
"Ooo jadi kalian punya hutang. Baiklah, biar sekarang aku main-main dulu sama keluarga kalian." gumam Anwar.
Akhirnya Anwar pergi meninggalkan rumah Burhan, sebelumnya dia sudah menelpon preman tersebut untuk berhenti. Karena, dia tidak ingin Burhan menjemput kematian dengan mudah.
"Mas gak apa-apa?" tanya Anita pada Burhan.
"Gak apa-apa bagaimana. Ini semua gara-gara kamu. Kamu yang selama ini foya-foya." bentak Burhan.
Anita yang tidak terima di bentak, langsung meradang. "Enak aja ya Mas. Ini semua gara-gara kamu. Kamu yang terlalu percaya pada temanmu. Sampai-sampai kita ketipu." seru Anita.
Nadin yang baru saja pulang. Hanya memandang jengah pada orang tuanya. Padahal Papa sedang terluka. Namun, dia tidak peduli.
"Nadin." panggil Burhan.
"Ada apa sih Pa." jawab Nadin duduk di sofa.
"Kamu cari lah, kerja. Papa gak tau harus kerja apa. Karena sekarang Bapak jadi pengganguran."
"Sekarang aku memang kerja Pa. Memangnya Papa gak lihat kalo aku selalu keluar malam." ujar Nadin menyilang kan, kakinya.
"Kamu carilah, kerja yang bener. Atau kamu carilah suami orang kaya. Nanti bisa mengangkat derajat kita." ucap Anita.
"Sebenarnya aku memnag lagi dekat dengan seorang pengusaha. Namun, dia sudah menikah. Belakangan ini dia memintaku untuk jadi yang ke dua." ucap Nadin.
"Jangan, suruh dia menceraikan istrinya dahulu. Baru kalian menikah. Karena biasanya jadi yang ke dua selalu di tinggalkan." kata Anita.
"Sudah lah, Ma. Aku gak ingin menikah. Aku hanya ingin morotin hartanya. Nanti malam dia berjanji akan membeli ku, berlian."
"Bagus. Kamu jangan menikah dulu. Bantu Papa lunasi hutang dulu."
"Hutang Papa terlalu banyak." keluh Nadin.
"Kan bayar sedikit-dikit dulu." jawab Anita.
__ADS_1
"Baiklah." beranjak masuk kamar.
Nadin sekarang bekerja sebagai pemandu karoke. Dari sana lah, dia mengenal seorang lelaki yang umurnya sepantaran Burhan. papanya. Namun, dia tidak peduli. Yang penting dia bisa membeli apapun yang dia mau. Lelaki tersebut adalah seorang pengusaha. Namun, dia mengaku kesepian. Karena istrinya sibuk dengan teman-teman sosialitanya. Maka bertemu dengan Nadin. Menjadikannya merasa lebih muda dan di butuhkan. Namun, dia tidak bisa menceraikan istrinya. Karena menjaga nama baik dari ke dua belah pihak.
Nadin, tentu saja menolak menikah. Sebab dia trauma karena dua kali di ceraikan. Namun, dia juga tidak mau melepaskan pengusaha tersebut. Makanya dia memberi syarat agar lelaki tersebut menceraikan istrinya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Beberapa hari kemudian. Anwar mendatangi keluarga Nadin. Sebab dia sudah tidak tahan, dengan kebenaran yang di ketahui nya. Kebetulan di sana Nadin juga berada di rumah.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Burhan sinis. Burhan sedang ngopi di teras depan.
Anwar tersenyum mendengar pertanyaan Burhan. "Emangnya kenapa? Takut kalau aku ke sini?" ujar Anwar.
Nadin yang sedang berada di ruang tamu. Langsung keluar karena mendengarkan suara Anwar.
"Mas ..." panggil Nadin.
Nadin hanya tersenyum remeh mendengar ucapan Anwar. "Ada apa?" tanya Nadin.
"Aku, mau memperdengarkan ini." memperlihatkan hasil cctv yang di beli oleh Anwar pada pemilik warung yang pernah di singgahi oleh dan dirinya. Awalnya memang pemilik tersebut menolak Anwar.Namun, Anwar tidak ragu membelinya dengan harga lima juta. Dan itu berhasil membuat pemilik tersebut goyah.
Burhan menatap marah pada putrinya. Sedangkan Nadin hanya bisa membuka mulut kaget. Juga melihat takut-takut pada Papanya.
"Kalian tahu. Kalian bisa aku laporkan. Dengan tuduhan penyebar vidio asusila dan kalian akan mendapatkan. Ancaman pidana dari Pasal 27 ayat (4) UU ITE tersebut diatur dalam Pasal 45 ayat (4) UU 19/2016 yaitu pidana penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak satu miliar." teriak Anwar.
Burhan dan Nadin terkejut. Namun, sejurus kemudian Burhan tersenyum remeh. Sebab dia merasa tidak menyebarkan vidio tersebut. Anwar yang menangkap Burhan tersenyum, hanya merasa heran.
"Kenapa dia sama sekali tidak takut." batin Anwar.
"Aku tidak menyebar vidio tersebut. Jadi kamu tidak bisa melapor ku." cibir Burhan.
"Balik lah, bagaimana kalo aku laporkan atas kasus merekam vidio orang tanpa izin? Itu juga bisa loh Pak Burhan yang terhormat."
__ADS_1
"Ja-jangan. Apapun yang kamu inginkan akan aku lakukan. Tapi tolong jangan laporkan kami." ucap Burhan takut.
"Baiklah, aku ingin kalian memberikan aku uang seperti gaji ku saat bekerja. Di tambah dengan penghasilan ku di bengkel. Bagaimana?" tanya Anwar. "Itu sepadan kan? Karena kalian aku kehilangan semuanya." lanjut Anwar lagi.
"Gila kamu Mas. Kami mana ada uang sebanyak itu. Lagian sekarang kami sudah gak mampu seperti dulu. Coba lihat. Papa udah gak kerja lagi. Mobil-mobil gak ada satupun di garansi. Dan rumah ini juga sudah kami pasang pamflet untuk dijual. Jadi, mana sanggup kami membayar kamu uang setiap bulannya." berang Nadin. Karena mengetahui berapa uang Anwar setiap bulannya.
"Hah ... semiskin itu kalian sekarang ya. Baiklah, bagaimana kalo kamu jual diri saja. Bukan kah itu keahlianmu?" mengelus pipi Nadin. "Atau kamu bisa melayaniku." tawar Anwar lagi.
"Baiklah, Nadin bawa Anwar masuk ke dalam." seru Burhan.
"Papa ..."
"Jadi, kamu lebih senang Papa di penjara? Berkorban lah Nadin." tekan Burhan.
Akhirnya, Nadin dengan terpaksa membawa Anwar masuk ke kamarnya. Anwar melihat suasana kamar Nadin banyak berubah. Mulai dari warna sampai dengan dekor.
"Tidak mempunyai uang. Tapi bisa mengubah dekor kamar." sindir Anwar.
"Cepetan, biar kamu bisa meninggalkan rumah ini lebih cepat." tanpa merespon ucapan Anwar.
Anwar yang sudah lama tidak mendapatkan pelayanan. Langsung melakukannya. Nadin memang keberatan. Namun, lama kelamaan dia pun, ikut menikmatinya.
"Ternyata sekarang, kamu masih nakal ya. Buktinya ada beberapa bekas orang lain di tubuh mu." setelahnya Anwar langsung tertidur pulas.
Nadin, yang mendengarkan ucapan Anwar hanya melengos. Kemudian dia bangkit untuk membersihkan diri. Dan meninggalkan Anwar yang terlelap.
Setelah membersihkan diri. Nadin pun memilih untuk tidur. Namun, dia tidur di sofa yang berada di kamarnya.
Sedangkan Burhan dan Anita. Di luar kamar sangat cemas. Anita yang baru saja pulang dari pasar mendapatkan kabar kalau Anwar sudah mengetahui semuanya. Anita pun, sangat takut. Jika mereka sampai di penjara.
"Tau begini. Lebih baik, kita minta tebusan saja waktu itu." keluh Anita pada suaminya.
"Papa juga menyesal Ma. Tapi, semoga saja Nadin bisa meluluhkan Anwar. Lebih bagus lagi kalau sampai mereka rujuk. Sudah bisa di pastikan kita aman." kata Burhan.
__ADS_1