Bercerailah, Bunda

Bercerailah, Bunda
Gina bertemu Vina


__ADS_3

Akhirnya, Gina menemui Vina dan Iqbal. Sebelumnya Saka sudah menceritakan siapa keluarga Gina pada Bunda dan Bapaknya. Iqbal tentu saja terkejut. Dia pernah mendengar seluk beluk keluar dr. Ahmad. Dia tau kalau dr. Ahmad mempunyai anak perempuan yang sangat di sayangi dan di manjanya. Namun dia tidak menyangka. Kalau perempuan tersebut adalah Gina. Pacar dari anaknya Saka.


Dr. Ahmad memang sangat jarang mempublish anak perempuannya. Dia berdalih melindungi putrinya dari niat-niat jahat pelaku kejahatan. Maka, tidak heran. Jika banyak orang tidak tahu. Jika Gina adalah anak dari orang ternama dan kaya.


Gina memakai kemeja tunik model kemeja berwarna navy. Di padukan dengan kulot warna putih. Tak lupa mengikat rambutnya. Sebelumnya Gina juga sudah menyiapkan oleh-oleh untuk Vina. Dia membawakan satu kotak cake coklat. Gina di jemput oleh Saka ke rumahnya. Dan Saka begitu sopan meminta izin pada dr. Ahmad. Sedangkan Haris, sudah kembali ke hongkong. Dimana istrinya berada.


Sampainya di rumah Vina. Gina menatap takjub dengan kebun bunga yang berada di halaman depan. Dia jadi menginginkannya juga. Sebab di rumahnya hanya di tumbuhi pohon-pohon hiasan. Serta ada kolam ikan dan ada air mancur di tengahnya.


"Kak ... Mau." menunjukkan aneka jenis bunga yang tersusun rapi.


"Boleh, minta sama Bunda ya." canda Saka.


"Ihh ... Kakak yang minta tapi ya." ucap Gina. Dan Saka hanya tersenyum menggandengkan tangan Gina untuk masuk ke dalam.


Vina sudah menyiapkan aneka kudapan. Dia ingin menyambut Gina dengan baik. Dia tidak ingin membuat Gina terintimidasi saat berada di tempatnya.


Gina mati-matian menjaga imagenya. Dia ingin terlihat sopan di depan calon mertuanya.


"Jadi, kamu anak dari dr. Ahmad?" tanya Iqbal. Dia pun sampai menyuruh temannya untuk mengantikan piket-nya hari ini. Karena dia penasaran dengan wajah Gina. Yang konon sangat di lindungi oleh dr. Ahmad.


"I-iya Om."

__ADS_1


"Cantik kan, Bun?" tanya Saka pada Vina.


"Cantik." ucap Vina membuat Gina tersipu. "Makan dan minum lah, nak!" Vina, menyuruh Gina menikmati hidangan yang telah ia siapkan nya.


Vina tidak banyak bicara. Karena dia tidak ingin di nilai cerewet oleh Gina. Mereka hanya mengobrol dan Gina berbagai resep kudapan yang di sediakan Vina. Setelah makan siang. Saka kembali mengantarkan Gina. Karena nanti sore dia sudah masuk kerja. Awalnya Gina menolak untuk pulang. Sebab, dia ingin ikut bersama Saka untuk ke kafe. Namun, Saka menolak. Sebab dia sudah berjanji pada dr. Ahmad. Akan mengantarkan Gina sebelum sore hari.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Mas, kok sekarang aku sudah berasa tua ya." ujar Vina pada Iqbal.


"Anak-anak sudah besar. Bahkan Saka yang bungsu sudah mendapatkan pacar." menyandarkan kepalanya pada bahu Iqbal.


"Tapi aku makin suka loh. Sebab kamu semakin tua semakin seksi di mataku." rayu Iqbal mencubit pinggang Vina. Vina tertawa malu mendengar pujian dari suaminya.


"Apa?" pura-pura tidak mengerti. Tanpa menunggu lagi. Iqbal langsung membopong istrinya menuju kamar mereka. Bahkan ART yang sedang bersih-bersih tersenyum malu melihat pasangan yang sudah tidak muda tersebut.


🍁🍁🍁🍁🍁


Di tempat lain, Adit di temui beberapa Ibu-ibu yang pernah makan di sana. Banyak Ibu-ibu melamar Adit untuk anak-anak mereka. Apalagi para pekerja di sana selalu mengatakan jika kafe tersebut adalah punya Adit. Padahal Adit, sudah berulang kali menjelaskan. Kalau kafe tersebut punya Bapak nya. Dia hanya bekerja. Namun mendengar pengakuan Adit. Ibu-ibu di sana malah semakin menyukai Adit. Karena Adit tidak menganggap harta orang tuanya sebagai miliknya. Mereka menilai. Jika Adit adalah seorang anak yang ingin berusaha sendiri.


Adit memang di kenal dingin. Namun, saat menghadapi Ibu-ibu. Adit menjadi pusing tujuh keliling. Dia bahkan tidak berangkat kerja selama tiga hari berturut-turut. Namun, Ibu-ibu di sana malah mencari Adit sampai kosan Adit.

__ADS_1


Sekarang Adit, sedang berada di kafe. Dia di cari oleh salah satu Ibu yang bernama Mutia. Mutia mempunyai seorang anak gadis bernama Tiara. Tiara merupakan teman kampus Adit dulu. Dia termasuk salah satu mahasiswi yang menyukai Adit. Namun dia memilih diam. Apalagi saat dengan jelas melihat Adit bersama dengan Sasa dulunya.


"Bagaimana tawaran Ibu tempo dulu? Mau kan, Nak?" tanya Bu Mutia. Bu Mutia adalah salah seorang desainer baju. Bahkan baju-baju koleksinya sudah sangat terkenal di kalangan artis. Namun, saat pertama kali melihat Adit yang dekat dengan anak-anak. Entah kenapa, dia berpikir jika laki-laki tersebut sangat cocok dengan anaknya Tiara. Sebab Tiara juga, sangat menyukai anak kecil.


"Jawaban saya masih sama Bu, saya belum ada keinginan untuk menikah." tolak Adit. Asit memang tidak tahu kalau Bu Mutia adalah orang tua dari Tiara.


"Jangan nikah dulu juga gak apa-apa. Kalian kenal saja dulu." paksa Bu Mutia.


"Heh ... Bu, Nak Adit calon mantu ku. Jangan di paksa gitu. Emang anak mu gak laku. Masak mau rebut punya orang." bentak salah satu Ibu-ibu saat mau membayar makanannya.


"Suka-suka aku dong. Emang Adit udah nikah? Belum kan? Jadi ya terserah saya." sahut Bu Mutia sinis.


"Maaf ya Bu-Ibu. Adit calon mantu aku. Bahkan aku merupakan salah satu penyuplai bahan makanan di sini. Jadi, sudah pasti kami dekat. Begitu juga anak perempuan saya dan nak Adit. Mereka sudah seperti pinang di belah dua." sahut Ibu yang lainnya lagi.


"Sudah ya Bu. Aku tidak pacaran sama siapapun. Jadi, aku mohon. Jangan buat keributan di sini." tegas Adit membuat tiga orang Ibu-ibu langsung terdiam.


Setelah membayar makanannya. Dua orang Ibu-ibu lainnya langsung beranjak keluar dari kafe. Sedangkan Bu Mutia baru datang. Cuma dia sengaja menemui Adit di kasir. Hanya untuk mencari tahu jawaban atas pertanyaannya beberapa hari lalu.


Bu Mutia sedang menunggu anaknya Tiara. Tiara baru pulang dari kampus. Dia langsung menuju ke kafe yang di sebutkan oleh Ibunya. Dia baru pertama kali ke sana. Karena Tiara merupakan salah satu orang yang malas pergi ke tempat viral. Sebab dia membayangkan, jika tempat itu pasti sesak dan ramai.


Tak lama kemudian Tiara datang. Dia mengedarkan pandangannya ke segala sudut. Namun, pas melihat ke tempat pembayaran. Jantungnya memompa lebih cepat. Lututnya seolah-olah hilang. Dan itu berhasil membuat dia gemetaran. Padahal, yang di lihat Tiara adalah sosok punggung Adit. Namun, Tiara dapat mengenalinya bahkan hanya melihat bayangan Adit saja.

__ADS_1


Bu Mutia, yamg melihat anaknya memandang ke arah Adit. Tersenyum bangga. Dia dapat merasakan tatapan memuja dari anaknya untuk Adit. Padahal yang di tatapnya hanya lah punggung Adit saja. Buru-buru Bu Mutia melangkah ke arah Adit. Dia menyuruh Adit untuk memutar tubuhnya. Dengan mengatakan. seseorang mencarinya. Adit yang penasaran, langsung memutarkan tubuhnya.


Deg ...


__ADS_2