
"Mas, kenapa sih. Ibu mu sekarang kayak resek gimana gitu. Masak dia jelek-jelekin aku depan Vina." adu Nadin.
"Jelek-jelekin bagaimana?" tanya Anwar malas.
"Dia gatain aku tidak sayang anak. rena tidak memberinya ASI." jawab Nadin.
"Tapi memang benarkan? Kamu lebih memilih badanmu daripada anakmu Rania." jawab Anwar.
"Tapi kamu juga setuju Mas. Gimana sih." omel Nadin.
"Udahlah. Aku capek mau tidur." ucap Anwar lagi.
"Mas." panggil Nadin. Tanpa dihiraukan Anwar.
Sedangkan di hotel. Syahril, gugup, melihat penampilan Sarah yang baru saja keluar dari kamar mandi. Sarah mengunakan lingerie dengan belahan d*da rendah. Juga punggung yang terekspos sempurna, dengan tali kecil yang melingkar di lehernya serta menambah kesan mewah karena warna merah menyala di kulitnya yang putih.
Begitu juga dengan Sarah. Sebenarnya dia malu. Tetapi dia ingin memberikan yang terbaik untuk suaminya. Apalagi saat menerima kado dari Vina. Vina berbisik agar dia memakainya sebagai hadiah untuk Syahril.
"Kenapa dengan kerongkonganku?" batin Syahril. Soalnya dia tidak bisa lagi menelan ludah.
"Dan, kenapa aku gemetar. Ini lagi AC-nya. Kenapa tiba-tiba rusak." gumam Syahril.
Sarah mendekati Syahril. Padahal dia ingin agar Syahril yang mendekatinya. Tetapi sejak dia keluar dari toilet, Syahril berubah menjadi mayat hidup. Pucat juga gemetaran.
"Mas, kenapa? Apakah aku membuatmu takut?" ucap Sarah lembut.
Syahril hanya mampu mengerakkan tangannya sebagai tanda bukan dan menggelengkan kepalanya.
"Jadi?" ucap Sarah lagi. "Kenapa Mas jadi gemetaran sama pucat begini?" lanjut Sarah.
"Mas. Ya udah aku ganti baju dulu." jengkel Sarah.
Langsung ditarik tangan Sarah oleh Syahril.Β
"Maaf, jangan marah. Mas hanya terpana juga terpesona. Mas pikir tadi bidadari, dari mana. Makanya Mas syok." ucap Syahril. "Kan Mas nikahnya sama kamu." lanjut Syahril.
"Kamu cantik. Terimakasih." ujar Syahril.
Kemudian terjadilah malam dimana semua pengantin ingin menikm*ti juga merasakan rasa penasaran mereka selama ini.
Ditempat lain, pengantin lama pun tak mau kalah dengan pengantin baru. Vina juga datang pada suaminya dengan balutan baju seksinya.
__ADS_1
"Mas, bagaimana kalo kita pulang ke kampung Sentosa. Sudah lama kita gak ke sana. Terakhir saat kita baru-baru nikah." tawar Vina. "Lagian aku rindu Ibu. Semalam aku juga mimpiin Ibu. Dia mengatakan rindu." kata Vina.
"Bulan depan ya sayang. Bulan ini Mas gak bisa. Gak apa-apa ya." seru Iqbal.
"Aku ke sana sendirian saja." kata SarahΒ
"Jangan, pokoknya kita pergi berdua." ucap Iqbal. "Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa. Karena aku tidak mau berpisah lama denganmu. Jadi kemanapun kamu ingin pergi. Kita akan pergi bersama." ujar Iqbal menyatukan napasnya.
"Kamu cantik, terimakasih karena sudah mendengarkan permintaanku." ujar Iqbal lagi. Kemudian mereka melakukan kewajiban mereka sebagai suami istri.
πππππ
"Mas, aku butuh uang. Untuk jalan sama teman." pinta Nadin menadahkan tangannya.
"Bukannya semalam sudah ya." ujar Anwar.
"Udah habis Mas, semalam cuma untuk ke salon. Sekarang beda lagi." ucap Nadin.
"Kenapa kamu gak hemat sih? Kamu tau gak? Sekarang aku lagi merintis usaha baru. Jadi uangku semua udah habis." ucap Anwar. Sekarang Anwar lagi membuka bengkel. Karena dulu sebelum kerja di kecamatan dia sudah pernah kerja di bengkel.
"Aku gak mau tau, pokoknya uangnya harus ada." tegas Nadin.
"Kamu ini kenapa sih? Kan udah aku bilang. Semua uangku udah habis. Ngerti gak sih HABIS." teriak Anwar menekan kata habis. "Lebih baik, kamu tidak usah jalan sama teman-temanmu itu. Kamu urus saja rumah beserta Rania. Jika memang kamu ingin sekali pergi dengan temanmu. Mintalah uang pada orangtuamu." berang Anwar.
"Kamu kenapa? Kayak lagi ada masalah." ujar teman Nadin. Menyerahkan sebotol minuman sodaΒ
"Lagi kesal saja sama Mas Anwar." jawab Nadin.
"Bagaimana kalau kita cari hiburan saja." ujar teman Nadin.
"Gak usah, aku ke rumah orangtuaku saja." sahut Nadin. Sebab dia tau apa yang di maksud hiburan oleh temannya. Yaitu pergi ke bar lalu minum-minum sambil mencari mangsa. Itulah yang di katakan hiburan oleh temannya yang bernama Winda.
"Ayo lah, lagian disana nantinya, kamu akan bisa melupakan semua masalah mu." ajak Winda memaksa. "Aku janji, gak bakalan apa-apakan kamu." ujar Winda meyakinkan Nadin.
Akhirnya Nadin luluh. Karena diapun, akhir-akhir ini banyak masalah dengan Anwar.
Nadin belum pernah datang ke dan juga minum-minuman beralkohol. Itu pertama kali selama hidupnya. Saat pertama kali masuk. Dia tidak nyaman dengan suara musik yang besar. Kemudian dengan mata-mata orang yang memandangnya seperti makanan. Padahal dia memakai baju cukup sopan. Menurut versinya Winda.
Nadin memakai dress bawah lutut dan lengan yang panjang. Cuma punggungnya yang terekspos sebagian. Itupun baju Winda yang paling tertutup menurut Winda sendiri.
"Kamu cantik Din, makanya banyak yang lihatin kamu." kata winda di telinga Nadin.
__ADS_1
"Tapi gua risih Win. Apalagi bapak-bapak yang itu." tunjuk Nadin pada sekelompok Bapak-bapak berumur 50 tahun ke atas.
"Gak apa-apa. Jangan di hiraukan. Mereka gak akan berani macam." ujar Winda. "Yuk, aku kenalin sama teman-teman aku." ajak Winda, menarik tangan Nadin ke sebuah ruangan yang agak jauh dari aula tempat keramaian.
"Baru tau aku, kalo bar seluas ini Win." ucap Nadin mengikuti langkah Winda.
"Lo sih, kampungan. Gua ajak kesini kagak pernah mau." sahut Winda.
"Aku dilarang Mama Papa Win." bela Nadin. "Makanya, aku harap kamu jangan beritahu Mas Anwar sama orangtuaku." harap Nadin.
"Tenang." sahut Winda.
Sedangkan Anwar di rumah lagi kelabakan. Pasalnya anaknya rewel sejak tadi, akibat demam. Saat Nadin ditelpon, nomornya tidak aktif. Dan saat Anwar menelpon Mama Papanya mereka mengatakan Nadin tidak di rumah. Karena merekapun, sedang berada di tempat acara temannya.
Pembantu di rumah pun tidak ada yang tau. Ke mana Nadin pergi.
"Benar-benar kamu Nadin. Lihat aja nanti kalo kamu sudah pulang." ancam Anwar.
Akhirnya Anwar menelpon Ibunya. Saat Bu Fatma datang. Dia panik melihat keadaan Rania seperti kesulitan bernapas. Dan Bu Fatma langsung mengajak Anwar membawa Rania ke rumah sakit.
"Nadin memangnya kemana?" geram Bu Fatma. Sekarang mereka sedang berada di rumah sakit. Rania sedang ditangani oleh dokter.
"Entahlah Bu, tadi kami terlibat pertengkaran kecil. Setelah itu dia keluar. Dan nomor nya pun gak bisa dihubungi." jelas Anwar.
Bu Fatma hanya menghela napas. Dia tidak ingin ikut campur lagi urusan rumah tangga anaknya. Karena sekarang dia sudah cukup merasa bersalah, saat rumah tangga Vina dan Anwar hancur karena hasutannya dulu.
"Nanti coba dihubungi lagi. Siapa tau sudah aktif." pinta Bu Fatma.
Kemudian dokter keluar dari ruang pemeriksaan Rania. Dia mengatakan jika Rania mengalami asma. Dan demam serta diare. Itu termasuk salah satu penyakit sangat berbahaya dan mematikan. Jadi, Rania harus dirawat untuk pemeriksaan lebih lanjut.
πππππ
"Ini minuman mu. Sudah aku pesan kan." ujar Winda mendorong segelas minuman pada Nadin. Tadi Nadin baru saja kembali dari toilet.
"Makasih. Tapi aku tidak minum alkohol." ucap Nadin.
"Tenang saja, ini cuma jus kok. Ya gak guys?" kata Nadin pada teman satu ruang dengan mereka.
Padahal itu adalah jus yang telah dicampur obat tidur oleh Winda. Karena tadi saat Nadin ke toilet. Seorang bapak-bapak yang sedari tadi menatap Nadin menghubungi Winda. Karena bapak tersebut, tertarik dengan kecantikan Nadin. Karena Winda tipe teman yang memiliki sifat uang adalah segalanya. Tentu saja dia tidak mengkhawatirkan Nadin.
"Pulang saja yo Win, aku ngantuk nih." ajak Nadin sesaat setelah minumannya habis.
__ADS_1
"Ok." sahut Winda.