Bercerailah, Bunda

Bercerailah, Bunda
episode 68


__ADS_3

Adit dan Saka langsung tertawa terbahak-bahak. Mereka sangat menikmati wajah tertekannya Iqbal. Ini baru pertama kalinya mereka melihat. Jika orang tuanya bertengkar.


"Mas, jangan marahin anak-anak ku. Apalagi menyuruh mereka untuk berbohong." ucap Vina menarikan selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya.


"Mereka juga anak-anak ku sayang." ucap Iqbal belum juga mematikan panggilan.


"Bunda, sudahlah. Bapak beneran menelpon Abang untuk menanyakan Bunda. Dia seperti tertekan saat mengetahui Bunda hilang. Jangan marah-marah lagi ya." ujar Adit dari seberang.


"Iya, Bun. Bapak juga ke sini kok. Dia datang dengan wajah kusut mencari Bunda. Nanti adik kirimkan vidio cctv-nya, ya." kata Vina.


Di bawah selimut Vina tersenyum. Dia, tahu pasti suaminya akan mencarinya. Namun, dia agak kesal sama anaknya yang berbohong.


"Sayang, kamu dengar sendiri kan?" ujar Iqbal. Vina membuka selimut.


"Ayo pulang." ajak Vina.


Vina dan Iqbal pamit untuk pulang. Saat di suruh menginap, mereka menolak karena tidak ingin merepotkan. Setelah mendengar penjelasan dari ke duanya Sarah dan Syahril pun, tertawa.


"Jika nanti Iqbal macam-macam, datang lah, ke sini. Aku orang pertama yang akan memberinya pelajaran." ujar Syahril.


Setelah dari rumah Syahril, Iqbal langsung membawa istrinya pulang. Sebelumnya mereka sudah membeli makanan di warung pinggir jalan. Karena, Vina menolak untuk makan di luar. Dia ingin menikmati makanan tersebut di rumah.


Sampai di rumah, Vina langsung menuju dapur. Iqbal, di suruh Vina untuk menunggu di meja makan.


"Mas ..." panggil Vina dari arah dapur.


"Iya sayang. Kenapa?" tetapi enggan beranjak dari kursi yang di duduki nya.


"Kok dapur berantakan gini sih, Mas." ujar Vina menghampiri Iqbal.


"Maaf, Mas lupa. Tadi niatnya mau masakin kamu. Terus dapat chat dari Syahril. Jadi, Mas lupa." kekeh Iqbal. "Mas, bantuin beresin ya." tawar Iqbal, begitu melihat muka Vina yang cemberut.


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Di tempat lain, Gina dengan Intan sedang menghadiri pesta ulang tahun Kakak tingkatnya di kampus. Sebenarnya Intan sangat benci tempat keramaian. Namun, karena paksaan Gina di pun, ikut. Karena dia tidak mau terjadi apa-apa sama sahabatnya itu.


Gina, memang sudah memberitahu pada Saka. Namun, Saka sedang sibuk. Tidak ada waktu hanya untuk sekedar melihat ponselnya.


Awalnya Gina memang tidak berencana untuk ikut. Namun, tadi di kampus dia tidak sengaja mendengar, kalau Kakak tingkat yang berulang tahun hari ini, mengaku menyukai Saka. Apalagi sekarang Saka sudah jadi selebgram dengan jutaan follower. Sudah pasti banyak yang mengenalnya.


Saka ataupun Gina memang jarang meng-upload foto bersama. Apalagi, Gina memang di larang oleh keluarganya untuk tidak terlalu larut dalam sosial media. Dia hanya sesekali meng-update di story.


Karena kebetulan ruangan Gina di undang, makanya Gina ikut hadir. Dia ingin melihat apa yang di banggakan oleh gadis tersebut, hingga berani mengatakan menyukai pacarnya. Padahal Saka selalu saja mengatakan jika dia sudah mempunyai pacar saat live di media sosialnya.


"Ririn, kamu gak undang gebetan mu?" tanya salah seorang teman Ririn.


"Eh, a-anu. Aku undang kok. Tapi kayaknya dia sibuk." sahut Ririn. Sedangkan Sasa curi-curi dengar pembicaraan mereka, dengan berada di sekitaran mereka.


"Tapi, dengar-dengar bukannya dia punya pacar?" tanya temannya lagi.


"Memang iya." melirik ke arah Gina yang kebetulan juga melihatnya. "Tapi, aku lebih dari segala-galanya dari pacarnya." ucap Ririn menatap Sasa remeh.


"Sepertinya kamu kenal ya sama pacarnya?" di tanya begitu Ririn hanya tersenyum sinis.


Ririn, merupakan keponakan dari pemilik kampus mereka belajar. Namun, jika di ukur dari kekayaan, maka keluarga Ririn masih jauh tertinggal dari keluarga Gina.


"Sejak kapan sih kamu menyukai Saka."


"Sejak, pertama kali aku melihatnya. Sejak itulah aku mulai menyukainya. Namun, sayang dia sudah ada yang punya. Tapi, aku mendengar sebuah kata-kata kalau cinta harus di perjuangkan." kekeh Ririn di sambut tawa oleh temannya.


Gina merasa dongkol terhadap Ririn, apalagi saat Ririn mengatakan dirinya sendiri lebih dari segala-galanya. Karena jengah terhadap obrolan Ririn, akhirnya Gina dan Intan mencari bangku kosong. Kebetulan Ririn merayakan acara tersebut di area taman rumahnya sendiri.


Saat melihat Gina sendiri. Ririn langsung mendekati Gina. Karena jika ada Intan, Ririn merasa terintimidasi dengan tatapan tajam dari Intan.


"Kamu, anak ruang sebelah kan?" sapa Ririn sok ramah. Kebetulan ruangan mereka bersebelahan.


"Iya, Kak." ucap Gina.

__ADS_1


"Aku lihat, tadi kamu bersama teman mu. Sekarang dia kemana?" mengambil posisi tepat di samping Gina.


"Dia ke toilet Kak."


"Ooo ya sudah, ini minum."menyodorkan segelas minuman.


" Ini minuman apa ya Kak? Soalnya kalau sejenis wine atau minuman lainnya yang bikin mabuk aku gak bisa minum." tegas Gina.


"Ya nggak lah, ini cuma minuman bersoda. Ini sebagai tanda perkenalan dari aku. Lagian masak kamu menolak pemberian tuan rumah sih. Itu namanya kurang sopan." ujar Ririn melotot ke arah kawan-kawannya yang menahan tawa.


Karena tidak enak, akhirnya Gina menerima pemberian Ririn. Semula dia hanya memegang tanpa ada niat untuk minum. Namun, Ririn terus saja memaksa dan meyakinkan Gina. Karena, tidak enak pada Ririn. Akhirnya Gina meminumnya sedikit.


"Kok aneh ya, rasanya." gumam Gina.


"Masak sih?" melambai ke arah pelayan yang kebetulan lewat. Ririn mengambil jenis minuman yang sama dengan Gina.


"Gak kok. Ini rasanya enak. Kamu coba lagi deh." paksa Ririn.


Akhirnya Gina meminumnya dengan satu kali tegukan hingga habis. Dan Ririn tersenyum puas.


"Enakkan? Mau nambah?" tanya Ririn.


"Gak usah Kak." tolak Gina sambil berdiri. "Kok aku pusing gini ya." keluh Gina lagi.


Ririn yang melihat Intan dari kejauhan pun menjauh dari Gina. Karena dia tidak mau berurusan dengan cewek super dingin tersebut.


"Intan sahabat ku." teriak Gina begitu melihat Intan menuju ke arahnya.


"Kamu kenapa?" tanya Intan memegang pundak Gina. "Mabuk?" tanya Intan lagi. "Siapa yang memberi mu minuman ini?"


"Nggak, kamu kok lama sih ke toiletnya." racau Gina. "Tapi minumannya gak enak. Ta-tapi aku udah minum. Terus, kok pusing ya." sumringah, melihat ke arah orang-orang yang sedang bergoyang.


"Ayo kita ke sana." menarik Intan menuju area joget-joget dengan dentuman musik yang keras.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, kalau teman-teman Ririn merekam kelakuan Gina, yang menari dengan gaya hebohnya.


Karena merasa jengkel terhadap Gina, Intan menarik paksa lengan Gina untuk pulang. Dia tidak ingin kalau besoknya Gina akan di ejek oleh orang-orang kampus. Sebab Intan mulai sadar. Banyak yang merekam aksi bodoh dari Gina.


__ADS_2