
"Bagaimana? Sudah bisa kamu hubungi Nadin?" tanya Bu Fatma. Mereka sekarang masih berada di rumah sakit. Sudah dari semalam Bu Fatma menunggu kedatangan Nadin.
"Belum Bu. Entah kemana perginya." sahut Anwar.
Sementara Nadin baru terbangun dari kamar hotel. Dia terkejut, melihat penampilannya tanpa busana, serta seluruh badannya om dipenuhi tanda cup*ang. Saat menoleh ke samping pun dia tidak melihat siapa-siapa. Cuma dia sendiri.
"Apa yang terjadi? Kenapa kepalaku pusing begini?" gumam Nadin. " Apa jangan-jangan aku dijebak oleh Winda?" batin Nadin.
Nadin buru-buru bangkit ke kamar mandi, walaupun kepalanya masih sangat pusing.
"Winda, kamu dimana? Aku butuh penjelasan tentang semalam."chat Nadin hanya contreng satu abu-abu. Kemudian di telpon nomornya pun sudah tidak aktif.
Saat Nadin sedang siap-siap. Tanpa sengaja dia menoleh ke nakas. Di sana ada segepok uan merah dan selembar surat yang bertuliskan TERIMAKASIH UNTUK SEMALAM. OM SANGAT PUAS. UANG INI UNTUK BAYARAN KAMU.
Saat melihat sejumlah uang, rasa kesal pada Winda langsung lenyap. Nadin tersenyum puas.
"Enak juga ya, gak usah capek-capek kerja dapat duit." gumam Nadin. Memasukkan uang tersebut ke dalam tas.
"Bi, Mas Anwar sudah berangkat?" tanya Nadin setelah sampai rumah.
"Tuan lagi di rumah sakit, Rania semalam demam sama sesak." jawab ART.
"Sama siapa?" tanya Nadin acuh.
"Sama Bu Fatma." jawabnya.
"Ooo, ya sudah. Aku istirahat dulu. NantiΒ Mas Anwar pulang. Bilang saja aku baru datang dari rumah Mama, oke!" ucap Nadin berlalu masuk kamar.
πππππ
"Bu, aku pulang dulu. Mau lihat apakan Nadin sudah pulang ke rumah apa belum. Sekalian mau mandi dan ganti baju." ujar Anwar.
"Baiklah, hati-hati. Nanti Sarah sama Syahril juga ingin kesini." ucap Bu Fatma.
Kemudian Anwar langsung pulang ke rumah. Tanpa sarapan. Tetapi, dia sudah membeli sarapan untuk Bu Fatma.
"Bi, apakah Nadin sudah pulang?" tanya Anwar.
"Sudah, tapi baru saja masuk kamar dan istirahat."
__ADS_1
"Baiklah, aku ke kamar. Bibi silahkan kembali kerja." perintah Anwar.
Brak ... Anwar mendorong pintu kamar. Nadin, yang sedang tidur terkejut. Karena suara pintu seperti di dobrak.
"Ada apa sih Mas, datang-datang kayak orang kesetanan." ujar Nadin masih santai. "Aku capek, mau istirahat." lanjut Nadin, hendak kembali tidur.
Plak ... Tanpa Ba-bi-bu Anwar menampar Nadin. Dia sudah lama merasa jengkel terhadap sikap Nadin. Tetapi, selama ini dia cukup menahan sabar atas perilaku Nadin.
"Mas." teriak Nadin memegang pipinya.
"Kamu, dari semalam kemana saja hah? Kamu tau? Anakmu sakit." teriak Anwar muak.
"Aku dari rumah Mama. Lagian aku pergi juga karena kamu gak bagi aku uang Mas." bela Nadin masih memegang pipinya.
"Cihh ... Asal kamu tau. Aku sudah menghubungi orangtuamu untuk nanyain kamu. Aku bahkan nelpon kamu sampai ratusan kali. Tapi nomormu gak aktif. Sebenarnya kamu kemana?" tanya Anwar, memegang dagu Nadin.
Cap
"Mas, lepasin lah, kok kamu kasar gini sih."ucap Nadin.
" Selama ini, aku udah cukup sabar dengan Nadin. Tapi, jika anakku kenapa-napa. Kamu akan lihat akibatnya." ujar Anwar. "Semalam kamu kemana?" tanya Anwar.
Anwar lantas ke kamar mandi. Dan Nadin melanjutkan tidurnya. Tanpa bertanya tentang anaknya. Setelah siap-siap. Anwar kembali ke rumah sakit tanpa menghiraukan Nadin. Ia ingin segera berada di samping putrinya.mggfj
Saat sampai di rumah sakit, Anwar melihat jika di ruangan anaknya sudah berada, Vina, Iqbal, dan Saka.
"Ayah."sapa Saka.
" Nenek kemana?" tanya Anwar.
"Tadi Nenek ke kantin. Sama aja Om dan Tante." sahut Saka.
"Mas, aku tadi diberitahu sama Syahril. Makanya aku ajak Vina, sekalian sama Saka." ucap Iqbal.
"Iya, makasih ya. Karena sudah datang." ujar Anwar.
Vina pun, tidak menanyakan rentang Nadin. Karena tadi sudah dijelaskan oleh Bu Fatma.
Malam harinya, Nadin, setelah bertanya sama ART di rumah tentang info di mana Rania dirawat. Akhirnya memutuskan untuk datang. Karena sebenarnya hatinya sedikit resah dengan keadaan anaknya. Tetapi karena tadi dia merasakan badannya remuk dan sedikit pusing. Makanya, dia memilih istirahat.
__ADS_1
"Mas, Bu." Sapa Nadin. Setelah menemukan ruangan Rania. "Maaf baru bisa datang. Karena tadi aku istirahat sebab badanku seperti sakit dan sedikit pusing." sambung Nadin.
Bu Fatma hanya menghela napas. Dia malas meladeni menantunya. Sedangkan Anwar dia memilih tak menghiraukan istrinya.
Tak lama kemudian, Rania tiba-tiba kembali mengalami sesak napas. Padahal tadi saat dokter datang, dia sudah dikatakan normal. Dengan panik Anwar menekan call nurse. Sedangkan Bu Fatma yang panik langsung berlari keluar memanggil perawat yang berjaga di depan.
"Tolong keluar semua, agar tidak mengganggu." ujar perawat.
Setelah beberapa saat menunggu. Akhirnya dokter yang menangani Rania keluar.
"Rania harus dibawa ke ruang PICU. Kalian jangan berhenti berdoa ya. Semoga Rania baik-baik saja." ucap dokter tersebut.
Bu Fatma, langsung mengabarkan Sarah dan Saka. Jika Rania, sudah masuk ruang PICU. Sarah mengabarkan akan segera ke rumah sakit bersama Syahril. Sedangkan Saka, dia masih sibuk di kafe tanpa sempat memegang handphone nya.
"Mas, sebenarnya Rania sakit apa?" tanya Nadin berurai air mata.
" Mas." panggil Nadin lagi, karena tidak mendapatkan respon dari Anwar.
"Bu." panggil Nadin. Berharap Bu Fatma memberinya kejelasan.
"Rania mengalami sesak juga demam. Kata Bibi di rumah Rania demam sudah 3 hari. Tapi kamu ataupun Anwar tak peduli. Bahkan yang ada kalian berantem saja tiap hari." jelas Bu Fatma.
"Andai saja waktu itu Sarah mau menjaga Rania, pasti gak akan kejadian seperti ini." lirih Nadin tanpa didengarkan oleh Anwar juga Bu Fatma.
"Kamu sebagai Ibu, seharusnya lebih peduli terhadap anakmu sendiri. Begitupun kamu Anwar. Memang tugasmu untuk mencari rezeki. Tapi kamu juga jangan dzolim terhadap anak istri. Anak dan istri mereka juga harus di pahami." nasihat Bu Fatma.
"Semoga Rania baik-baik saja. Dan Ibu harap kalian jangan pernah lagi bertengkar. Komunikasikan lah, supaya kalian bisa mencari titik tengah terhadap masalah yang kalian alami." tambah Bu Fatma.
Anwar dan Nadin merenungi apa yang dikatakan oleh Bu Fatma. Mereka menyadari kalo mereka berdua sama-sama egois. Terlintas sedikit penyesalan dihatinya Nadin, karena dia sangat jarang bersama anaknya. Bisa dikatakan tidak pernah menghabiskan waktu bersama sang anak.
"Mas, maafkan aku. Ke depannya, aku janji akan menjaga Rania dengan tanganku sendiri. Walaupun tanpa baby sister seperti sekarang." ucap Nadin, tapi masih tidak di perduli kan oleh Anwar.
Karena sudah ada Nadin, Bu Fatma disuruh pulang oleh Anwar bersama Sarah. Dia tidak ingin jika Bu Fatma juga sakit akibat kurang istirahat. Awalnya dia menolak, karena kukuh ingin menjaga bayinya. Namun Anwar maupun Sarah tetap memaksa.
Dini hari, Rania dikabarkan mengalami kritis, dan gak lama kemudian dia sudah berpulang. Anwar juga Nadin sangat shock. Nadin menangis histeris. Padahal dia sudah berjanji pada diri sendiri, jika dia akan merawat Rania dengan baik saat sudah pulang dari rumah sakit.
"Inikan yang kamu mau, anak kita sudah tidak ada. Jadi sekarang kamu udah gak jengkel lagi mendengarkan tangisannya." sindir Anwar.
"Mas." lirih Nadin.
__ADS_1