
"Maaf ya, atas ucapan Ayahku. Mungkin dia menyakiti perasaanmu." ujar Sasa. Sekarang mereka sudah berada di teras. Sasa disuguhi kopi dan beberapa gorengan.
"Aku sudah melupakan dan memaafkannya." ucap Adit. Sambil memakan gorengan.
"Terus, kenapa kamu menghilang? Dan juga putus kuliah?" tanya Sasa penasaran. Karena sepengetahuannya keluarga Adit tergolong mampu. Apalagi Bapaknya dokter.
"Kamu ke sini sama siapa?" tanya Adit mengalihkan pembicaraan.
"Sendiri, aku dapat alamat kosan mu dari teman mu."
Canggung, itulah, yang di rasakan keduanya. Adit, sekarang sudah tidak ada lagi perasaan tertarik ataupun suka terhadap Sasa. Sekarang, dia melihat Sasa hanya sebatas kenalannya. Sedangkan Sasa, malah semakin mengagumi lelaki di depannya. Apalagi saat Adit mengatakan sudah memaafkan Ayahnya.
"Kita tetap temenan kan Dit?" tanya Sasa setelah beberapa saat terdiam.
"Ya, kita tetap berteman. Tapi, mungkin aku tidak seperti dulu. Yang selalu punya waktu. Sekarang, kesibukanku sudah berbeda." ungkap Adit.
Sasa yang mendengarkan perkataan Adit. Merasa, jika Adit pasti ingin menjauhinya.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Hai Kak," sapa Gina. Dia berada di dekat pintu kafe.
"Hai, lama gak ke sini. Kemana aja?" ujar Saka. Gina terakhir datang bersama temannya Intan. Karena malu dengan Saka. Gina memutuskan untuk tidak berjumpa dan ngechat Saka dulu.
"Biasa Kak. Sibuk kuliah."
"Sendiri?" tanya Saka, sambil berjalan masuk kafe. Sekarang di kafe sudah ada outdoor nya. Juga sudah menjalankan renovasi dilantai 2. Serta menambahkan beberapa menu baru.
"Kak, maaf ya. Tentang temanku waktu dulu." ujar Gina. Sekarang Saka sedang duduk menemaninya. Kebetulan penggunjung tidak ramai. Karena diluar sedang hujan deras.
"Hehehe ... Jadi karena itu, kamu tidak pernah kesini lagi?" ujar Saka tertawa renyah. "Ya gak apa-apa. Lagian aku yang suruh kalian pesan apa saja."
Deg ... Sesaat, fokus Gina hanya pada Saka yang tertawa. Gina bahkan tidak mendengar apa yang Saka katakan selanjutnya.
"Hai!" Saka melambai di depan wajah Gina. Namun, karena Gina tidak merespon. Saka, menarik sedikit rambut Gina yang berada disisi samping telinga kanan.
"Ya. Kakak ngomong apa?" tanya Gina, dia baru sadar saat Saka menarik rambutnya.
"Aku penasaran. Dulu, saat pertama kali aku memberimu coklat. Apa kamu baru saja ada masalah? Maaf, bukan kepo. Cuma penasaran." ucap Saka.
__ADS_1
Gina tertawa, mengingat kejadian dulu. Kejadian, saat Saka memberinya coklat. Sedangkan Saka hanya mengernyitkan dahi bingung.
"Sebenarnya Kakak, salah paham. Aku menangis karena nonton drakor. Habis filmnya sedih," Gina, menahan tawa. "Eh, tau-taunya malah Kakak kasih coklat. Makanya, dulu aku sampai bingung. Kenapa aku dikasih coklat," Gina kemudian tertawa lebar. Sedangkan Saka menahan malu, karena udah salah sangka.
"Tapi, beneran loh Kak. Dengan memakan coklat. Moodku yang buruk gara-gara sedih nonton film, jadi lebih baik. Makasih ya." ucap Gina lagi.
"Lah, kok aku bisa sebodoh ini ya."
"Tapi aku suka." ucap Gina tanpa sadar.
" Deg ... Suka sama aku. Atau suka karena aku kasih coklat?"
"Suka sama Kakak lah, karena udah dikasih coklat." ucap Gina masih belum sadar. Dia sedang menikmati kue di depannya.
Saka yang mendengar pengakuan dari Gina hanya terpana, jantungnya seakan berhenti memompa. Tapi ada perasaan aneh yang di rasakan nya. Saka juga merasa, jika sekarang mukanya pasti sedang bersemu.
Saka memang sering mendapatkan pengakuan cinta. Serta mendapatkan beberapa ajakan pacaran dari teman semasa sekolahnya dulu. Namun, tidak satupun, ada yang bisa membuatnya tertarik. Tapi, berbeda dengan Gina. Gadis kecil di depan matanya.
Gina, yang mulai sadar dengan ucapannya. Tiba-tiba gemetaran. Serta semua tubuhnya kaku seketika. Gina, ingin menyanggah ucapannya. Namun, lidahnya kelu. Bahkan tidak bisa dibuka. Wajahnya pun pucat.
"Aaa-anuu ..." ucap Gina setelah beberapa menit berusaha mengeluarkan suara. Tanpa menatap ke arah Saka. Gina, langsung berlari keluar. Tak peduli jika hujan turun dengan lebatnya. Bahkan, dia meninggalkan sepeda motornya di lahan parkir kafe.
"Kenapa bengong? Yok kembali kerja!" ujar karyawan kafe sambil menepuk bahu Saka. Saka pun kembali tersadar, dan membersihkan meja yang sedang di duduki nya.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Katanya, gak mau ngajak. Karena gua anaknya malu-maluin." ucap Intan. Karena disuruh ambil sepeda motor yang ketinggalan.
"Ayolah, plisss. Mau ya," masih dengan memegang tangan Intan. "Kamu mau apa? Gua traktir" jurus terakhir.
"Nggak." masih pada pendiriannya.
"Ya udah." ucap Gina, memasang wajah sedih. Keluar dari kamar Intan.
"Siniin kuncinya." teriak Intan. Gina tersenyum. Karena dia tau Intan pasti tidak tega.
"Makasih Intan." memeluk Intan. "Tapi masih gerimis." lirih Gina.
"Aman. Udah sini." mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Malam harinya, Gina tak bisa tidur. Dia masih mengeruti kebodohannya. Kenapa harus, gak sadar.
"Gimana ya, pendapat Kak Saka tentang aku." batin Gina.
"Aaaaaaa" teriak Gina. Membuat Intan sahabatnya berlari menuju kamarnya.
"Kenapa? Ada apa? Kecoak?" panik Intan. Tapi dia melihat Gina yang duduk santai di kasurnya. Dan menatapnya dengan bingung.
Gina, hanya bisa tersenyum melihat ekspresi paniknya Intan. Dia sangat bersyukur mempunyai sahabat sebaik Intan.
"Sialan lo. Jangan teriak-teriak. Udah malam." menutup pintu kamar.
"Kak, maaf ya. Jika, tadi aku lancang." Gina memberanikan diri mengirim WA untuk Saka. Namun, hanya centang dua abu-abu. Pertanda Saka belum membacanya. Bahkan sampai satu jam kemudian masih sama.
"Hehehe. Oke." balasan dari Saka. Namun, langsung dibuka oleh Gina. Karena memang Gina menunggu balasan dari Saka.
"Cuma gini?" gumam Gina. Setelah membaca balasan Saka.
"Tidur, udah malam. Gak baik bergadang." melihat Gina masih online. Saka mengirim chat lanjutan.
"Baiklah Kak. Kakak juga istirahat." Padahal Gina, berharap bisa chatingan lebih lama, dengan Saka.
Akhirnya, sebagian makhluk hidup terlelap. Mengistirahatkan tubuhnya yang telah berjuang di siang hari.
Berbeda dengan Anwar. Dia uring-uringan di rumah. Karena dia merasa jika Vina semakin cantik saat berada di sisi dr. Iqbal. Dia sedikit kesal. Karena Vina tidak menanggapinya, saat di rumah sakit. Sedangkan Nadin, malam ini memilih untuk menginap di rumah saudara sepupunya. Begitu yang dikatakannya saat meminta izin pada Anwar.
"Halo ada apa?" tanya Anwar pada lawan bicaranya.
"Kami dari bar xxxx. Ingin memberitahukan, yang punya ponsel ini sedang mabuk berat. Namun, setelah mengecek handphone nya. Kami menemukan nomor anda di panggilan terakhir." ujar lawan telponnya. " Bisa, tolong di jemput?" lanjutnya lagi.
"cihh ... Menyusahkan. Baiklah. Tunggu sebentar."
Akhirnya, Anwar pergi ke bar untuk menjemput seseorang. Dia adalah Rasti. Sebenarnya Anwar beberapa bulan yang lalu tidak pernah berhubungan lagi dengan Rasti. Namun, sejak seminggu terakhir. Rasti sering menghubunginya. Hanya sekedar untuk meminta pinjaman uang.
"Bagaimana? Dia kesini?" tanya Rasti pada orang yang menelpon Anwar.
"Dia, akan segera kesini nona."
"Baiklah, ini tips untukmu," memberikan dua lembar uang berwarna merah. "Sekarang kamu pergilah. Biar aku yang akan menguruskan sisanya." ujar Rasti meneguk minumannya. Mata Rasti awas menatap pintu masuk.
__ADS_1
Ya, Rasti telah mencari tau tentang Anwar dan Nadin Istrinya Nadin. Dia juga tau, jika bengkel yang di buka Anwar memiliki banyak pelanggan. Karena Anwar memberikan doorsmeer gratis kepada setiap pelanggannya.