
"Hai, kenalkan ini tunangan aku, Bara." ujar Sasa pada Adit. "Dan ini Adit. Teman kuliahku." menunjuk Adit pada Bara.
Sasa terus menatap mata Adit. Mencari, apakah Adit cemburu atau tidak. Namun, dia tidak menemukan tanda cemburu dimatanya. Kecewa. Ya ... Sasa kecewa ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Oo ya silahkan duduk," kata Adit. Setelah acara perkenalan selesai. "Pesan saja sepuasnya. Aku traktir." ucap Adit ramah.
"Gak usah bro, kami mampu bayar. Lagipula makanan di sini, bukan makanan mahal seperti kafe atau restoran bintang 5." sahut Bara sombong.
"Oke, baiklah. Silahkan." ujar Adit kemudian.
Sasa, terus saja mengawasi Adit yang sedang bekerja dibalik meja kasir. Dia kagum, Adit yang biasanya pembawaannya dingin. Bisa terlihat ramah dengan pelanggannya. Bahkan, Adit tak segan-segan berinteraksi dengan anak kecil, dengan memberikan stik berupa mainan. Sasa tersenyum melihat kelakuan Adit. Namun semua yang Sasa lakukan, tak luput dari perhatian Bara.
"Dia siapa?" tanya Bara.
"Heuh ... Oh cuma temen."
"Yakin?"
"Heum ... Yok makan."
Sasa merasa kecewa pada Adit. Sebab selama dia duduk. Tak sekali pun Adit melirik ke arahnya. Bahkan saat membayar. Adit hanya melihat ke arah Bara.
Saat sudah di luar kafe, tiba-tiba Sasa berlari kedalam. Dia berdalih ingin ke toilet. Dan menyuruh Bara, agar menunggu di mobilnya.
"Dit," panggil Sasa. Membuat Adit menoleh. "Bisa kita ngomong sebentar? 5 menit." kata Sasa.
Adit pun memanggil temannya untuk mengantikan pekerjaannya.
"Ada apa?" tanya Adit. Tanpa ba-bi-bu Sasa langsung memeluk Adit. Untuk mereka ditempat sepi. Karena di antara lorong menuju dapur dan toilet.
__ADS_1
"Kamu jahat." ucap Sasa, masih dengan posisi yang sama sambil memukul punggung Adit. Sedangkan Adit. Tak membalas pelukan Sasa. Dia malah memaksa Sasa untuk melepaskan pelukannya.
"Kamu tega padaku Dit. Kamu anggap apa aku selama ini? Apa kurangnya pengorbanan aku. Aku bahkan rela dimusuhi oleh teman-temanku, juga fans-fans mu. Kamu tega Dit. Tega." ucap Sasa setelah Adit berhasil menjauhinya.
"Kamu bahkan tidak menatapku sama sekali. Apa lagi cemburu . Tidakkah kamu mencintaiku? Jawab Dit." sery Sasa lagi. Sebab Adit hanya diam.
"Selama ini kita hanya berteman. Dan kita hanya berkomitmen untuk bersama sampai kuliah selesai. Dan jujur, kamu memang gadis pertama yang membuatku berdesir. Kamu memang gadis pertama yang aku suka. Tapi itu bukan berarti cinta. Buktinya, aku gak kecewa saat kau membawa laki-laki lain didepan ku. Mungkin, dulu aku sudah pernah merasa kecewa saat pertama kali kamu menjauhiku. Mungkin, dari situlah aku belajar, untuk jangan terlalu berharap lagi sama kamu." jelas Adit panjang lebar. Membuat Sasa amat kecewa. "Aku kembali kerja, pulanglah, bukannya tunangan mu sudah menunggu?" usir Adit.
Adit pergi meninggalkan Sasa, setelah berjalan beberapa langkah. Adit berhenti.
"Kisah kita telah usai. Setelah ini, mari kita untuk hidup masing-masing." ujar Adit tanpa menoleh ke arah Sasa.
Sakit, inilah yang Sasa rasakan. Namun, dia bertekad akan membuktikan. Jika ia juga bisa melupakan Adit, seperti Adit yang mudah melupakannya.
Tadinya Sasa berpikir. Jika Adit menunjukkan sedikit saja rasa cemburunya. Mungkin dia akan melawan orang tuanya dengan membatalkan pertunangan dengan Bara. Namun, harapannya sia-sia.
"Kamu bilang, kisah kita telah usai kan Dit? UMaka, inilah terakhir kalinya aku menemui mu. Akan aku anggap kamu masa lalu yang menyakitkan." gumam Sasa. Kemudian dia memasuki toilet untuk membasuh mukanya. Dan pergi meninggalkan Adit dan segala kenangan tetang Adit.
Hubungan Saka dan Gina berjalan dengan baik. Saka sering menjemput Gina di kampusnya. Begitupun Gina. Dia sering mengajak teman-temannya dan mempromosikan kafe tersebut di kampus.
"Hai, Kak." Sapa Gina.
"Hai, duduklah, Kakak melayani pelanggan dulu." ujar Saka sedang menaruh makanan untuk pelanggan.
Gina datang bersama Intan. Sebelumnya Saka sudah menemui Intan secara pribadi. Dan berterima kasih karena tanpa campur tangan Intan dia dan Gina pasti tidak bisa bersama. Dan Intan, si cewek super dingin tersebut hanya mengatakan kewajibannya untuk membantu temannya yang selalu gagal dalam mendekati lawan jenis.
Gina memang hampir setiap hari ke sana. Namun dia menolak jika selalu makan gratis. Dia selalu membayar makanannya. Karena dia tidak mau menjadi beban Saka. Padahal Saka selalu memberitahu Gina, agar jangan membayar. Namun, Gina mengancam akan marah juga merajuk. Dan tentu Intan akan dengan senang hati menemani Gina. Karena diapun dapat makanan gratis.
Gina merupakan putri bungsu dari Dr. Ahmad. Dia adalah pemilik rumah sakit tempat Iqbal bekerja. Dr. Ahmad memiliki tiga orang anak. Haris, Khalis dan Gina. Haris dan Khalis sudah menikah. Dan mereka tinggal diluar negeri. Tepatnya Hongkong dan singapura. Haris di hongkong. Khalis singapura. Sedangkan Gina, masih kuliah semester 2 di jurusan management.
__ADS_1
Istri Dr. Ahmad bernama Lusi, sudah meninggal sejak Gina masih bayi. Tepatnya saat melahirkan Gina. Almarhum Lusi, sangat menginginkan anak perempuan. Di usianya yang sudah 40 sebenarnya sudah beresiko. Mengingat saat melahirkan Khalis anak ke dua, Lusi sampai mengalami pendarahan hebat. Makanya dr. Ahmad menginginkan agar Lusi jangan hamil lagi. Namun siapa sangka. Lusi diam-diam melepaskan KB, tanpa memberi tahu pada suaminya. Saat pertama kali hamil pun dia tidak memberitahu dr. Ahmad. Sampai usia 3 bulan, baru Lusi memberitahu. Itupun karena dr. Ahmad melihat perutnya yang mulai membesar.
Apalagi Lusi semenjak hamil Gina, dia tidak pernah mengalami morning sickness. Dia hanya sedikit lebih manja dari biasanya. Saat mengetahui Lusi hamil dr. Ahmad menyarankan untuk menggugurkannya. Namun istrinya mengancam, lebih baik dia yang tiada dari pada kehilangan anaknya. Saat melihat Ahmad kecewa. Lusi memberi pilihan. Jika memang anaknya laki-laki maka dia ikhlas bayi tersebut digugurkan. Namun jika bayi tersebut perempuan. Dia memohon pada dr. Ahmad untuk membiarkannya lahir.
Sesaat setelah melahirkan, Lusi kembali mengalami pendarahan. Dia tidak tertolong. Namun, sebelum dia operasi melahirkan. Dia berpesan, agar menjaga dan merawat Gina dengan baik. Karena Gina merupakan bukti cinta Ahmad terhadapnya. Dan dia sudah bisa pergi dengan tenang. Apalagi telah menitipkan seorang bayi yang sangat dia idam-idamkan untuk suaminya.
Makanya, semenjak Gina lahir. Dia sangat di manjakan oleh Ahmad juga kedua kakaknya. Dia dijaga seperti berlian. Saat masuk kuliah. Sebenarnya saat memasuki kuliah. Gina disuruh untuk kuliah ke luar negeri. Namun dia menolak. Karena Intan sahabatnya dari smp tidak mau kuliah keluar negeri. Jadilah, Gina kuliah mengikuti Intan. Padahal Intan ditawarkan untuk kuliah keluar negeri menemani Gina. Tetapi Intan menolak. Karena dia tidak ingin terlalu bergantung pada Gina.
Walaupun sekarang. Gina selalu mentraktir Intan. Namun, untuk bayar kosan. Intan selalu membayar sendiri. Dia tidak ingin semuanya di tanggung oleh keluarga Gina.
Intan bahkan menjadi juru masak sekalian asisten Gina. Itu semua Intan lakukan tanpa mengharap balasan. Namun dr. Ahmad membalas dengan membiayai kuliah Intan. Itu sebagai bentuk rasa peduli terhadap Intan. Karena dengan tulus menjaga dan berteman dengan anaknya Gina.
Namun, Saka tidak tau jika Gina merupakan anak dari orang pemilik rumah sakit dari Bapaknya bekerja. Sebab Gina ataupyn Intan tak pernah memberitahunya.
Gina selalu saja cemburu melihat keramahan Saka dalam melayani pelanggan. Apalagi saat Saka berfoto juga memfoto pelanggan cewek.
"Mukanya biasa aja. Gak usah manyun." ujar Intan melihat Gina yang cemberut.
"Gimana ya caranya. Agar Kak Saka jangan melayani permintaan para cewek-cewek genit itu?" tanya Gina. Sedangkan Intan hanya mengedikkan bahu. Melihat respon Intan. Gina menghembuskan napas kasar.
"Aku minta sama Kak Khalis untuk beli kafe ini saja. Kak Khalis di singapura kan juga membuka bisnis kafe." ide Gina. Namun Intan terbatuk-batuk mendengar ide konyol sahabat nya.
Gina memang tidak tau. Jika Saka juga anak dari pemilik kafe tersebut. Sebab yang dia lihat. Saka bekerja dari menjadi pelayan merangkap kasir. Sekaligus menjadi fotografer dadakan. Padahal disana banyak pelayan-pelayan yang lainnya. Namun seolah-olah hanya Saka yang dilihat mereka.
Lagipula, saat pembukaan kafe yang dikelola Adit. Saka mengatakan pada Gina. Untuk datang ke pembukaan cabang. Disana akan ada Bunda dan Bapaknya. Tidak mengatakan kalau Bapaknya pemilik kafe tersebut.
"Itu sangat berlebihan Gina." ujar Intan.
"Tapi aku mau agar Saka jangan kerja terlalu keras. Lihatlah dia." memperhatikan Saka yang lap keringat di dahinya. "Pasti hidupnya sangat menderita. Makanya dia mau aja di suruh-suruh sama cewek-cewek itu." cibir Gina.
__ADS_1
"Udahlah, itukan memang pekerjaannya." bijak Intan.
Deg ... Gina melihat Saka memeluk seseorang.