Bercerailah, Bunda

Bercerailah, Bunda
Cinta yang terpendam


__ADS_3

Tiara buru-buru memutar tubuhnya. Apalagi saat melihat Ibunya menunjuk ke arahnya. Padahal dia hendak melangkah pergi. Namun, Bu Mutia memanggil namanya.


"Ini anak saya, namanya Tiara. Cantik kan?" tanya Bu Mutia pada Adit. Saat Tiara sudah di sampingnya.


"Hai, Adit!" sapa Tiara.


"Kamu kenal sama saya?" Adit mengernyitkan dahi heran.


"Oo ... A-anu, kita pernah satu kuliah. Dan satu ruang." ucap Tiara gugup.


"Ohh ... Benarkah? Maaf aku gak ingat." menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Namun, perkataannya membuat Tiara kaku.


"Lah ... Berarti nak, Adit pernah kuliah juga? Ibu baru tahu." ucap Bu Mutia mengalihkan pembicaraan. Dia sadar kalau muka anaknya Tiara berubah pias.


"Iya Bu, tapi sekarang sudah enggak."


"Ya gak apa-apa. Lagian dengan membuka kafe ini saja sudah banyak uang." ujar Bu Mutia lagi. Adit hanya tersenyum menanggapi.


Bu Mutia dan Tiara memilih tempat duduk yang tidak terlalu jauh dari kasir. Dia berdalih, ingin menjaga calon mantu dari Ibu-ibu lainnya. Padahal Tiara mengajak ibunya untuk naik ke lantai atas. Karena di sana lebih adem dan juga tentunya jauh dari Adit.


Sesekali Adit memandang ke arah Tiara. Dia terus berusaha mengingat tentang Tiara. Tapi, ia sama sekali tidak mengingatnya. Bahkan tidak mengenalnya.

__ADS_1


Kemudian, Adit menanyakan sama temannya, yang bekerja sebagai pelayan di sana tentang Tiara. Mereka malah menertawakan Adit. Sebab, cewek satu ruang saja Adit tidak kenal. Padahal Tiara termasuk salah satu cewek yang banyak di kejar oleh para lelaki. Apalagi sikapnya yang ceria pada teman-temannya. Namun, berubah ketus saat di dekati oleh para lelaki.


"Kamu sih, dingin banget. Masak teman satu ruang saja tidak kenal." kekeh Dio. Teman Adit.


"Kan, niatku belajar." bela Adit. Dio pun berlalu karena di panggil sama pelanggan.


Saat Tiara diam-diam memandang Adit. Adit pun memandang Tiara. Deg ... Adit bisa melihat rona merah jambu pada wajah Tiara. Apalagi Tiara buru-buru menunduk saat pandangan mata mereka bertemu.


Tiara merasakan getaran yang amat dahsyat di dadanya. Apalagi saat pandangan mereka bertemu. Dia merasa bahagia. Karena pada akhirnya Adit tahu. Bahwa dirinya pernah berada satu ruang darinya. Mungkin hari inilah, pertama kalinya Adit melihatnya sebagai makhluk yang bernyawa.


"Kamu suka?" tanya Bu Mutia, karena melihat gelagat aneh dari anaknya.


"Apaan sih Bu." tersenyum menundukkan wajahnya.


"Apa?" Tiara bisa tahu, untuk siapa Ibunya melamar Adit. Karena, di keluarganya cuma dia yang belum pernah pacaran. Ataupun dekat dengan lelaki. Sebab kedua Kakak perempuan-nya sudah pada menikah.


"Ibu jangan mengada-gada." tetapi hatinya malah bersorak gembira.


"Memangnya kenapa? Dia kelihatan baik. Terus pekerja keras. Dan Ibu sudah menyelidiki semua tentang nya. Juga tentang Ayahnya yang terlibat vidio asusila. Namun, bukankah itu salah Ayahnya? Ibu menyukai Adit. Apalagi jika ia jadi menantu Ibu." ujar Bu Mutia pada Tiara.


"Kamu tau, kenapa Ibu memilih jodoh untuk anak-anak Ibu? Karena Ibu pernah gagal di dalam memilih jodoh sendiri. Ibu gak ingin kalian anak-anak Ibu salah memilih jodoh seperti Ibu." ujar Bu Mutia mengenang masa pilunya dengan mantan suaminya dulu.

__ADS_1


"Tapi Kak Ima menikah dengan pacarnya sendiri Bu!" ucap Tiara.


"Memang iya, tapi pacarnya Ibu yang rekomendasi. Saat itu, Kakak mu belum siap nikah. Makanya mereka pacaran dulu. Tapi sekarang mereka bahagiakan?" tanya Bu Mutia pada Tiara. "Ibu tidak asal memilih jodoh untuk anak Ibu. Ibu menyelidiki dulu tentang keluarganya. Sifatnya dan tentu rajin atau malasnya orang tersebut bekerja. Dan Ibu melihat jika Adit mempunyai Ibu yang baik. Terlepas dari sikap Ayahnya memang kurang baik. Sifat Adit pun baik. Tentu pekerja keras." puji Bu Mutia.


"Ta-tapi ..." ragu Tiara.


"Kenapa? Bukankah kamu menyukainya? Ibu bisa melihat dari kamu memandangnya."


"Bukan itu. Bagaimana jika ia tidak menyukaiku." ujar Tiara menunduk.


"Itu urusan belakangan. Yang penting kamu mau." cetus Bu Mutia. Dan Tiara tersenyum bahagia.


Setelah membayar makanan. Bu Mutia tidak ragu meminta nomor WA Adit. Dia berdalih ingin membuka kafe untuk cabang butiknya yang baru. Dan akan mengajak Adit untuk bekerja sama. Adit tentu saja memberikannya. Karena dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.


Sedangkan Tiara, malah berlalu pergi. Dia menunggu Ibunya di luar. Karena dia takut, jika berdiri dekat Adit terlalu lama. Tiara pingsan. Ataupun detak jantungnya di dengar oleh Adit.


Adit memang tidak memiliki perasaan apa-apa pada Tiara. Apalagi dia baru saja tau kalau Tiara mengenalinya.


Di tempat lain. Anwar telah sampai di desa. Dia sedang mencari-cari rumah yang telah di belinya. Namun, rumah yang di belinya tidak ada di desa tersebut. Anwar telah bertanya pada beberapa warga di sana. Namun mereka tidak mengenali nama dari pemilik rumah yang di sebut oleh Anwar. Anwar juga memperlihatkan foto-foto rumah yang di ambilnya lewat sosial media. Sama, semua orang di sana bahkan tidak pernah melihat rumah tersebut.


"Mungkin aja Bapak ketipu." ujar seorang Bapak-bapak yang di tanyain oleh Anwar.

__ADS_1


"Gak mungkin Pak, saat itu saya udah VC sama pemilik rumah. Dan dia berkata bahwa rumahnya ada di sini." sahut Anwar. Padahal hatinya sudah sadar kalau dia ditipu. Namun, Anwar berusaha untuk tetap berpikir positif.


Setelah berbincang-bincang dan keliling kampung tersebut. Akhirnya Anwar menyerah. Dia hanya bisa menangis. Anwar bahkan berpikir. Jika setiap kejadian yang di alaminya adalah doa dari istri-istrinya yang telah pernah di sakiti.


__ADS_2