar bangkit meninggalkan Sarah. Dia kembali memasuki kamar yang di tempati nya semenjak di rumah Sarah.


"Benarkah aku sebagai orang tua bersalah? Kenapa ucapan Sarah membuat hatiku ngilu? Apakah, mereka akan memaafkan ku?" lirih Anwar menatap foto yang berada di ponselnya. Foto di saat pernikahannya dengan Nadin.


"Nak ..." sapa Anwar setelah memastikan Adit menjawab panggilannya. "Kapan pulang? Ataupun punya waktu?" tanya Anwar.


"Kenapa?" balas Adit dari seberang.


"Ayah, ingin bertemu. Ada hal, yang ingin Ayah sampaikan."


"Untuk bulan ini, aku gak bisa pulang. Karena sibuk."


"Baik lah, besok biar Ayah saja yang ke sana."

__ADS_1


"Baiklah." balas Adit mematikan panggilan.


🍁🍁🍁🍁🍁m8e


Keesokan harinya, Anwar bersiap-siap untuk menemui Adit. Sebelumnya dia sudah mengatakan pada Sarah untuk mencari pekerjaan. Karena jika mengaku ingin berjumpa dengan Adit, Anwar terlalu gengsi.


Sampainya ke kosan Adit. Anwar langsung memeluk anaknya dengan rindu. Bahkan dia tidak malu menangis depan Adit dan beberapa penghuni kosan lainnya.


"Ayah ingin minta maaf. Maaf karena Ayah telah gagal menjadi orang tua." ucap Anwar terbata-bata.


"Ayah, telah membuat kalian malu. Ayah menyesal. Maafkan Ayah. Ayah memang tidak sebaik dr. Iqbal. Tapi Ayah sungguhan menyesal, maafkan Ayah. Gara-gara Ayah kalian jadi malu. Gara-gara Ayah Bunda kalian menderita. Tolong maafkan Ayah." isak Anwar menggenggam tangan Adit.


Adit hanya menuduk mendengar ucapan Ayahnya. Bayangan kebersamaan mereka seakan berputar-putar di ingatan Adit. Bagaimana dulu Ayah menyayanginya. Bagaimana Ayahnya dulu melindunginya. Bagaimana juga Ayahnya khawatir saat dia sakit. Taoi, bayangan saat Ayah menyiksa Bundanya pun, tak luput dari ingatan Adit. Bagaimana ucapan kasar dengan mudah keluar dari mulut Ayahnya.


"Nak, jika kamu berpikir Ayah minta maaf, karena kalian sudah sukses itu salah Nak. Ayah hanya ingin kalian ada bersama Ayah. Libatkan Ayah saat kalian merasa kesulitan. Panggil Ayah saat kalian butuh pertolongan. Maafkan Ayah, Ayah hanya ingin kamu maafkan Ayah." mohon Anwar lagi, karena melihat Adit hanya terdiam dengan posisi menunduk.


"Ayah janji, Ayah tidak akan menggangu Bunda kalian lagi. Walaupun, Ayah masih mencintainya, tapi Ayah sadar. Karena sikap Ayah lah, Bunda kalian pergi bersama kalian. Karena kebodohan Ayah lah, kalian jauh dari Ayah. Ayah mohon maafkan Ayah." turun dari sofa sambil memeluk lutut Adit.


"Ayah, jangan begini." kaget karena sikap Ayahnya yang memeluk lututnya. "Bangkit lah Ayah." menarik Ayahnya agar kembali duduk.


Adit menatap manik mata Anwar. Dia mencari kebenaran lewat tatapan mata Ayahnya. Adit tersentuh karena bisa melihat penyesalan di mata Ayahnya.


"Ayah ..." isak Adit kemudian memeluk Anwar dengan erat. Anwar pun membalas pelukan Adit sama eratnya.


"Maafkan Ayah." bisik Anwar dan Adit mengangguk-angguk kepalanya.

__ADS_1


Akhirnya Adit menerima permintaan maaf Ayahnya. Karen jauh dari lubuk hatinya. Dia tidak rela melihat air mata yang di keluarkan oleh Ayahnya. Apalagi dia bisa melihat penyesalan serta ketulusan dari ucapan Ayahnya. Adit ingin memberi kesempatan pada Ayahnya untuk berubah. Karena bagaimanapun Ayahnya tetaplah, orang yang berjasa di hidupnya.


__ADS_2