
Anwar meratapi nasibnya, dia kehilangan segalanya. Istri, anak, orang tua dan sekarang adalah uangnya. Memang dia masih mempunyai uang tabungan. Namun, itu tidaklah seberapa. Salahnya sendiri. Karena membeli lewat sosial media. Dia telah mentransfer sebagian uang dari hasil jual. Karena kata penjual rumah tersebut. Surat-surat rumah dan sawah akan di urus setelah mereka berdua bertemu. Namun, jangan kan bertemu. Uangnya lah, yang berhasil di bawa kabur .
Anwar, melihat-lihat grup jual beli rumah dari aplikasi facebo*k. Dia tertarik. Karena rumahnya ada di pinggiran desa. Lagi pula, udara di sana kelihatan adem dan segar. Setelah menghubungi nomor yang di cantumkan. Sang pemilik rumah mengatakan menjual rumah karena keadaan terdesak. Sebab, uang tersebut ingin di gunakan untuk biaya operasi anaknya. Karena, mendengar kata anak. Hati Anwar terenyuh, sebab itu mengingatnya pada anaknya Rania, yang telah tiada.
Anwar men transfer, sejumlah uang. Karena pada saat itu dia masih malu untuk keluar, gara-gara vidio asusilanya yang tersebar. Makanya dia melakukan segala transaksi melalui ponsel nya.
Akhirnya, Anwar memutuskan untuk pulang ke rumah dahulu. Di sana, dia akan berpikir akan ke mana selanjutnya. Karena jika melapor pada polisi. Pasti dia harus mengeluarkan uang yang banyak. Lagipula tabungannya tidak lebih dari 100 juta lagi. Makanya dia harus menghemat-hemat uangnya.
Setelah sampai di rumahnya. Sepi, itulah yang di rasa. Anwar memang berniat untuk menjual rumahnya. Karena rumah itu terlalu besar untuk dia sendiri. Baru saja membuka pintu depan rumahnya. Tiba-tiba Rasti muncul dari belakangnya. Rasti langsung memeluk tubuh Anwar dari belakang.
"Kemana saja? Aku rindu." bisik Rasti. Tanpa melepaskan pelukannya.
"Rasti." sapa Anwar, memutar tubuhnya.
"Mas." Rasti tersenyum melihat Anwar.
"Kamu kenapa kesini? Pergilah." ujar Anwar.
"Aku ingin minta pertanggung jawab mu." ujar Rasti berlinang air mata. "Aku hamil." ucap Rasti.
"Ha-hamil?" Anwar terkejut. "Sejak kapan?" tanya Anwar.
"Udah satu bulan Mas." ucap Rasti tersenyum bahagia Karena dia sangat yakin kalau Anwar akan menerimanya kembali. Apalagi jika yang di kandungnya merupakan anak perempuan. Anwar tersenyum sinis. Bisa di pastikan kalau itu bukan lahz anaknya. Sebab terakhir dia berhubungan dengan Rasti ialah empat bulan yang lalu.
__ADS_1
"Kenapa minta tanggung jawab sama aku? Bapaknya kemana?" sinis Anwar.
Rasti kaget, mendengar pertanyaan Anwar. Kemudian, dia baru tersadar. Jika tadi, dia keceplosan karena mengatakan usia kehamilannya baru satu bulan.
"Ini anak mu. Mas." seru Rasti.
"Kamu ingat? Kapan terakhir kalinya kita berhubungan? Itu bukan anak ku. Mintalah, tanggung jawab pada Bapak biologisnya." bijak Anwar.
"Pergi lah, kamu sudah tak di butuhkan." usir Anwar.
"Ta-tapi Mas. Aku mohon menikah lah, dengan ku."bujuk Rasti. " Aku tidak mau, menahan malu. Bapak dari anak ini tidak mau bertanggung jawab. Tolong lah, Mas." mohon Rasti lagi.
"Dengar, pertama dia bukan anak ku. Ke dua, aku tidak sekaya dulu. Dan aku yakin kamu pasti akan meninggalkan ku." ucap Anwar.
Rasti hanya bisa terdiam, menerima penolakan dari Anwar. Dia sengaja meminta tanggung jawab sama Anwar. Karena dulu, Anwar pernah mengatakan kekecewaan pada Nadin. Karena tidak mengurus anak perempuan mereka dengan baik.
Sedangkan Anwar, hanya bisa mengelus dada. "Bisa-bisanya di minta tanggung jawab sama aku." gumam Anwar.
Anwar langsung masuk kamar. Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Padahal perutnya keroncongan. Namun, di rumahnya tidak ada lagi makanan yang bisa di makan. Akhirnya dia memutuskan untuk menemui adiknya Sarah.
Sesampainya Anwar di rumah Sarah. Dia melihat pagar rumahnya tergembok. Berarti Sarah tidak di rumah. Akhirnya Anwar memilih untuk mencari makanan di rumah makan.
Sampainya di sana. Anwar mendengarkan suara yang tidak asing di telinganya. Itu adalah suara Nadin. Mereka tepat berada di belakangnya. Untungnya mereka duduk di batasi dengan dinding. Sebab Anwar ataupun Nadin memilih duduk di bale-bale. Karena duduk lesehan lebih nyaman.
__ADS_1
"Untung Papa ku merekam semuanya. Jadi bisa lah, membuat dia malu seumur hidup." kekeh Nadin.
Deg ...
"Aku sih, bahagia mendengar dia di pecat dari jabatannya. Biar dia tahu rasa. Lagian, siapa suruh selingkuh." papar Nadin lagi. Dan Anwar menduga kalau yang di bicarakan Nadin adalah dirinya.
"Kenapa tidak meminta tebusan aja sih." jawab lawan bicara Nadin.
"Karena uang bisa di cari. Membuatnya malu adalah kesempatan yang susah di cari." sahut Nadin lagi.
Akhirnya Anwar bisa tahu. Kalau yang merekam dan menyebar vidio-nya adalah Papa Nadin. Atau Papa mertuanya dulu. Amarah Anwar pun memuncak. Namun, dia tetap menahan emosi. Sebab dia sedang berada di tempat yang ramai.
"Aku senang, melihat Anwar menderita. Terakhir yang ku dengar. Dia akan menjual rumahnya. Jadi bisa di pastikan kalau dia sudah jatuh miskin. Lagian sekarang dia juga udah tinggal di desa." ujar Nadin sambil terkekeh bahagia.
Tak lama kemudian Nadin meninggalkan bale tersebut. Terbukti dengan penggerakan yang menyebabkan bunyi dari bale tersebut. Akhirnya Anwar memutuskan untuk melanjutkan makan. Sebab perutnya sudah tidak bisa di ajak kompromi.
Setelah membayar sejumlah uang. Anwar langsung menuju rumah Nadin. Di perjalanan dia sudah menghubungi beberapa orang preman bayaran. Dia ingin memberi pelajar pada orang tuanya Nadin.
Anwar hanya melihat dari taksi yang di tumpanginya. Bahwa Papa Nadin sedang di bikin babak belur oleh orang-orang yang di bayar olehnya. Sedangkan Mama Nadin, hanya berteriak histeris. Namun, para tetangga di sana seolah abai akan keributan yang terjadi di sana. Karena penasaran dengan respon tetangga. Akhirnya Anwar memanggil salah seorang warga untuk bertanya ada apa. Sebelumnya Anwar sudah memakai masker dan kacamata.
"Maaf Bu, itu kenapa ya ribut-ribu." tanya Anwar menunjukkan rumah Burhan.
"Oo ... itu palingan rentenir Mas. Karena mereka terlibat pinjaman yang banyak." sahut Ibu tersebut singkat.
__ADS_1
Dan Anwar bisa menyimpulkan masalah yang sedang berada di keluarga Nadin.