Bercerailah, Bunda

Bercerailah, Bunda
episode 49


__ADS_3

Pak surya, seorang rentenir yang menyukai wanita-wanita seksi. Dia seorang pengusaha yang belum menikah. Umurnya sudah mendekati kepala 6. Nikah baginya adalah terikat. Makanya, dari pada terikat lebih baik menjalin hubungan dengan orang-orang terpilih. Saat hutang orang tua Nadin jatuh tempo. Pak surya tidak menagihnya. Karena dia pernah ditolong oleh orang tua Nadin tempo dulu.


Saat dulu, dia pernah bertandang ke rumah orang tua Nadin. Disitulah, dia melihat foto-foto Nadin. Dan dia pernah berkata. Jika suatu saat orang tua Nadin memerlukan uang, dan saat bayarnya tidak mampu. Maka bisa ajukan Nadin sebagai gantinya.


Orang tua Nadin, dulu menganggap jika itu hanya lelucon. Namun, saat mereka teringat akan ucapan tersebut. Makanya mereka mencoba menawarkan kembali. Pak surya pun, menerimanya dengan senang hati.


"Hanya untuk satu malam. Setelah itu, kami tidak akan menyusahkan mu lagi." ujar Papa Nadi di telpon, saat mengajukan syarat agar mereka terlepas dari hutang.


"Papa tega ngejual aku?"


"Terus kamu tega membuat orangtuamu dipenjara?"


"Baiklah, berikan alamatnya." ujar Nadin setelah berpikir sesaat.


Pada malam, di saat Rasti menjebak Anwar. Nadin pun menuju apartemen Pak Surya. Dia dibuat kagum dengan isi apartemen tersebut. Apalagi setelah menyelesaikan tugasnya. Nadin diberikan sejumlah uang, sebagai tanda terimakasih dari Pak Surya. Tentu dengan pesan, jika suatu saat Nadin memerlukan uang. Maka datang lah, padanya. Karena Pak Surya menyukai pelayanannya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Rasti, memberanikan diri untuk menghubungi Anwar. Dia berdalih, enggak enak badan. Makanya dia meminta Anwar untuk menemaninya barang sesaat. Karena dia membutuhkan teman.


Rasti, tinggal di tempat berbeda dari orangtuanya. Karena dia ingin kebebasan. Orangtuanya terlalu sibuk menanyakan kapan dia menikah lagi. Karena mereka tidak mau menanggung pengeluaran Rasti.


Anwar yang baru saja keluar dari kantor membaca chat dari Rasti. Dia langsung menuju ke tempat Rasti. Dan memberitahu Nadin. Jika dia ada urusan diluar dengan kepala camat baru, mungkin akan pulang larut malam.


Nadin, yang mengetahui jika Anwar gak pulang. Menggunakan kesempatan untuk bertemu Pak Surya. Karena dia sedang mengincar sebuah tas keluaran terbaru, untuk di pamerkan pada teman-teman arisannya.


"Ini obat yang kamu minta." ujar Anwar. Dia memberikan obat yang sebelumnya disuruh beli oleh Rasti di apotik.


"Makasih, aku ke dapur dulu mau minum obat."


Anwar duduk sendiri di ruang tamu. Rumah Rasti tidak lah, terlalu besar. Setelah satu jam menunggu, Rasti telah mandi. Dengan hanya memakai kimono, dia menghampiri Anwar. Anwar menelan ludah kasar. Bayangan tubuh seksi Rasti tiba-tiba terlintas begitu saja.


Rasti memperhatikan Anwar yang mulai gelisah. Dia mengunakan kesempatan untuk merayu Anwar kembali.


"Mas, sejak malam itu sebenarnya aku ... eumm, maaf." Anwar hanya bergeming mendengar ucapan Rasti. Dia bisa menangkap gelagat aneh tubuh Rasti. Tanpa pikir panjang Anwar langsung menarik Rasti ke pelukannya. Dan mereka melakukan lagi hubungan yang tak seharusnya.


Di apartemen Pak Surya, Nadin baru saja sampai. Dia, diberikan akses mudah untuk memasuki apartemen nya.


Sebelum ke sana, tentu saja Nadin, sudah memberitahukan nya pada Pak Surya.


"Hai Pak," sapa Nadin. Dia menemukan Pak Surya sedang minum di balkon.


"Apa yang ingin kamu beli? heumm ..." ujar Pak Surya tanpa menoleh pada Nadin.


"Bagaimana anda tau, kalo aku ingin membeli sesuatu?" ujar Nadin mendekati Pak Surya. Dia duduk tepat di pangkuan Pak Surya.


"Bukankah kamu ke sini karena uang?" ujarnya membelai wajah Nadin.


Nadin hanya tertawa mendengar pertanyaan Pak Surya. Lantas dia menganggukkan kepalanya.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Bunda dan Bapak perhatikan, akhir-akhir ini kamu terlihat lebih semangat dan bahagia. Apa ada hal yang kami lewati?" ucap Vina pada Saka. Sekarang mereka lagi menyantap makan di kafe tempat Saka. Karena tadi, Iqbal dan Vina memutuskan untuk menghabiskan waktu di luar.


Mendengar pertanyaan dari Bundanya, Saka hanya menunduk dan tersenyum.

__ADS_1


"Ada apa heum ...?" ujar Vina lagi.


"Dia pasti sedang jatuh cinta sayang. Lihatlah wajahnya yang memerah." ucap Iqbal.


"Benarkah? Siapa?" tanya Vina antusias.


"Dia Gina, seorang mahasiswi di kampus vvv. Kami mulai pacaran sejak sebulan lalu." memberanikan diri menatap Bunda dan Bapaknya. "Tapi aku mohon, kalian jangan dulu menemuinya. Atau mencari tau tentangnya." ucap Saka.


"Tenanglah, Bunda takkan seperti itu. Kapanpun kamu siap. Kenalkan dia pada Bunda. Bunda senang, berarti anak Bunda normal." canda Vina, membuat Iqbal tertawa.


"Kami ingin memberitahukan, mungkin besok pagi. Kami akan ke tempat Abang mu Adit. Karena 2 hari lagi adalah hari pembukaan. Jadi, kami datang lebih awal untuk membantu mempersiapkan apa-apa yang diperlukan." ujar Iqbal menatap Saka.


"Baiklah, aku menyusul sehari sebelum acara." ucap Saka menikmati minumannya. " oh ya ... bolehkah aku ngundang Gina, Bun?" tanya Saka.


"Tentu saja boleh." ucap Vina.


Hari pembukaan telah tiba. Setelah memberikan kata sambutan pada pengunjung. Kafe dengan nama IdanV cabang ke 2 segera dibuka. Mereka mengadakan diskon 50% di setiap menu.


"Mana pacar mu? Kata Bunda kamu ngundang dia." tanya Adit pada Saka.


"Dia gak mau datang. Malu. Mungkin lain kali. Lagipula hubungan kami baru saja dimulai. Abang masih jomblo?" tanya Saka balik.


"Aku pernah menyukai seorang gadis. Namun, keluarganya tidak merestui. Jadi, ya. Aku ikhlaskan saja." seru Adit.


"Terus, Abang gak berjuang, untuk mendapat restu?


" Nggak, karena baru sebatas saling menyukai. Dan belum pacaran. Lagipula sekarang aku udah bisa melupakannya."


"Parah lu Bang. Harusnya kamu berjuang dulu. Buktikan padanya. Nanti lama-kelamaan orangtuanya pasti akan luluh, melihat perjuanganmu."


🍁🍁🍁🍁🍁


"Mas, bagaimana kelanjutan hubungan kita?" ujar Rasti di pelukan Anwar. Sekarang hubungan mereka sudah berjalan satu bulan.


"Kita jalani saja dulu seperti ini. Aku harap, kamu juga bisa menjaga agar hubungan ini tetap aman."


"Baiklah, tapi aku minta uang. Uang belanja ku udah habis."


"Tenang nanti aku transfer. Aku mau pulang dulu."


Hubungan Anwar dan Nadin sudah mulai menjauh. Mereka sama-sama sibuk dengan dunianya. Nadin, mulai jengah terhadap Anwar. Pasalnya, uang yang diberikan Anwar selalu saja kurang. Bahkan tidak cukup untuk menopang hidupnya.


"Mas, aku minta uang. Mau ikut arisan." ujar Nadin di pagi minggu, Anwar sedang ngopi di teras.


"Kan udah aku kasih kemarin Na. Jangan boros-boros. Bengkel sedang sepi."


"Seminggu yang lalu Mas, bukan kemarin." tekan Nadin.


"Berapa?"


"3 juta." ucap Nadin.


"Gak ada, adanya 1 juta."


"Mas." rengek Nadin.

__ADS_1


"Ya udah kalo gak mau." masuk ke dalam meninggalkan Nadin.


Sebenarnya Nadin memiliki uang. Namun, dia sengaja meminta pada Anwar. Supaya Anwar tidak curiga terhadapnya.


Anwar, memutuskan keluar rumah. Dia beralasan ingin mengunjungi Ibunya. Padahal dia mau menemui Rasti di kediaman Rasti.


Setelah memastikan Anwar berangkat. Nadin pun pergi menemui Pak Surya. Namun, siapa sangka, jika Pak Surya sudah mulai bosan terhadap Nadin. Ia ingin menyerahkan Nadin kepada temannya yang lain. Nadin yang tak tau akan rencana tersebut. Malah senang di ajak ke hotel oleh Pak Surya. Pak Surya beralasan, jika ia bosan bermain di apartemen terus. Ia ingin mencari suasana baru, dengan mengajak Nadin ke hotel.


"Kamu tunggulah, disini. Aku ke bawah dulu. Mau ngambil uang dari orang bayar hutang." ucap Pak Surya, menyerahkan paper bag. "Pakailah. Karena dengan baju ini kamu akan terlihat lebih seksi." Pak Surya langsung pergi meninggalkan Nadin sendiri.


Saat Nadin masih di kamar mandi. Seseorang memasuki kamar tersebut. Dia dengan sabar menunggu Nadin keluar. Beberapa saat kemudian Nadin keluar menggunakan lingerie. Matanya ditutup mengunakan tangan lelaki itu.


"Pak, sudah kembali." ucap Nadin mengelus tangan yang berada di matanya.


"Ka-kamu si-siapa? Kenapa bisa masuk ke sini? Cepat keluar." ucap Nadin takut.


"Tenang lah, aku sudah membayar kamu mahal sama Surya. Jadi, kamu harus melayani aku." ujar lelaki tersebut melepaskan ikat pinggangnya.


Lelaki tersebut merupakan pemilik dari hotel yang sedang di tempati oleh Nadin. Dia juga mempunyai beberapa hotel lagi di berbagai kota. Dia sudah menjadi duda tiga kali. Karena pasangannya tidak ada yang tahan dengan kelainan yang dimilikinya. Ya, lelaki tersebut bernama Faisal. Dia memiliki penyakit yang bernama sadisme.


Sadisme adalah jenisΒ parafilia,Β di mana penderitanya mendapat kepuasan seksual ketika mempermalukan atau melakukan kekerasan terhadap pasangan seksualnya. Bentuk kekerasannya bisa dengan menggigit, mengikat, sampai memukul.


"Ka-kamu mau apa?" tanya Nadin. Saat melihat lelaki tersebut melepaskan ikat pinggangnya. Nadin berlari mendekati ranjang. Dia menarik selimut, guna menutupi tubuhnya.


"Ke marilah, sayang. Kita akan bersenang-senang untuk hari ini." menarik selimut yang berada pada Nadin.


"Tolong," teriak Nadin ketakutan. "Aku mohon, lepaskan aku."


"Teriak lah, sayang. Aku menyukai suara seksi mu. Menjerit lah," menarik rambut Nadin, dan menyeret Nadin, serta melemparnya ke atas kasur.


"Berteriak lah, sepuasnya. Ruang ini kedap suara. Jadi kamu bebas berteriak." mengayunkan ikat pinggang ke tubuh Nadin.


Saat Nadin menangis dan berteriak. Itu memberikan kepuasan untuk Faisal. Dia amat menyukai Nadin yang memohon ampun. Setelah puas menyiksa dan melakukan haknya. Lelaki tersebut tertidur. Dia bahkan tidak peduli dengan Nadin yang pingsan.


Saat Faisal terjaga, dia menatap Nadin yang masih juga belum sadar. Tanpa meninggalkan uang atau apapun itu. Faisal langsung keluar. Karena dia sudah membayar Pak Surya dengan mahal. Makanya, dia tidak memberi uang sepersen pun untuk Nadin.


Setengah jam kemudian Nadin baru sadar, dia merasakan seluruh tubuhnya sakit. Bahkan untuk bangun saja rasanya dia tidak bisa.


"Gimana aku bisa pulang, Mas Anwar pasti curiga melihat tubuhku." batin Nadin setelah melihat tubuhnya di oantulan cermin.


"Awas kamu Pak Surya." ujar Nadin. Bahkan suaranya saja sudah serak akibat menagis dan berteriak.


Nadin, keluar dari hotel. Sekarang dia memakai sweater, pemberian dari petugas pembersih hotel. Itu merupakan perintah dari Faisal.


Di perjalanan, Nadin menelpon Mamanya, agar meminta izin pada Anwar, untuk menginap di rumah mereka. Karena Mamanya berpikir jika Nadin akan keluar bersama Pak Surya. Makanya dia mau menelpon Anwar. Mama Nadin berdalih jika Papa Nadin tidak sehat. Makanya, dia menginginkan Nadin agar berada di sampingnya.


Anwar yang sedang bersama Rasti, tanpa berpikir panjang langsung mengiyakannya.


Kemudian, Nadin sampai di rumah orangtuanya. Tentu saja, orangtuanya kaget melihat penampilan Nadin. Muka dan badannya mengalami luka yang cukup serius. Bahkan mukanya sampai bengkak. Nadin, langsung memeluk Mamanya. Dia menangis sesenggukan.


Nadin menceritakan kejadian yang di alaminya hari ini. Bahkan, dia mengatakan jika Pak Surya lah, yang menjualnya. Setelah di siksa dan di nikmati. Dia tidak mendapatkan sepersen pun uangnya.


Brak ... Pintu di dorong dengan kasar dari luar. Ternyata Anwar mendengarkan semua cerita Nadin. Dia ke sana berniat untuk menjenguk mertuanya. Sekalian mau pamer. Jika ia berhasil menghasilkan uang banyak. Bahkan sekarang, keluarga Nadin lah, yang tidak punya apa-apa.


"Ma-mas." ujar Nadin gugup.

__ADS_1


__ADS_2