
Rasti terus saja di pantau. Sekarang dia sudah di masukkan ke ruang intensif. Sebab sampai sekarang dia belum juga sadar. Saat di panggil pun, dia tidak merespon apapun.
Iqbal, yang jam piket-nya sudah habis langsung saja menelpon istrinya. Dia menyuruh Vina untuk ke rumah sakit. Vina yang di suruh suaminya, tentu saja tidak menolak. Karena dia berpikir. Mungkin saja suaminya merindukannya.
Sampai di sana. Iqbal menceritakan kejadian yang menimpa Rasti. Awalnya muka Vina langsung saja merah padam akibat cemburu. Namun, setelah mengetahui alasannya, dia hanya ingin Vina menelpon orang tua Rasti. Karena saat pihak rumah sakit menelpon mereka menolak datang. Karena mereka sudah tidak menganggap Rasti anak. Karena Rasti menolak menikah dengan juragan kaya yang mau menjadikannya istri ke tiga.
Vina semula menolak menelpon orang tua Rasti. Namun, dia juga tidak tega setelah melihat keadaan Rasti yang masih belum juga sadar.
"Kami akan ke sana, jika kamu mengizinkan nak Iqbal untuk menikahi putri kami Rasti." ujar Pak Husin, saat Vina telah menjelaskan siapa dirinya.
Vina langsung mendelik ke arah suaminya. Iqbal yang tidak tahu apa yang di ucapkan oleh Pak Husin, langsung mencium pucuk kepala istrinya. Kemudian Vina langsung saja memutuskan panggilan sepihak.
"Jadi, ini maksud kamu menyuruhku untuk menelpon mertua mu Mas? Tega kamu Mas." kata Vina dengan mata berkaca, dan langsung keluar dari ruangan suaminya.
Iqbal, yang tidak tahu-menahu sebab istrinya merajuk hanya menggaruk kan kepalanya.
"Aku salah apa lagi ya." lirih Iqbal, kemudian membereskan tasnya. Bersiap-siap untuk pulang.
Sedangkan Vina, melihat ke arah belakang. Namun, Iqbal tak kunjung mengejarnya. Dan itu berhasil membuatnya merasa sedih dan kecewa. Dan dia langsung menuju taksi, yang kebetulan mengantar orang yang berkunjung ke rumah sakit.
Iqbal, sampai ke tempat parkir. Dia celingukan melihat kesana-kemari. Namun, Vina tidak berada di sana dan juga di tempat-tempat teduh sekitarnya. Saat di telpon pun, nomornya tidak aktif. Akhirnya Iqbal memutuskan untuk pulang.
Sampai di rumah, Iqbal bertanya kepada Asisten yang sedang, menyetrika. Namun, dia mengatakan kalau Vina belum juga kembali. Akhirnya dia kembali keluar, dan menuju ke kafe Saka. Saka juga mengatakan kalau Bundanya tidak ke sana. Dan Saka malah menikmati wajah panik Bapaknya dalam usaha mencari Bundanya.
"Memangnya kalian kenapa sih Bapak?" tanya Saka sambil terkekeh.
"Bapak juga gak tahu. Bunda mu, marah tanpa alasan." keluh Iqbal. Kemudian dia pamit ingin mencari keberadaan Vina lagi.
Iqbal, masih saja kelimpungan mencari kemana Vina pergi. Sampai akhirnya dia menelpon Adit. Memberi tahu jika Bundanya marah tanpa sebab. Adit pun sama seperti Saka. Tertawa, karena mendengar suara Iqbal seperti orang tertekan.
"Tenang lah, Bapak. Nanti jika Bunda ke sini. Aku akan menelpon mu." masih dalam keadaan terkekeh.
__ADS_1
"Baiklah, terimakasih."
Iqbal, memutuskan pulang. Sebelum pulang dia mampir ke taman dekat komplek. Barang kali Vina berada di sana. Namun, nihil, Vina tidak berada di sana. Padahal Vina sering sekali minta izin padanya untuk menikmati sore hari di taman komplek.
Sampai di rumah, Iqbal tinggal sendiri. Karena ART sudah pada pulang semua. Dia langsung menuju ke dapur. Makanan kosong. Jadi, dia berinisiatif untuk memasak. Barang kali, nanti istrinya pulang dengan sendirinya. Sampai pada akhirnya, sebuah foto masuk ke akun WA-nya. Di sana dia melihat kalau Sarah sedang mengelus punggung Vina yang menunduk. Bisa di pastikan kalau Vina sedang menangis.
Iqbal, langsung menghubungi Syahril.
"Kamu kenapa sih? Dulu aja nungguin Vina. Giliran udah dapat, malah mau di tinggal nikah lagi." omel Syahril dengan suara seperti di tahan.
"Maksudnya?" tanya Iqbal heran. "Tolong, jagain dia. Jangan biarkan pergi, sebelum aku jemput." mematikan panggilan dan bergegas mengambil kunci mobilnya.
Tak berapa lama, Iqbal sampai ke rumah Sarah. Dia langsung di sambut oleh Syahril yang melotot dengan gaya emak-emak memarahi anaknya. Yaitu, tangan di pinggang.
"Bisa kamu jelasin? Kenapa kamu mau balikan lagi sama Rasti?" tanya Syahril begitu Iqbal sampai di hadapannya.
"Sebenarnya ada apa sih? Aku aja heran. Lagipula siapa yang mau menikah dengan Rasti?" cerocos Iqbal.
"Ya ampun ... Dia salah paham. Aku bahkan tidak tahu kalau Pak Husin melamar ku. Dan aku juga tidak tahu kalau sebenarnya Vina marah." kekeh Iqbal menggaruk tekuk nya.
Kemudian Iqbal masuk ke dalam. Dia menuju ke kamar tamu yang di huni oleh Vina. Saat pintu terbuka. Vina hanya melirik sinis. Dia sudah menduga kalau Syahril pasti akan memberitahu Iqbal. Salahnya sendiri. Kenapa harus kabur ke tempat Sarah.
"Sayang. Maaf." ujar Iqbal. Di duduk di tepi ranjang, sedangkan Vina lagi berbaring.
"Maaf ya." ulang Iqbal, saat melihat Vina tidak merespon apapun.
"Kenapa kamu minta maaf?" tanya Vina yang enggan melihat ke arah suaminya.
"Karena, kamu marah. Sebab gara-gara Mas, kamu jadi kabur ke sini." memijit kaki Vina yang masih berada di bawah selimut.
"Mas beneran tidak tahu. Kalau Pak Husin memintaku untuk menikahi Rasti." jelas Iqbal.
__ADS_1
"Kalau Mas gak tahu. Kenapa harus aku yang menelpon mantan mertua mu? Kan Mas sendiri juga bisa. Terus, nyuruh-nyuruh aku untuk melihat kondisi Rasti lagi. Dan dokter di sana kan banyak. Kenapa harus Mas yang memberi tindakan. Mas sengaja kan, biar nanti Rasti berharap lagi padamu. Mas masih menyayanginya kan? Makanya Mas yang memberi dia tindakan." kata Vina, khas perempuan. Di tanya dua kata. Jawabnya seperti kereta.
"Iya Mas salah, Mas minta maaf." ujar Iqbal lagi. Karena percuma jika berdebat. Yang menang tetaplah Vina.
"Terus, tadi kenapa Mas, tidak mengejar ku?" tanya Vina lagi.
"Ya, karena Mas, gak tahu kamu marah sayang. Jadi, Mas siap-siap untuk kita pulang bersama." ucap Iqbal di lempari bantal oleh Vina.
"Mas, tahu aku disini dari mana?"
"Dari Syahril." jujur Iqbal.
"Mas ... Jadi, kamu tidak mencari ku? Jika Mas Syahril tidak memberitahu. Aku bermalam disini."
"Mas cari kok. Mas cari sampai ke kafe terus menelpon Adit. Juga mencari ke taman." bela Iqbal.
"Beneran?" rengek Vina mulai luluh.
"Gak percaya, kita tanya anak-anak." mengeluarkan ponsel dari kantongnya.
"Baiklah," sahut Vina senang. Dia merasa tersanjung. Karena Iqbal berusaha mencarinya.
"Halo, nak ..." sapa Iqbal begitu melihat wajah Adit dan Saka. Iqbal melakukan video call untuk menghubungi Adit juga Saka.
"Ya Bapak." balas Saka. Adit hanya melambaikan tangannya. Mereka melihat jika Bundanya sedang bersandar di bahu Iqbal.
"Tadi, Bapak ke kafe kan, Mencari Bunda. Dan juga menghubungi Adit menanyakan tentang Bunda." tanya Iqbal tersenyum.
"Bapak gak ke kafe." ucap Saka spontan.
"Bapak, memang menelpon ke sini. Tapi tidak bertanya tentang Bunda." ucap Adit ikut-ikutan. Dan Vina langsung menjauhkan tubuhnya dari dekapan Iqbal.
__ADS_1
"Kalian." teriak Iqbal.