Bercerailah, Bunda

Bercerailah, Bunda
Anwar menyesal


__ADS_3

Akhirnya acara pengajian di rumah Bu Fatma usai. Sarah mengadakan pengajian dan doa bersama selama tujuh hari lamanya. Karena, Sarah masih berharap jika Anwar akan datang selama dalam masa tujuh hari tersebut.


Tidak ada yang tahu, jika Anwar berada di rumahnya. Sekarang anak sedang sudah tidak mempunyai lagi uang. Apalagi bengkelnya benar-benar tutup. Karena kasus vidio nya digunakan oleh pesaing-pesaingnya untuk mematikan bisnis Anwar. Anwar berencana akan menjual bengkel tersebut. Dia menghubungi beberapa teman-temannya. Namun banyak yang menolak. Tetapi dia tidak menyerah. Bahkan dia menyuruh teman-temannya untuk membantu menjual. Dengan janji akan membagikan sedikit komisi. Sampai akhirnya ada seseorang yang tertarik dengan bengkel tersebut. Dan membelinya dengan harga yang di tawarkan Anwar tanta nego.


Anwar langsung mengurus semua surat dan syarat yang di perlukan. Sampai akhirnya bengkelnya sah untuk di jual. Setelah menerima sejumlah uang tunai. Dan sebagiannya lagi di transfer. Anwar memutuskan untuk bertemu Bu Fatma. Karena tiba-tiba dia merasa rindu. Apalagi hampir setiap malam dia melihat Ibunya menangis memanggil namanya.


Sepi ... Itulah yang di lihat Anwar saat pertama sampai ke rumah Ibunya.


Setelah mengucap salam dan mengetuk pintu. Akhirnya Sarah keluar dengan mata sembab.


"Mas ... Sarah langsung memeluk Anwar." Sedangkan Anwar merasakan sesak. Entah kenapa. Tiba-tiba ketakutan merasuki jiwanya.


"Mana Ibu?" membalas pelukan Sarah.


"Kamu jahat Mas, kamu tega membiarkan Ibu menanggung rindu. Kamu tega membiarkan Ibu pergi dengan kekhawatiran terhadap mu. Kamu tega membiarkan Ibu pergi dengan membawa rasa bersalah. Kamu jahat Mas. Aku benci padamu Mas." ucapan yang di lontarkan Sarah. Namun, dia enggan melepaskan pelukannya dari tubuh Mas-nya.


Air mata Anwar tiba-tiba keluar. Dia paham dengan ucapan Sarah. Dia tahu jika yang di maksud Sarah kalau Ibunya telah tiada. Namun, dia masih berharap jika itu adalah kebohongan. Dia berharap jika itu hanya ucapan untuk memberinya rasa penyesalan.


"Maksud mu?" melepaskan pelukannya.


"Ibu telah pergi. Ibu udah meninggal." lirih Sarah.


Anwar langsung jatuh terduduk di lantai. Dia tidak bisa menerima ucapan Sarah yang mengatakan kalau Ibunya telah meninggal.

__ADS_1


"Kenapa ... Kenapa tidak ada yang memberi tahukan padaku?" lirih Anwar. Namun Sarah masih saja membisu.


Anwar bangkit menggoncang kan bahu Sarah. "Kamu kenapa tidak memberitahu padaku. Hah ..."


"Nomor Mas, gak aktif. Bahkan Adit dan Saka sudah datang ke kosan Mas. Tapi mereka bilang Mas gak ada. Jadi, siapa yang salah?" tekan Sarah. Sarah merasa marah juga iba terhadap saudaranya. Apalagi jika mengingat perkataan Ibunya untuk terakhir kalinya.


"Jangan pernah membenci Mas mu Nak, Karena kalian adalah saudara. Lagi pula, dia seperti itu gara-gara Ibu. Jika Ibu telah tiada. Sampaikan permintaan maaf dari Ibu. Ibu selalu saja membandingkan kamu dengan dia." ucapan Bu Fatma yang selalu di ingat Sarah.


Akhirnya Sarah mengantarkan Anwar menuju kuburan Ibunya. Kebetulan Syahril sudah berangkat kerja. Dan Shadiqa di titipkan pada ART yang di rumah.


"Terimakasih. Kamu pulang lah, Mas ingin di sini."


Sarah pun, kembali pulang. Dia ingin memberi waktu untuk Anwar di pusara Ibunya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Flash back ...


Bu Fatma masih saja merasa pusing. Dia selalu kepikiran dengan perbuatan yang di lakukan oleh Anwar. Namun, dia juga khawatir. Sebab saat di telpon nomor anaknya tidak pernah aktif. Sarah pun sudah mencobanya berulang kali. Namun, sang pemilik nomor seperti enggan menghidupkan nomornya kembali.


Selama sakit, dia sangat di manjakan oleh Sarah dan Syahril. Bahkan Syahril selalu memastikan makanan yang di makan oleh Ibu mertuanya. Setiap pagi, sebelum berangkat kerja. Syahril selalu membawa mertuanya keluar rumah untuk berjemur. Namun, para tetangga selalu saja menanyakan tentang kasus Anwar. Dan itu membuat Bu Fatma malu. Sehingga dia enggan untuk keluar rumah.


Gara-gara selalu kepikiran. Akhirnya tubuh Bu Fatma semakin lemah. Namun, dia masih bisa untuk sekedar pergi ke toilet dengan sendiri. Bu Fatma juga bahagia. Karena memiliki anak perempuan yang begitu menyayanginya. Karena semua perkataanya tetang anak perempuan di benarkan dengan bukti dari sikap dan sifat Sarah dalam menjaganya.

__ADS_1


Hingga suatu hari, dia mendengarkan pembicaraan Syahril, dan Sarah. Bahwa Syahril sudah mengetahui di mana Anwar tinggal. Dan itu sebuah berita yang sangat membahagiakan.


Keesokan harinya, Sarah dan Syahril pamit untuk pergi. Mereka beralasan akan pergi belanja. Namun Bu Fatma tau kalau mereka pasti ingin menjemput anaknya yang lain. Yaitu Anwar.


Setelah kepergian Sarah dan Syahril. Bu Fatma memberikan sejumlah uang untuk ART nya pergi belanja. Namun, ART menolak. Dengan alasan harus menjaga Bu Fatma sampai Sarah kembali. Dan Bu Fatma tidak bisa menyalahkan ART tersebut.


Setelah makan siang. Kebiasaan Bu Fatma adalah tidur. Dia mengatakan pada ART nya. Untuk menyiapkan beberapa pudding dan makanan lainnya. Karena Anwar akan berkunjung. Dan dia meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja. Lagi pula dia hendak tidur siang. Dan ART tersebut pun setuju.


Setelah memastikan Bu Fatma tidur nyenyak, baru ART keluar dari kamar tersebut. Dan mulai menyiapkan beberapa bahan untuk membuat pesanan Bu Fatma.


Saat Bu Fatma sudah tidur. Terdengar panggilan dari ponselnya. Dan itu tidak cukup satu kali. Sehingga membuat Bu Fatma terbangun. Saat melihat, ternyata itu nomor baru. Yang tidak tersimpan di kontak handphone-nya.


"Bu ... Jangan lagi menyuruhku kembali. Bukannya aku anak laki-laki Ibu. Dan Ibu selalu berkata kalo aku beban. Berbeda dengan Sarah. Dia anak perempuan. Anak yang selalu Ibu banggakan. Anak yang selalu Ibu ucapkan kalo anak perempuan lah, yang berguna untuk masa tua orang tuannya."


"Anwar ... Nak. Ibu rindu. Pulanglah." lirih Bu Fatma, seakan dia tidak mendengar cercaan Anwar sebelumnya.


"Aku tidak akan pulang. Karena aku membenci Ibu dan anak perempuan Ibu. Sebab gara-gara ucapan Ibu aku jadi seperti ini. Ini seperti sebuah doa untuk ku dari Ibu. Karena Ibu selalu mengatakan jika kami anak laki-laki beban." masih mengatakan dengan penuh emosi.


" Maafkan Ibu Nak, Ibu ngaku salah. Ibu selalu membandingkan kalian. Tapi sebenarnya jauh dari lubuk hari Ibu. Ibu juga sangat sayang dan cinta terhadapmu."


"Akan aku maaf kan. Jika Ibu bisa mengembalikan Vina padaku. Karena Ibu lah, yang membuat rumah tangga ku hancur. Karena hasutan Ibu lah, yang membuat aku kehilangan anak dan juga istri yang baik seperti Vina. Maka Kembalikan dulu Vina dan anak-anak." Anwar mematikan telpon sepihak.


Setelah menerima panggilan dari Anwar. Tiba-tiba penglihatan Bu Fatma jadi kabur. Dan dia merasakan pusing yang amat luar biasa. Ucapan Anwar seolah sedang memutar di memori otaknya. Dan Bu Fatma setuju dengan perkataan Anwar yang menyalahkannya, atas apa yang terjadi terhadap anaknya itu. Tubuh Bu Fatma gemetar dan dia terjatuh akibat tekanan darahnya yang tinggi yang di deritanya.

__ADS_1


__ADS_2