Bercerailah, Bunda

Bercerailah, Bunda
Persahabatan Gina dan Intan


__ADS_3

"Sudahlah, Haris. Jangan membuatnya takut." kekeh Ahmad melihat muka tegang dan cemas anaknya Gina.


"Nak, terimakasih karena kamu telah menjadi bagian dari hidupnya Gina. Gina adalah kesayangan kami. Ia adalah, bukti cintaku terhadap istri ku." ujar dr. Ahmad. Dia selalu saja sedih saat mengingat almarhum istrinya, Lusi.


Saka yang semula menunduk, langsung menatap dr. Ahmad. Ada sedikit perasaan lega menyusup relung hatinya


"Kami sangat memanjakan Gina. Jadi, tolong maklumi jika sikap manjanya keluar tidak mengenal tempat." papar dr. Ahmad lagi.


Akhirnya mereka mengobrol dengan santai. Haris meminta agar Saka jangan pernah menyakiti perasaan Gina, juga mengancam Saka kalau berani menyakiti adik bungsunya tersebut. Dan Saka hanya tertawa mendengar ancaman Haris. Karena baginya itu adalah sebuah ungkapan rasa khawatir Haris terhadap Gina


Saka juga baru tau, kalau Papa Gina yang mempunyai rumah sakit tempat Bapaknya bekerja. Namun, dr Iqbal telah pensiun. Dia hanya bekerja dari rumah. Memantau perkembangan rumah sakit tersebut.


"Semula, aku ingin agar Gina kuliah di luar negeri sebagai dokter. Namun dia menolak, karena temannya Intan." kata dr Ahmad pada Saka.


"Tapi Intan memang anak yang baik. Dia tidak pernah memanfaatkan Gina." lanjut dr. Ahmad.


Dari obrolan mereka, Saka dapat menyimpulkan jika keluarga Gina, tidak memandang status seseorang dari harta. Dia juga baru tau. Kalau keluarga Gina sangat-sangat kaya. Tapi, tidak pernah memandang rendah orang lain. Gina memang kaya. Tapi dia tidak di anjurkan untuk foya-foya. Buktinya baju yang selama ini dipakai Gina, bukan baju puluhan juta seperti orang kaya lainnya.


Saka pulang dengan lega. Dia berjanji akan membawa Gina untuk menemui Vina esok harinya. Sekarang sudah waktunya dia berangkat kerja.


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Sekarang tinggal lah, Haris bersama Gina di ruang keluarga. Sedangkan Ahmad kembali masuk ruang kerja.


"Kamu bukannya udah beli bengkel Gin?" tanya Haris pada Gina. "Emang kamu tau masalah bengkel?" cibir Haris.


"Awalnya, aku jalan-jalan sama Intan.Terus aku lihat ada tanda di jual di bengkel tersebut. Aku tanya-tanya lah, sama orang-orang dekat sana. Terus aku di arahin sama seseorang. Katanya bengkel itu punya temennya. Makanya aku beli. Lagipula tempatnya sangat strategis. Jadi, aku mau hadiahkan untuk keluarga Intan Kak. Setau aku, Ayah Intan dulunya juga buka bengkel, walaupun kecil-kecilan. Tapi, dia punya Abang yang kerja di bengkel. Tapi di luar kota." jelas Gina. "Ternyata. Bengkel itu punya Ayahnya Kak Saka. Aku juga baru tau, setelah melihat-lihat perkembangan info akun julid tentang Ayahnya Kak Saka. Kak." lanjut Gina.


"Tapi, bukannya itu terlalu berlebihan ya Gin? Masak kamu kasih Intan bengkel sih." ujar Haris.


"Tidak Kak. Sebenarnya ada satu rahasia yang belum Kakak atau Papa tau." ungkap Gina memelankan suaranya.


"Apa?" tanya Haris. Ikut memelankan suara.


"Kejadiannya kapan?"


"Sembilan atau sepuluh bulan lalu." menjawab acuh tak acuh.


"Dan kamu baru cerita sekarang? Kamu gimana sih? Masa Papa gak tau."


"Ya, karena aku. Tidak membawa Intan ke rumah sakit kita." Gina cengengesan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Haris mati-matian menahan emosi akibat cerita Gina. Dia kesal, geram juga gemas pada adiknya Gina.

__ADS_1


"Kenapa baru cerita sekarang sih Gin? Bagaimana kalo terjadi sesuatu sama kamu? Kamu mau bikin Papa sedih?"


"Karena kalo aku cerita. Kalian pasti mengawal ku seperti saat dulu. Aku ingin bebas Kak. Aku gak mau aneh sendiri. Mau ke manapun ada yang ikutin. Di larang ini, itu. Aku bosan Kak. Kalian, gak tau bagaimana tertekannya aku selama ini." jelas Gina.


"Kan kami khawatir Gin. Kami ingin kamu baik-baik aja."


"Tapi, aku juga gak mau di jaga terus menerus Kak. Aku gak mau. Aku ingin seperti teman-teman yang lain. Aku ingin merasakan kenapa orang-orang di luar sana bisa bahagia walaupun tidak kaya seperti kita. Aku ingin menikmati hidupku Kak." tekan Gina. "Kak tolong jangan beri tahu Papa. Aku gak ingin buat Papa khawatir." rayu Gina.


"Baiklah, tapi janji kalo ada apa-apa kamu langsung beri tahu Kakak." ucap Haris disetujui oleh Gina.


Setelah mendengar penuturan Gina tentang keberanian Intan. Besoknya Haris di temenin oleh Gina menuju rumah Intan. Intan yang melihat Gina datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan tidaklah, kaget. Sebab itu sudah menjadi kebiasaan Gina. Bahkan, Gina sudah pernah tidur di rumah Intan. Dengan alasan bosan dengan suasana kamar sendiri.


Orang kaya memang aneh. Padahal di rumahnya saja banyak kamar. Sudah pasti dia bisa gonta ganti kamar setiap harinya. Itulah yang selalu di pikir Intan pada saat Gina menginap di rumahnya. Dan anehnya lagi orang tua Gina bahkan tidak melarangnya.


Yang membuat Intan kaget adalah. Kedatangan Intan bersama Kakaknya Haris. Intan tau, kalau Haris tinggal di luar negeri. Dan Haris, sudah beberapa kali berkunjung ke sana. Hanya untuk berterimakasih karena telah menjaga adik kecilnya. Dia tak menyangka, biasanya Haris ke sana rumahnya apabila menetap seminggu. Tetapi kali ini, Intan mendengar dari Gina kalau Haris hanya pulang untuk dua atau tiga hari.


Setelah mendengar tujuan kedatangan Haris dan Gina. Tentu saja Intan beserta orang tuanya kaget. Orang tua Intan juga baru tahu. Kalau anak mereka pernah terluka akibat tusukan di punggungnya. Memang tak terlalu parah. Namun itu, berhasil membuat mereka merasa gagal jadi orang tua. Sebab tidak tau keadaan anaknya.


Intan dan orang tua Gina tentu saja menolak dengan pemberian Gina. Mereka merasa jika dengan membiayai kuliah Intan saja sudah lebih dari cukup. Namun Gina dan Haris tetap memaksa mereka. Karena Haris berkata itu sebagai hadiah atas keberanian Intan dalam melindungi adiknya. Karena Gina merupakan kesayangan mereka semua.


Terharu, tentu saja. Orang tua Gina bahkan berucap terimakasih berulang kali. Mereka sangat bersyukur. Karena untuk saat ini. Pendapatan orang tua Intan memang lagi berkurang. Apalagi Abang Intan yang di luar kota sudah tidak bekerja lagi karena di pecat akibat di fitnah oleh sesama karyawan di sana. Namun, Abang Intan tetap menolak untuk pulang sebelum mendapatkan kerja yang lainnya. Karena niatnya merantau adalah membantu keuangan keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2