
"Pasti kamu kan yang membunuh anak ku. Kamu tidak becus menanganinya. Kamu pasti membencinya kan. Karena dulu dia meminta cerai sama kamu." tuduh Pak Husin pada Iqbal.
"Sabar Pak sabar. Ini semua adalah takdir. Anak Bapak, di bawa ke sini saja sudah dalam keadaan lemah dan tak sadarkan diri." ucap salah seorang perawat laki-laki yang membantu mengurus jenazah Rasti.
"Iya Pak, lagi pula, yang menanggani pasien bukan dr. Iqbal. Tetapi dokter lain." bela perawat satunya lagi.
"Oo jadi, kamu tidak mau menanggani Rasti anak ku. Dia itu mantan istri mu loh. Dokter macam apa kamu." bentak Pak Husin.
"Bukan begitu Pak. Sekarang bukan jadwal saya. Lagipula Rasti membutuhkan dokter spesialis bukan saya." terang Iqbal.
"Bapak keluar dulu ya. Biar kami mengurus jenazah dulu, agar segera bisa di bawa pulang." paksa salah seorang pasien yang jengah terhadap Pak Husin.
Di luar, Pak Husin melihat Vina yang sedang duduk di kursi tunggu. Dia memang di larang masuk oleh Iqbal. Karena di ICU dilarang masuk.
Ibu Rasti hanya menangis tersedu di samping Pak Husin. Dia menyesal karena tidak langsung ke rumah sakit saat petugas rumah sakit memberitahu mereka. Padahal dia ingin sekali melihat dan merawat anaknya. Namun, Pak Husin, bersikeras menentang keinginan istrinya.
"Kamu pasti bahagia kan, anak ku telah tiada. Ini semua pasti doa mu kan." tuduh Pak Husin menatap tajam Vina.
"Pak udah Pak. Istighfar." bujuk istrinya mengelus dada.
"Apaan sih Bu. Putri kita telah tiada. Ini semua gara-gara dia. Kita gak ada saat anak kita meninggal Bu." adu Pak Husin. Sebenarnya dia kecewa dengan dirinya sendiri. Sebab gara-gara keegoisan nya, dia membiarkan putrinya merenggang nyawa tanpa ada siapapun di sampingnya.
"Andai, dia setuju Rasti menikahi Iqbal dulunya. Pasti putri kita tidak mengalami hal sepahit ini." racau Pak Husin.
"Yang salah kita Pak. Bukan mereka. Kita yang salah sebagai orang tuanya. Kita yang tidak benar mendidik anak kita. Jangan limpahkan kesalahan kita pada orang lain. Nak, Vina benar dengan tidak mengizinkan Rasti menikahi suaminya. Kita yang terlalu pemaksa dan egois sebagai orang tua. Semuanya salah kita Pak." terang Ibu Rasti pada suaminya.
Setelah pengurusan jenazah selesai, akhirnya jenazah Rasti di antar oleh ambulan menuju rumah orang tuanya. Iqbal dan Vina juga mengikuti dari belakang. Pak Husin dan istrinya memilih untuk menemani anaknya di ambulan.
__ADS_1
"Maaf ya, kamu pasti tertekan dengan ucapan Pak Husin." ujar Iqbal, menoleh sesaat pada Vina.
"Gak apa Mas, mungkin karena Pak Husin baru kehilangan anaknya. Makanya dia bersikap seperti itu. Lagipula, aku pernah dengar. Jika anak perempuan akan lebih dekat dengan Ayahnya, karena dia lelaki pertama yang ada di hidupnya." jelas Vina.
Kemudian wajah Vina sendu. "Apalah arti kita ya Mas. Tidak mengenali siapa orang tua kita. Apa masih hidup atau enggak. Apa mereka ingat tentang kita atau nggak. Beruntungnya anak-anak yang di rawat oleh orang tuanya sendiri." keluh Vina dengan mata yang mulai berembun.
"Sudah lah sayang. Bukan kah kita sudah bahagia? Jadi, jangan ingat-ingat lagi apa yang membuatmu sedih." mengambil tangan Vina dan mengecupnya.
"Aku hanya cemburu Mas. Iri, dengan orang-orang yang bisa bersama dengan orang tuanya." isak Vina.
Dan Iqbal, hanya membiarkan istrinya menangis dan mengeluarkan semua uneg-uneg yang ada di pikirannya.
Saat sampai ke rumah orang tua Rasti. Iqbal tentu saja di kenal oleh orang-orang di sana. Namun, Iqbal tetap menggenggam tangan Vina. Karena Iqbal sadar, kalau kerabat Rasti memandang Vina dengan tatapan tajam dan sinis.
Setelah proses pemakaman selesai, Iqbal pamit pada semua keluarga besar Rasti. Dia ikut membawa Vina serta.
"Sekarang lagi sibuk banget Bude." sahut Iqbal tersenyum.
"Bukan karena di larang oleh istri mu?" tanyanya lagi melirik genggaman tangan Iqbal dan Vina.
"Asal kamu tahu ya, dulu nak Iqbal ini sangat dekat dengan kami. Apalagi jika ada salah satu dari kami yang kesusahan. Dia tidak segan-segan membantu kami. Jadi, kami harap setelah dia menikah dengan mu. Kamu jangan larang-larang dia buat terus berbuat baik pada kami." ujarnya lagi menatap Vina tidak senang.
"Iya Bu." sahut Vina singkat. Karena dia tidak mungkin menjawab peryataan Bude Rasti tersebut.
"Tapi, kenapa semenjak kalian menikah, Iqbal tak pernah lagi ke sini. Itu semua pasti kamu larang kan? Kamu cemburu kan, jika suami mu masih dekat dengan keluarga mantan istrinya." tuduh Bude dari Rasti lagi.
"Bagaimana aku bisa ke sini lagi? Semenjak kedatangan aku dan istri ku Vina. Kalian terus saja menatapnya sinis. Memangnya salah aku menikah lagi? Ingat ya, kita kenal cuma gara-gara aku pernah menikah dengan Rasti. Lagi pula, selama ini aku menghormati kalian, hanya sebatas aku mengenal kalian. Kalian bukan keluarga ku. Jadi, berhenti membuat penilaian tentang dia." bela Iqbal. Kemudian meninggalkan kediaman almarhumah Rasti.
__ADS_1
"Ini pasti ajaran dari istrinya. Kelihatan aja baik. Hatinya busuk." suara yang masih sempat Vina dengar sebelum keluar dari rumah Rasti.
🍁🍁🍁🍁🍁
Anwar mendengar kabar dari Sarah kalau Rasti meninggal. Sarah mengetahuinya gara-gara tadi dia sempat nge-WA Vina untuk mengajak belanja. Namun, Vina mengatakan kalau dia sedang melayat ke rumah Rasti.
Tetapi Anwar enggan pergi untuk melayat ke rumah Rasti. Selain karena malu, dia juga enggan ke sana. Karena Rasti bukan siapa-siapa dirinya. Sekarang Anwar sedang berada di sebuah club malam. Dia ingin menghilangkan stress bersama temannya Boy.
Boy memang sering ke sana. Namun, dia tidak pernah minum-minum. Dia hanya ke sana untuk mencuci mata dengan melihat penampilan cewek-cewek seksi.
"Minum lah, Boy. Aku traktir." tawar Anwar.
"Kamu minum lah, aku tidak biasa." ungkap Boy.
"Payah kamu Boy. Minuman ini enak. Dengan ini kita bisa melupakan segala masalah yang menghampiri." racau Anwar setengah mabuk.
"Kamu tahu. Sekarang aku kesepian. Aku kehilangan segalanya. Harta, tahta, orang tua, istri dan anak-anak." meneguk lagi minumannya. "Kamu kan, istrinya dua. Tapi kamu kok bisa mengendalikan ke duanya." namun Boy tidak menanggapinya.
"Aku kesepian Boy. Kesepian. Uang tidak ada artinya." meracau tidak jelas.
"Kamu mabuk Anwar. Pulang yuk."
"Kamu pulang saja. Aku mau ke sana dulu." menunjukkan tempat berjoget-joget.
Awalnya Boy tetap memantau Anwar. Namun, istrinya menelpon mengabarkan kalau anaknya demam. Jadi, Boy pun meninggalkan Anwar yang sedang berjoget-joget senang.
Di luar, ada beberapa orang polisi sedang memantau club tersebut. Sebab beredar berita kalau di sana ada yang melakukan transaksi jual beli narkoba.
__ADS_1