Bercerailah, Bunda

Bercerailah, Bunda
episode 37


__ADS_3

"Mas, datanglah ke rumah. Ada hal yang ingin aku dan Ibu bicarakan." ucap Sarah melalui sambungan telepon.


"Nanti malam Mas ke sana. Sekalian Mas ajak Mbak Nadin. Karena Mas lihat, belakangan ini hubungan kalian kayak berubah." ucap Anwar.


"Baiklah." sahut Sarah datar. 


"Apa yang Mas mu katakan? Dia bisa datangkan?" tanya Bu Fatma.


"Mas akan datang nanti malam, tapi sama Mbak Nadin bu." sahut Saran tanpa semangat.


"Ya sudah, gak apa-apa. Lagian sudah lama juga Ibu tidak menjenguk Rania." bijak Bu Fatma.


Malam harinya Anwar, Nadin beserta Rania datang ke rumah Bu Fatma. Anwar membawakan buah-buahan. Karena dia sudah lama tidak bertemu Ibunya.


"Ada apa Bu? Seperti nya ada hal yang penting." ucap Anwar buka suara.


"Adikmu Sarah, dia sudah ada yang melamar. Jadi kamu sebagai Masnya harus menunaikan kewajiban mu sebagai walinya." jawab Bu Fatma.


"Oo … Benarkah? Orang mana? Dia kerja apa?" berondong Anwar.


"Dia Syahril. Teman dekatnya Iqbal. Dia bekerja sebagai bodyguard bayaran. Kamu pasti kenal dia." sahut Bu Fatma. Bu Fatma tidak tahu jika Syahril juga bekerja sebagai detektif. Karena Sarah pun tidak memberitahu nya.


"Ooo … kenal orangnya saja. Tapi belum pernah ngobrol berdua. Emang kamu beneran siap nikah? Sudah kamu pastikan, dia bisa memberimu makan? Jangan nanti dia lagi yang numpang makan sama kamu." seru Anwar.


"Dia baik kok Mas, lagian dia juga pekerja keras. Jadi gak mungkin kalo dia menyusahkan aku. Dia orang pertama yang ngajak aku nikah Mas." sahut Sarah.


"Biarin aja dia nikah Mas. Lagian nanti sarah udah gak jadi beban Ibu lagi. Pengeluarannya sudah di tanggung sama suaminya." ucap Nadin.


"Dia anak Ibu, bukan beban. Lagian dia tidak pernah menganggap Ibu beban." kata Bu Fatma. "Selama ini Sarah ngerawat Ibu sendirian. Jadi sudah sepantasnya Ibu memberikan dia uang." lanjut Bu Fatma.


"Ya udah. Mas terserah padamu saja. Jadi, kapan dia kesini untuk ngelamar kamu secara resmi." tanya Anwar.


"Minggu depan." sahut Bu Fatma. Dia tidak mengatakan jika yang datang untuk melamar adalah Vina dan Iqbal.


Bu Fatma dengan di bantu oleh para tetangganya. Memasak untuk acara lamaran Sarah. Padahal Syahril sudah mengatakan. Dia hanya akan datang bersama Keluarga Iqbal dan beberapa orang tetangganya. Tetapi, karena Bu Fatma ingin semua orang tau kalau putri sematawayangnya sudah di lamar. Makanya dia mengundang para tetangga untuk bantu memasak. Sekalian syukuran, begitu katanya.

__ADS_1


Malam harinya, Vina, Iqbal, Saka beserta Adit datang ke rumah Sarah. Adit kebetulan besok dia libur. Jadi, dia memutuskan untuk hadir di acara bahagia Tantenya.


Anwar yang menunggu kedatangan rombongan Syahril terpana melihat ke arah Vina. Dia memakai baju yang serasi dengan Iqbal. Apalagi, penampilan Vina jauh lebih mewah dari pada saat bersamanya.


"Mas, apa kabar?" tanya Vina. Dia agak risih dengan cara Anwar menatap nya.


"Baik, silahkan masuk." jawab Anwar mempersilahkan semua tamu masuk. Kebetulan Nadin tidak bisa hadir, jadi dia bebas menatap Vina sepuasnya.


Setelah melakukan kesepakatan di antara dua belah pihak. Akhirnya mereka memutuskan acara pernikahan mereka di lakukan sebulan setelah lamaran. Itupun atas desakan Syahril. Karena dia takut jika Sarah berubah pikiran nantinya.


Mengingat perbedaan umur mereka yang terlalu jauh.


"Nak, Tinggallah disini sebentar. Ayah rindu kalian." ujar Anwar. Padahal, dia hanya ingin agar Vina, juga lebih lama di sana. Sebab Vina dan anak-anaknya datang satu mobil.


"Kita bertemu besok saja. Malam ini aku mau istirahat. Sebab aku dari kosan langsung menuju kesini." ujar Adit beri alasan. Sebab dia tau dari pandangan Ayahnya selalu menatap Bundanya.


"Besok, Ayah bekerja." ucap Adit.


"Kami besok, berencana ingin ketemu Rania. Jadi usahakan Ayah pulang cepat. Biar kita bisa bicara bersama." ucap Saka.


🍁🍁🍁🍁🍁


Setelah menghitung segalanya. Maka Rasti mendapatkan rumah seharga 10 milyar. Berserta tabungan 100 juta.


"Kok cuma seratus juta? Perasaan uang Mas Rangga banyak loh." protes Rasti.


"Memang banyak, tapi ini semua memang hak kamu. Rumah beserta isinya." sahut orang tua Rangga.


"Tapi, masak aku cuma mendapatkan uang seratus juta sih." protes Rasti.


"Sebenarnya, kamu tidak mendapatkan uang. Bahkan rumah ini saja lebih dari seperempat hartanya Rangga. Tapi kami Ikhlas, karena kami tau Rangga mencintaimu." sahut Ibunya Rangga.


"Tunggu." teriak seorang lelaki dari arah pintu.


"Aku harap kalian belum tanda tangan surat serah terima." harap lelaki tersebut. Dia adalah sepupu dari Rangga.

__ADS_1


"Ini, kalian lihatlah semua ini. Ini hasil dari aku yang selama ini mengikuti Mbak Rasti diam-diam." ujar lelaki tersebut menyerahkan amplop coklat.


"Brengsek kamu Rasti, jadi kamu masih mengharapkan mantan suamimu? Bahkan saat kamu masih dalam masa iddah?" teriak Papanya Rangga. Istrinya hanya mengelus punggung suaminya. Dia kecewa terhadap menantu yang sangat disayanginya.


"Pa, aku di fitnah. Aku gak mungkin begini." sahut Rasti.


"Benarkah? Bagaimana dengan ini?" tanya sepupu Rangga. Dia memperlihatkan video Rasti yang menggoda Iqbal di kamar hotel.


"Kau mau tau bagaimana aku bisa mendapatkan Video ini?" tanya sepupu Rangga. "Kebetulan saat aku mengikuti mu waktu reservasi hotel. Aku bertemu dengan sahabatku. Dia adalah anak dari pemilik hotel tersebut. Jadi kami diam-diam memasangkan Cctv-nya dan perekam suara." jelasnya lagi.


"Maka dari ini aku nyatakan, kamu tidak berhak atas hartanya Rangga. Karena kamu wanita penghianat." seru Papa Rangga.


"Pa, aku minta maaf. Ma tolong maafin aku." mohon Rasti. Sedangkan Ibu mertuanya hanya bisa menangis.


"Kamu keluarlah dari sini. Pa berikanlah dia uang 300 juta. Sebagai bentuk kemanusiaan kita." perintah Mama Rangga.


Akhirnya Rasti kembali pada orangtuanya. Mereka malah mengatakan jika besannya sangat kejam. Dan orang tua Rasti masih mengharapkan Iqbal untuk kembali menjadi menantunya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu Syahril tiba. Setelah melaksanakan akad di mesjid dekat rumah Sarah. Mereka langsung menuju ke rumah Sarah. Karena disana mereka mengadakan acara pesta pernikahan. Acara berlangsung dengan meriah walaupun acaranya sederhana.


"Mas, jangan menatap Vina terlalu lama. Karena dia sudah mempunyai suaminya sendiri." tegur Nadin. Karena sejak kedatangan Vina, suaminya selalu curi-curi pandang terhadap Vina.


"Kamu ngomong apa sih?" ujar Anwar meninggalkan Nadin.


Setelah acara resepsi selesai. Saatnya kedua pengantin menuju hotel. Iqbal menyerahkan kado berupa penginapan di hotel bintang 5 selama 3 hari.


Setelah kepergian pengantin baru. Bu Fatma menangis di kamarnya. Ditemani oleh Adit, Saka juga Vina. Sedangkan Rasti masih berada di kamar Anwar yang ada di rumah tersebut.


"Ibu sangat bahagia. Akhirnya impian Ibu untuk melihat Sarah menikah terwujud." ucap Bu Fatma. "Maafkan Ibu, dulu Ibu membencimu dan juga kamu Adit. Ternyata, sekarang Ibu baru sadar. Kamu yang tidak dididik langsung oleh Ibumu. Tapi kamu bisa menjadi seorang istri dan Ibu untuk anak-anakmu. Bahkan Ibu bisa melihat, jika kamu sangat menyayangi anak-anakmu." papar Bu Fatma.


Kebetulan Nadin hendak mengambil minum, mendengarkan percakapan mertuanya. Dia tau, jika Bu Fatma sedang menyindirnya. Karena Bu Fatma selalu mengatakan. Jika tidak memberi ASI dan merawat anak secara langsung. Berarti dia bukan Ibu yang menyayangi anak-anaknya.


Padahal Nadin mempunyai ASI. Cuma dia beralasan, jika nanti badannya akan berubah.

__ADS_1


__ADS_2