
Anwar menduduki sofa yang sama dengan Adit. Dia merasakan aura tidak bersahabat dari pandangan mata anaknya.
"Ada apa?" setelah sejenak sama-sama hening.
"Ayah ingin meminta maaf." melihat ke arah Adit yang memicingkan matanya. "A-ayah, ingin kalian memaafkan Ayah." ucap Anwar terbata.
"Ayah tahu, jika kesalahan Ayah sudah banyak. Mungkin kalian juga tidak akan pernah melupakannya. Namun, Ayah sungguh-sungguh meminta maaf."
"Yakin, cuma mau minta maaf? Bukan karena ada maksud lainnya, kan?" tanya Adit.
Anwar yang dutanya begitu terkejut. Sekaligus kecewa. Sebab anaknya sendiri tidak mempercayainya lagi.
"Ayah, beneran minta maaf. Karena setelah ini Ayah akan pergi jauh. Cuma, Ayah ingin, sebelum pergi mendapatkan maaf dari kalian."
"Maukah kamu memaafkan Ayah? Tadi, Ayah juga meminta maaf pada Saka. Dan Ayah yakin, dia memaafkan Ayah. Begitu juga dengan kamu. Ayah ingin kamu juga mau memaafkan Ayah."
"Baiklah, tapi aku harap. Ayah jangan pernah ikut campur dan menyusahkan kami anak-anak Ayah. Tolong, jangan pernah lagi mendekati Bunda. Karena aku tahu, tadi Ayah juga mau menemui Bunda kan?" tanya Adit. Sebelumnya dia di telpon oleh Saka. Memberitahukan kalau Anwar ke sana.
Anwar keluar dari ruangan Adit. Dia memutuskan untuk kembali ke rumah Sarah. Dia ingin menumpang tinggal di sana. Karena Anwar yakin. Sarah pasti menerimanya.
Ditempat lain, Vina sedang dalam perjalan pulang dari singapura. Sekarang mereka sudah sampai di bandara. Vina sedang duduk di kursi tunggu. Kerena Iqbal izin ke toilet.
"Vina ya" sapa seorang lelaki yang tidak jauh dari Vina duduk.
"Ya. Maaf, tapi anda siapa?" tanya Vina.
"Ampunnn, Vina. Ini aku loh. Fikar. Anak dari Pak Udin. tempat kamu kerja dulu." ujar Fikar.
"Oo ... ingat-ingat. Habis, penampilannya jauh berbeda Mas. Bagaimana keadaan Pak Udin Mas." tanya Vina.
"Hehehe, bisa aja kamu Vin. Bapak udah lama meninggal. Ibu sekarang lagi sakit-sakitan. Maklum udah tua." ucap Fikar.
"Innalilahi ... Maaf Mas, aku gak tahu."
"Gak apa-apa, santai. Kamu ngapain disini. Lagi nunggu siapa?"
__ADS_1
"Lagi nunggu suamiku Mas. kebetulan, dia lagi ke toilet."
Deg ... "Kamu udah nikah?" tanya Fikar terkejut. Vina bisa merasakan aura kesedihan di wajah Fikar. "Ternyata selama ini, harapan dan penantian ku sia-sia." gumam Fikar tak dapat di dengar oleh Vina.
"Bagaimana dengan mu. Apakah Mas udah menikah?"
"Belum. Karena sampai sekarang aku masih menunggumu Vin. Bukan kah dulu aku pernah berjanji akan menikahimu setelah Ibu setuju?" tanya Fikar.
Vina tercekat. "Ma-maaf Mas."
"Tidak apa. Kamu tidak salah. Tidak mungkin juga kan, kamu menungguku seumur hidup. Lagi pula aku sudah mencari mu selama ini. Dan hari inilah, kita baru bertemu." bijak Fikar.
"Dokter." sapa Fikar. Vina langsung menoleh.
"Eh ... Pak Fikar. Kok di sini." ucap Iqbal langsung merangkul Vina.
Fikar menatap rangkulan Iqbal tanpa berkedip.
"Mas." menatap heran pada Fikar. "Ooo ... kenalin ini istri saya Vina." ujar Iqbal menatap mesra istrinya. "Dan ini Pak Fikar. Dia salah satu anak dari pasien Mas, di rumah sakit." terang Iqbal pada Vina.
"Kami udah saling kenal kok Mas. Kebetulan Mas Fikar ini anak dari pemilik tempat, aku kerja dulu." jelas Vina dan Iqbal hanya mengangguk-angguk kan kepala.
Kemudian Vina dan Iqbal pun pamit pergi. Tinggal lah, Fikar sendiri. Menunggu teman? Bukan, itu hanya alasannya. Tadi, dia sedang duduk. Namun, saat melihat sekeliling, tidak sengaja dia melihat Vina. Cinta pertamanya dulu. Walaupun Vina sudah berhijab. Fikar tetap mengenalinya sebab foto Vina dari masih gadis sampai sekarang masih tersimpan di dompetnya.
"Ternyata hanya aku lah yang mencintaimu. Semoga saja kamu bahagia." batin Fikar, menatap kepergian Vina dalam genggaman tangan dr. Iqbal.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Tadi, sayang sama Pak Fikar ngomong apaan sih? Mas lihat kok seru." tanya Iqbal. Sekarang mereka sudah sampai rumah. Dan Iqbal baru saja selesai mandi.
"Cuma basa-basi biasa Mas. Bertanya apakah benar aku Vina." sahut Vina melihat pantulan suaminya dari cermin. Sedangkan dirinya sedang menyisir.
"Aku cemburu loh." mencium pucuk kepala istrinya. Vina hanya terkekeh pelan. Dia bahagia mendengar kata cemburu dari bibir suaminya. Karena yang Vina tahu. Cemburu adalah cinta.
"Aku takut kamu tergoda. Apalagi Pak Fikar itu kaya. Dan dia belum pernah menikah." terang Iqbal.
__ADS_1
"Kamu saja sudah membuatku jatuh cinta setiap kalinya. Jadi, mama mungkin aku bisa meninggalkanmu." kekeh Vina memutar tubuhnya. Kemudian memeluk suaminya. Dan Iqbal, langsung mengambil kesempatan. Dia membawa Vina di atas pembaringan.
Iqbal selalu saja tergila-gila terhadap istrinya. Begitu juga dengan Vina.
🍁🍁🍁🍁🍁
Sarah kedatangan Anwar. Dia selalu saja menerima Masnya. Apalagi saat mendengar cerita tentang Masnya kena tipu. Sarah langsung merasa kasihan. Dia meminta Syahril untuk mencari orang tersebut. Namun, Syahril menolak. Sebab dia masih sakit hati karena pertengkaran tempo dulu. Sarah pun tidak lagi memaksa suaminya.
Sarah berniat membagikan hasil tabungan Bu Fatma dengan Masnya. Sebab dia juga tidak mungkin membiarkan Masnya terlalu lama bersamanya. Apalagi tabungan Bu Fatma banyak. Sarah tidak mungkin menghabiskannya sendirian. Sebab mereka sama-sama anak Bu Fatma.
"Mas, setelah kepergiannya Ibu. Aku baru tahu kalau Ibu mempunyai simpanan. Ini semuanya." menyerahkan buku tabungan. Sejumlah uang dan emas.
"Apa yang kita lakukan dengan semua ini?" tanya Sarah.
"Biar adil, kita bagi dua. Lagipula, kamu sudah mendapatkan rumah kontrakan. Walaupun aku sudah menjual toko Ibu. Namun, memang sewajarnya lelaki mendapatkan lebih banyak." ucap Anwar.
"Baiklah. Tapi, bolehkah sebagian kita sumbangkan? Hitung-hitung biar pahala, untuk Ibu tetap ngalir." ide Sarah.
"Kalau mau sumbang. Sumbang lah, punya mu sendiri. Mas tidak mau jatah Mas berkurang." ujar Anwar mulai menghitung uang.
"Baiklah." ucap Sarah. Karena tidak ingin berdebat dengan Masnya.
"Setelah ini, Mas akan menjual toko yang Ibu beri untuk Rania. Karena selama ini, sewanya selalu masuk ke kantong Nadin." ucap Anwar.
"Tapi, lebih baik. Ruko itu Mas kasih untuk Mbak Nadin saja. Kasihan keluarganya udah bangkrut."
Anwar langsung menghentikan kegiatannya. "Asal kamu tahu ya. Yang menyebabkan Mas sampai miskin gini gara-gara orang tua Nadin. Gara-gara dia Ibu sampai meninggal. Jadi, aku tidak akan memberinya sepersen pun." tekad Anwar.
Sarah terkejut mendengar perkataan Masnya. Dia tidak menyangka, kalau itu adalah perbuatan mantan mertua dari Anwar.
"Dan Mas, tidak melaporkan nya?"
"Diam lah, itu bukan urusan mu."
Anwar menelpon temannya. Dia bertanya harga emas sekarang berapa dalam satu gram. Setelah itu, dia menghitung jumlah emas dan di kalikan dengan harga pasarannya. Setelah menghitung semuanya. Masing-masing mereka mendapatkan 250 juta.
__ADS_1