
Satu bulan berlalu. Hubungan Anwar dan Rasti semakin membaik. Perlahan Anwar mencoba melupakan keinginannnya untuk kembali bersama Vina. Ia ingin belajar untuk mencintai Nadin istrinya.
Di tempat lain. Sarah bersama Syahril lagi berkunjung ke rumah Vina. Syahril ingin konsultasi pada Iqbal tentang kehamilan istrinya. Walaupun Iqbal bukan spesialis, tetapi Syahril tetap nekat bertanya pada Iqbal.
"Memangnya normal ya? Yang aku tau ibu hamil itu pasti setiap pagi mual-mual dan muntah. Tapi, masak Sarah gak pernah muntah sih. Terus, dia semua makanan dia makan. Gak ada yang bikin ia eneg. Aneh kan?" jelas Syahril kebingungan. Pasalnya dia sudah membaca sejumlah artikel-artikel tentang Ibu hamil. Yang di pelajari, umumnya semua Ibu hamil mengalami yang namanya morning sicknees. "Anehnya lagi. Dia paling malas mandi, dan paling suka lihat aku selesai mandi." ungkap Syahril.
Iqbal dan Vina hanya tertawa mendengarkan keluhan Syahril. Berbeda dengan Sarah sedari tadi cemberut melihat suaminya. Namun, dia tidak membantah apa yang suaminya katakan. Karena semua itu adalah kenyataannya.
"Itu normal, gak semua Ibu hamil gejalanya sama. Ada yang gak bisa jauh dari suami ada yang gak bisa dekat-dekat sama suami juga loh. Itu juga termasuk hormon. Yang penting adalah peranmu menjaga kewarasan istri. Jangan sekali-kali kamu membuatnya sedih apalagi sampai stres. Itu bisa mengganggu pertumbuhan bayi kalian." jelas Iqbal. "Jangan lupa, rutin USG biar kalian tau bagaimana perkembangan bayinya." lanjut Iqbal.
Sebenarnya, Iqbal ada sedikit rasa iri pada Syahril. Dia iri karena Syahril subur, bisa menghamili Sarah isterinya.
Vina menatap Iqbal dan menggenggam tangan suaminya. Karena dia bisa merasakan kegundahan hati suaminya.
Setelah kepulangan Syahril, Iqbal meminta maaf pada Vina. Namun Vina mengatakan andai Iqbal subur. Kemungkinan diapun gak bisa hamil. Buktinya dia tidak bisa memberikan anak perempuan untuk Anwar di pernikahannya dulu.
"Bukankah kita saling melengkapi? Andai saja Mas subur. Mas pasti gak akan cerai dari Rasti. Terus kita gak akan bisa bersama. Bukankah semua takdir yang indah?" ujar Vina di pelukan suaminya. Mereka baru saja melakukan ritual suami istri.
"Kamu benar. Semua yang terjadi adalah kehendaknya." ujar Iqbal.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Hai, makasih atas coklatnya kemarin. Mood ku tiba-tiba kembali baik."
"Kemarin, aku ke kafe. Tapi tak melihatmu."
"Hai, tadi aku kembali lagi. Aku bawa teman-temanku loh. Tapi kenapa buka kamu yang melayani kami. Kamu sih, sibuk meladeni pelanggan lain. Malah mereka minta foto lagi."
"Kayaknya kamu gak pernah buka dm ya? Baguslah. Jadi aku bisa nge dm kamu sepuasnya."
"Hai, jika suatu haru kami melihat dan membaca isi dm ku. Kamu boleh kok ngechat aku di nomor ini ya 081234******"
"Kayaknya kamu gak ingat aku lagi ya. Padahal tadi kamu sendiri loh yang layani aku. Aku cewek yang pernah kamu KASIH COKLAT. Karena aku habis nangis. Hu huhu."
"Aku sedih loh, kamu lupakan."
__ADS_1
"pelanggan ramai sekali. Pasti kamu capek sekali ya. Jangan lupa istirahat. Terus jaga kesehatan juga. Semangat."
Saka yang lagi iseng membuka dm ig nya. Dia membaca dan membalas satu persatu orang yang ngedm nya. Biasanya dia membuka ig hanya untuk nge repost postingan ig yang menandainya dalam story.
Saat membuka dm dari akun @Gina-gina. Saka tersenyum. Ia baru ingat jika dulu pernah memberi coklat untuk gadis yang menangis di kafenya.
Saka melihat profil instagram Gina. Dia melihat-lihat foto dan juga Vidio Gina. Dia juga follback akun Gina. Kemudian dia mengambil nomor yang di cantumkan oleh Gina.
"Hai, aku Saka. Pelayan di kafe IdanV. Aku sudah membaca dm mu di instagram." Saka mengirim pesan untuk Gina. Kemudian dia rebahan sampai ketiduran.
Gina masih berada di kampusnya. Dia belum melihat handphone karena masih jam kuliah. Saat jam kuliahnya habis. Dia, baru mengecek handphone nya. Dan langsung melompat karena kesenangan. Teman-temannya pada keheranan melihat tingkah laku Gina.
"Kok gua senang gini ya. Ini juga jantung gua. Kayak orang habis lari maraton." batin Gina. Dia sangat bahagia.
"Ada apa? Kok kayak kesurupan gitu?" tanya Intan. Sahabat dari Gina.
"Gak ada apa-apa. Gua balik dulu." ujar Gina, berlari meninggalkan Intan.
"Tungguin," teriak Intan. Tapi Gina tetap berlari tanpa mendengarkan teriakan Intan.
Sore harinya, Gina mengajak Intan untuk nongkrong di kafe IdanV. Ya, nama kafe tersebut telah diubah okeh Iqbal. Iqbal, ingin memakai inisial nama antara dia dan istrinya Vina.
"Ayolah, sebagai permintaan maaf. Nanti gua traktir." ajak Gina menarik tangan Intan.
Intan masih kesal pada Gina. Yang meninggalkan dia sendirian di kampus. Akhirnya Intan harus pulang pakai ojek.
"Gak." tolak Intan.
"Gua traktir lo makan di kantin kampus selama seminggu?"
"Beneran? Ya udah tunggu. Gua siap-siap dulu."
Akhirnya mereka berangkat menuju kafe. Gina memakai dress warna denim selutut. Dengan lengan sampai siku. Juga membiarkan rambutnya gelombangnya tergerai indah. Tak lupa juga dia menambahkan bando, serta tas selempang kecil berwarna putih.
Sedangkan Intan hanya memakai kemeja kotak-kotak hitam, jeans hitam, rambut di kuncir kuda. Serta tidak lupa memakai kacamata. Sebagai ciri khasnya.
__ADS_1
Gina selalu protes dengan penampilan sahabatnya. Padahal Gina sering membelikan dress untuk temannya. Tetapi tak pernah dipakai. Alhasil, Gina sendiri yang harus memakainya.
"Mau pesan apa Mbak? Silahkan dicatat." tanya pelayan.
"Sakanya ada Mas? Tolong bilangin, kami temannya ya." ujar Gina setelah menyerahkan kertas pesanannya.
"Baiklah, mohon ditunggu ya."
"Hai," sapa Saka saat mengantarkan pesanan Gina dan Intan. "Udah lama ya?" lanjut Saka.
"Belum lama kok." sahut Gina.
Kemudian mereka mengobrol. Namun, Saka tidak boleh lama menemani Gina. Karena, dia pun dalam keadaan sedang bekerja.
"Kalian pesan saja sepuasnya. Hari ini aku yang traktir kan." ucap Saka.
Intan yang mendengar makanan gratis. Jiwa-jiwa nya meronta. Sampai dia memesan beberapa makanan untuk di bawa pulang. Walaupun mendapat omelan dari Gina. Intan tak peduli, yang penting rezeki gak boleh di tolak.
Melihat kelakuan temannya Gina. Saka hanya tertawa. Saka terap memberi tahu kasir. Jika pesanan Gina dan Intan jangan meminta bayaran.
"Kamu kok malu-maluin sih. Kan aku mau memberi kesan baik pada Saka." omel Gina saat mereka sudah sampai asrama. Namun Intan malah cuek saja. Ia memilih masuk ke kamarnya.
"Tau, gini lebih baik aku pergi sendiri aja." gumam Gina.
Gina dan Intan tinggal berdua di tempat kosan. Kosan tersebut mempunyai dua kamar, satu kamar mandi dibelakang. Serta ruang tamu menyatu dengan dapur tanpa sekat.
"Jangan lupa, janji mu, untuk satu minggu ke depan." ujar Intan dari dalam kamar, yang pintunya dibiarkan terbuka.
"Heum."
🍁🍁🍁🍁🍁
Disaat, Iqbal dan Vina sedang menikmati, indahnya matahari sore, di teras belakang. Namun, handphone Vina berbunyi tanda panggilan masuk dari Adit.
"Bun, bagaimana kalau Abang berhenti kuliah?" ucap Adit setelah basa-basi sebelumnya.
__ADS_1
"Kenapa?" Vina dan Iqbal terkejut dengan permintaan Iqbal. Iqbal bisa mendengarkan pembicaraan Adit. Karena Vina melakukan speaker.