
Kabar meninggalnya Rania sampai juga pada Vina. Iqbal mengambil cuti sehari. Begitu juga Adit. Dia libur untuk melihat adiknya untuk terakhir kalinya.
"Nadin, sabar ya." ujar Vina pada Nadin. Nadin berada di kamarnya.
"Ini semua pasti doa kamu kan? Kamu pasti iri dengan keberhasilan aku memberi Mas Anwar anak perempuan." cerca Nadin. "Hatimu busuk Vina." teriak Nadin lagi. "Kamu kesini pasti ingin menertawakan aku." berang Nadin.
"Diam nak diam, kamu yang sabar ya sayang. Vina tolong kamu di luar saja ya." ujar Mama Nadin.
Vina pun keluar dari kamar, dia berbaur bersama para tetangga. Karena dia pun merasa rindu dengan mantan tetangganya dulu.
Setelah melakukan proses pemakaman keluarga Vina pamit pulang. Di sana hanya tinggal Bu Fatma, Sarah, Syahril beserta kedua orang tua Nadin.
"Mama sama Papa harap kalian bisa sabar. Dan kamu Anwar, harus menjaga mental Nadin. Karena disini dia yang paling kehilangan, sebab dia seorang Ibu." bijak Mama Nadin. "Kami pamit dulu, karena kerjaan pun masih banyak. Untuk pengajian nanti malam, Mama sama Papa gak bisa hadir. Biar Bu Fatma saja yang membantu.Bu Fatma tinggal disini saja. Menemani Nadin. Karena bagaimana pun, kehilangan Rania ada campur tangan Bu Fatma. Jika saja saat dulu, Anwar meminta Sarah dan Bu Fatma menjaga Rania. Dan Bu Fatma tidak menolak. Pasti hal ini tak akan tejadi."Β Seru Mama Nadin.
"Enak sekali anda ngomong ya. Memangnya anak Ibu gak salah? Aku dengar-dengar dia sendiri saja gak pernah ngerawat anaknya. Semua keperluan Rania, malah ART yang lakukan." jawab Sarah.
"Nadin, seorang Ibu. Dia sudah menjalani hamil, terus melahirkan. Jadi, saat anaknya lahir wajar dong jika dia ingin menghabiskan waktu yang terbuang sia-sia saat dia hamil." bela Mama Nadin. Dia sangat jengkel saat anaknya disalahkan. "Lagian kamu belum hamil, jadi mana tau jika betapa susahnya Ibu hamil." cemoohan nya lagi.
"Udah diam. Bukannya Mama sama Papa banyak kerja?" seru Anwar.
"Ya udah, kami pamit dulu." pamit Papa Nadin.Β
"Kamu jangan mendengarkan apapun perkataan orang yang menyalahkan mu ya nak." perintah Mama Nadin, kepada anaknya.
Setelah kepergian orang tua Nadin. Bu Fatma memutuskan untuk tetap tinggal. Begitu juga dengan Sarah. Karena nanti malam akan diadakan pengajian. Malam harinya Vina beserta keluarganya menghadiri acara pengajian tersebut. Awalnya Vina malas untuk ikut. Tetapi karena paksaan Adit juga Saka, akhirnya dia mengalah.
"Makasih ya Vina, karena sudah datang." seru Anwar pada Vina saat mereka pamit untuk pulang.
"Sama-sama Mas." jawab Vina.
Akhirnya semua tamu pulang semua. Bu Fatma memilih untuk menginap. Sedangkan Sarah dan Syahril memilih pulang.
"Mas, selama acara pengajian. Aku lihat Mas selalu melirik pada Vina." ujar Nadin buka suara. Mereka lagi berada di kamar.
"Itu cuma perasaanmu saja. Aku mau mandi dan istirahat." seru Anwar.
__ADS_1
Akhirnya Nadin memilih untuk istirahat. Karena seharian sudah lelah. Saat Anwar keluar dari kamar mandi. Dia melihat Nadin sudah tertidur pulas.
"Tidak kah ada rasa sedih di hatimu? Kenapa kamu bisa tidur semudah ini?" batin Anwar melihat Nadin.
Keesokan harinya. Anwar masih belum bekerja. Dia seharian menghabiskan waktu di rumah. Nadin yang bangun jam 11 siang, berpikir jika Anwar sudah bekerja seperti biasannya. Sedangkan Bu Fatma di dapur bersama dengan ART. Mereka lagi memasak untuk makan siang.
Saat melihat mertuanya masih dirumahnya, dia hanya menghela napas jengah.
"Kok Mas Anwar, gak sekalian anterin Ibunya sih. Ganggu saja." lirih Nadin.
Tanpa bertanya tentang Anwar, Nadin langsung siap-siap hendak pergi dengan temannya. Lagian dia ingin ke tempat Winda. Dan bertanya tentang lelaki yang menidurinya.
"Mau kemana?" tanya Anwar. Anwar berada di teras depan.
"Mas, bu-bukannya kerja?" tanya Nadin.
"Mau kemana?" ulang Anwar.
"A-anu. Mau ke tempat teman." jawab Nadin.
"Tapi aku udah janji Mas." rajuk Nadin.
"Masuk. Atau aku seret?" tekan Anwar.
Dengan menghentakkan kakinya, akhirnya Nadin memilih masuk.
πππππ
Mas, boleh gak siang ini, aku ke rumah sakit? Sambil nganterin bekal Mas yang ketinggalan. Lagian aku bosan di rumah terus." Vina mengirim chat untuk suaminya.
"Boleh sayang."setelah mendapatkan balasan dari suaminya. Vina bersiap-siap. Dan memberi tahu Saka untuk mengantarnya. Sedangkan Adit sudah kembali untuk kuliah.
"Gak usah nungguin. Kamu pulang aja. Bunda pulang sama Bapak saja." ucap Vina pada Saka.
Vina menunggu di bangku yang berada di depan ruangan kerja Iqbal. Karena sekarang belum waktunya istirahat. Dia gak mau mengganggu Iqbal dengan kedatangannya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat. Iqbal pun keluar, karena sudah waktunya istirahat. Lagipula dia sudah mengetahui kedatangan istrinya.
"Ke kantin saja ya." aja Iqbal.
Saat mereka lagi menyantap makanan bawaan Vina. Dari kejauhan, Iqbal melihat Rasti menuju ke tempatnya.
"Sayang, di belakangmu ada Rasti. Sepertinya dia ingin ke sini." ucap Iqbal.
"Benarkah?" Vina menggelengkan kepalanya.
"Maaf, sudah mengganggu kalian. Kebetulan juga Vina ada disini. Bolehkah aku bergabung?" tanya Rasti.
"Ya gak apa-apa. Silahkan duduk." ujar Vina.
"Begini, sebelumnya aku minta maaf atas kelakuanku selama ini. Aku sadar, apa yang aku lakukan salah. Iqbal adalah masa lalu, lagipula akulah yang melepaskannya dulu. Jadi aku mohon. Maafkanlah aku." pinta Rasti.
"Kenapa tiba-tiba kamu minta maaf?" tanya Vina curiga. Sedangkan Iqbal masih sibuk dengan makanannya tanpa menghiraukan keberadaan Rasti.
"Sebenarnya aku ketahuan masih merayu Iqbal oleh sepupu almarhum suamiku. Dan keluarga Rangga sangat marah. Sehingga aku tidak mendapat harta warisan. Jadi, akhirnya aku sadar. Jika apa yang kulakukan sangat salah. Aku benar-benar minta maaf. Terutama padamu Iqbal." ucap Rasti.
Iqbal yang menyadari namanya disebut hanya melihat Vina.Β
"Baiklah, aku maafkan kamu." ucap Vina. "Sekarang kamu boleh pergi" usir Vina.Β
"Baiklah, aku permisi." ucap Rasti.
"Kenapa harus ada Vina sih. menghancurkan rencana aja." gumam Rasti, saat sudah jauh dari Vina dan Iqbal.
πππππ
Sudah dua bulan sejak kehilangan Rania. Kelakuan Nadin makin menjadi. Setiap hari dia tidak pernah ada di rumah. Nadin selalu pergi ketika Anwar sudah berangkat kerja. Pernah Anwar melarang Nadin. Tetapi Nadin malah melaporkan pada Mamanya. Jika Anwar terlalu mengekangnya. Sehingga Anwar di marahi Mama Nadin.
Mama Nadin mengatakan, jika Nadin pasti stres, jika Anwar terlalu mengekang putrinya. Apalagi Nadin seorang Ibu yang baru kehilangan anaknya. Makanya Nadin ingin bebas, jika di rumah pasti dia tertekan karena memikirkan anaknya. Rania.Β
Hubungan Nadin dengan Winda sudah membaik. Nadin bertanya tentang lelaki yang meniduri dulu. Karena dia tertarik dengan uang yang di dapatkannya. Bahkan dia tidak bertanya, kenapa sampai dia bisa di tidurin sama orang lain di hotel. Padahal dia datang bersama dengan Winda.
__ADS_1
Setelah berpikir panjang. Akhirnya Anwar memutuskan untuk menerima tawaran Rasti tempo dulu. Karena hubungannya dengan Nadin, makin hari makin terasa hambar. Dia ingin kembali merajut kasih bersama dengan Vina. Akhirnya Anwar, memilih untuk menghubungi Rasti.