Bercerailah, Bunda

Bercerailah, Bunda
episode 55


__ADS_3

Setelah memastikan Saka baik-baik saja. Akhirnya Vina dan Iqbal menemui Adit. Mereka berjanji akan langsung pulang dan tidak menginap. Saka, setelah mendapatkan pengertian dan nasihat dari orang-orang tercintanya mulai masuk kerja kembali. Pada akhirnya dia tidak berani bertemu dengan orang tua Gina. Setidaknya sampai vidio tersebut dilupakan.


Gina pun, tidak memaksa Saka. Karena dia sendiri pun, belum cukup berani untuk bertemu orang tua Saka. Karena Intan sempat menakutinya saat bercerita kalau Saka mengajak bertemu orang tua Saka.


Intan berkata, biasanya orang tua dari pacar akan ilfeel jika pacar anak, dengan cepat menyetujui bertemu mereka. Padahal hubungan baru berjalan beberapa bulan.


"Biarkan mereka berpikir, kalau kamu mempunyai rasa malu dan harga diri." ucapan Intan yang selalu di ingat Gina. Gina sampai lupa, kalau Intan pacaran saja tidak pernah.


Akhirnya Iqbal dan Vina sudah sampai ke kediaman Adit. Adit pun sengaja libur kerja untuk menemani orang tuanya. Apalagi Bundanya datang khusus untuk bertemu dengannya. Adit sangat bahagia, karena setelah dewasa pun dia selalu mendapatkan perhatian dari Bundanya. Bahkan sekarang dia sedang tidur di pangkuan Bundanya. Sedangkan tangan Vina mengelus lembut rambut Adit. Dan, Iqbal memberikan waktu untuk mereka berdua. Dengan berdalih mau mencari udara di luar sana.


"Abang, Bunda khawatir sama Abang." masih mengelus rambut Adit. Sedangkan Adit hampir saja ketiduran, karena merasa kenyamanan yang sangat luar biasa. "Abang gak apa-apakan? Ada yang ingin Abang ceritakan?" bicara selembut mungkin.


Mendapatkan pertanyaan dari Vina. Adit membuka matanya. "Bunda jangan khawatir. Abang gak apa-apa." Adit, tau Bundanya bicara tentang apa.


"Jangan sembunyi apapun pada Bunda. Bunda harap, kamu bisa jujur." ujar Vina. Karena dia bisa melihat luka yang di pendam Adit.


Adit perlahan bangkit, dan duduk disisi Vina. "Jika Abang katakan, Abang membenci Ayah. Wajar kan?" menghela napas. "Mungkin perasaan Abang dan Adik sama. Sama-sama malu karena memiliki seorang lelaki bejat. Tapi setidaknya kami bersyukur. Karena terlahir dari rahim Bunda." ungkap Adit.


Adit mengatakan, banyak teman-teman kuliahnya dulu mengolok-olok dirinya. Apalagi orang-orang yang sama sekali tidak menyukainya. Mereka mengunakan vidio itu untuk membunuh mentalnya. Dan dia mengatakan jika Bara, tunangan dari Sasa menertawakannya. Mengatakan bahwa aku memang tidak layak bersanding dengan Sasa.


"Sasa, siapa?" tanya Vina. Dia baru pertama kali mendengarkan sang anak menyebut nama itu.


"Aku memang terlalu jauh dengannya. Sampai ada perempuan yang masuk di hidupnya aku tidak tahu." batin Vina.


"Ia, gadis yang pernah aku kagumi." Vina bisa melihat, jika memang tidak ada cinta di mata anaknya saat menyebutkan nama Sasa.


"Lalu?"


Adit melanjutkan ceritanya. Bahwa Pak Irfan, Ayah dari Sasa juga menghinanya. Dia mengatakan bahwa Bara merupakan pilihan yang bijak untuk putrinya. Apalagi Bara seorang PNS juga dari keturunan yang baik.


"Gak apa. Mungkin inilah ujian kita. Apa pun yang terjadi, Bunda harap kalian tidak membenci Ayah. Apalagi sekarang, dia entah di mana. Bahkan Tante Sarah saja tidak tahu." ujar Vina mengingatkan.

__ADS_1


Saka memang tidak menceritakan tentang Anwar yang meminta uang padanya.


Setelah berbincang-bincang dan makan siang. Akhirnya Vina dan Iqbal pamit pulang. Iqbal meminta Adit untuk ikut serta. Namun Adit menolak. Karena dia belum mencatat pembukuan di kafe. Tetapi Adit berjanji akan pulang. Dia ingin menjenguk Neneknya.


"Abang janji, Esok lusa akan pulang." ujar Adit.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Mas, terimakasih ya. Karena Mas, sudah memperlakukan Adit dan Saka seperti anak kandung." ujar Vina menatap Iqbal yang sedang menyetir.


Iqbal menoleh sesaat, kemudian menggenggam tangan Vina. "Karena mereka sudah seperti anak kandung Mas sayang. Mungkin inilah alasan, kenapa Mas mandul. Karena Mas sudah mempunyai anak-anak dari kamu." mengecup tangan Vina. Vina yang mendapatkan perlakuan manis dari Iqbal tersipu. Padahal Iqbal sering melakukannya.


"Kita mau kemana?" tanya Iqbal.


"Aku ingin ke resort tempat Mas melamar dulu. Tapi jangan hari ini. Biar keadaan aman dulu. Tak enak rasanya, kita jalan-jalan. Sedangkan anak-anak bersedih." ujar Vina. Dan Iqbal setuju dengan usulan Vina.


Akhirnya mereka memutuskan untuk makan malam di luar. Sekarang mereka banyak menghabiskan waktu berdua. Apalagi jam kerja Iqbal sudah tidak setiap hari seperti sebelumnya. Sekarang dia hanya mengambil piket di poli tiap tiga hari dalam seminggu. Senin, selasa dan rabu. Lainnya dia akan menemani Vina. Dan bekerja dari rumah. Melihat perkembangan dari hasil kafe yang diurus oleh Adit juga Saka.


Adit dan Saka, rutin setiap minggu mengirimkan email kepada Iqbal, tentang pembukuan kafe. Dan Iqbal sangat puas dengan hasil ke duanya.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Ibu makan dulu." ujar Sarah menyuapi Bu Fatma makan.


"Mas mu, sudah ada kabar?" tanya Bu Fatma. Di hati kecilnya, dia khawatir terhadap Anwar. Walau bagaimanapun Anwar anaknya.


Sarah menghela napas dan menggelengkan kepalanya. "Mungkin dia sedang menunggu keadaan aman Bu." ucap Sarah, menyodorkan sendok depan mulut Ibunya.


"Teruslah menelpon nomornya. Mungkin nanti saat nomornya aktif dia akan melihat." Sarah bisa merasakan, kekhawatiran di setiap ucapan Ibunya. Apalagi mata Ibunya berkaca-kaca setiap bertanya tentang Anwar.


Syahril sudah pernah meminta izin untuk mencari Anwar. Namun, dilarang oleh Sarah. Sebab Sarah masih kesal terhadap Mas nya itu. Karena, di larang oleh Sarah. Akhirnya Syahril mencari diam-diam. Namun, dia tidak memberitahu siapa pun. Bahkan pada Adit dan Saka.

__ADS_1


"Mas, aku mau minta tolong. Mas bantu untu mencari keberadaan Mas Anwar. Aku lihat, sepertinya Ibu sangat khawatir." ujar Sarah setelah melakukan kewajibannya. Sedangkan Syahril sudah terlelap.


"Mas ... ihh." rengek Sarah.


"Tidur, udah malam." ucap Syahril.


"Tapi, aku mau minta tolong Mas."


"Besok ya."


Syahril tetap tidur tanpa memperdulikan istrinya yang kesal. Karena tadi, seharian dia sudah lelah bekerja dengan menjadi bodyguard untuk anak penjabat yang sedang berkunjung ke kotanya.


Keesokan harinya, Sarah masih merajuk. Namun, karena Syahril yang peka dia langsung meminta maaf dan memeluk istrinya dari belakang, yang sedang memakai pakaian untuk anak mereka Shadiqa.


"Maaf, Mas benar-benar kelelahan. Apa lagi kamu sangat luar biasa." Mendengar pujian dari suaminya. Sarah langsung tersenyum. Namun saat Syahril memutarkan tubuh Sarah. Sarah langsung memasang wajah jutek. Dia selalu senang mendengarkan pujian dari mulut Syahril.


"Maaf ya, Mas selalu membuatmu kesal. Mas selalu meninggalkan mu setiap tidur."


"Hari ini mau kemana? Mas, semalam dapat bonus gede. Kita jalan-jalan. Atau mau belanja? Sebagai bentuk permintaan maaf dari Mas." Sarah masih bergeming.


"Mas janji, hari ini akan membantumu mengurus Shadiqa. Kamu bisa santai sepuasnya." rayu Iqbal lagi. Mendengar ucapan Syahril, Sarah langsung tersenyum dan membalas pelukan Syahril.


"Janji ya?"


"Heum ..."


Sarah pun menceritakan keinginannya semalam, bahwa dia ingin Syahril, mencari dimana Anwar. Dan Syahril mengaku, sudah mencarinya sejak dulu. Sekarang dia tahu di mana Anwar berada. Dan itu berhasil membuat Sarah kembali merajuk.


"Ampun deh, perempuan." menepuk kepalanya sendiri.


......................

__ADS_1


Terimakasih banyak, untuk kalian semua.


Saleum aceh pidie.


__ADS_2