Bercerailah, Bunda

Bercerailah, Bunda
kenangan masa lalu


__ADS_3

"Makasih ya sayang. Karena berkat perjuanganmu. Aku bergelar seorang Ayah. Aku janji akan ikut membantumu untuk menjaga anak kita." ujar Anwar pada Vina, saat mereka baru saja pulang dari rumah sakit usai melahirkan Adit.


"Sama-sama Mas, kamu makasih terus." sahut Vina. Karena sejak dia melahirkan Adit. Ucapan terimakasih tak pernah habisnya dari Anwar.


Anwar sangat bahagia, walaupun Bu Fatma tidak menyukai Vina. Tetapi dia bisa menjadi seorang suami yang selalu menjaga perasaan istrinya. Bu Fatma, memang tidak pernah menginap di rumah Anwar, untuk merawat Vina yang baru saja melahirkan. Tetapi Anwar, menyewa jasa tetangga untuk menemani Vina saat dia bekerja. Bahkan Anwar tak segan-segan membantu Vina untuk sekedar mengantikan popok Adit.


Setelah 3 bulan usia Adit. Vina akhirnya hamil lagi. Padahal dia sudah rutin suntik KB. Entah kenapa dia bisa hamil lagi. Bu Fatma yang mengetahui Vina hamil lagi marah besar. Dia menekan Vina dan Anwar untuk segera mengugurkan kandungan tersebut. Vina sampai stress mendapatkan tekanan dari mertuanya. Untungnya Anwar selalu setia menemaninya. Bahkan Anwar melarang Ibunya untuk ke rumahnya. Agar Vina tidak tertekan.


Lagi, saat mengetahui Vina mengandung bayi jenis kelamin laki-laki. Kemarahan dan kebencian Bu Fatma semakin memuncak. Dia terang-terangan mengatakan pada Anwar. Jika anak laki-laki hanya menyusahkan. Berbeda dengan anak perempuan karena bisa menjaga orangtuanya sampai ajal menjemput.


Bu Fatma seolah-olah lupa. Jika Anwar anaknya juga berjenis kelamin laki-laki. Tapi dengan seiring waktu. Bu Fatma malah sangat menyayangi Saka. Apalagi saat Saka beranjak dewasa. Dia menjadikan Saka sebagai cucu kesayangannya.


Namun, Saat usia Saka 10 tahun. Bu Fatma malah memprovokasi Anwar untuk Vina segera hamil anak perempuan. Dia selalu berdalih, anak perempuan sebagai tabungan masa depan. Mungkin karena setiap hari dan saat Anwar mendengarkan perkataan Ibunya. Akhirnya, dia terpengaruh juga. Apalagi setelah mengetahui jika Vina gugur dan Bu Fatma mengatakan bahwa itu merupakan kesengajaan dari Vina. Supaya tidak melahirkan anak lagi untuk Anwar.


Dari itulah, dia sudah mulai main tangan sama Vina. Walaupun begitu. Vina masih mengharapkan agar Anwar bisa berubah, seperti dahulu. Sampai saat Nadin muncul, saat itulah cintanya hilang seketika.


🍁🍁🍁🍁🍁


Kembali ke rumah sakit ....


"Mas, sendiri? Mana mbak Nadin?" tanya Sarah.


"Nadin, lagi kurang sehat. Jadi, gak bisa ikut. Dia takut jika nanti bayinya tertular.


Waktu istirahat Iqbal sudah habis. Dia terpaksa meninggalkan istrinya di ruang rawat Sarah. Lagipula, dia percaya jika Vina bisa menjaga marwahnya sebagai seorang istri. Apalagi disana ada Saka juga Syahril. Orang-orang yang bisa dipercayainya.

__ADS_1


"Agak mirip Saka waktu bayi ya." lirih Anwar pada Vina. Namun Vina memilih pura-pura tidak mendengarnya.


"Benarkah? Berarti aku seimut ini saat bayi ya Yah?" ujar Saka. Karena dia kasihan melihat Ayahnya yang tidak ditanggapi oleh Bundanya.


"I-iya." jawab Anwar cengengesan.


"Bun, kita pulang ya. Lagipula aku harus masuk kerja."


"Baiklah. Mas, Sarah. Kami pulang dulu ya." pamit Vina pada Syahril, juga Sarah. Namun, dia hanya mengangguk pada Anwar.


"Bun, apa Bunda masih marah pada Ayah?" tanya Saka. Saat mereka sudah berada di mobil. Ya, Iqbal menghadiahkan satu buah mobil untuk Vina.


"Tidak, cuma Bunda tidak ingin terlibat saja." jawab Vina.


Saka menghembuskan napas sebelum menjawab pertanyaan Bundanya.


"Karena, Adik melihat. Jika Ayah masih memancarkan cinta di matanya, saat menatap Bunda. Mungkin Ayah menyesal. Makanya, Adik ingin Bunda memaafkan Ayah. Tapi, bukan untuk kembali. Andai, jika Bunda kembali lagi sama Ayah. Mungkin Adik dan Abang akan melarangnya." ucap Saka.


"Bunda tau gak? Jika orang tua bertahan dalam rumah tangga yang gak sehat seperti yang pernah Bunda jalani sama Ayah. Yang jelas sakit itu anak, Bun. Karena hidup kami selalu dihiasi dengan pertengkaran orang disayanginya. Mungkin, Bunda bertahan demi kami. Ingin melihat kami bahagia karena mempunyai orang tua lengkap. Padahal dengan kalian bersama membuat kami merasa tertekan." menatap Vina sekilas. "Makasih ya Bunda. Karena telah bercerai dari Ayah. Dan terimakasih karena telah bahagia dengan Bapak. Bapak merupakan orang yang tepat untuk Bunda." ujar Saka tulus.


Mendengar penjelasan Anaknya. Air mata Vina menetes. Dia baru sadar. Kenapa dulu, Adit dan Saka selalu memaksanya untuk bercerai dari Anwar. Vina menangis. Dia hanya memalingkan wajah. Menatap keluar jendela.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sasa, akhirnya tau. Kenapa Adit, sampai menjauhinya dan memutuskan untuk putus kuliah. Dia sangat marah saat mendengarkan pembicaraan Ayah dan Ibunya.

__ADS_1


"Kalian lebih mementingkan kebahagian kalian sendiri dari pada aku. Kalian berdalih, menjodohkan aku dengan PNS agar aku bahagia. Padahal, kalian hanya ingin pamer, pada orang-orang. Jika kalian, dari keluarga yang biasa saja bisa mendapatkan seorang menantu PNS." berang Sasa. "Apa sih arti aku di hidup kalian? Hah?" teriak Sasa.


"Nak, dengerin Ibu dan Ayah dulu. Semua yang kami lakukan demi kamu. coba kamu pikir. Lelaki yang dekat denganmu itu. Bukannya orang tuanya udah bercerai? Dia cuma mempunyai Bapak tiri yang kaya. Terus jika nanti Bapaknya meninggal. Memangnya kamu pikir dia dapat apa hah? Gak ada. Gak ada. Makanya, kami mencari pendamping pns untukmu. Dia udah punya pekerjaan dan gaji yang cukup untuk menghidupi mu." Jelas Pak Irfan.


"Bapak, dan Ibu hanya ingin kamu bahagia nak. Jika nanti kami telah tiada. Setidaknya ada yang menjamin kehidupanmu ." lanjut Pak Irfan. Sasa terdiam mendengar ucapan Ayahnya. Karena percuma saja, jika ia membantah.


"Setelah lulus. Kamu menikahlah dengan dia. Dia juga berjanji pada Ayah. Jika akan mencarikan pekerjaan untukmu." ucap Pak Irfan.


Pak Irfan, keluar dari kamar. Dia meninggalkan anak dan istrinya. Karena dia tau. Jika istrinya pasti akan memberikan pemahaman untuk Sasa.


Bu Mala, memeluk putrinya Sasa. Dia ingin memberi kekuatan pada putrinya. Suaminya memang keras, apapun keputusan yang sudah dibuatnya, tak bisa di bantah.


"Sudahlah, nak. Terima saja apapun yang Ayahmu katakan. Karena semua ini demi kebaikanmu. Dia sudah luluh saat kamu minta kuliah jurusan farmasi. Sekarang walaupun Ibu dan kamu menangis. Dia tetap pada pendiriannya. Kamu turuti saja." nasihat Bu Mala. "Jika kamu masih mengganggap Ibu dan Ayah, sebagai orangtuamu. Maka turuti lah, permintaan kami." ujar Bu Fatma, menyeka sudut mata Sasa.


"Bu, bolehkah besok, aku bertemu Adit? Aku ingin minta maaf, dan membuat pengakuan padanya. Karena aku selama ini mencintainya. Mungkin untuk terakhir kalinya." pinta Sasa.


"Pergilah, tapi jangan sampai Ayahmu tau. Tapi, berjanjilah, jika kamu akan kembali kesini."


"Makasih Bu, aku janji akan pulang ke sini lagi."


Keesokan harinya. Setelah memastikan Ayahnya pergi ke pasar. Sasa keluar dari rumah. Dia akan ke tempat kosan Adit. Ini pertama kalinya dia ke kosan Adit. Semalam, Sasa sudah bertanya pada teman Adit, dimana dia tinggal.


Sampai di sana. Dari jalan depan rumah Adit. Dia melihat Adit, sedang duduk sambil minum di teras. Adit memakai baju kaos maroon dengan celana pendek jeans.


Deg ... Pandangan mata mereka bertemu.

__ADS_1


__ADS_2